Bagi Raka Aditya, menyendiri adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dari tekanan dunia yang melelahkan. Ia merasa asing dan tak dimengerti, hingga akhirnya beberapa orang datang menawarkan persahabatan yang tulus. Perlahan, cara pandang Raka mulai berubah. Ia pun belajar bahwa untuk menemukan tempatnya di dunia, ia harus lebih dulu belajar menerima dirinya sendiri dan orang lain apa adanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RS Star, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24
Di dalam perpustakaan sekolah di jam dua siang, aku terkejut melihat keberadaan Luna di sini. Masih sangat jelas teringat kata – kata Elma kalau dia sudah memperhatikan sekitar perpustakaan dan sangat yakin kalau hanya ada aku dan Elma di perpustakaan ini. Namun baru beberapa saat Elma pergi meninggalkan perpustakaan, Luna datang dan dia menatapku dengan raut wajah datarnya.
Aku takut Luna mendengar semua pembicaraanku dengan Elma yang terasa kalau kami sangat dekat satu sama lain, di tengah isu hubunganku dengan Elma sebagai penguntit dan korban tentu saja akan sangat mengherankan kalau aku dan Elma terlihat dekat dan saling mengobrol seperti tadi. Tidak pernah ada cerita pelaku kejahatan akan menjadi akrab kepada korbannya dalam hitungan empat belas hari setelah kejadian, isu keakraban kami akan menjadi bola liar yang akan menghancurkan nama Elma di sekolah ini.
...Aku harus berhati - hati karena bisa saja kejadian di kehidupan pertama bisa terulang dengan cara yang berbeda...
“Halo, Raka” sapa Luna kepadaku sambil tersenyum, aku memasang wajah datar dan berusaha semaksimal mungkin untuk menutupi kepanikanku.
“Lah, Luna toh” timpalku
“Hah? Kamu bilang ‘Lah’ ke aku? Gak sopan!” agak membentak Luna mengatakannya, aku pun hanya menghela nafas untuk merespons rasa kesalnya.
“Kecewa ya karena aku bukan Elma?” sindir Luna terdengar begitu menyebalkan, aku rasa Luna tipe pendendam dan dia tidak suka dibuat kesal begitu.
“Eeh! Kau liat?!” panik aku mengatakannya, aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menutupi hubunganku dengan Elma tapi aku bagai maling yang tertangkap basah.
...Elma benar - benar ceroboh...
Aku rasa Elma benar – benar orang yang sangat ceroboh, dia tidak sadar kalau ada orang lain yang sangat berbahaya ada di sekitar kami tadi. Aku segera memutar otak untuk meredam Luna, karena dia si ketua kelas maka sekali Luna bicara satu kelas pasti akan mempercayainya. Di dalam benakku, aku rasa satu – satunya cara untuk meredamnya cuma membuat Luna mengerti agar dia tidak menyebarkan cerita tentang kedekatanku dengan Elma.
“Iya, aku dengar semua pembicaraan kalian, pertama – tama aku minta maaf karena sudah menguping pembicaraan kalian” jawab Luna, aku pun menghela nafas dan berusaha untuk mengulur waktu mencari celah yang tepat di tengah pembicaraan kami untuk memberi pengertian.
“Sepertinya aku gak bisa mengelak, baiklah...” timpalku pasrah
“Iya, aku ngerti kok kamu gak ingin hobi nulis novelmu tersebar ke siapa pun, jadi tenang aja, aku tidak akan bahas itu kok~” ucap Luna dan rasanya perkataan Luna begitu menusuk hatiku, aku merasa sangat malu karena rahasiaku terbongkar ke tiga cewek sekarang...
“Secara tidak langsung kamu baru saja membahasnya...” agak bergumam kesal aku katakan itu, jujur saja aku sedang menangis dalam hati karena aku merasa menjadi manusia tidak punya harga diri setelah rahasianya terbongkar ke banyak orang...
“Gini, aku dengar kejadian yang melibatkanmu, Elma dan Sari beberapa hari yang lalu dari teman – teman. Karena saat itu aku dipanggil guru sebagai perwakilan kelas, jadi aku tidak ada dikelas waktu kejadian. Dari yang aku dengar sih, kamu memasukkan buku aneh ke dalam tas Elma secara diam - diam. Tapi percakapan barusan, Elma tidak memberi respons negatif apa pun ke kamu” jelas Luna sambil melipat kedua tangan di dada dan raut wajah datar namun terlihat tegas, sepertinya dia sedang ingin menginterogasiku.
