NovelToon NovelToon
Istri Putra Mahkota Yang Kejam

Istri Putra Mahkota Yang Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Romansa Fantasi
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Di jantung Kekaisaran Valerieth yang agung, sebuah titah kaisar mengguncang pilar-pilar bangsawan. Lilianne von Eisenhardt, putri tunggal dari penguasa wilayah Utara yang disegani, Duke Kaelric von Eisenhardt, dipaksa memasuki ikatan suci di usianya yang baru menginjak 15 tahun.

Lilianne, yang memiliki kecantikan selembut bunga musim semi namun ketabahan layaknya baja Nordik, dijodohkan dengan sang pewaris takhta yang menjadi mimpi buruk bagi musuh-musuhnya: Putra Mahkota Arthur Valerius de Valerieth.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 27

***

Satu minggu telah berlalu sejak maut nyaris merenggut nyawa Lilianne di pondok kayu yang sunyi itu. Desa kecil di pinggiran Valerieth yang biasanya tenang, kini telah berubah menjadi benteng militer yang mencekam. Prajurit dengan zirah hitam legam berdiri kaku di setiap sudut jalan, mata mereka waspada di balik rimbunnya pohon pinus.

Di dalam kamar sempit yang beraroma herba pahit, Arthur tidak pernah beranjak. Penampilannya berantakan janggut tipis mulai tumbuh di rahangnya, seragam kebesarannya kusut, dan matanya merah karena menolak tidur lebih dari dua jam sehari. Ia seperti anjing penjaga yang gila, menolak mandi atau makan dengan layak hanya untuk memastikan bahwa dada Lilianne tetap bergerak naik-turun saat bernapas.

Selama seminggu itu, Arthur bersikap sangat lembut sebuah kelembutan yang mengerikan. Ia menyuapi Lilianne secara pribadi, membersihkan keringat di dahinya, dan membisikkan kata-kata posesif setiap kali Lilianne terbangun. Namun, Lilianne tidak bodoh. Ia tahu kelembutan itu hanyalah manifestasi dari ketakutan Arthur akan kehilangan aset berharganya sang ahli waris.

**

Pagi itu, sinar matahari menembus celah jendela kayu, memberikan cahaya keemasan yang langka di tengah musim dingin. Arthur akhirnya jatuh terlelap di kursi kayu di samping ranjang, kepalanya tertunduk karena kelelahan yang luar biasa. Genggamannya pada tangan Lilianne mengendur untuk pertama kalinya.

Lilianne membuka matanya perlahan. Melihat sang monster tertidur, ia merasakan dorongan yang kuat untuk keluar. Tubuhnya memang masih lemah, namun kakinya merindukan tanah, dan paru-parunya merindukan udara yang tidak berbau obat-obatan.

Dengan gerakan sangat hati-hati, ia menarik tangannya. Ia turun dari ranjang, menahan nyeri tumpul yang masih tersisa di pinggangnya. Ia mengambil jubah bulu serigala utaranya yang tergeletak di meja, lalu menyelinap keluar pintu dengan langkah tanpa suara.

Begitu ia melangkah keluar dari pondok, para prajurit yang berjaga langsung tersentak. Suara zirah yang beradu menciptakan kegaduhan kecil.

"Yang Mulia Putri Mahkota!" salah satu komandan maju dengan wajah pucat. "Anda tidak boleh keluar! Perintah Yang Mulia Putra Mahkota sangat jelas, Anda harus beristirahat total!"

Lilianne menegakkan punggungnya, memancarkan wibawa putri Utara yang selama ini terkubur dalam ketakutan. "Jangan buat kegaduhan. Aku hanya ingin menghirup udara segar. Cukup kawal aku dari jarak yang pantas, dan jangan berani-berani membangunkan suami saya jika kalian tidak ingin melihatnya mengamuk karena istirahatnya terganggu."

Para prajurit itu saling pandang, cemas namun tak berani membantah mata perak Lilianne yang berkilat tegas. Akhirnya, mereka mundur dua langkah dan membiarkannya berjalan.

