Nara mengira kehidupan barunya setelah transmigrasi akan berjalan indah. Nyatanya, dia malah terlempar ke masa kuno dan menjadi anak sulung dari keluarga miskin yang dibenci semua orang karena cacat fisik.
Pemilik tubuh yang asli mati tragis karena memotong jari keenamnya demi mencari keadilan. Kini, dengan jiwa modern yang mengisi tubuh tersebut, Nara bersumpah tidak akan membiarkan ibu dan adiknya diinjak-injak lagi.
bertahun-tahun kemudian "haaaaa mencapai puncak kekuasaan dengan enam jari emang berat"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 ilmu Hitam?
Nara memang bertubuh lebih tinggi dari gadis seusianya, tetapi fisiknya kurus dan kering akibat kurang gizi. Namun, sosok ringkih inilah yang baru saja berhasil membanting Yan Shong yang berbadan kekar layaknya sapi aduan.
Kenyataan di depan mata membuat seisi rumah membeku. Jika Nara dianggap cuma gadis biasa, lalu bagaimana cara menjelaskan teknik bantingannya yang begitu mudah?
Rasa takut yang mencekam seketika menyelimuti benak Yan Shong dan Han Ruo. Mereka berdua melongo tanpa mampu mengeluarkan sepatah kata pun.
Bukan cuma mereka, Nyonya Mu pun ikut syok berat. Dia menatap Nara dengan pandangan ngeri seolah-olah putrinya itu sudah menjelma menjadi sosok asing yang menakutkan.
Nara menoleh, menangkap gurat ketakutan di wajah ibunya. Dia mengutuk kecerobohannya sendiri dalam hati karena gagal menahan diri untuk tidak pamer kemampuan lagi setelah insiden dukun kemarin.
"Ibu," panggil Nara lembut.
Hatinya sedikit mencelos saat melihat Nyonya Mu refleks mengambil langkah mundur untuk menjauh darinya.
Nyonya Mu tampaknya tersadar kalau reaksinya barusan bisa melukai hati sang anak. Melihat sorot mata Nara yang meredup sedih, dia membuang keraguannya dan langsung menggenggam erat tangan putrinya.
"Ara, kamu tidak apa-apa? Ada yang terluka?" tanya Nyonya Mu dengan suara yang masih sedikit bergetar.
Nara mengembuskan napas lega, lalu mengulas senyuman tipis yang menenangkan. "Aku tidak apa-apa, Ibu. Aku bukan Nara yang dulu lagi, sekarang aku bisa melindungi Ibu dan Yan Ning."
"Ayo kita kembali ke kamar, Ibu mau mengobati memar di tubuhmu," ajak Nyonya Mu. Dia sama sekali tidak sudi melirik lagi ke arah dua orang yang masih terduduk di lantai, lalu menarik pelan lengan Nara untuk pergi.
"Berhenti kalian!" teriak Yan Shong parau sambil buru-buru bangkit berdiri dengan menahan nyeri di punggungnya.
Nara menghentikan langkah, lalu berbalik sambil mengerjapkan matanya santai. "Ada apa lagi, Ayah?"
"Kamu... kamu pakai ilmu hitam apa tadi, hah?!" bentak Yan Shong. Dia maju beberapa langkah, tetapi langsung mengerem kakinya dalam jarak satu meter dari Nara, hanya berani menunjuk hidung putrinya dari jauh.
"Dasar anak pembawa petaka! Jujur kamu, ilmu setan apa yang baru saja kamu pakai buat melawanku?!" gertak Yan Shong.
Nara memasang wajah tanpa dosa. "Ayah bicara apa, sih? Aku beneran tidak paham. Ilmu hitam bagaimana? Nara ini manusia biasa yang masih bernapas, lho."
"Jangan berbohong kamu!" timpal Han Ruo ikut menyahut. Wanita itu melangkah maju, tetapi tubuhnya sengaja bersembunyi di balik punggung kekar Yan Shong.
"Kami berdua melihat sendiri kamu memakai ilmu gaib untuk membanting ayahmu! Masih mau mengelak?!" tuduh Han Ruo gencar.
"Oh, jadi Ibu Kedua sudah sembuh dari tangisannya?" sindir Nara dengan senyuman meremehkan. "Baru saja akting menangis meratapi nasib anak-anak, sekarang mendadak berubah jadi sok suci begini."
Nara mengambil satu langkah maju ke depan. Begitu melihat Yan Shong dan Han Ruo refleks mundur teratur karena ketakutan, rasa puas seketika buncah di dada Nara.
"Soal ilmu hitam yang Ibu Kedua tuduhkan, aku beneran tidak tahu. Mana mungkin remaja sekecil aku bisa membanting tubuh Ayah yang besar begini? Kalau cerita ini disebar ke tetangga desa, pasti tidak akan ada yang percaya," ucap Nara sengaja membalikkan logika.
"Mungkin mata Ibu Kedua saja yang sedang bermasalah. Lihat tuh, Ayah masih bisa berdiri tegak, kan? Ibu Kedua pasti kelelahan karena terlalu banyak menyulam sampai pandangannya jadi kabur," lanjut Nara dengan nada super polos, seolah-olah sosok dingin yang membanting Yan Shong tadi adalah orang yang berbeda.
Raut wajah Han Ruo seketika berubah masam, persis seperti orang yang tidak sengaja menelan lalat mati. Dadanya terasa sesak karena menahan dongkol yang luar biasa.
"Kamu..."
"Kamu apa? Aku memang berniat membuatmu mati karena menahan kesal," batin Nara sinis sambil menyunggingkan senyuman tipis di sudut bibirnya.
"Karena Ayah dan Ibu Kedua sangat saling mencintai, aku dan Ibuku tidak mau mengganggu momen mesra kalian lagi. Kami permisi kembali ke kamar," pamit Nara telak.
Dia memapah lengan Nyonya Mu dengan gerakan lembut. "Ibu, jalan hati-hati ya. Lantai batu di rumah utama ini ternyata agak licin, salah-salah bisa ada orang yang terjatuh tanpa alasan jelas. Makanya harus waspada."
Mendengar sindiran tajam itu, Yan Shong merasa dadanya hampir meledak saking marahnya. Dia berniat melompat maju untuk mengejar Nara, tetapi rasa nyeri yang luar biasa mendadak menusuk bagian pinggang dan punggungnya.
"Aduh! Punggungku!" raung Yan Shong histeris sambil kembali terduduk memegangi pinggangnya yang cedera.