NovelToon NovelToon
GODDESS AGAINST FATE

GODDESS AGAINST FATE

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:282
Nilai: 5
Nama Author: XING YI

​Tiga puluh ribu tahun peperangan berakhir dengan kehancuran Alam Dewa. Lin XingYu, sang Dewa Primordial terakhir, harus mengorbankan 99% basis kultivasinya demi memukul mundur sembilan Iblis Agung. Di ambang kematian, ia melintasi dimensi untuk mencari penerus dan menemukan Ling Xinyue—seorang gadis bumi berusia 16 tahun yang tengah menghitung detik terakhir hidupnya akibat kanker otak.

​Kini, dengan jiwa manusia yang rapuh dalam raga dewi tercantik di jagat raya, Xinyue harus memulai perjalanan mustahil sejauh 50.000 mil menuju Pulau Warisan. Bersama Lian Yue, sang Merak Bulan Es, ia harus belajar menguasai kekuatan yang sanggup mengguncang semesta sebelum para Iblis Agung bangkit kembali. Ini bukan lagi tentang bertahan hidup dari penyakit, ini tentang menaklukkan takdir para dewa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon XING YI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 27:Perpisahan

Pagi itu, Chen Lin menepati janjinya. Di bawah langit musim panas yang bersih, ia mengayunkan cangkulnya dengan ritme yang teratur di ujung ladang.

Ia membalikkan tanah-tanah kering, memotong akar rumput liar yang mengganggu tanaman padi milik Kakek Gu. Namun, berbeda dari hari-hari sebelumnya, indra keenamnya yang kini telah pulih total ke Tingkat 5 Marrow Purification bekerja dengan jauh lebih tajam dan presisi.

​Setiap gesekan daun yang bergeser akibat angin, getaran tanah dari cacing yang merayap di bawah, hingga suara angin di perbatasan hutan terdengar begitu jelas di telinganya. Luka dantian-nya yang telah menutup sempurna semalam memberikan rasa nyaman yang sudah lama tidak ia rasakan.

Aliran energi spiritual, meski masih tipis, mengalir tanpa hambatan di dalam meridiannya, membuat tubuh fisiknya terasa seringan kapas meskipun ia sedang melakukan pekerjaan kasar kaum fana.

​Saat matahari merayap naik dan tepat berada di atas kepala, memancarkan terik yang membakar kulit, sebuah fluktuasi energi yang asing tiba-tiba tertangkap oleh radar kesadarannya.

Itu bukan energi spiritual alami yang tipis dan pasif seperti biasanya, melainkan aliran spiritual yang terdistorsi dan kasar, sebuah tanda yang sangat jelas dari aktivitas manusia yang memiliki basis kultivasi, bergerak dengan tergesa-gesa dari arah luar desa.

​Chen Lin menghentikan gerakan cangkulnya sesaat. Ia menegakkan tubuh, menyeka keringat fana yang sengaja ia biarkan mengalir di dahinya, lalu menyipitkan mata menatap ke arah jalan setapak berdebu yang menghubungkan Desa Dahe dengan dunia luar.

​"Ada yang datang," batin Chen Lin, matanya berkilat tajam.

"Tiga orang... tidak, empat. Kultivasi mereka sangat tidak stabil dan kotor, penuh dengan sumbatan di meridian mereka. Paling tinggi hanya berada di Tingkat 3 atau 4 Blood Purification. Sangat jauh di bawah tingkatanku saat ini, bahkan saat aku baru terbangun. Tapi bagi orang-orang biasa di desa ini, mereka adalah dewa kematian."

​Tak lama kemudian, prediksi Chen Lin terbukti. Suara derap kaki kuda yang kasar dan tidak beraturan memecah ketenangan Desa Dahe, menerbangkan debu-debu kering ke udara.

Empat orang pria dengan pakaian kulit yang kumuh, berbau darah dan minuman keras, serta senjata-senjata tajam yang tersampir dengan congkak di pinggang mereka memasuki area persawahan.

Kedatangan mereka yang tiba-tiba langsung membuat para petani fana menghentikan pekerjaan mereka. Wajah-wajah yang tadinya ramah seketika berubah pucat pasi, tubuh mereka gemetar ketakutan.

​Kakek Gu, yang sedang beristirahat di bawah pohon meneduh sambil memotong anyaman bambu, segera berdiri dengan tubuh yang ringkih dan gemetar.

