Cikal Bakal Tim Divisi Kasus Dingin
Ini GD setelah GD 1 sebelum GD 2 ( Shea n the gank ). Makanya aku kasih judul Ghost Detective Season 1.5.
Isinya awal tim gabut dibentuk. Masih the o.g tim ( bang Dean, mas Rayyan, mbak Nana, mbak Tikah dan pak Jarot ). Jangan cari mbak Lilis karena belum ada tapi ada awal mula mbak Susi ikutan. Ada mbak Nita juga, ada anomali lainnya ( belum musim Saja Boys versi tuyul ). Masih ada Hoshi dan Bima. Ini masih bersama L, Nyes dan Dendeng.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Tidak Percaya!
Dokter Rahmat datang ke rumah sakit dengan perasaan bingung. Dia tidak habis pikir jika semua organ diangkut eh ... diambil begitu saja! Memang benar pak Yono tidak ada keluarga bahkan uang pensiun dia saja sudah dipakai buat bayar panti jompo nya termasuk dengan biaya pemakaman kalau dia meninggal.
Percakapannya dengan dokter Wayan, semakin memperkuat kecurigaannya karena tidak mudah untuk membawa jenazah yang segar ke ME kalau tidak ada bantuan orang dalam. Ditambah, surat kematian yang begitu cepat keluar padahal belum ada konfirmasi dari Harmoni Life.
"Sungguh! Kasus ini sangat menyebalkan!" gumam dokter Rahmat.
"Kasus apa Dok Rahmat?"
Dokter Rahmat terkejut dan menghentikan langkahnya. Dia pun berbalik perlahan dan tersenyum sopan ke dokter Westin yang ada di belakangnya.
"Kasus tumor Dok. Saya sedang ... memikirkan kasus baru," jawab dokter Rahmat dengan wajah polos.
"Oh, aku kira kasus lain," ucap dokter Westin dengan wajah lega.
"Kasus ... apa ya Dok?" tanya dokter Rahmat. Pria itu tetap memainkan peran sebagai dokter polos yang tidak tahu apapun.
"Bukankah kamu bekerja di Harmoni Life? Ada yang meninggal kan disana?" balas dokter Westin.
"Oh. Iya Dok tapi bukan kasus karena Pak Yono meninggal karena faktor alami. Beliau kena serangan jantung," jawab dokter Rahmat.
"Sudah diautopsi?" tanya dokter Westin.
"Tidak Dok. Kan alami."
Entah perasaan dokter Rahmat saja atau bagaimana. Dia melihat raut lega di wajah dokter Westin.
"Sangat mencurigakan ... Dobel mencurigakan!" batin dokter Rahmat.
"Ayo, kita visite pasien." Dokter Westin mengajak dokter Rahmat melakukan visite pasien.
***
Ruang Kerja AKP Dean Thomas dan Iptu Rayyan
"Serius Dok?" tanya AKP Dean Thomas ke dokter Wayan yang datang untuk memberikan laporan hasil penyelidikan dari jenazah Yono.
"Serius Pak Dean. Aku dan dokter Rahmat sampai tidak bisa berkata-kata. Sungguh, ini diluar perikemanusiaan dan sumpah dokter!" jawab dokter Wayan sambil menyesap kopinya.
AKP Dean dan Iptu Rayyan saling berpandangan. Seriously?
"Jadi semua organ tidak ditemukan baik di bank organ atau rumah sakit?" tanya Iptu Rayyan.
"Jelas tidak, pak Rayyan. Aku yakin sudah dijual ke black market. Bisa dibilang ini pasti ada beking kuat karena berani melakukannya tepat saat jenazah tiba di rumah sakit."
"Apakah di Bhayangkara?" tanya AKP Dean Thomas.
"Benar."
AKP Dean Thomas mengusap wajahnya. "Bisa kena audit tidak ya?"
"Harusnya kena audit tapi anda tahu kan Konoha bagaimana?" jawab dokter Wayan.
Iptu Rayyan menatap dokter Wayan. "Lalu rencana dokter Rahmat hendak berjaga-jaga di Harmoni Life?"
"Saya bilang itu bisa membahayakan dirinya. Tapi Dok Rahmat bilang dia tidak sendirian. Apakah bersama dengan pak Dean dan pak Rayyan?" tanya dokter Wayan.
"Tidak. Kami tidak akan kesana. Bisa dibilang, Dokter Rahmat mendapatkan bantuan dari antek-antek asing," senyum AKP Dean Thomas.
"Apa maksudnya pak Dean?" Dokter Wayan tampak bingung.
***
Ruang Kerja Divisi Kasus Dingin Polda Metro Jaya Jakarta
Edi ikut bersama dengan Iptu Nana dan Iptu Rosita serta gadis bernama Dewi Mentari yang merupakan sepupu ipar Iptu Rayyan. Gadis cantik blasteran itu adalah konsultan di divisi kasus dingin. Edi merasa gadis berwajah dingin itu tampak tidak suka dengannya.
Mereka pun masuk dan melihat Kompol Jarot disana sedang membuat laporan tentang kejahatan Tegar. Dia banyak mendapatkan laporan dari para orang tua yang anaknya menjadi korban bullying dan menjadi bunuh diri.
