NovelToon NovelToon
Dari Perjodohan Yang Salah, Lahir Cinta Yang Benar

Dari Perjodohan Yang Salah, Lahir Cinta Yang Benar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Uzumaki Amako

Sejak ibu kandungku meninggal, aku hidup sebagai orang asing di rumahku sendiri. Saat perjodohan datang, harapanku hancur ketika kakak tiriku merebut segalanya dan aku dipaksa menikah dengan pria lumpuh yang tak kukenal. Namun, dari perjodohan yang tidak adil itu, aku justru menemukan ketulusan dan cinta yang selama ini tak pernah kudapatkan. Ketika kebenaran terungkap dan masa laluku ingin mengklaimku kembali, aku harus memilih—kembali pada yang seharusnya, atau bertahan pada cinta yang telah menjadi rumahku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uzumaki Amako, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 25

Langkahku terasa lebih stabil saat kami memasuki gedung itu.

Karpet merah membentang panjang, lampu kristal menggantung megah di langit-langit, dan suara percakapan para tamu memenuhi ruangan. Semua tampak begitu mewah… begitu jauh dari dunia yang dulu kukenal.

Namun kali ini, aku tidak berhenti.

Aku berjalan di samping Adrian.

Bukan di belakang.

Bukan juga tertinggal.

Di samping.

Tatapan orang-orang mulai beralih ke arah kami.

Beberapa berbisik.

Beberapa menatap penasaran.

Dan beberapa… jelas terkejut.

“Mereka datang juga…”

“Itu Adrian Kusuma, kan?”

“Dan itu istrinya?”

Aku bisa merasakan semua tatapan itu. Tapi anehnya… aku tidak lagi merasa ingin bersembunyi.

Karena tanganku masih berada di bawah tangannya.

Tenang.

Menguatkan.

Di ujung ruangan, aku melihat mereka.

Celine.

Berdiri anggun dalam gaun pengantin yang berkilau, dikelilingi tamu-tamu penting. Senyumnya lebar, penuh percaya diri—seolah dunia memang seharusnya berputar di sekelilingnya.

Di sampingnya, Nathaniel berdiri dengan jas rapi, wajahnya terlihat puas… namun tetap menyimpan kesan sombong yang sama seperti sebelumnya.

Dan tidak jauh dari sana—

Ayah.

Berdiri dengan ibu tiriku di sampingnya.

Tatapan mereka langsung bertemu denganku.

Langkahku sempat melambat.

Hanya sedikit.

Namun Adrian langsung menyadarinya.

“Terus jalan,” katanya pelan, tanpa menoleh.

Aku menelan ludah.

“Iya…”

Aku kembali melangkah.

Dan kali ini—tanpa ragu.

Kami berhenti beberapa meter dari mereka.

Celine adalah orang pertama yang menyadari kehadiranku.

Senyumnya langsung berubah.

Bukan kaget.

Bukan senang.

Tapi… tajam.

“Wah…” katanya pelan, tapi cukup terdengar. “Kalian benar-benar datang.”

Aku menatapnya.

Tenang.

Tidak menunduk.

“Selamat,” kataku singkat.

Celine mengangkat alis sedikit.

Seolah tidak menyangka aku akan berbicara duluan.

Nathaniel tersenyum miring.

“Lama tidak bertemu,” katanya sambil melirik Adrian. “Kondisimu… tidak berubah, ya.”

Nada suaranya jelas mengandung ejekan.

Udara di sekitar kami langsung terasa lebih dingin.

Namun Adrian tidak terpancing.

Ia hanya menatap Nathaniel datar.

“Bisnismu juga tidak berkembang,” balasnya tenang.

Nathaniel langsung terdiam sesaat.

Beberapa tamu di sekitar mulai memperhatikan.

Aku menahan napas.

Ini… mulai memanas.

Celine tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana.

“Sudahlah, hari ini kan acara bahagia,” katanya. “Jangan bawa urusan lama.”

Lalu ia menatapku lagi.

Dari atas sampai bawah.

Senyumnya tipis.

“Kamu terlihat… berbeda.”

Aku tahu maksudnya.

Bukan pujian.

Aku tersenyum kecil.

“Semua orang bisa berubah.”

Jawabanku singkat.

Tapi cukup membuatnya diam beberapa detik.

Ibu tiriku akhirnya maju selangkah.

“Alina,” katanya dengan nada lembut—nada yang hanya muncul di depan orang lain. “Kamu sehat?”

Aku menatapnya.