Dengan insting pelindung seorang kakek, ia buru-buru menarik lengan kecil Xiao Yu dan menyembunyikan gadis kecil itu di belakang punggungnya yang bungkuk.

​"Tetua desa! Mana tetua desa kalian?!" teriak pria yang memimpin rombongan.

Ia adalah seorang lelaki bermata satu dengan bekas luka bakar yang mengerikan menjalar di sepanjang pipi kanannya hingga ke leher.

​Suaranya bergema kasar, dan dipenuhi dengan arogansi khas para kultivator tingkat rendah yang gemar menindas kaum fana demi memuaskan ego mereka yang.

​"Bulan ini, upeti esensi batu spiritual atau hasil panen terbaik kalian harus dinaikkan dua kali lipat! Jangan ada yang berani berbohong atau menyembunyikan sebutir padi pun! Ini adalah perintah langsung dari Geng Serigala Hitam!"

​Chen Lin berjalan perlahan mendekati kerumunan petani yang mulai mengecil dan berkumpul di sudut ladang. Ia membiarkan cangkulnya tetap berada di genggaman tangannya yang kasar karena tanah, bertingkah layaknya pemuda desa yang kebingungan dan ketakutan.

Di dalam hatinya, Chen Lin hanya bisa mencemooh dengan dingin.

"Geng Serigala Hitam? Nama yang megah untuk sekumpulan kultivator kelas teri. Orang-orang seperti mereka bahkan tidak akan lolos untuk menjadi tukang sapu halaman di sekte lamaku."

​Namun, saat pandangan Chen Lin menyapu sosok pemimpin bandit itu, matanya tiba-tiba terpaku pada sebuah kantong kain usang yang tergantung di pinggang kirinya.

Dari celah-celah jahitan kain yang kasar tersebut, ada rembesan energi astral yang sangat akrab di indra Chen Lin.

"​Batu spiritual?"Jantung Chen Lin berdenyut sedikit lebih cepat. Matahari yang terik seolah kehilangan panasnya saat fokus Chen Lin terkunci pada kantong itu.

Meskipun dari fluktuasi energinya itu kemungkinan besar hanyalah batu spiritual kualitas rendah, bagi Chen Lin yang saat ini terjebak di tempat dengan esensi spiritual yang miskin, beberapa genggam batu spiritual adalah harta karun.

Itu adalah hujan di tengah kemarau panjang, bahan yang ia butuhkan untuk kultivasinya.

​"Tuan-tuan..." Kakek Gu melangkah maju dengan sangat hati-hati.

Tubuh tuanya membungkuk sedalam mungkin hingga dahinya hampir sejajar dengan lututnya sendiri. Suaranya bergetar hebat, memelas penuh keputusasaan.

"Mohon belas kasihannya, Tuan. Hasil panen kami musim ini baru saja diserang hama ulat tanah. Hasilnya tidak seberapa. Jika upeti dinaikkan dua kali lipat, desa kami... anak-anak dan para tetua tidak akan bisa bertahan melewati musim dingin yang akan datang. Kami akan mati kelaparan..."

​"Aku tidak peduli dengan musim dingin kalian! dan juga dengan perut kalian yang lapar!"

Pria bermata satu itu meludahi tanah tepat di depan kaki Kakek Gu. Wajahnya mengeras penuh amarah yang dibuat-buat demi menggertak.

"Geng Serigala Hitam tidak peduli kalian makan batu atau tanah! Jika upeti tidak dipenuhi, maka kepala-kepala kalian yang akan menjadi gantinya!"

​Melihat Kakek Gu yang terus memohon, pria itu kehilangan kesabaran. Dengan seringai kejam, ia mengangkat cambuk kulit berduri yang menggantung di pelana kudanya, lalu mengayunkannya ke udara dengan kecepatan penuh.

Cambuk itu mengarah tepat ke arah wajah Kakek Gu yang tak berdaya. Di belakangnya, Xiao Yu menjerit histeris, memejamkan matanya rapat-rapat sambil menangis.

​Wush!

​Suara angin yang tajam terputus mendadak. Cambuk itu tidak pernah jatuh menyentuh kulit keriput Kakek Gu.

​Udara di sekitar ladang yang tadinya panas menyengat, mendadak bergeser menjadi sedingin es.