"Lho? Kok ada dik Edi?" senyum Kompol Jarot sambil mengganti layar komputernya jadi gambar tanaman koleksinya.
"Iya bang. Aku ketemu sama dik Nana dan dik Atikah di rumah sakit pas pada besuk Tegar. Aku mau tanya, mas Dean ada?" tanya Edi.
"Mas Dean sedang ada tamu. Sepertinya belum selesai." Kompol Jarot lalu mempersilakan Edi duduk di sofa khusus tamu sementara dua polwan bersama dengan Dewi Mentari duduk di kursi kerja masing-masing. "Ada apa dik Edi?"
"Gini bang. Aku tuh sudah jenuh di divisi satlantas," jawab Edi.
"Lho? Kok jenuh? Bukannya duitnya banyak ya?" tanya Kompol Jarot bingung.
"Bosan saja sih sebenarnya. Aku ingin perubahan yang berbeda. Aku lihat dik Nana dan dik Atikah tampak santai disini ... jadi aku ingin mencoba suasana baru." Edi melihat sekelilingnya dimana ruangan itu masih ada ruangan lagi dari empat pintu disana.
Empat pintu itu memiliki papan masing-masing dengan tulisan nyeleneh.
Kamar adus Lanang
Kamar adus wadon
Kamar ganti unisex tapi wajib ketuk pintu biar tahu ada orang di dalam atau tidak
Ruang kumpul ala pos kamling
"Siapa yang buat papan nama di pintu itu?" tanya Edi.
"Dik Rayyan itu yang buat. Biar ada seseruan saja," senyum Kompol Jarot.
"Ya ampun," senyum Edi.
"Kalau kamu mau nunggu, tidak apa-apa. Mau kopi?" tawar Kompol Jarot.
"Boleh." Edi melihat bagaimana lemari yang berada disana selain berisikan folder-folder kasus, juga ada lemari berisikan makanan kecil alias camilan dan minuman. Di sebelahnya ada mesin kopi yang mahal serta berbagai jenis kopi.
"Betapa mewahnya ruang kerja mereka," batin Edi.
"Silakan kopinya, Ed. Disini soal perut itu melimpah. Setiap dua Minggu sekali pasti kami mengisi apa yang sudah habis." Kompol Jarot tersenyum ke arah sumber ransum buat mereka.
"Dan siapa saja boleh ambil?" tanya Edi.
"Boleh. Selama masih anggota divisi kasus dingin," jawab Kompol Jarot.
Iptu Nana yang seperti sedang bekerja mengurus kasus lama, mengirim pesan ke Iptu Atikah dan Dewi Mentari. Kompaknya, mereka melakukan silent di ponsel masing-masing.
📩 Nana Keren : Aku tidak suka dengan perubahan.
📩 Atikah dan Aji : Aku juga tidak percaya.
📩 Dewi Mentari : Apa perlu kasih serum buatan mbak Nyunyun?
📩 Nana Keren : Kamu ada stok? Serum kejujuran?
📩 Dewi Mentari : Tante Nana itu gimana sih? Ada lho ya di lemari obat. Sudah dikasih satu kotak isinya lima puluh ampul.
Iptu Nana menoleh ke arah Dewi Mentari yang tersenyum manis.
"Kenapa nggak bilaaaaannnggg!" seru Iptu Nana gemas membuat Kompol Jarot dan Edi kaget.
"Apaan sih Na?" tanya Kompol Jarot.
"Oh, mbak Dewi cerita soal ada poci di sudut sana," jawab Iptu Nana asal sambil menunjuk ke arah dekat pintu.
Sementara itu, Tole yang berada disana, merasa terdzolimi.
"Semesta, aku itu tuyul comel, bukan poci yang loncat-loncat macam Mr Vampire!" gerutu Tole sebal.
***
Harmoni Life
Raiden mendatangi rumah jompo itu dan bergaya hendak melamar menjadi pegawai disana. Dia pun diterima karena bilang hendak menjadi relawan jadi dikasih gaji, syukur. Tidak ya tidak apa-apa. Apalagi dia bilang masih adik dokter Rahmat.
Raiden pun segera mempelajari semua denah dan akhirnya bisa menemukan darimana si culprit alias pelaku masuk. Sebuah pintu rahasia disana.
***
Yuhuuuu up Siang yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
Bukannya takut ,aku ngakak 🤣🤣🤣🤣
Itu Dok Arlo mau dibikin pingsan berapa kali duhai team arwah 😄😄
ada takutnya tapi banyak ngakaknya🤣🤣🤣🤣
biasanya cuma sesekali aja mereka dilihatin, itupun cuma 1 anomali.
lg pura² lihat & tau mndadak lihat beneran🤭🤭🤭
pd kmna nih yg suka usil d sel????
kn ga seru kl tu pnjht ga jjeritan......🤣🤣🤣
nek pingin nguntal uwong, enak nggawe bosi suroboyan opo maneh pisuhane... muaanteppp pokok e 🤣🤣🤣