Untuk beberapa detik.

Dulu, aku akan langsung menjawab dengan gugup.

Tapi sekarang—

“Sehat,” jawabku tenang.

Ayah menatapku cukup lama.

Seolah mencoba membaca sesuatu yang berbeda.

Namun ia tidak berkata apa-apa.

Seperti biasa.

“Alina.”

Suara itu membuatku menoleh.

Aku langsung mengenalinya.

Vanessa.

Tidak ada keterkejutan kali ini.

Karena aku tahu… dia memang ada di sini.

Yang membuatku terdiam justru hal lain—

Celine tersenyum ke arahnya.

“Vanessa,” katanya santai, bahkan terdengar akrab. “Kamu telat.”

Aku langsung menoleh cepat ke arah Celine.

…Telat?

Nada itu…

Bukan nada orang yang baru kenal.

Dadaku terasa aneh.

Aku kembali melihat Vanessa.

Ia berjalan mendekat dengan langkah percaya diri, gaunnya mencolok dan elegan, aura glamor seperti biasa.

Namun kali ini aku melihatnya dengan cara berbeda.

Bukan hanya wanita asing.

Tapi seseorang yang…

sudah punya niat sejak awal.

Ia berhenti di depan Adrian, lalu menatapku.

Senyumnya tipis.

Namun jelas—

Dia sudah mengenalku.

Sejak awal.

“Jadi… kamu benar-benar datang,” katanya pelan.

Bukan bertanya.

Lebih seperti… memastikan.

Aku menatapnya balik.

“Iya.”

Jawabanku singkat.

Namun cukup tegas.

Vanessa tersenyum sedikit lebih lebar.

“Bagus. Aku pikir kamu akan menghindar.”

Nada suaranya ringan.

Tapi ada sesuatu di baliknya.

Seolah ini memang… yang dia tunggu.

Aku melirik ke arah Celine lagi.

Dan kali ini aku benar-benar memperhatikannya.

Cara dia berdiri dekat Vanessa.

Cara mereka saling melempar tatapan kecil.

Cara Celine tidak terlihat heran dengan kehadiran Vanessa di dekatku.

…Mereka akrab.

Sangat jelas sekarang.

Dan itu membuat pikiranku langsung berputar.

Sejak kapan?

Aku yakin…

dulu mereka tidak pernah saling kenal.

Vanessa lalu melangkah sedikit lebih dekat.

Tatapannya masih padaku.

Mengukur.

“Menyenangkan ya,” katanya pelan, “melihat kamu sekarang.”

Aku mengernyit sedikit.

“Maksudnya?”

Ia tersenyum tipis.

“Dari seseorang yang diam saja… jadi berani berdiri di sini.”

Dadaku menegang.

Jadi benar.

Dia tahu.

Tentang aku yang dulu.

Tentang aku di rumah itu.

Ini bukan kebetulan.

Seorang pelayan datang membawa minuman.

“Nyonya, ini untuk Anda.”

Aku belum sempat bereaksi—

Vanessa langsung bicara,

“Minum saja. Aman.”

Nada suaranya santai.

Terlalu santai.

Aku menatap gelas itu.

Lalu menatapnya.

Dan kali ini—

Aku tidak ragu lagi.

Ini bukan kebaikan.

Ini ujian.

Atau jebakan.

Sebelum aku menyentuhnya—

Adrian bergerak lebih dulu.

Ia mengambil gelas itu dariku, lalu mengembalikannya ke pelayan.

“Ganti,” katanya dingin.

Pelayan langsung pergi.

Vanessa tertawa kecil.

“Masih sama saja… tidak pernah percaya orang lain.”

Adrian tidak menjawab.

Tatapannya lurus.

Tegas.

Seolah tidak ingin bermain.

Aku kembali menatap Vanessa.

Lalu pelan berkata,

“Kamu sengaja.”

Bukan tanya.

Pernyataan.

Vanessa mengangkat alis.

“Baru sadar?”

Aku tersenyum tipis.

“Tidak. Aku cuma memastikan.”

Senyumnya berubah.

Lebih tajam.

Lebih puas.

“Bagus,” katanya. “Berarti kamu tidak sepenuhnya bodoh.”

Celine yang berdiri di sampingnya tertawa kecil.

“Dia memang berubah,” katanya santai. “Tapi ya… tetap saja.”

Aku menoleh ke arah Celine.

Tatapanku tidak lagi menghindar.

“Setidaknya aku tidak diam seperti dulu.”

Sunyi sejenak.