Pria bermata satu itu tertegun, seringainya membeku. Ia merasakan tangan kanannya yang memegang cambuk seolah-olah terkunci di udara oleh rantai besi yang tak kasat mata. Seluruh sendi dan ototnya menegang, menolak untuk patuh pada perintah otaknya.

​Di depannya, entah sejak kapan, pemuda desa yang tadinya berdiri di belakang kerumunan dengan cangkul usang kini telah berada di baris paling depan

Tangan kiri Chen Lin dengan sangat santai, bahkan tanpa melihat, telah menangkap ujung cambuk kulit yang tebal berlumur duri besi tersebut.

Telapak tangan tidak terluka sedikit pun oleh duri tajam itu, sebaliknya, ada lapisan cahaya perak yang sangat tipis, hampir tak terlihat oleh mata fana, membungkus kulitnya.

​Chen Lin mengangkat kepalanya perlahan. Ia menatap bandit itu dengan sepasang mata yang sedingin es, sepasang mata yang semalam dilihat oleh Xiao Yu sebagai mata yang menatap bintang-bintang.

Topeng pemuda desa yang penurut, rajin, dan canggung runtuh dalam sekejap tanpa bekas, digantikan oleh aura dominan, agung, dan menakutkan dari seorang yang memiliki kekuatan.

​"Kau..."

Pria bermata satu itu terbelalak, pupil matanya mengecil karena rasa takut yang tiba-tiba menyerang nalurinya.

Keringat dingin berukuran bulir jagung mulai mengucur deras di dahi dan pelipisnya. Ia mencoba menarik cambuknya dengan mengerahkan seluruh tenaga Body Refining Tingkat 4 miliknya, namun benda itu seolah-olah telah melekat dan menyatu dengan gunung karang yang tak tergoyahkan.

"Siapa kau?! Bajingan kecil, lepaskan!"

​"Burung elang mungkin sedang singgah di sangkar ayam untuk ," bisik Chen Lin dengan suara yang sangat rendah, namun bergema langsung di dalam gendang telinga pemimpin bandit itu.

Nadanya begitu tenang, terlalu tenang untuk situasi seperti ini, yang justru membuatnya lebih menakutkan.

"Tapi itu tidak berarti seekor anjing liar yang berkeliaran di luar sangkar sepertimu... bisa menggonggong dan mengibas ekornya dengan congkak di hadapannya."

​"Kau mencari mati—"

​Sebelum pria itu sempat menyelesaikan makiannya, Chen Lin menghentakkan pergelangan tangan kirinya secara perlahan, sebuah gerakan kecil yang hampir tidak terlihat, namun menyalurkan secercah energi murni dari Tingkat 5 Marrow Purification melalui aliran cambuk tersebut.

​Brak!

​Energi itu merambat bagai petir tak terlihat. Cambuk kulit itu hancur berkeping-keping menjadi abu hitam di udara, dan kekuatan sentakan tersebut menghantam dada pria bermata satu itu dengan telak.

Tubuhnya terlempar dari atas pelana kuda, melayang beberapa meter di udara sebelum akhirnya menghantam tanah berdebu dengan keras. Ia mengerang kesakitan, memegangi dadanya, lalu memuntahkan seteguk darah segar yang kental.

​Tiga rekannya yang masih berada di atas kuda langsung panik. Wajah mereka memucat dalam sekejap, kehilangan seluruh keberanian mereka saat melihat pemimpin mereka ditumbangkan hanya dengan satu gerakan tak terlihat.

Dengan panik dan tangan yang gemetar hebat, mereka menarik pedang dan golok mereka dari sarungnya, namun tidak ada satu pun dari mereka yang berani maju selangkah pun.

​"Bawa pemimpin kalian yang cacat ini," perintah Chen Lin.

Suaranya datar, dingin, tanpa emosi. Namun bersamaan dengan kata-katanya, Chen Lin melepaskan sedikit tekanan mental miliknya.

​Wush!

​Tekanan itu menyapu area ladang. Kuda-kuda yang ditunggangi oleh para bandit itu seketika meringkik ketakutan dengan suara melengking, kaki-kaki mereka lemas hingga akhirnya berlutut di atas tanah, enggan untuk berdiri.

​"Dan tinggalkan semua kantong penyimpanan, koin, serta batu spiritual kalian di tanah," lanjut Chen Lin, matanya menyapu ketiga bandit yang tersisa dengan tatapan maut.

"Jika dalam tiga hitungan nafas kalian masih berada di dalam batas pandanganku, aku pastikan kalian tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk melihat matahari terbit besok pagi. Satu..."

