NovelToon NovelToon
Kisah Pedang Penakluk Tiga Ribu Dunia

Kisah Pedang Penakluk Tiga Ribu Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Action
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yuzuki chan

Kaisar Pedang Langit, Cang Yue, menemui ajalnya di ujung bilah sang saudara seperguruan, Feng Jiantian. Alih-alih lenyap menjadi abu, jiwanya menyeberangi lautan reinkarnasi dan menetap di tubuh Yan Xinghe—seorang pemuda lumpuh dengan meridian hancur di Benua Tanah Spiritual. Tanpa keajaiban instan, Xinghe harus memulai dari titik terendah. Bermodalkan ingatan masa lalu dan tekad baja, ia merangkak naik, menahan penderitaan luar biasa untuk menempa ulang tubuh fana-nya. Ini adalah epik perjalanan darah dan keringat menembus benua demi benua, membelah Tiga Ribu Dunia, demi merebut kembali takhta keabadian yang terampas.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuzuki chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 26 penghancuran gerbang utara dan sumpah darah di balik kabut

Hujan gerimis yang membasahi Kota Perbatasan Batu Hitam kini telah berubah menjadi badai deras yang menggila. Langit malam bergulung kelam, diterangi oleh kilatan petir alami yang sesekali membelah awan abu-abu di atas cakrawala. Air hujan mengalir deras menyusuri jalanan batu vulkanik hitam, menghanyutkan sisa-sisa jelaga dan aroma belerang dari distrik penempaan, menggantikannya dengan hawa dingin yang mencekam.

Di ujung jalan utama distrik utara, sebuah barikade militer berskala raksasa telah berdiri kokoh memblokir rute menuju gerbang keluar kota.

Tiga ribu prajurit *Kavaleri Berat* milik Faksi Militer Naga Perak berbaris rapat dalam disiplin baja yang kaku. Mereka mengenakan zirah lempengan besi hitam setebal dua jari, memegang tombak panjang berujung kait dan perisai menara setinggi dada manusia. Kuda-kuda perang yang mereka kendarai adalah jenis *Kuda Hitam Bersisik*, makhluk spiritual tingkat rendah yang langkah kakinya memancarkan hawa dingin pasif.

Di depan barikade tameng besi tersebut, berdiri sesosok pria tinggi kurus mengenakan jubah perang perak dengan selempang merah darah di bahunya. Pria itu adalah Komandan Pertahanan Gerbang, Fang Zhen, seorang veteran perang berhati dingin yang telah menduduki **Alam Pembukaan Meridian Tingkat Kelima**. Di tangannya, sebilah pedang besar bermata ganda memancarkan rona kebiruan yang tajam, memotong rintik hujan yang jatuh di sekitarnya.

"Pertahankan formasi!" suara Fang Zhen menggelegar menembus deru badai, dialiri energi spiritual elemen logam yang pekat. "Jenderal Lei Zhan telah gugur, perbendaharaan logistik kita dijarah. Tikus berjubah hitam itu pasti akan menuju kemari untuk melarikan diri ke wilayah dalam. Siapa pun yang berani mundur satu langkah, aku sendiri yang akan memenggal kepalanya!"

"Siap, Komandan!" tiga ribu prajurit berseru serentak, suara benturan perisai besi mereka bergema keras menggetarkan dinding-dinding bangunan batu di sekitarnya.

Tepat saat gaung teriakan mereka memudar di udara, sebuah suara gemuruh ritmis terdengar dari arah kegelapan lorong selatan. Bukan suara derap kavaleri pengelana, melainkan suara gesekan roda pedati kayu berat yang dipaksa melaju kencang di atas permukaan batu yang licin.

Dari balik tirai hujan deras dan kabut malam yang pekat, muncullah sebuah pedati logistik raksasa yang ditarik oleh empat ekor Kuda Bersisik Hitam. Pedati itu terisi penuh oleh karung-karung giok dan kotak penyimpanan yang memancarkan pendaran cahaya spiritual keperakan—seluruh harta karun rampasan dari gudang perbendaharaan militer.