Lilianne berjalan menyusuri jalanan desa yang berdebu namun asri. Selama hampir satu tahun ia terkurung di Sayap Timur, dunia luar baginya hanyalah pemandangan dari balik jeruji balkon. Sekarang, merasakan angin dingin menerpa wajahnya dan mendengar suara ayam berkokok, Lilianne merasa dirinya hidup kembali.

Warga desa yang sedang beraktivitas seketika berhenti. Seorang ibu yang sedang menjemur pakaian mematung, seorang pandai besi menurunkan palunya. Mereka menatap wanita hamil berambut perak itu seolah melihat penampakan dewi.

"Teruskan pekerjaan kalian," ujar Lilianne dengan senyum tipis yang ramah. "Jangan biarkan kehadiranku mengganggu hari kalian yang indah."

Ia terus berjalan hingga sampai di sebuah lapangan kecil di mana sekelompok anak-anak sedang bermain bola kain. Begitu melihat prajurit bersenjata mengikuti seorang wanita cantik, anak-anak itu berhenti dan bersembunyi di balik pohon, ketakutan.

Tiba-tiba, bola kain yang mereka mainkan menggelinding tak terkendali ke arah kaki Lilianne. Para prajurit langsung waspada, menghunuskan tangan ke gagang pedang mereka.

"Berhenti! Jangan bergerak!" bentak prajurit itu pada anak-anak.

"Hentikan!" suara Lilianne memotong tajam.

Ia membungkuk perlahan, mengambil bola kain yang kotor itu, lalu menatap anak-anak tersebut dengan tatapan lembut. "Apakah kalian ingin mengambil bolanya?"

Seorang anak laki-laki kecil dengan pipi kemerahan maju dengan ragu-ragu. "I-itu bola kami, Yang Mulia."

Lilianne tersenyum, sebuah senyuman tulus yang sudah lama tidak ia tunjukkan. "Kemarilah, ambil bolanya. Aku tidak akan menggigit."

Lambat laun, suasana tegang itu cair. Lilianne duduk di sebuah batang pohon tumbang, membiarkan anak-anak itu mendekat. Mereka yang awalnya takut, kini terpesona oleh kecantikan Lilianne yang tidak seperti manusia biasa. Rambut panjang peraknya yang dibiarkan tergerai tertiup angin, benar-benar definisi dewi yang agung.

"Yang Mulia, apakah benar Anda tinggal di istana emas?" tanya seorang gadis kecil dengan mata bulat.

Lilianne tertawa kecil, suara denting yang membuat para prajurit di kejauhan pun terpaku. "Istana itu besar, tapi tidak sehangat desa ini. Apakah kalian ingin mendengar sebuah kisah? Kisah tentang pegunungan salju di Utara, tempat asal ku?"

Anak-anak itu duduk melingkar di bawah kakinya. Lilianne mulai bercerita. Ia mengisahkan tentang serigala putih, tentang bunga yang mekar di bawah es, dan tentang kebebasan. Suaranya mengalun merdu, membawa kedamaian bagi siapa pun yang mendengar. Ia mengelus perutnya yang sudah tenang, seolah ingin memberi tahu bayinya bahwa dunia ini memiliki sisi yang indah di luar kekejaman ayahnya.

Sementara itu, di dalam pondok, Arthur terbangun dengan sentakan hebat. Tangannya secara otomatis meraba sisi ranjang, mencari tangan Lilianne. Namun, yang ia temukan hanyalah sprei yang sudah dingin.

"LILIANNE?!"

Suaranya menggelegar, penuh dengan kepanikan gila. Ia melompat dari kursi, menendang meja hingga air di cangkir tumpah berantakan. Pikirannya langsung melayang pada pengkhianatan, pelarian, atau penculikan oleh komplotan Julian.

Ia keluar dari pondok dengan pedang terhunus di tangan kanan, tanpa sepatu, dan mata yang berkilat seperti setan. "DIMANA DIA?! JAWAB AKU SEBELUM AKU MEMBANTAI KALIAN SEMUA!" raungnya pada penjaga di depan pintu.

"Yang Mulia... Putri Mahkota ada di lapangan desa... beliau hanya ingin..."

Arthur tidak menunggu penjelasan. Ia berlari kencang menuju pusat desa, napasnya memburu, siap menghabisi siapa pun yang berani menyentuh miliknya. Ia membayangkan Lilianne sedang disandera atau mencoba kabur.