​"Kami tinggal! Kami tinggalkan semuanya! Mohon ampuni nyawa kami, Senior!" teriak salah satu bandit dengan suara menangis.

Tanpa menunggu hitungan kedua, ia dengan panik melepaskan seluruh kantong uang dan kantong kain di pinggangnya, melemparkannya ke tanah seolah benda-benda itu adalah racun mematikan.

​Dua bandit lainnya buru-buru mengikuti tindakan tersebut.

Mereka melompat turun dari kuda mereka yang gemetar, memapah pemimpin mereka yang bermata satu yang kini menatap Chen Lin dengan ketakutan yang mendalam, lalu memacu sisa kekuatan mereka untuk lari meninggalkan Desa Dahe.

Mereka bahkan meninggalkan kuda-kuda mereka yang masih ada di ladang, berlari secepat yang mereka bisa.

​Suasana di ladang persawahan itu seketika menjadi hening total, menyisakan suara deru angin musim panas yang kering dan napas terengah-engah dari para penduduk desa yang masih syok.

Para petani fana, tetua desa yang baru tiba, hingga Kakek Gu dan Xiao Yu, semuanya menatap Chen Lin dengan tatapan yang sangat kompleks.

Ada rasa syukur yang mendalam karena terbebas dari bencana, namun di balik itu, ada rasa tidak percaya dan ketakutan serta rasa hormat yang amat sangat yang menciptakan jarak tak kasat mata.

Mereka baru menyadari, dengan sangat gamblang, bahwa pemuda terluka yang mereka rawat dan beri makan selama tiga bulan ini bukanlah bagian dari dunia mereka yang fana.

​Chen Lin tidak memedulikan pandangan orang lain. Ia melangkah maju dengan tenang, memungut empat kantong kain yang berserakan di atas tanah berdebu.

Ketika jemarinya menyentuh kantong milik sang pemimpin, ia meremasnya pelan dan merasakan setidaknya ada lima butir batu spiritual kualitas rendah di dalamnya.

Sebuah senyuman puas, meskipun tipis, terukir di sudut bibirnya.

​Ia kemudian berbalik, menghilangkan seluruh aura menakutkannya, lalu berjalan mendekati Kakek Gu dan Xiao Yu.

Aura dinginnya lenyap, digantikan kembali oleh kehangatan seorang pemuda biasa.

​Xiao Yu adalah satu-satunya yang tidak menunjukkan rasa takut di matanya.

Alih-alih mundur, mata indahnya justru berbinar terang dengan air mata yang masih menggantung di sudut kelopak matanya.

Ia menatap Chen Lin dengan rasa kagum, mengingat kembali setiap kata dari percakapan rahasia mereka di atas bukit semalam.

​"Kakek Gu, Xiao Yu," Chen Lin tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus tanpa ada kepura-puraan atau topeng di dalamnya.

Ia membuka salah satu kantong kain yang berisi puluhan koin emas dan perak milik para bandit, lalu menyerahkannya ke tangan Kakek Gu yang masih gemetar.

"Ini untuk persediaan musim dingin desa ini, dan untuk memperbaiki atap rumah Kakek yang bocor. Dan kurasa... dengan ini, perjalananku yang tertunda untuk mencari jalan pulang harus dimulai."

​Malam itu adalah malam terakhir Chen Lin di Desa Dahe. Setelah kejadian di ladang siang hari, penduduk desa memperlakukannya dengan rasa hormat yang berlebihan, yang justru membuat Chen Lin merasa tidak nyaman.

Namun, Kakek Gu dan Xiao Yu tetap memperlakukannya dengan kehangatan yang sama, meskipun ada kesedihan yang mendalam yang menyelimuti meja makan malam mereka yang sederhana.

​Setelah makan malam selesai dan Xiao Yu telah tertidur karena kelelahan emosional hari itu, Chen Lin kembali menyelinap keluar melalui jendela kamarnya.

Kali ini, ia tidak hanya membawa tubuhnya, melainkan juga lima butir batu spiritual yang ia dapatkan dari pemimpin bandit.

​Ia melesat menuju puncak bukit dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi dari biasanya, murni menggunakan kekuatan fisiknya yang telah diperkuat oleh energi spiritual.

Begitu sampai di atas batu datar yang akrab di bawah naungan pohon pinus tua, Chen Lin duduk bersila.