Ye Ling’er duduk di kursi kemudi, kedua tangannya memegang erat tali kekang kuda dengan pandangan mata yang cerdas namun sarat akan kewaspadaan. Di sampingnya, Yan Xinghe berdiri tegak lurus di atas papan kayu depan pedati.

Jubah sutra hitamnya basah kuyup oleh air hujan, menempel ketat di wujud tubuhnya yang ramping. Di punggungnya, *Pedang Berat Tanpa Bilah* bersandar dengan angkuh, memancarkan getaran frekuensi mikro yang menguapkan rintik air sebelum sempat menyentuh permukaan logam meteorit tersebut. Sepasang mata gelap Xinghe menatap barisan tiga ribu prajurit di depannya dengan ketenangan yang mutlak, tidak ada sedikit pun riak keraguan di wajah pucatnya.

"Dia datang! Pasukan panah mekanik, lepaskan tembakan!" teriak Fang Zhen mengayunkan pedangnya ke bawah.

*SYUUT! SYUUT! SYUUT!*

Ratusan anak panah besi raksasa melesat serentak dari sela-sela perisai menara. Panah-panah itu digerakkan oleh pegas busur mekanik berkekuatan tinggi, lintasannya membelah badai hujan dengan suara desingan tajam yang sanggup merobek zirah berat dalam sekejap.

Xinghe tidak memerintahkan pedati untuk melambat. Kakinya menghentak ringan, melompat turun dari kursi kemudi, meluncur di atas lantai batu vulkanik yang basah dengan kecepatan yang nyaris tidak tertangkap oleh mata fana. Tangan kanannya bergerak ke belakang, mencengkeram lilitan kulit gagang pedang beratnya, lalu mencabutnya dalam satu gerakan setengah lingkaran penuh ke depan dada.

Energi **Alam Pembukaan Meridian Tingkat Pertama** miliknya yang baru saja menyatu sempurna dengan esensi guntur meledak keluar secara konstan. Guratan emas-merah di bilah pedang hitam seberat lima ribu kati itu menyala luar biasa benderang di bawah kegelapan malam.

**"Seni Pedang Berat Penakluk Gunung: Pembelah Badai Penghancur Barikade!"**

Xinghe mengayunkan pedang beratnya dari kanan ke kiri dalam satu ayunan horizontal murni yang brutal. Ayunan itu tidak melepaskan kilatan cahaya busur Qi, melainkan melahirkan sebuah gelombang tekanan mekanik absolut yang sangat padat dan berat, menyapu rintik hujan di depannya hingga menjadi ruang hampa udara sejauh puluhan meter.

*DUUUUAAAAARRRR!*

Ratusan anak panah besi mekanik yang melesat kencang mendadak hancur berantakan menjadi serbuk besi halus begitu menyentuh radius tiga meter di depan lintasan angin pedang Xinghe. Gelombang tekanan absolut itu tidak berhenti; ia terus melaju bagai dinding benteng bergerak yang tak kasat mata, menghantam langsung ke arah barisan terdepan dari formasi perisai menara.

*KRAAAK! KRAAAK! PRANG!*

Suara hantaman itu terdengar mengerikan menyerupai runtuhnya tebing batu raksasa. Lima ratus prajurit kavaleri berat di barisan depan bersama dengan perisai menara dan kuda sisik hitam mereka hancur berkeping-keping menjadi lumpur daging dan serpihan besi dalam sekejap mata. Gaya mekanik murni seberat lima ribu kati yang dialiri energi guntur mereduksi seluruh pertahanan baja mereka menjadi abu merah yang hanyut tersapu air hujan.

Kawah parit dalam sepanjang tiga puluh meter kini terukir membelah barisan barikade militer, menumpahkan cairan merah yang mewarnai genangan air di jalanan utama.