Celine sedikit terdiam.

Mungkin tidak menyangka aku akan membalas.

Aku kembali melihat mereka berdua.

Vanessa.

Celine.

Sekarang jelas.

Mereka bukan hanya kenal.

Mereka bekerja sama.

Dan aku…

sudah berada di tengah permainan mereka sejak awal.

Aku menarik napas pelan.

Lalu berkata,

“Kalau kalian punya rencana… jangan terlalu jelas.”

Vanessa tersenyum lebar.

Seolah menikmati ini.

“Kalau terlalu mudah dibaca,” lanjutku, “jadi tidak menarik.”

Untuk pertama kalinya—

Ada perubahan di matanya.

Bukan meremehkan.

Tapi… tertarik.

“Menarik,” katanya pelan. “Aku jadi tidak sabar.”

Aku tidak menjawab lagi.

Aku hanya berdiri di sana.

Tenang.

Namun dalam hati—

Aku sudah yakin satu hal.

Ini bukan sekadar pertemuan keluarga.

Bukan sekadar pesta pernikahan.

Ini adalah awal dari sesuatu yang lebih besar.

Dan kali ini—

Aku tidak akan jadi orang yang hanya diam dan terluka.

Aku akan… melawan.

Dengan caraku sendiri.

Aku menarik napas pelan setelah percakapan itu.

Udara di sekitarku terasa berbeda sekarang—bukan lagi sekadar tegang, tapi seperti penuh permainan tersembunyi. Senyum, tatapan, dan kata-kata yang terdengar biasa… semuanya punya arti.

Dan aku ada di tengahnya.

“Sepertinya kamu sudah mulai mengerti situasi.”

Suara Adrian terdengar pelan di sampingku.

Aku menoleh.

Ia tidak melihatku, tatapannya lurus ke depan, tapi aku tahu kalimat itu ditujukan padaku.

“Aku tidak benar-benar mengerti,” jawabku jujur. “Tapi aku tahu ini bukan kebetulan.”

Ia mengangguk kecil.

“Memang bukan.”

Jawabannya singkat.

Tapi cukup.

Aku menatapnya beberapa detik.

“Vanessa…” gumamku pelan. “Dia penting buatmu?”

Pertanyaan itu keluar tanpa aku rencanakan.

Adrian terdiam sejenak.

Cukup lama untuk membuatku berpikir mungkin aku tidak seharusnya bertanya.

Namun akhirnya ia menjawab—

“Dulu.”

Hanya satu kata.

Tapi… cukup untuk menjelaskan banyak hal.

Dadaku terasa sedikit aneh.

Bukan sakit.

Tapi… tidak nyaman.

Aku tidak bertanya lagi.

“Para tamu dimohon berkumpul, acara akan segera dimulai.”

Suara MC menggema di seluruh ruangan.

Orang-orang mulai bergerak ke arah tengah.

Lampu sedikit diredupkan.

Fokus mulai tertuju ke panggung utama.

Aku dan Adrian ikut bergerak.

Kali ini, tanpa perlu disuruh, aku berdiri sedikit lebih dekat dengannya.

Di atas panggung, Celine dan Nathaniel berdiri berdampingan.

Senyum mereka lebar.

Sempurna.

Seolah tidak ada apa-apa di balik semua ini.

Aku memperhatikan mereka.

Lama.

Dan untuk pertama kalinya…

Aku tidak merasa kecil.

Acara berjalan lancar di awal.

Sambutan.

Tepuk tangan.

Tawa.

Semuanya terlihat normal.

Sampai—

“Sekarang, kita akan masuk ke sesi spesial.”

Suara MC berubah sedikit lebih semangat.

“Beberapa orang terdekat pengantin telah menyiapkan sesuatu.”

Aku mengernyit pelan.

Perasaan tidak enak muncul lagi.

Dan tanpa sadar… aku melirik ke arah Vanessa.

Ia berdiri di sisi ruangan.

Senyumnya tipis.

Matanya… mengarah padaku.

Jelas.

Lampu sedikit berubah.

Layar besar di belakang panggung menyala.

Dan detik berikutnya—

Jantungku terasa berhenti.

Foto.

Foto lama.

Rumah itu.

Dapur itu.

Dan aku—

Dengan pakaian sederhana, rambut berantakan, sedang mencuci piring.

Tanganku langsung mengepal.

Suara bisik-bisik mulai terdengar di seluruh ruangan.

“Itu… siapa?”

“Bukannya itu… istri Adrian?”

