NovelToon NovelToon
Anindia Dan Keanu: Indahnya Menikah Muda

Anindia Dan Keanu: Indahnya Menikah Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga & Kasih Sayang / Romantis / Cintamanis
Popularitas:856
Nilai: 5
Nama Author: NdahDhani

🌺 Sekuel cerita "Suami Rahasia Anindia", disarankan untuk membaca S1 terlebih dahulu agar ceritanya lebih nyambung untuk dibaca, terima kasih:)

•••

Setelah lulus SMA, Anindia dan Keanu memutuskan untuk melanjutkan pendidikan mereka di Universitas Trisakti Jakarta. Mereka berdua memiliki impian besar untuk masa depan, dan mereka tahu bahwa pendidikan adalah kunci untuk mencapai impian tersebut.

Namun, kehidupan mereka tidaklah semudah yang mereka bayangkan. Mereka harus menghadapi tantangan baru sebagai orang tua muda, mengurus si kecil Shaka yang berusia 1 tahun. Anindia dan Keanu harus membagi waktu antara kuliah, mengurus Shaka, dan menjalani kehidupan sebagai pasangan muda.

Bagaimana Anindia dan Keanu akan menghadapi tantangan sebagai orang tua muda dan mahasiswa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Jejak luka lama

Anindia kembali duduk di sofa setelah memastikan Shaka masih tertidur nyenyak di atas tempat tidur. Laptopnya kembali terbuka di pangkuan, jemarinya mulai bergerak pelan mengetik beberapa revisi tugas kuliahnya.

Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Keanu masuk dengan langkah tenang. Wajahnya terlihat jauh lebih santai dibanding saat turun tadi, meski sisa-sisa pikirannya masih tampak samar di sorot matanya.

Anindia langsung menoleh sekilas, "Dari mana, Mas?" Tanyanya pelan, takut membangunkan Shaka.

Keanu menutup pintu perlahan sebelum berjalan mendekat. "Tadi ngobrol sama Papa."

Anindia mengangguk kecil tanda mengerti, lalu kembali melirik layar laptopnya sebentar. Sementara Keanu berdiri tak jauh dari sofa. Ia tidak langsung duduk, tatapan justru pada Anindia sedikit lebih lama. Ada sedikit keraguan di wajahnya.

Keanu mengusap tengkuknya pelan, lalu menghela nafas panjang sebelum akhirnya duduk di samping Anindia.

Anindia yang menyadari perubahan itu perlahan menoleh. "Kenapa, Mas?" Tanyanya hati-hati.

Keanu terdiam sejenak, seperti menimbang sesuatu di pikirannya sendiri. Lalu akhirnya ia menatap Anindia perlahan.

"Kamu mau tau tentang Om Sandy dan Rendra?"

Anindia menatap Keanu beberapa saat. Dari sorot mata suaminya itu, ia bisa menangkap bahwa apa yang ingin diceritakan nanti bukanlah suatu hal yang ringan. Perlahan, ia mengangguk kecil.

"Aku mau dengerin, Mas," jawab Anindia lembut. "Tapi kalau kamu belum siap cerita sekarang juga gak apa-apa."

Anindia menatap Keanu lembut, "Kayaknya ini sesuatu yang berat buat kamu, ya?"

Keanu terdiam sesaat, lalu senyum kecil muncul di wajahnya. Ada rasa lega karena Anindia mencoba mengerti tanpa memaksa. Tangannya bergerak pelan, membelai rambut Anindia lembut.

"Aku capek nyimpen semuanya sendiri," ujar Keanu pelan. "Dan aku juga gak mungkin terus nutupin hal ini dari kamu."

Tatapan Keanu melembut saat menatap istrinya. "Kamu istri aku, sayang," lanjutnya. "Aku butuh seseorang buat dengerin cerita ini."

Anindia perlahan menutup laptopnya, lalu memutar tubuhnya sedikit menghadap Keanu. Tatapannya kini sepenuhnya fokus pada suaminya itu.

"Aku di sini," ujar Anindia lembut.

Keanu menundukkan kepalanya sesaat, jemarinya saling bertaut di depan. Ia menarik nafas panjang, seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk bercerita.

Beberapa detik berlalu, Keanu akhirnya kembali mengangkat pandangannya ke arah Anindia. "Semua ini bermula dari..." Ujar Keanu pelan.

Flashback on (POV Keanu):

Dulu, aku pikir masalah keluarga cuma terjadi di cerita orang lain. Sampai akhirnya aku melihat sendiri bagaimana harta bisa merubah seseorang.