Dua ribu lima ratus prajurit yang tersisa di barisan belakang membeku di tempat, tangan mereka yang memegang tombak bergetar hebat hingga senjata-senjata tersebut berisik berbenturan satu sama lain. Niat bertarung dari korps militer elit itu runtuh total digantikan oleh kengerian primitif menghadapi makhluk yang tidak tunduk pada hukum perang fana. Satu ayunan pedang menghapus lima ratus pasukan; ini bukan lagi pertarungan manusia, ini adalah pembantaian sepihak dari dewa iblis.

"M-Mundur?! Jangan ada yang berani mundur!" Fang Zhen berteriak dengan suara yang pecah melengking, kepanikan murni akhirnya merayapi seluruh dinding kesadarannya. Ia melihat celah formasi yang menganga lebar, menyadari bahwa zirah besi terbaik pasukannya tidak lebih dari selembar kertas basah di hadapan pemuda tersebut.

Pikiran veteran Fang Zhen mengambil keputusan tercepat. Ia memusatkan seluruh energi lautan Dantian Tingkat Kelimanya ke dalam pedang besarnya, memicu teknik pergerakan kilat elemen angin miliknya untuk melesat maju memangkas jarak, melayangkan tusukan lurus mengincar dada kiri Xinghe.

Jurus **"Lintasan Angin Puyuh Pemotong Jantung"**. Serangan tercepat yang membawa seluruh sisa kehormatan perwira gerbang kota.

Xinghe yang sedang berjalan menyeret pedang beratnya bahkan tidak mengubah ritme langkah kakinya. Saat ujung bilah pedang biru milik Fang Zhen tinggal berjarak satu inci dari permukaan jubah hitamnya, Xinghe memiringkan poros tubuhnya dengan sudut yang sangat sempit menggunakan teknik *Langkah Bayangan Hantu*.

Bilah pedang biru itu meluncur melewati udara kosong di samping ketiak kirinya, angin tajamnya hanya sanggup menggetarkan helai jubah hitam Xinghe tanpa menyentuh sehelai pun kulit porselen **Tubuh Fana Tanpa Cacat** miliknya.

Sebelum Fang Zhen sempat menarik kembali senjatanya, tangan kiri Xinghe melesat maju bagai sambaran kilat ungu, mencengkeram kuat pergelangan tangan kanan sang komandan gerbang dengan kekuatan cengkeraman mekanik murni.

*KRAAAK!*

Seluruh tulang pergelangan tangan Fang Zhen remuk seketika menjadi serpihan kecil di dalam zirah peraknya. Pria tinggi kurus itu menjerit histeris, pedang besarnya terlepas jatuh ke atas lantai batu yang basah.

Xinghe tidak melepaskan cengkeramannya; ia memutar lengan Fang Zhen ke belakang, mematahkan keseimbangan tubuh sang komandan, lalu menghantamkan bagian datar bilah *Pedang Berat Tanpa Bilah* di tangan kanannya tepat ke arah sisi dada kanan pria malang tersebut.

*BUMMM!*

Seluruh struktur tulang rusuk dan organ dalam di rongga dada kanan Fang Zhen hancur menjadi pasta darah akibat transfer energi getaran frekuensi tinggi Xinghe. Tubuh Komandan Gerbang Kota itu terlempar sejauh lima belas meter, menghantam pintu gerbang utara yang terbuat dari balok kayu vulkanik tebal hingga pintu rakesasa tersebut retak terbelah dua.

Fang Zhen jatuh terkulai di tengah genangan air, matanya mendelik kosong menatar langit malam yang badai, sebelum akhirnya menghembuskan napas terakhirnya dalam keadaan kaku. Pemimpin pertahanan gerbang, praktisi Alam Meridian Tingkat Kelima, tewas mengenasan hanya melalui satu gerakan elakan dan satu pukulan pedang tumpul.

