Menceritakan tentang Nathan, Fabian, dan Natalie, tiga orang sahabat yang saling menyayangi.
Nathan terlahir dari keluarga yang harmonis dari lahir. Keluarganya yang menyayanginya penuh dengan. kehangatan, tanpa tidak pernah memberikan kasih sayang kurang. Meskipun terlahir dari kalangan keluarga yang sederhana, keluarga mereka terkenal dengan keharmonisan dan kehangatan yang selalu hadir.
Fabian, seorang anak yang terlahir kaya sedari kecil. Ia berasal dari keluarga yang broken home. Kedua orang tuanya yang punya selingkuhan masing-masing, kerap. membuatnya kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya. Hidup berkelimang harta tak membuatnya benar-benar merasakan apa itu hidup tanpa kehadiran kedua orang tuanya.
Sedangkan Natalie, kehidupannya hampir sama dengan fabian. Bedanya ia di tinggal sendiri.
Persahabatan yang mereka jalin cukup erat. Hingga sering berjalannya waktu, dua jiwa yang saling buta arah bersatu menjadi sebuah takdir yang tak pernah tertulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hhj cute, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28
"Tan, kita sebenarnya mau ke mana sih," jengah Natalie.
Tadi pagi-pagi sekali Dewi sudah mengajaknya pulang dari rumah sakit. Selain karena sudah mendingan, cairan infus yang menancap di tangannya pun sudah habis.
Tapi masalahnya ini masih terlalu dini hari untuk pergi. Bahkan matahari pun masih belum menampakkan dirinya.
"Kita harus pergi sekarang juga, Nata. Kamu mending bawa barang-barang kamu ke mobil," titah Dewi.
"Tante, aku tuh nggak mau ya ke mana-mana lagi. Lagian ngapain sih Tan, kabur-kaburan terus. Nggak capek apa," ucap Natalie.
Dewi menghentikan aktivitasnya, menatap sejenak keponakannya itu dengan jengah.
"Nata, siapa yang mau kabur sih! Kita itu lagi ada misi penyelamatan diri dari Mak lampir, emang kamu mau di jadiin babu lagi sama mereka?" jengkel Dewi.
"Itu sama aja, Tante," protesnya.
"Udah deh, mending kamu bawa barang-barang kamu. Jangan sampai kita ketinggalan pesawat ya gara-gara berdebat terus," omel Dewi melanjutkan kembali sesi berkemasnya.
Drrtt … Drrtt …
"Halo, kenapa Nath?"
" … "
"Apa! Gue ke sana sekarang."
"Tan, aku nggak ikut ya. Aku mau pergi dulu."
"Ehhh, mau ke mana kamu?" Dewi mencekal tangan Natalie yang hendak kabur.
"Tante, ini urgent!"
"Urgent, urgent. Nggak ada ya, kita harus pergi sekarang juga," omel Dewi.
Natalie mengambil napas dalam-dalam, tersenyum paksa di depan Dewi.
"Tante Dewi yang cantik …, aku mau ke rumah sakit. Fabian sekarang di rawat di sana, jadi aku nggak bisa ikut Tante entah ke mana itu," jelas Natalie dengan nada yang sedikit di tekan.
"Alah, itu alasan kamu aja kan? Kamu pasti mau kabur dari sini kan, ngaku kamu," tuding Dewi.
"Ih Tante, nggak baik tau nuduh keponakannya yang nggak-nggak. Ini beneran tau, barusan Nathan nelpon aku secara langsung tanpa kebohongan apapun," belanya.
"Ini serius?" tanya Dewi yang masih tak percaya.
"Serius Tante," geram Natalie.
"Yaudah, kamu bawa mobil Tante aja."
Natalie langsung berlari begitu saja kala di ijinkan Dewi.
"Hati-hati bawa mobilnya, jangan ngebut!" teriak Dewi yang di balas tak kalah kencang oleh Natalie.
......................
Sesampainya di rumah sakit, Natalie berjalan dengan langkah terburu-buru.
Bruk!
Tubuh Natalie terpental ke belakang, membuat bokongnya mencium lantai begitu keras.
"Maaf, saya nggak sengaja."
Deg!
Natalie mendongak ke atas dengan pelan—saat mendengar suara yang begitu familier.
"Natalie," ucap pemuda itu.
Natalie berdehem singkat, berdiri dari duduknya. Tanpa banyak kata ia langsung beranjak pergi. Tapi belum sempat kakinya melangkah, tangannya di cekal terlebih dahulu.
"Lepas."
"Gue minta maaf," ucapnya.
Natalie melepas cekalan itu sedikit kasar.
"Gue maafin," ucapnya tanpa menoleh.
"Tunggu!"
"Apa lagi, Arya? Gue nggak ada waktu," ketusnya.
"Gue mau bicara sebentar, boleh?"
Natalie terdiam sejenak, mempertimbangkan jawabannya. Sebelum akhirnya ia menyetujui.
