NovelToon NovelToon
SEBELUM SENJA PAMIT DI AKAR TUA

SEBELUM SENJA PAMIT DI AKAR TUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Healing
Popularitas:456
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

"Kalau kau memang ingin mati, setidaknya selesaikan dulu 7 permintaanku. Setelah itu, aku tidak akan melarangmu gantung diri di pohon ini."
Kehilangan karier, dikhianati sahabat, dan ditinggal tunangan, Gani pulang ke desa masa kecilnya hanya dengan satu tujuan: mati dengan tenang di bawah pohon beringin tua.
Namun, rencananya berantakan saat Kirana—gadis desa yang cerewet, keras kepala, namun memiliki senyum paling tulus—menemukannya di hutan dan memberinya satu kesepakatan gila. Gani terpaksa menyetujui "7 Permintaan" gadis itu sebelum ia diizinkan mati.
Mulai dari mencuri mangga Kepala Desa hingga menari di bawah hujan badai, setiap permintaan justru perlahan mengembalikan warna di hidup Gani yang kelabu.
Namun, saat cinta mulai menunda niat kematiannya, Gani menyadari satu kebenaran yang kejam: Kirana memiliki alasan yang jauh lebih tragis darinya untuk tidak bisa hidup lebih lama lagi.
Kini, mampukah tangan yang pernah hancur itu menyelamatkan satu-

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Pohon Keseratus dan Noda Merah di Atas Bambu

​Tiga hari berturut-turut, rutinitas Gani Raditya tidak berubah. Ia bangun sebelum ayam jago berkokok, memanggul linggis baja dan cangkul, lalu mendaki Bukit Wadas yang gersang.

​Hari demi hari, otot-ototnya semakin terbiasa dengan siksaan batu kapur. Kulit punggung dan lengannya yang dulu sewarna pualam, kini telah berubah warna menjadi tembaga terbakar matahari. Kapalan di tangannya bukan lagi lepuhan yang pecah berdarah, melainkan telah mengeras menjadi lapisan pelindung alami yang kebal terhadap gesekan kayu.

​Dan hari ini, di bawah terik matahari pukul tiga sore, Gani mengangkat linggisnya untuk yang terakhir kalinya.

​Trang! Kraaak!

​Sebongkah batu kapur berukuran sebesar kepala manusia terbelah dua. Gani menendang bongkahan itu menyingkir, lalu menggunakan cangkulnya untuk mengeruk sisa-sisa tanah putih di dasar lubang. Napasnya menderu layaknya mesin uap yang bekerja maksimal. Keringatnya menetes deras membasahi tanah kering di bawah sepatunya.

​Gani menancapkan cangkul itu ke tanah, lalu menegakkan punggungnya yang kaku. Ia memutar tubuhnya, mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru bukit.

​Pemandangan di hadapannya bukan lagi hamparan bukit mati yang memutihkan mata. Di sepanjang lereng berbatu itu, berbaris rapi sembilan puluh sembilan bibit pohon beringin dan trembesi. Jarak antara satu pohon dengan pohon lainnya diukur dengan presisi arsitektural—tidak terlalu dekat agar akar mereka kelak tidak saling mencekik, dan tidak terlalu jauh agar tajuk daun mereka di masa depan bisa saling bersentuhan membentuk kanopi peneduh.

​Mereka baru berupa bibit setinggi lutut, daunnya masih tipis dan batangnya masih rapuh. Namun, berdiri di sana, Gani bisa melihat masa depan. Ia bisa membayangkan seratus tahun dari sekarang, akar-akar kecil itu akan membelah batu kapur ini menjadi debu, dan daun-daunnya akan menciptakan hutan kecil yang bernapas.

​"Lubang keseratus," Gani bersuara parau, menoleh ke arah tenda terpal di bawah pohon lamtoro. "Bawa bibit terakhirnya kemari, Tiran Kecil."

​Dari bawah naungan tenda, Kirana bangkit berdiri. Hari ini, Udin dan teman-temannya tidak ikut karena sudah mulai masuk sekolah. Hanya ada mereka berdua di atas bukit yang sunyi ini.

​Kirana berjalan perlahan mendekati Gani, kedua tangannya memeluk sebuah polybag hitam yang berisi bibit pohon beringin paling besar yang mereka miliki. Wajah gadis itu tampak sedikit memerah karena udara panas, namun matanya memancarkan kebahagiaan yang nyaris menyilaukan.