Namun, langkahnya terhenti secara tiba-tiba di ujung lapangan.

Pemandangan di depannya menghantam dadanya lebih keras daripada hantaman gada. Di sana, di bawah sinar matahari yang cerah, Lilianne sedang duduk dikelilingi anak-anak desa. Ia tertawa, sebuah tawa yang belum pernah Arthur dengar selama satu tahun ini. Wajahnya yang pucat kini tampak bersinar, dan rambut peraknya berkilau indah.

Lilianne tampak begitu... bahagia. Dan kebahagiaan itu tidak ada hubungannya dengan Arthur.

"Lalu, serigala itu melompat ke atas awan dan..." Lilianne menghentikan ceritanya saat merasakan aura gelap yang mendekat. Ia menoleh dan melihat Arthur berdiri membeku di kejauhan, napasnya masih terengah-engah, dengan pedang yang masih tergenggam erat.

Anak-anak desa ketakutan melihat Arthur yang tampak sangat mengerikan, mereka segera berlari ke arah orang tua mereka.

Arthur perlahan menurunkan pedangnya. Ia menatap Lilianne dengan tatapan yang sulit diartikan campuran antara kemarahan yang meluap, rasa lega yang menyesakkan, dan kecemburuan yang aneh.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Arthur, suaranya parau dan bergetar.

Lilianne berdiri perlahan, membetulkan jubahnya. "Menghirup udara segar, Yang Mulia. Sesuatu yang hampir terlupa bagaimana rasanya."

Arthur berjalan mendekat, langkahnya berat. Ia mencengkeram bahu Lilianne, tidak kasar, tapi sangat posesif. "Kau hampir membuatku membakar desa ini, Lili. Kau tidak boleh menghilang dari pandanganku! Tidak sedetik pun!"

Lilianne menatap mata Arthur tanpa gentar. "Lihatlah mereka, yang mulia. Rakyatmu. Mereka tidak takut pada saya, mereka mencintai saya. Kenapa anda begitu takut pada senyumanku di luar sangkarmu?"

Arthur terdiam. Ia melihat warga desa yang menatap mereka dengan penuh hormat namun ada ketakutan pada dirinya. Ia menarik Lilianne ke dalam pelukannya, membenamkan wajahnya di leher istrinya di depan semua orang.

"Karena di luar sangkar itu, kau bukan lagi milikku seutuhnya," bisik Arthur dengan suara yang terdengar hampir seperti isakan. "Dunia bisa melihatmu, dunia bisa memilikimu. Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi."

Lilianne hanya bisa menghela napas. Ia menyadari bahwa meski ia telah mendapatkan sedikit cahaya hari ini, rantai yang mengikatnya pada Arthur justru semakin pendek. Sang monster tidak hanya takut kehilangannya, sang monster takut pada setiap detik di mana Lilianne menjadi manusia yang merdeka.

"Bawa saya kembali, Yang Mulia," ujar Lilianne dingin. "Sebelum kegilaan anda benar-benar melukai orang-orang tidak berdosa ini."

Arthur menggendong Lilianne kembali menuju pondok, meninggalkan lapangan desa yang kembali sunyi. Namun, di dalam hati warga desa dan anak-anak itu, Putri Mahkota mereka telah menjadi legenda seorang dewi yang agung yang terjebak dalam pelukan seekor naga yang haus darah.

***

Bersambung...

1
Murni Dewita
👣
Heresnanaa_: hai Kaka, happy reading yaa 😚
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
kasian banget arthur😭
Heresnanaa_: stay tune up 😚
total 1 replies
MARWAH HASAN
bagus loh ceritanya
entah kenapa
komen ini hilang
MARWAH HASAN
aku tinggalkan komen🤣
Heresnanaa_: hai Kaka, happy reading yaa 🫶
total 1 replies
Intan Aprilia Rahmawati
up dong kk
Reni Anggraeni
up tor
Erni Wati
cerita nya keren tp kok sepi ya?
Lilia_safira: kurang update author nya
total 2 replies
Erni Wati
semangat thor,,,💪💪💪
Heresnanaa_: maaciw kaka🥹🫂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!