Aku masih ingat jelas suasana rumah saat itu. Rumah ini yang biasanya tenang terasa sesak. Suara pertengkaran terdengar sampai ke lantai atas. Bahkan, pintu kamar pun tak mampu meredam nada tinggi dari dua orang dewasa yang sedang saling bersikeras.

Saat itu, aku masih SMP. Dan untuk pertama kalinya, aku melihat Papa benar-benar marah.

"Aku tidak pernah mengambil hak siapapun, Sandy!" Suara Papa terdengar keras dari ruang tengah.

Aku berdiri diam di balik tangga, menahan nafas sambil mengintip ke bawah. Di sana, Papa berdiri dengan wajah tegang. Sementara Om Sandy menatap balik dengan sorot mata penuh emosi.

"Bohong!" Bentak Om Sandy kasar. "Dari awal, emang Mas yang paling banyak dapat perhatian dari Papa!"

Papa mengeratkan rahangnya. "Jangan bawa-bawa hal pribadi ke urusan warisan."

"Warisan?" Om Sandy tertawa sinis. "Mas bilang adil? Semua keputusan selalu tentang Mas!"

Aku masih ingat bagaimana situasi saat itu terasa begitu panas. Bahkan Mama yang mencoba menenangkan pun tidak benar-benar bisa menghentikan pertengkaran mereka.

Di meja ruang tengah, beberapa map dokumen berserakan. Aku tidak terlalu mengerti isinya waktu itu, tapi aku tahu semuanya berkaitan dengan harta peninggalan Opa yang baru saja meninggal beberapa minggu sebelumnya.

"Papa sudah bagi semua sesuai porsinya," ujar Papa dengan nada yang tertahan. "Dan aku sama sekali tidak menyentuh bagian kamu."

"Tapi rumah ini tetap jatuh ke Mas!" Balas Om Sandy emosi.

Papa langsung menatap tajam, "Karena Papa sendiri yang mutusin itu sebelum beliau meninggal."

Om Sandy tertawa pendek, tapi tidak ada sedikitpun nada hangat di sana. "Aku capek hidup di bawah bayang-bayang Mas terus!"

Papa langsung berdiri dari duduknya. Wajahnya berubah semakin tegang, bukan hanya marah tapi juga kecewa.

"Apa kamu tidak sadar dengan apa yang kamu bicarakan sekarang?" Tanya Papa dengan suara rendah tapi terdengar lebih menekan.

Om Sandy masih menatapnya tajam tanpa mau mengalah sedikitpun. Papa menggeleng pelan, seolah sulit percaya dengan sikap adiknya sendiri.

"Papa baru meninggal, Sandy," ujar Papa lagi, kali ini nada suaranya terdengar jauh lebih berat. "Tapi yang kamu pikirkan sejak tadi hanya harta."

Suasana langsung hening beberapa detik. Aku masih diam di tangga, bahkan rasanya takut untuk turun ke bawah.

"Aku kecewa sama kamu," lanjut Papa pelan. "Dari dulu Papa selalu berusaha adil."

Om Sandy terkekeh sinis, "Adil menurut Mas mungkin."

"Bukan menurut aku!" Bentak Papa pada akhirnya. "Menurut Papa!"

Mama langsung terlihat terkejut melihat Papa yang jarang sekali semarah itu. Papa mengusap wajahnya kasar sekali, seolah sedang mencoba menahan emosinya sendiri.

"Selama ini aku selalu anggap kamu adik aku, Sandy," ujar Papa dengan nafas berat. "Tapi sekarang kamu malah datang seolah keluarga ini hanya soal warisan."

Tatapan Papa berubah penuh rasa lelah. "Kalau Papa masih hidup dan melihat kamu seperti ini, beliau pasti sangat kecewa."

Om Sandy langsung menatap Papa dengan wajah penuh emosi. Rahangnya mengeras, sementara tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya.

"Jadi sekarang Mas mau nyalahin aku?!" Tanyanya tajam. "Dari dulu memang selalu aku yang salah di mata keluarga ini!"

"Sandy-"

"Gak usah sok bijak, Mas!" Potong Om Sandy cepat, suaranya kembali meninggi memenuhi ruang tengah. "Mas gak pernah ada di posisi aku, jadi jangan seolah paling mengerti semuanya!"

Mama mencoba melangkah mendekat, berniat memenangkan. Tapi Om Sandy kembali berbicara lebih dulu. "Seumur hidup, Papa selalu lebih bangga sama Mas! Ujarnya penuh emosi. "Apa-apa Mas, keputusan selalu tentang Mas!"

Papa menghela nafas berat, jelas mencoba menahan kesabarannya yang mulai habis. "Itu hanya pemikiran kamu sendiri."

"Tidak!" Bentak Om Sandy. "Aku mengalaminya sejak kecil!"