​Gani segera mengambil alih bibit itu dari tangan Kirana begitu gadis itu tiba di depannya, tidak ingin Kirana menahan beban terlalu lama.

​Mereka berjongkok bersama di tepi lubang keseratus, lubang yang sengaja Gani posisikan di titik tertinggi bukit tersebut.

​Dengan gerakan yang sudah sangat terlatih, Kirana menyobek plastik pembungkusnya, lalu menurunkan bibit beringin itu ke dalam lubang. Gani menimbunnya dengan tanah humus sisa yang mereka bawa, lalu menekannya kuat-kuat agar bibit itu berdiri kokoh menantang angin utara.

​"Selesai," Gani menepuk-nepuk tangannya yang kotor, menatap bibit terakhir itu dengan kepuasan yang luar biasa. Ia menoleh pada Kirana. "Seratus kehidupan baru telah tertanam. Kontrak Permintaan Kelimamu sudah lunas terbayar, Bos."

​Kirana tidak langsung menjawab. Ia masih berjongkok, menatap daun hijau muda beringin itu. Tangannya terulur, membelai salah satu daunnya dengan kelembutan yang menyayat hati.

​"Terima kasih, Gani," bisik Kirana, suaranya sangat pelan, nyaris terbawa angin sore. Ia mendongak, menatap pria di sebelahnya. "Saat aku kecil, aku pernah bermimpi menjadi seorang pahlawan super yang bisa menyembuhkan bumi. Ternyata, aku tidak butuh kekuatan super. Aku hanya butuh seorang arsitek keras kepala dari Jakarta."

​Gani terkekeh pelan. Ia menarik sebotol air mineral yang sudah tidak dingin lagi dari dekat kakinya, lalu mengguyur sisa air itu ke tangannya untuk membersihkan debu kapur.

​"Arsitek ini akan selalu siap sedia jika kau punya proyek gila lainnya," Gani membalas, menatap mata Kirana dalam-dalam. "Ayo kita pulang. Pak Mantri akan memenggal kepalaku kalau membiarkanmu berada di luar lebih dari empat jam."

​Gani berdiri, lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Kirana. Saat gadis itu menyambut ulurannya, Kirana meringis kecil merasakan tekstur kasar yang esktrem di telapak tangan Gani.

​Setibanya di rumah Kirana menjelang waktu Asar, gadis itu langsung menarik lengan Gani dan memaksanya duduk di atas kursi rotan di teras depan.

​"Tunggu di situ. Jangan berani-berani lari," ancam Kirana dengan mata disipitkan, sebelum menghilang masuk ke dalam rumah.

​Gani hanya bisa mendesah pasrah, menyandarkan punggungnya yang pegal. Beberapa menit kemudian, Kirana kembali membawa sebuah baskom kecil berisi air hangat, sebotol cairan antiseptik, kapas, dan segulung perban kasa.

​Gadis itu menarik kursi kayu kecil, lalu duduk tepat di hadapan Gani. Ia menaruh baskom itu di pangkuannya.

​"Berikan tanganmu," perintah Kirana lembut namun tegas.

​Gani menyembunyikan kedua tangannya di balik paha. "Ini cuma kapalan, Kirana. Kulit mati. Tidak perlu diobati berlebihan seperti luka operasi."

​"Gani Raditya," panggil Kirana, mengeja nama lengkap pria itu dengan nada ancaman level tertinggi khas seorang wanita. "Tanganmu, sekarang."

​Terkalahkan oleh otoritas absolut gadis itu, Gani akhirnya menyerah. Ia mengulurkan kedua tangannya dengan canggung.

​Kirana meraih tangan pria itu. Dengan sangat hati-hati, ia mencelupkan tangan Gani ke dalam baskom air hangat. Sensasi hangat itu membuat Gani sedikit mendesis, namun otot-otot di telapak tangannya perlahan mulai rileks. Kirana membersihkan sisa debu kapur dan tanah yang terselip di antara jari dan kuku Gani menggunakan waslap lembut.

​Setelah dikeringkan dengan handuk kecil, Kirana mengambil kapas dan menuangkan cairan antiseptik. Di telapak tangan Gani, ada beberapa lepuhan kapalan yang pecah berdarah dan mulai mengering.

​"Tahan sedikit," bisik Kirana.

​Ia menempelkan kapas itu tepat di atas luka-luka kecil tersebut. Rasa perih yang tajam seketika menyengat saraf Gani, membuat pria itu secara refleks menahan napas dan menegangkan otot lengannya.