​"Lima batu spiritual kualitas rendah," gumam Chen Lin sambil mengeluarkan batu-batu kristal berwarna abu-abu kehijauan yang agak kusam dari kantongnya.

"Bagi para kultivator besar, ini tidak lebih dari sampah. Tapi bagiku saat ini, ini adalah jembatan untuk memutus belenggu Tingkat 5."

​Tanpa membuang waktu lagi, Chen Lin menempatkan tiga batu di telapak tangan kirinya dan dua di tangan kanannya.

Ia menutup matanya, menarik napas dalam-dalam, dan mulai mengoperasikan teknik kultivasi intinya, Universe Star Sutra.

​Wush!

​Begitu teknik itu berjalan, hisapan yang kuat tercipta dari pusat telapak tangannya. Batu-batu spiritual di tangannya mulai bergetar hebat, dan seberkas energi spiritual yang murni, jauh lebih padat dan bersih daripada udara tipis di Desa Dahe, energi itu mulai mengalir deras masuk ke dalam meridian lengan, menuju langsung ke arah dantian-nya.

​"Ugh!" Chen Lin mendesis pelan.

Rasa perih yang familier kembali membakar saluran energinya karena derasnya aliran energi yang masuk secara tiba-tiba.

Namun, dantian-nya yang telah sembuh total kini bertindak bagai wadah yang kokoh. Garis-garis retakan yang dulunya ada telah hilang, digantikan oleh dinding energi yang elastis dan kuat.

​Energi dari batu spiritual tersebut diserap dan disaring oleh pusaran Universe Star Body miliknya, mengubah esensi spiritual bumi yang kotor menjadi energi astral perak murni yang berkilauan.

Energi perak itu kemudian disalurkan ke dalam sumsum tulangnya, memulai proses pembersihan mendalam yang merupakan inti dari tingkat kultivasinya saat ini.

​Satu jam berlalu... dua batu spiritual di tangan kanannya retak dan hancur menjadi abu putih tak berenergi.

​Dua jam berlalu... dua batu di tangan kirinya menyusul hancur.

​Basis kultivasi Chen Lin di dalam tubuhnya mulai bergejolak. Energi perak di dalam sumsum tulangnya telah mencapai titik jenuh, berputar dengan kecepatan tinggi dan menekan pembatas tak kasat mata yang memisahkan Tingkat 5 dan Tingkat 6.

Keringat dingin mengucur dari tubuhnya, namun wajah Chen Lin tetap sekeras batu karang. Ia menghancurkan batu spiritual terakhir di tangannya, menarik seluruh sisa energinya dalam satu tarikan napas yang kuat.

​"Pecahkan untukku!" teriak Chen Lin dalam hatinya.

​Boom!

​Sebuah suara ledakan di dalam kesadaran Chen Lin. Gelombang kejut energi yang murni meledak dari dalam tubuhnya, menyapu dedaunan pinus di sekitarnya hingga berterbangan.

Cahaya astral perak menyembur keluar dari pori-pori kulitnya selama beberapa detik sebelum akhirnya tersedot kembali masuk ke dalam tubuhnya dengan sangat rapi.

​Sumsum tulangnya kini memancarkan kilau putih bersih bagaikan giok terbaik, bebas dari segala kotoran fana. Aliran Spiritual di dalam meridiannya menjadi dua kali lebih tebal dan lebih cepat dari sebelumnya.

​Chen Lin membuka matanya. Di dalam kegelapan malam, pupil matanya memancarkan cahaya bintang yang berputar samar sebelum akhirnya kembali normal. Ia mengembuskan napas panjang yang berbentuk sebatang panah putih tipis sejauh dua meter di udara, membawa sisa kotoran terakhir dari tubuhnya.

​"Tingkat 6 Marrow Purification!" Chen Lin mengepalkan tinjunya, merasakan kekuatan murni yang meledak-ledak di setiap serat ototnya.

Tiga bulan akumulasi yang lambat ditambah dengan lima batu spiritual tingkat rendah akhirnya membawanya melompati rintangan tersebut.

"Meskipun masih jauh dari masa kejayaanku, setidaknya di wilayah pinggiran seperti ini, aku memiliki kekuatan yang cukup untuk melindungi diriku sendiri dan mencari informasi."

​Ia berdiri dari batu datar tersebut, menatap fajar yang mulai menyingsing di ujung timur dengan warna merah keemasan yang megah. Waktunya telah tiba.