Suara benda jatuh terdengar keras saat Om Sandy tanpa sengaja menyenggol salah satu map di meja, membuat isinya berserakan di lantai. Aku refleks tersentak kecil di tangga.

Om Sandy menatap Papa dengan mata merah penuh amarah dan kecewa yang bercampur menjadi satu. "Aku capek selalu dianggap lebih rendah dari Mas."

"Cukup!"

Suara Papa menggema keras di bawah sana. Nada suaranya penuh amarah sekaligus rasa lelah yang sudah terlalu lama ditahan.

Semua langsung terdiam. Bahkan Om Sandy yang sejak tadi terus membantah pun terlihat terpaku sesaat. Papa menatap adiknya tajam, dadanya naik turun menahan emosi.

"Kalau memang harta yang kamu inginkan," ujar Papa dengan suara berat. "Ambil semuanya."

Mama langsung menoleh cepat ke arah Papa, terkejut dengan ucapan itu. Tapi, Papa belum selesai.

"Semua yang mau kamu ambil, ambil," lanjut Papa dengan suara tegas. "Tapi jangan rumah ini."

Papa mengusap kasar wajahnya lagi sebelum kembali berbicara. Kali ini, suaranya terdengar lebih rendah namun penuh penekanan.

"Rumah ini satu-satunya yang harus aku pertahankan," ujar Papa. "Karena ini bukan hanya soal harta."

Tatapan Papa perlahan menatap tiap sudut rumah itu. "Di rumah ini Papa membesarkan kita," ujar Papa. "Di rumah ini juga semua kenangan tentang Mama masih ada."

Aku masih mengingat jelas bagaimana mata Papa saat mengatakan itu. Marah, kecewa, tapi juga terlihat terluka.

"Jangan sampai karena ambisi kamu sendiri, rumah ini ikut hancur."

Om Sandy terdiam sejenak setelah mendengar itu. Namun setelahnya, ia justru tertawa dingin.

Papa langsung menatapnya dengan rahang mengeras, sementara Mama terlihat semakin khawatir.

"Lucu sekali," ujar Om Sandy sambil menggeleng kecil. "Dari tadi Mas bilang ini bukan tentang harta, tapi tetap saja rumah ini yang dipertahankan."

Papa tidak menjawab. Om Sandy melangkah perlahan mendekati meja, lalu menatap sekeliling rumah dengan tatapan yang sulit dijelaskan.

"Sekarang aku mengerti," lanjut Om Sandy dengan senyum miring. "Bagi Mas, rumah ini jauh lebih penting daripada adik sendiri."

"Jangan memutar balik semuanya, Sandy," ujar Papa tegas.

"Terserah Mas mau bilang apa," Om Sandy kembali tertawa pendek. "Tapi aku tidak sebodoh itu untuk percaya bahwa semua ini adil."

Tangan Papa mengepal erat saat itu, terlihat sangat kecewa melihat adiknya yang berubah sejauh itu. Sementara Om Sandy menatap Papa lurus tanpa gentar sedikitpun.

"Kalau memang rumah ini begitu berharga buat Mas," ucap Om Sandy dingin. "Kira lihat saja nanti siapa yang bisa mempertahankannya."

Setelah mengatakan itu, ia langsung mengambil kunci mobil di atas meja dengan gerakan kasar.

Mama refleks memanggilnya. "Sandy!"

Namun, Om Sandy sama sekali tidak berhenti. Langkahnya lebar dan cepat menuju pintu depan, penuh emosi yang tidak bisa ia sembunyikan lagi.

Papa masih berdiri di tempatnya dengan wajah tegang. Sementara aku hanya diam di tangga, melihat semuanya tanpa benar-benar mengerti harus bereaksi bagaimana.

Brakk!

Suara pintu rumah yang dibanting terdengar keras. Semua langsung terasa sunyi setelahnya. Mama menghela nafas panjang sambil memejamkan mata sejenak, ikut lelah dengan pertengkaran itu.

Sementara Papa hanya berdiri diam beberapa saat. Tatapannya kosong menatap pintu yang baru saja tertutup.

Waktu itu, Om Sandy memang sudah berpisah dengan istrinya. Dan sejak perceraian itu, Rendra tunggal bersama beliau.

Setelah hari itu, hubungan keluarga kami benar-benar mulai berubah. Tidak ada lagi kunjungan keluarga seperti dulu. Dan nama Om Sandy perlahan mulai jarang disebut di rumah ini.

"Mas," suara Mama pelan saat berjalan mendekati Papa, seolah takut memicu sisa emosi yang masih tersisa.

"Sudah, jangan dipikirin lagi. Kamu juga capek," Mama menyentuh lengan Papa mencoba menenangkan.