“Kok…”

Gambar berikutnya muncul.

Aku sedang menyapu.

Lalu memasak.

Lalu dimarahi—meski suara tidak terdengar, ekspresinya cukup jelas.

Dadaku terasa sesak.

Ini…

Ini sengaja.

Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pelakunya.

Namun aku tetap melirik.

Vanessa.

Dan di sampingnya—

Celine.

Senyum mereka…

Tidak disembunyikan lagi.

“Wah… ternyata latar belakangnya menarik juga ya.”

Suara seseorang terdengar pelan, tapi cukup keras untuk menusuk.

“Dari pembantu… jadi istri keluarga besar?”

Tawa kecil mulai terdengar.

Tidak semua.

Tapi cukup.

Tanganku gemetar.

Napas terasa berat.

Semua mata sekarang tertuju padaku.

Persis seperti yang mereka inginkan.

Mempermalukanku.

Menjatuhkanku.

Di depan semua orang.

Aku menunduk sedikit.

Bukan karena malu.

Tapi karena aku butuh satu detik.

Hanya satu detik…

untuk tidak kembali menjadi diriku yang dulu.

Lalu—

Hangat.

Tanganku disentuh.

Adrian.

Ia tidak berkata apa-apa.

Tapi genggamannya cukup kuat.

Cukup untuk mengingatkanku—

Aku tidak sendirian.

Aku menarik napas dalam.

Lalu mengangkat kepalaku perlahan.

Menatap layar itu.

Menatap semua orang.

Dan akhirnya—

Menatap Celine.

Aku melangkah maju.

Satu langkah.

Lalu satu lagi.

Meninggalkan posisi di samping Adrian.

Menuju… pusat perhatian.

Bisik-bisik semakin keras.

Namun aku tidak berhenti.

Aku naik ke panggung.

Semua orang terdiam.

MC bahkan terlihat bingung.

Aku berdiri di sana.

Di bawah cahaya lampu.

Dengan semua mata tertuju padaku.

Aku menatap layar itu sebentar.

Lalu berkata—

“Iya. Itu aku.”

Sunyi.

Benar-benar sunyi.

Aku menoleh ke arah para tamu.

“Semua yang kalian lihat… benar.”

Suaraku tidak keras.

Tapi jelas.

“Aku memang dulu melakukan semua itu.”

Beberapa orang terlihat terkejut.

Mungkin mereka mengira aku akan menyangkal.

Atau menangis.

Aku tersenyum kecil.

“Tapi aku tidak malu.”

Kalimat itu jatuh dengan tenang.

Namun terasa kuat.

Aku menatap Celine.

Lurus.

“Karena aku tidak pernah mencuri hidup orang lain.”

Ruangan langsung terasa tegang.

Celine membeku sesaat.

Aku melanjutkan,

“Aku hanya hidup… dengan cara yang aku bisa.”

Sunyi.

Aku menoleh ke arah Vanessa.

Tatapanku tajam.

“Dan kalau itu dianggap memalukan…”

Aku berhenti sejenak.

Lalu berkata pelan—

“Berarti masalahnya bukan di aku.”

Beberapa orang mulai saling berpandangan.

Suasana berubah.

Perlahan.

Aku menarik napas.

Lalu berkata lagi,

“Terima kasih sudah mengingatkan masa lalu saya.”

Senyum kecil muncul di wajahku.

“Tapi saya lebih tertarik… dengan masa depan saya sekarang.”

Aku melirik ke arah Adrian.

Hanya sekilas.

Tapi cukup.

Lalu aku menunduk sedikit.

“Selamat untuk pengantin.”

Dan aku turun dari panggung.

Langkahku kembali ke arah Adrian.

Jantungku masih berdetak kencang.

Tapi kali ini—

Bukan karena takut.

Saat aku sampai di sampingnya—

Adrian menatapku.

Lama.

Sangat lama.

Dan untuk pertama kalinya—

Ada sesuatu yang berbeda di matanya.

Bukan dingin.

Bukan datar.

Tapi…

pengakuan.

Ia berkata pelan,

“…Bagus.”

Hanya satu kata.

Namun cukup untuk membuat dadaku hangat.

Di sisi lain ruangan—

Vanessa tidak tersenyum lagi.

Dan Celine…

untuk pertama kalinya—

kehilangan ekspresinya.

Dan aku tahu—

Malam ini…

tidak berjalan seperti yang mereka rencanakan.

1
Siti Jubaedah
trima kasih karyanya semoga lebih semangat membacanya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!