“Yah... kurasa begitu” timpalku, Luna tersenyum sambil menunjukku dengan jari telunjuknya.
“Berdasarkan asumsiku, apa benar kamu sedang melindungi Elma? Kamu secara suka rela berusaha menenangkan situasi panas itu dengan mengorbankan dirimu sendiri dan menjadi penjahatnya, aku benar, kan?” tanya Luna dengan nada suara yang semakin menekan seolah dia detektif yang sedang mencari informasi dari calon pelakunya, sesuai dengan apa yang aku bayangkan dari Luna si anak pintar di kelas.
“Kamu merasa aku gak bakal sejahat itu karena liat nilai dan rankingku di kelas, ya?” tanyaku sambil menghela nafas berusaha untuk menggoyahkan asumsi yang dia yakini, Luna langsung terlihat kesal yang begitu tampak dari raut wajahnya.
“Bukan itu maksudku, tau!” jawabnya dengan sedikit bentakan, aku pun memberi respons dengan ekspresi wajah yang terkesan mengejeknya. Aku harus mempertahankan posisi sebagai penjahat dan Elma adalah korbanku...
“Seorang pahlawan itu adalah tugas yang terlalu berat bagi seorang penyendiri seperti kamu! Cara kamu selesaikan masalah setelahnya juga gak heroik, kamu jadi musuh kelas, tau?!” kembali Luna membentakku, dia jadi ketularan Maya ya.. suka banget mengurus hidup orang.
“Aaah berisik! Lupakan saja asumsimu itu!” timpalku dengan nada yang aku tinggikan mencoba untuk berperan sebagai anak bandel yang tidak ingin di nasihati, Luna malah tersenyum lalu menghela nafas.
“Haah~ kamu orangnya keras kepala ya, ya udah aku gak bakal cari tau lebih dalam lagi kalau kamu memang gak mau” celetuknya
“Maaf dan terima kasih banyak” timpalku, lalu kami terdiam sebentar sampai tiba – tiba tangan Luna menyentuh dagunya seolah dia adalah seorang detektif pada sebuah Manga.
“Hmm... sebenarnya aku udah tahu dari lama kalau kamu itu orang yang baik” celetuknya memecah keheningan ruang perpustakaan, mendengar pujiannya yang begitu tiba – tiba itu membuatku merasa malu dan jantungku berdebar kencang.
“Hei!!! rasanya memalukan!! Jangan ngomong blak – blakan gitu di depan orangnya dong!” keluhku padanya, jujur saja aku senang tapi ada rasa yang tidak enak di hati entah apa itu namanya.
“Tapi sekarang ini posisimu menjadi sangat menderita, semua siswi berpikir kamu orang yang menjijikkan dan pantas buat dijauhi. Sikap siswa juga sama aja, jadi kemungkinan kamu tidak mungkin bisa mendapatkan seorang teman” ucap Luna menjelaskan posisiku di kelas usai kejadian itu, aku tertawa kecil mendengar ucapannya sambil berpikir Luna makin mirip sama Maya.
“Mau gimana lagi, semua karena ide bodohku” aku mengucapkannya tanpa beban dan berharap Luna tidak benar – benar menjadi Maya yang terlalu khawatir karena aku tidak punya teman, namun ekspresi wajah Luna menunjukkan dia sudah sangat kesal padaku.
“Kamu itu baru kelas satu, jangan terlalu keras sama diri sendiri, gak baik tau kalau terlalu keras ke diri sendiri gitu” begitu terasa Luna sudah sangat kesal padaku, namun aku berusaha untuk terlihat tidak peduli dengan menunjukkan ekspresi wajah datar andalanku dan tidak mengatakan apa pun terhadap kekesalannya.
Yah lagi pula umur mentalku ini tidak setara dengan siswa kelas satu SMA, jadi aku tidak terlalu terganggu dengan hal remeh semacam dibenci satu kelas seperti ini. Aku sudah sangat terbiasa sendiri dalam keadaan apa pun selama tiga tahun penuh, di kehidupan kedua, aku hanya perlu mengulang semua itu dan aku akan baik – baik saja.
“Apa ada yang bisa aku perbuat untukmu? Sebagai ketua kelas, aku bisa membantu untuk membersihkan namamu sekaligus menghapus kesalahpahaman semua orang” ucap Luna, seperti yang diharapkan dari seorang ketua kelas yang baik hati dia juga memikirkan nasibku di sekolah ini tiga tahun ke depan.