Melihat komandan tertinggi mereka tewas dalam waktu kurang dari dua tarikan napas penuh, sisa dua ribu lima ratus prajurit kavaleri berat tidak lagi memiliki sisa nyali untuk bertahan. Mereka membuang tombak dan perisai mereka ke tanah, memutar arah kuda sisik hitam mereka, dan lari terbirit-birit membubarkan diri ke arah gang-gang sempit distrik sipil seakan sedang dikejar oleh dewa kematian sejati. Barikade militer Faksi Naga Perak di gerbang utara telah musnah total dalam keheningan malam yang berdarah.

Xinghe berjalan perlahan menghampiri pintu gerbang utara yang telah retak terbelah sebagian. Ia tidak menyarungkan senjatanya; kedua tangan pucatnya kembali menggenggam lilitan kulit gagang pedang berat meteorit hitamnya, mengangkatnya tinggi-tinggi di atas kepala dengan postur yang memancarkan dominasi tirani mutlak.

Energi Pembukaan Meridian Tingkat Pertamanya disalurkan secara total ke dalam struktur pedang, memicu raungan guntur ungu dan lidah api emas Gagak Emas untuk meledak menyelimuti seluruh bilah tumpul hitam sepanjang 150 sentimeter tersebut.

**"Seni Pedang Berat: Hantaman Penghancur Gerbang Surga!"**

Ayunan vertikal penuh dijatuhkan dengan kekuatan fisik murni seberat lima ribu kati yang dipadukan dengan wawasan Niat Pedang tingkat kaisar.

*DUUUUUAAAAARRRRR!*

Pintu gerbang kayu vulkanik raksasa setinggi sepuluh meter beserta menara pengawas batu hitam di atasnya hancur berantakan menjadi jutaan serpihan kayu dan puing-puing batu yang beterbangan ke udara malam. Ledakan energinya menciptakan pilar cahaya ungu-emas raksasa yang membelah kegelapan malam Kota Batu Hitam, memberikan tanda perpisahan yang berdarah bagi seluruh pelosok perbatasan Kekaisaran.

Pedati logistik keluarga Yan yang dipandu oleh Ye Ling’er meluncur mulus melewati puing-puing gerbang yang hancur, bergerak konstan meninggalkan batas perimeter kota perbatasan di belakang mereka, melesat maju menembus kegelapan malam menuju dataran luas wilayah provinsi dalam Kekaisaran Naga Langit.

Xinghe melompat kembali ke atas papan kemudi, menyarungkan pedang berat hitamnya ke punggung dengan gerakan mengalir yang tenang. Ia menyapu pandangan gelap tak berdasarnya ke arah pegunungan hitam di depan, merasakan rona kebebasan dan tantangan baru yang menantinya di medan perang yang sesungguhnya. Langkah pertamanya menembus awan tinggi di Kekaisaran Naga Langit telah resmi dimulai dengan goresan tinta darah yang tak terlupakan.

Dua minggu perjalanan malam berlalu dalam keheningan yang disiplin setelah rombongan keluarga Yan berhasil menghancurkan gerbang utara Kota Batu Hitam. Bentangan alam pegunungan kapur hitam yang beringas perlahan-lahan berubah menjadi lanskap dataran rendah berlembah subur yang dialiri oleh ratusan sungai berarus deras. Udara di wilayah provinsi dalam Kekaisaran Naga Langit ini terasa jauh lebih bersih, sarat dengan konsentrasi energi spiritual alam yang sepuluh kali lipat lebih tebal dibandingkan wilayah perbatasan yang miskin.

Selama perjalanan yang melelahkan melintasi rute jalur tikus pegunungan tengah tersebut, Xinghe mengunci dirinya di dalam kabin pedati logistik untuk memproses hasil jarahan dari gudang Jenderal Lei Zhan.

Memanfaatkan tiga buah *Inti Monster Macan Besi Guntur Kesatria Tingkat Ketujuh*, ia melakukan teknik kultivasi ekstrem **"Peleburan Tiga Inti Pembalik Langit"**. Proses ini menghancurkan kristal inti monster tersebut di dalam lautan energinya, menyerap seluruh esensi logam purba dan energi petir murni di dalamnya untuk memperkuat struktur sembilan meridian utamanya yang sempat retak.