​"Sakit?" tanya Kirana, meniup luka itu pelan-pelan. Hembusan napas sejuk dari bibir Kirana terasa kontras dengan perihnya cairan antiseptik, menciptakan sensasi yang membuat jantung Gani berdegup tidak karuan.

​"Tidak lebih sakit dari pada mendengarkan omelan Paman Lukman," canda Gani, mencoba mengalihkan perhatian dari rasa gugupnya sendiri.

​Kirana tersenyum tipis. Ia membalut bagian pangkal jari Gani yang paling parah mengelupas dengan perban kasa tipis, agar tidak terinfeksi. Selama proses itu, tidak ada yang bersuara. Keintiman di antara mereka tidak lagi membutuhkan kata-kata yang rumit.

​"Gani," Kirana tiba-tiba memecah keheningan, matanya masih terfokus pada ikatan perban di tangan pria itu.

​"Ya?"

​"Waktu di rawa malam itu..." Kirana menelan ludah. "Kau bilang... kau akan menjagaku, entah aku punya waktu satu bulan, atau satu tahun."

​Dada Gani menegang. Pembicaraan tentang 'batas waktu' selalu menjadi zona yang paling ia benci. "Aku mengingatnya. Dan aku tidak menarik satu kata pun."

​Kirana meletakkan tangan Gani yang sudah selesai diperban ke atas lutut pria itu. Ia menatap Gani, matanya memancarkan kerentanan yang murni.

​"Tapi... bagaimana kalau waktuku ternyata jauh lebih singkat dari yang kita kira?" suara Kirana bergetar pelan. "Bagaimana kalau besok... jantungku tiba-tiba menolak untuk berdetak lagi? Saat kau bersumpah untuk melindungiku, kau mempertaruhkan hatimu pada sebuah bom waktu yang pasti akan meledak, Gani. Apa kau benar-benar siap untuk patah hati kedua kalinya?"

​Pertanyaan itu seperti sebilah pisau yang menusuk tepat di ulu hati Gani. Patah hati dari Sania telah membuatnya nyaris gantung diri. Tapi Kirana benar. Kehilangan Kirana tidak akan sekadar mematahkan hatinya; itu akan menghancurkan jiwanya.

​Gani mencondongkan tubuhnya ke depan. Ia mengangkat tangannya yang baru saja diperban, lalu menangkup kedua sisi wajah Kirana. Ibu jarinya membelai lembut tulang pipi gadis itu.

​"Sania mematahkan hatiku karena dia memilih untuk pergi," ucap Gani dengan suara bariton yang luar biasa dalam dan mantap, menatap lurus menembus keraguan di mata Kirana. "Tapi kau... kau tidak memilih untuk sakit. Kau berjuang setengah mati untuk tetap berada di sini."

​Gani mendekatkan wajahnya, menempelkan keningnya pada kening Kirana.

​"Aku ini arsitek, Kirana. Tugasku adalah merancang bangunan agar tidak runtuh," bisik Gani, napasnya berbaur dengan napas gadis itu. "Dan aku sudah memutuskan, kau adalah bangunan utamaku. Aku tidak peduli jika badai datang besok pagi. Selama kau masih bernapas hari ini, aku akan mencintaimu dengan sangat keras kepala. Patah hati atau tidak nanti, itu urusanku. Urusanmu hanyalah tetap berada di pelukanku selama mungkin."

​Setetes air mata haru jatuh membasahi pipi Kirana. Ia memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam validasi absolut yang diberikan pria itu. Ketakutannya akan kematian tidak hilang sepenuhnya, tetapi setidaknya kini, ia tidak lagi ketakutan berjalan sendirian menuju kegelapan tersebut.

​Momen damai itu terinterupsi oleh teriakan cempreng Bibi Ratna dari arah jalan.

​"Kirana! Mas Gani!"

​Gani segera menarik wajahnya, duduk tegak tepat sebelum Bibi Ratna berlari terengah-engah memasuki pekarangan. Wanita paruh baya itu tidak membawa senyum khas atau keranjang belanjanya. Wajahnya pias, napasnya tersengal-sengal, dan matanya membelalak panik.

​"Bi Ratna? Ada apa?" Gani langsung berdiri, instingnya berjaga-jaga. "Kenapa lari-lari begitu?"

​"Aduh, Mas..." Bibi Ratna memegang dadanya sendiri, mencoba meraup oksigen. "Kalian... kalian harus ke taman bacaan sekarang. Cepat, Mas."