​Ketika matahari baru saja menampakkan seperempat bagian tubuhnya di ujung timur, memancarkan cahaya hangat yang mengusir kabut pagi, Chen Lin telah berdiri di depan halaman rumah kayu kecil milik Kakek Gu.

Di punggungnya, ia hanya membawa sebuah buntalan kain kecil berisi sedikit pakaian kasar fana yang diberikan Kakek Gu dan sebuah peta usang yang ia pelajari semalam dari kantong bandit.

​Pintu kayu rumah itu berderit pelan saat terbuka. Kakek Gu melangkah keluar, diikuti oleh Xiao Yu yang matanya tampak sedikit sembap, tanda bahwa gadis kecil itu sebenarnya tidak benar-benar tidur semalam.

​Chen Lin memandang kedua orang fana yang telah menjadi penyelamat hidupnya itu. Tanpa mereka, seorang kultivator seperti dirinya mungkin sudah lama menjadi santapan binatang buas atau membusuk di tepi sungai saat terlempar dari badai spasial.

​Chen Lin melangkah maju, dia menekuk lututnya dan memberikan penghormatan dengan membungkuk dalam-dalam, sebuah penghormatan tertinggi dari seorang kultivator kepada mereka yang memiliki jasa besar terhadapnya.

​"Kakek Gu, Xiao Yu," ucap Chen Lin dengan suara yang dalam, tulus, dan penuh rasa hormat.

"Kebaikan kalian yang telah menyelamatkan nyawaku dan memberikan tempat berteduh selama tiga bulan ini adalah utang budi yang akan selalu kuingat di dalam jiwaku. Di masa depan, jika takdir mengizinkan dan aku mencapai puncak, nama kalian akan selalu mengiringi perjalananku."

​Kakek Gu buru-buru melangkah maju dengan tangan gemetar, memegang bahu Chen Lin dan memaksanya untuk berdiri.

​"Anak muda... tidak, Senior Chen," Kakek Gu tersenyum dengan bijak meskipun suaranya serak.

"Jaga dirimu di luar sana. Dunia kultivasi yang kamu ceritakan... kedengarannya sangat dingin dan kejam."

​"Aku tidak akan pernah melupakannya, Kakek," jawab Chen Lin hangat.

​Pandangan Chen Lin kemudian beralih kepada Xiao Yu yang berdiri di samping kakeknya. Gadis kecil itu menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan air mata yang siap tumpah kapan saja.

Ia melangkah maju dan menyerahkan sebuah bungkusan kecil berisi beberapa potong kue beras yang masih hangat, yang tampaknya ia buat bersama kakeknya di pagi buta.

​"Kakak Chen..." Xiao Yu mendongak, menatap mata Chen Lin yang kini tampak begitu jernih dan tenang.

"Kue ini untuk perjalananmu. Aku tahu Kakak tidak akan kelaparan, tapi... ini agar Kakak ingat jalan pulang ke desa ini jika Kakak merasa lelah di luar sana."

​Chen Lin menerima bungkusan hangat tersebut dengan kedua tangannya. Sesuatu yang lembut dan hangat bergetar di dalam hatinya yang biasanya sedingin es.

Ia mengulurkan tangan kanan dan menepuk kepala Xiao Yu dengan kelembutan yang luar biasa, persis seperti yang ia lakukan di atas bukit.

​"Terima kasih, Xiao Yu. Kue ini adalah harta paling berharga yang kubawa dalam perjalanan ini," bisik Chen Lin dengan senyuman lembut.

"Ingat kata-kataku semalam. Belajarlah dengan baik, jaga kakekmu."

​Xiao Yu akhirnya tidak bisa menahan tangisnya lagi, namun ia mengangguk dengan kuat sambil tersenyum di balik air matanya.

"Ya! Aku akan selalu berdoa agar angin membawa Kakak terbang setinggi-tingginya, hingga melampaui bintang-bintang!"

​Chen Lin memberikan anggukan terakhir kepada Kakek Gu. Tanpa berbalik lagi untuk menghindari keraguan di dalam hatinya, ia membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi meninggalkan halaman rumah kayu tersebut.

1
Milk Lk
udh nabung 2 minggu lebih gas momentum walau cuman 20 chapter, semangat terus thor up nya
Milk Lk
Wah bagus sih ini, gas next chpter tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!