Hasil dari asimilasi menyiksa selama dua minggu penuh itu sangat memuaskan. Tingkat kultivasi Xinghe berhasil melompat mantap dari Tingkat Pertama langsung menduduki **Alam Pembukaan Meridian Tingkat Keempat**. Kapasitas lautan energinya kini telah meluas setebal samudra kecil, mampu menopang penggunaan *Niat Pedang Pembelah Langit* di tingkat tiga puluh persen tanpa memicu umpan balik cedera internal pada fisiknya yang telah mencapai kesempurnaan.

Yan Qingshan juga menunjukkan kemajuan yang luar biasa. Berkat konsumsi *Batu Spiritual Elemen Tanah* kualitas unggul hasil jarahan gudang, teknik *Pernapasan Harimau Penelan Bumi* miliknya telah berhasil menembus batasan fana, melompat menduduki **Alam Penyempurnaan Tubuh Tingkat Kelima**. Kepadatan zirah otot lengan dan dadanya kini telah sekokoh lempengan baja meteorit, memberikan kakaknya kapasitas pertahanan fisik yang sanggup menahan hantaman senjata praktisi Alam Meridian tingkat dasar tanpa tergores sedikit pun.

Pada sore hari ke-enam belas, roda pedati mereka perlahan melambat saat Ye Ling’er yang berkuda di garis depan menahan tali kekang kudanya di atas puncak bukit hijau yang menghadap ke arah lembah raksasa di bawah.

"Kita telah tiba di batas wilayah *Provinsi Awan Darah*," Ye Ling’er menyingkap caping bambunya, wajah mungilnya dipenuhi oleh gurat kelelahan perjalanan yang mendalam. Jarinya menunjuk ke arah pusat lembah tempat sebuah kota metropolitan raksasa berdiri megah di antara bentangan sungai-sungai besar. "Di depan sana adalah *Kota Provinsi Awan Darah*, salah satu dari lima pusat pemerintahan komersial terbesar di Kekaisaran Naga Langit wilayah tengah."

Xinghe menyibakkan tirai kain sutra keretanya perlahan, melompat turun ke atas tanah rerumputan yang basah oleh embun sore. Pandangan gelap tak berdasarnya menatap kemegahan kota provinsi tersebut.

Tembok kota Provinsi Awan Darah terbuat dari bata batu giok merah setinggi dua ratus meter yang permukaannya dipenuhi oleh ukiran formasi perlindungan transenden kuno berskala masif yang memancarkan pendaran cahaya kemerahan setajam silet. Di angkasa di atas kota, terlihat lusinan praktisi pengelana mengendarai binatang terbang raksasa sekelas *Burung Elang Kepala Singa* melintasi awan, membuktikan tingkat peradaban dan konsentrasi master di tempat ini berada di dimensi yang sepenuhnya berbeda dari kota perbatasan kecil sebelumnya.

"Kota Provinsi Awan Darah..." Xinghe menggumamkan nama tempat baru tersebut, seutas senyum tirani yang penuh perhitungan dingin terukir di bibir pucatnya. "Tempat berkumpulnya para ahli alkimia tingkat tinggi, klan bangsawan kekaisaran, dan distributor material spiritual terbesar di benua ini."

Ia merasakan denyut *Pedang Berat Tanpa Bilah* di punggungnya beresonansi kuat dengan konsentrasi energi di lembah bawah. Papan catur wilayah dalam Kekaisaran Naga Langit secara resmi telah membentang di hadapannya, menyambut kedatangan sang kaisar yang sedang mendaki kembali menuju takhta Tiga Ribu Dunia. Langkah kakinya yang membawa beban lima ribu kati siap mengguncang seluruh tatanan kekuasaan para penguasa provinsi ini sampai ke akar-akarnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!