​Darah di tubuh Gani serasa membeku seketika. "Ada apa dengan tamannya, Bi?"

​"Taman bacaannya... ya ampun... bukunya, Mas..." Bibi Ratna tidak sanggup meneruskan kalimatnya, ia hanya menunjuk ke arah pekarangan belakang rumah Gani dengan tangan gemetar.

​Tanpa membuang waktu satu detik pun, Gani melesat berlari, meninggalkan Kirana dan Bibi Ratna di belakangnya. Kakinya yang tadinya kelelahan mendadak dipenuhi oleh suntikan adrenalin murni. Firasat buruk mencekik lehernya. Sisa waktu empat belas hari belum habis, tetapi musuhnya rupanya tidak peduli pada aturan hukum.

​Saat Gani tiba di pekarangan belakang rumahnya, ia melihat Pak Kades, Kang Ujang, dan beberapa pemuda desa sudah berdiri mematung di sana. Wajah mereka memancarkan campuran antara kemarahan yang luar biasa dan rasa syok.

​Gani menyerobot masuk melewati kerumunan warga, dan pemandangan yang tersaji di depan matanya membuat napasnya seolah ditarik paksa dari paru-parunya.

​Paviliun bambu mahakaryanya... telah ternoda.

​Cairan cat berwarna merah darah disiramkan secara brutal ke pilar-pilar bambu petung yang baru saja divernis. Cat itu mengalir turun seperti luka yang menganga, merusak estetika bambu alami yang sangat dibanggakan oleh warga. Lantai pelupuh bambu dipenuhi jejak sepatu bot berlumpur yang kotor.

​Tapi yang paling menghancurkan hati adalah rak-rak bukunya.

​Ratusan buku cerita, ensiklopedia, dan novel milik Kirana telah dilemparkan keluar dari rak. Banyak di antaranya yang sampulnya dirobek, halaman-halamannya dicabut dan disebar berantakan di atas lantai yang basah oleh cat merah. Di tengah-tengah kekacauan itu, tertancap sebuah bilah parang yang menembus papan nama kayu TAMAN BACAAN AKAR PELANGI.

​Tepat di bawah parang itu, terdapat selembar kertas putih yang dicetak menggunakan tinta hitam tebal, dipaku ke pilar utama. Seolah-olah kerusakan ini belum cukup sebagai bentuk teror psikologis.

​Gani berjalan mendekat dengan langkah kaku layaknya robot. Tangannya yang terbalut perban gemetar hebat saat ia menarik kertas itu dari paku.

​Itu adalah selebaran. Bukan dokumen hukum, melainkan sebuah poster buronan yang didesain secara provokatif. Di tengah poster itu terpampang foto wajah Gani—foto lama dari sebuah majalah bisnis—dengan tulisan besar berwarna merah di bawahnya:

​WASPADA! PENIPU KELAS KAKAP BERSEMBUNYI DI DESA ANDA!

Gani Raditya: Mantan CEO yang mencuri uang miliaran rupiah dari rakyat kecil. Membawa kabur uang investor dan kini berpura-pura menjadi pahlawan desa. Jangan biarkan tanah Anda menjadi tempat persembunyian kriminal! Usir dia, atau desa Anda akan ikut terseret dalam kasus hukum!

​Dada Gani serasa mau meledak. Matanya memerah menyala oleh amarah yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Ini bukan lagi soal tanah, ini bukan lagi soal uang. Mereka telah menghancurkan buku-buku peninggalan nenek Kirana. Mereka telah mencemari tempat perlindungan yang dibangun dengan keringat warga desa.

​Surya Dirdja dan Raka tahu bahwa secara hukum mereka tidak bisa menyita fasilitas umum ini. Jadi, mereka menggunakan taktik intimidasi ala mafia. Mereka mengirim preman bayaran untuk melakukan teror fisik, sekaligus melakukan pembunuhan karakter ( character assassination ) untuk menghasut warga desa agar berbalik memusuhi Gani.

​"Mas Gani..." suara Kang Ujang memecah kesunyian, nadanya bergetar menahan tangis kemarahan melihat karyanya dirusak. "Tadi waktu kami ke ladang, tempat ini kosong... Siapa yang tega melakukan ini, Mas?"

​Sebelum Gani sempat menjawab, terdengar suara langkah kaki yang terseret dari arah belakang.