“Lupakan saja, keluargaku bilang aku gak boleh berhutang pada siapa pun sekalipun itu teman” jawabku, kembali Luna menunjukkan raut wajah kesalnya.
“Aku rasa yang dimaksud keluargamu itu tentang uang” timpal Luna dengan datar tapi aku tahu dia sangat kesal padaku, dan saat inilah yang aku tunggu sejak awal bertemu dengan Luna.
...Kesempatan...
“Kalau kamu benar – benar ingin menolongku, maka aku ingin kamu merahasiakan percakapanku dengan Elma” pintaku padanya dan dengan tegas, hanya hal ini yang sangat membuatku ke pikiran sejak tadi.
“Niat awalku memang begitu” terdengar Luna menghela nafas ketika mengucapkannya dan kami pun saling terdiam lagi
“Ya udah deh, tapi aku sudah tahu kamu itu orangnya seperti apa. Aku harap kamu tidak merasa sendiri, bicara padaku kalau ada apa – apa di kelas dan sekolah. Aku akan membantumu sebisaku, lagi pula aku ini ketua kelas” celetuk Luna memecah keheningan, dia tersenyum begitu manis ketika mengatakannya dan aku semakin merasa kalau Luna ini benar – benar ketua kelas yang sangat baik hati.
...Seketika teringat perkataan Maya yang mengatakan '...Kalau Luna sampai membencimu, itu berarti seratus persen adalah kesalahanmu...'
...Kata - kata itu sangat tepat...
“Baik, bu ketua kelas” timpalku sambil sedikit membungkuk di hadapannya, Luna melipat kedua tangan sambil kepalanya sedikit mendongak dengan sombongnya.
“Bagus.. bagus... oh iya lalu, kamu belum masuk grup kelas, kan?” tanya Luna heran, aku juga heran ternyata ada grup seperti itu di sekolah.
“Loh, aku gak tau ada yang seperti itu dikelas” jawabku bingung sambil kembali menatapnya, Luna pun tertawa kecil sambil menepuk pundakku beberapa kali sebelum dia mengambil ponsel dari saku roknya.
“Gakpapa, aku gak nyalahin kamu kok. Oke deh, aku langsung masukkan kamu di grup WA ya” ucapnya
“Tidak, aku rasa itu ide yang buruk” aku menolak ide Luna, tentu saja itu ide yang buruk dengan kondisi kelas yang memusuhiku. Yang terpikirkan saat itu adalah sebagian besar teman sekelas akan meninggalkan grup WA sesaat aku masuk dalam grup itu... terutama para cewek...
“Kalau gitu kasih tau aku nomor WA-mu biar kita berteman di WA, jadi kalau ada apa – apa, kamu bisa langsung WA aku” Luna memberi solusi sambil memberikanku ponsel miliknya, aku terdiam sesaat menatap ponsel Luna dengan perasaan campur aduk.
Hei.. heii... Maya, lalu ada Elma, dan sekarang Luna... ada apa sama tren menambah teman di WA ku ini? jangan – jangan nomor WA-ku bisa membawa keberuntungan buat main lotre, aku sudah menyimpan tiga nomor cewek populer di sekolahku sejauh ini... aku yang dulu jangankan nomor cewek, nomor cowok pun tidak pernah ada.
Luna memberi gestur menggoyangkan ponsel ditangannya seolah memaksaku untuk segera mencatat nomor WA-ku ke ponsel miliknya, aku pun menerima ponsel itu lalu mencatatkan nomor WA-ku ke ponsel Luna. Sesaat aku mengembalikan ponsel itu setelah memastikan jika nomorku sudah tepat, Luna juga melakukan tes *chatting* sebelum dia memasukkan kembali ponsel itu ke dalam saku roknya.
“Oke sudah saling berteman, sampai jumpa besok~” ucap Luna sambil melambaikan tangan kepadaku, aku pun membalas lambaian tangannya dan berkata...
“I.. iya...” agak bergumam aku katakan itu, aku masih terlalu syok karena pencapaianku sejauh ini dalam hal mendapatkan seorang teman di daftar kontak WA... aku pantas bangga, kan?
Meski begitu, aku bertanya – tanya dalam hati tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam hidupku. Bukankah ini seperti aku sudah menggunakan seluruh keberuntunganku sepanjang hidup? Aah aku sudah terlalu banyak berpikir...