Kini keduanya sudah berada di taman rumah sakit. Padahal masih terlalu dini untuk duduk di luar, apalagi dengan cuaca yang dingin.
"Lo mau ngomong apa."
"Lo kenapa berhenti sekolah?" tanya Arya, yang membuat Natalie mengernyitkan dahinya bingung.
"Kok dia bisa tau?" tanyanya dalam hati.
"Gue sekolah," elaknya.
"Lo bohong. Gue tau, orang yang selama ini ngaku-ngaku jadi Lo itu saudara kembar Lo, kan?" telaknya yang membuat Natalie tak berkutik.
"B-bukan. Lo jangan sok tau deh," gugupnya.
"Itu faktanya. Karena gue tahu, Natalie yang selama ini gue kenal itu nggak pernah bersikap sombong apalagi acuh. Sedangkan orang yang ada di sekolah saat ini berbanding balik dengan Natalie yang gue kenal."
"Ck, udah deh, Lo nggak usah banyak basa-basi. Mending sekarang Lo cepet bilang—apa yang mau Lo omongin," ucap Natalie mengalihkan pembicaraan.
"Gue mau minta maaf," ucap Arya tulus, yang terkecoh dengan ucapan Natalie—yang membuatnya lupa tujuan awalnya.
"Gue udah maafin, Lo. Gue rasa Lo udah denger itu," jengah Natalie.
"Bukan itu, tapi tentang kita."
"Nggak ada yang perlu di bahas tentang kita. Semuanya udah selesai, nggak ada yang perlu di jelasin."
"Itu semua nggak seperti yang Lo pikirkan. Gue terpaksa lakuin itu semua sama Lo," ujar Arya.
"Udahlah, lupain aja. Lagian gue udah nggak percaya lagi sama omongan Lo," ketusnya.
"Nata, gue mohon. Sekali ini … aja kasih gue kesempatan untuk ngejelasin semuanya," mohon Arya dengan suara yang sedikit tersendat. Bahkan napasnya pun terdengar sedikit memberat—seperti menahan rasa sakit.
Natalie yang merasa muak langsung pergi meninggalkan Arya sendirian. Tanpa Arya sadari, air mata Natalie jatuh begitu saja ketika ia pergi menjauh. Dadanya masih terasa sesak kala mengingat alasan keduanya mengakhiri hubungan.
"Nata, kasih gue kesempatan untuk jelasin semuanya sama lo. Gue benar-benar tulus ingin memperbaiki semuanya. Gue tulus minta maaf sama Lo. Maaf kalau selama ini gue udah menorehkan luka yang dalam bagi Lo. Maaf kalau selama kita pacaran gue banyak kurangnya. Gue minta maaf. Gue harap Lo bahagia bersama tambatan hati Lo suatu saat nanti. Gue janji, hari ini adalah terakhir kalinya gue ketemu sama Lo!" teriak Arya dari kejauhan.
Air mata Natalie semakin deras mendengarnya. Hatinya sedikit mencelos mendengar teriakan lantang Arya.
Akibat tidak melihat jalan, bahunya sedikit bertubrukan dengan seorang perempuan. Ia mengenali perempuan itu, ia adalah orang yang sudah menghancurkan hubungannya dengan Arya.
"Bang Arya!!" teriak perempuan itu.
Natalie ikut menoleh kebelakang mendengar teriakan itu. Matanya terbelalak kaget melihat keadaan Arya di belakang sana. Terlihat lelaki itu sudah memejamkan matanya erat, dengan darah yang keluar dari hidungnya. Di tangannya seperti menggenggam sesuatu yang sangat ia kenali. Itu adalah gelang couple yang mereka beli di pasar malam saat pertama kali jadian.
Natalie hanya diam di tempatnya kala perempuan itu mendorong kursi roda Arya dengan cepat. Bahkan ia baru menyadari bahwa Arya menggunakan kursi roda. Wajahnya sangat pucat.
Dengan langkah pelan, Natalie mengikuti keduanya dari belakang. Hingga sampailah mereka di depan ruang rawat, yang sepertinya itu adalah ruangan yang Arya tempati.
"Kamu Natali, kan?" tanya perempuan itu.
Natalie tak menjawab, ia hanya diam dengan pandangan kosong. Otaknya masih mencerna apa yang baru saja terjadi. Mia berjalan mendekatinya, menjulurkan sebelah tangannya.
"Kenalin, aku Mia."
Natalie hanya menoleh tanpa berniat untuk membalas jabatan tangan Mia.
"Mungkin kamu marah ya sama aku," ucapnya.
"Sebenarnya aku bukan selingkuhan bang Arya. Mungkin selama ini kamu ngiranya aku itu selingkuhannya bang Arya, ya? Maaf kalau aku udah bohongin kamu, aku itu adik kandungnya bang Arya—lebih tepatnya saudara kembarnya," lanjutnya, yang berhasil membuat Natalie sedikit bereaksi.
"Kamu pasti ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, kan? Jadi gini—"
.
.
.