Papa menghela nafas panjang, bahunya naik turun, seperti sedang menahan banyak hal sekaligus. "Aku gak nyangka dia bakal ngomong sejauh itu."

"Dia itu adik kamu, Mas," ujar Mama lembut. "Mungkin dia lagi emosi aja."

Papa tertawa kecil, lebih seperti lelah yang tidak tersampaikan dengan kata-kata. "Emosi bukan alasan untuk menghancurkan keluarga sendiri," jawab Papa lirih.

"Setidaknya kamu sudah coba jelasin semuanya," lanjut Mama.

"Aku hanya tidak ingin rumah ini menjadi sumber perpecahan," timpal Papa. "Kalau sampai rumah ini diambil, kasihan Keanu."

Aku hanya diam, tanpa tahu apa yang harus kulakukan. Waktu itu, aku memang bukan anak baik, aku bandel.

Sering pulang malam, bolos, ikut balapan liar, nongkrong sampai larut tanpa Mama Papa tahu apa yang aku lakukan di luar rumah.

Saat itu, aku pikir hidupku bakal selalu aman. Aku lahir di keluarga berada, semua yang aku mau hampir selalu ada. Dan bodohnya, aku menganggap semua itu sebagai kebebasan.

Aku pikir uang bisa menyelesaikan semuanya. Sampai pertengahan itu terjadi. Entah mengapa, setelah mendengar semua tentang warisan, rumah, dan keluarga yang mulai hancur karena harta, pikiranku mulai tidak tenang.

Aku sadar kalau hidup yang selama ini aku anggap aman ternyata bisa runtuh kapan saja. Tapi di sisi lain, aku juga tidak bisa langsung berubah. Malam tetap jadi tempat pelarianku.

Kadang setelah pulang malam, aku hanya duduk di kamar sambil mikir sendiri. Kalau rumah ini benar-benar hilang, apa yang bakal tersisa buat keluarga kami?

Dan anehnya, semakin aku memikirkan soal itu, semakin berantakan juga hidupku waktu itu.

***

Keanu terdiam setelah menyelesaikan ceritanya. Sorot matanya kosong beberapa detik, seolah pikirannya masih tertinggal di masa lalu meski baru saja ia buka kembali.

Sementara di depannya, Anindia hanya diam mendengarkan. Laptop di pangkuannya sudah terlupakan sejak tadi. Fokusnya sepenuhnya tertuju pada Keanu.

Anindia tidak langsung bicara. Ia baru benar-benar mengerti sekarang. Perlahan, ia menggeser duduknya sedikit lebih dekat. Tangannya langsung menggenggam tangan Keanu lembut.

"Pasti berat ya, Mas?" Ujar Anindia lirih.

Keanu tersenyum tipis, "Dulu aku mikir semuanya bakal baik-baik aja," ujarnya pelan. "Ternyata gak sesederhana itu."

Anindia menatap Keanu lama. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar melihat sisi lain dari suaminya. Bukan Keanu yang selalu terlihat santai dan tenang, tapi Keanu yang pernah tumbuh di tengah konflik keluarga dan kebingungannya sendiri.

Dan mungkin, itu juga alasan mengapa Keanu dulu menjadi seseorang yang begitu keras kepala.

Anindia mengusap pelan punggung tangan suaminya. "Sekarang kamu gak sendiri lagi, Mas."

Keanu menatap Anindia dengan tatapan yang lebih tenang dari sebelumnya, senyum tipis terukir di wajahnya. "Aku tau itu," ujarnya lembut. "Thank you, my wife."

Anindia sedikit terdiam setelah ucapan itu, tanpa sadar seutas senyum tipis terukir di wajahnya. Tatapannya tidak lepas dari wajah Keanu, sementara jemarinya menggenggam tangan suaminya lebih erat.

Suasana hening untuk beberapa saat. Hingga akhirnya, Keanu kembali bersuara pelan. "Dan soal Rendra," ujarnya sambil menatap ke depan. "Aku pernah duel sama dia waktu SMP."

Anindia langsung mengernyit kaget. "Hah? Duel?"

Keanu tersenyum tipis, tapi sorot matanya perlahan berubah serius. Seolah, kenangan itu bukan sesuatu yang sederhana untuk diingat kembali.

^^^Bersambung...^^^

1
Fadillah Ahmad
Kok, sepi sih, yang baca? Padahal Tulisan di Sinopsis-nya bagus loh? Rapi lagi. Kok sepi banget, ya?

Kebetulan sekali, novel ini, muncul di beranda-ku kak 🙏😁
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Terima kasih udah mampir, kak... Selamat membaca ya, semoga terhibur hehe😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!