​Kirana, dengan dituntun oleh Bibi Ratna, tiba di ambang paviliun. Gadis itu berdiri mematung. Matanya menyapu lantai yang dipenuhi buku-buku sobek dan pilar bambu yang disiram cat merah. Buku cerita bergambar Pangeran Bahagia yang sering ia bacakan untuk Udin, kini tergeletak mengenaskan dengan halaman yang tercabik.

​Tangan Kirana perlahan naik, meremas kain sweternya tepat di bagian dada kirinya. Napasnya langsung tertahan. Wajahnya yang tadi merona kembali memucat pasi dalam hitungan detik.

​"Buku-bukuku..." bisik Kirana, suaranya pecah, dipenuhi keputusasaan yang teramat dalam.

​Melihat reaksi gadis itu, amarah di dalam diri Gani berevolusi menjadi sesuatu yang jauh lebih menakutkan: kekejaman yang terarah.

​Gani meremas selebaran fitnah itu hingga hancur di tangannya. Ia menatap Pak Kades dan para warga desa yang masih berkerumun. Di Jakarta, jika berita ini tersebar, ia akan langsung dijauhi dan dikucilkan. Ia menunggu warga desa ini melakukan hal yang sama. Ia menunggu Pak Kades memintanya pergi agar desa tidak terseret masalah.

​Namun, reaksi yang terjadi sungguh di luar dugaan.

​Pak Kades melangkah maju. Ia membungkuk, mengambil salah satu selebaran serupa yang berserakan di lantai, membacanya sekilas, lalu meludah ke tanah dengan penuh rasa jijik.

​"Kertas sampah!" geram Pak Kades, merobek kertas itu menjadi dua bagian dan melemparnya ke luar paviliun. Ia menatap Gani dengan mata yang menyala-nyala. "Mas Gani, mereka pikir kita ini orang kampung bodoh yang gampang diadu domba pakai kertas fotokopian murahan begini?"

​Maman, sang pemuda desa yang tempramental, ikut maju. Ia mencabut parang yang menancap di papan nama, matanya memerah. "Mas Gani yang sudah bangun atap balai desa kita. Mas Gani yang tangannya kapalan nolong kita! Mana mungkin kita percaya sama omongan orang kota yang bisanya cuma ngerusak buku anak kecil! Kasih tahu kami siapa yang melakukan ini, Mas! Biar kami yang ganyang mereka di jalan raya!"

​"Betul! Kita ronda tiap malam mulai sekarang! Jangan biarkan orang asing masuk Karangbanyu!" sahut warga lainnya, bersahut-sahutan dengan penuh semangat solidaritas yang tidak bisa dibeli dengan uang miliaran.

​Gani terpaku. Ia menatap warga desa yang berdiri membentuk pagar betis di sekelilingnya dan Kirana. Alih-alih diusir, ia justru dibela mati-matian. Rasa haru dan amarah bercampur aduk di dadanya, menciptakan sebuah bahan bakar keberanian yang tak ada habisnya.

​Gani menoleh ke arah Kirana. Gadis itu sudah berlutut di lantai, memunguti buku-bukunya yang sobek dengan air mata yang mengalir deras tanpa suara.

​Gani berjalan mendekat, ikut berlutut di samping Kirana. Ia memegang bahu gadis itu, menariknya pelan ke dalam pelukannya agar gadis itu tidak melihat sisa kekacauan itu lagi.

​"Dengarkan aku, Kirana," bisik Gani di telinga gadis itu, suaranya terdengar seperti janji mematikan seorang malaikat maut. "Aku akan membersihkan setiap tetes cat di pilar ini. Aku akan membelikan ratusan buku baru untuk menggantikan yang sobek ini."

​Gani mengurai pelukannya, menatap tepat ke sepasang mata Kirana yang basah.

​"Dan orang-orang yang membuatmu menangis hari ini..." Gani menggeram rendah, auranya menggelap secara drastis. "Aku pastikan mereka akan berlutut di hadapanmu, memungut buku-buku ini dengan tangan mereka sendiri."

​Gani Raditya telah resmi menanggalkan jubah orang baiknya. Jika hukum tidak bisa melindungi apa yang menjadi miliknya, maka ia akan menghadapi Raka dan para pengacaranya dengan cara yang jauh lebih brutal. Perang ini bukan lagi sekadar soal tanah; ini adalah soal kehormatan desanya, dan air mata gadis yang ia cintai.

1
Yeni Puspitasari
segar , konyol, keren 😍
Yeni Puspitasari
dari dua novel yg mengerikan Thor, cerita baru mu kali ini membuat ku tertawa lebar🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!