Aira dan Airin adalah kembar yang tak pernah serupa. Airin adalah "Permata Maheswari"—cantik, cerdas, dan dicintai. Sementara Aira hanyalah "Cacat Produksi"—kusam, bodoh, dan terbuang di gudang belakang karena tak mampu bersaing dengan standar keluarga yang gila gelar.
Satu-satunya cahaya dalam hidup Aira adalah ingatan tentang Alvaro, bocah laki-laki kumal yang dulu ia selamatkan dan ia beri seluruh hatinya. Namun, ketika Alvaro kembali sebagai pewaris tunggal konglomerat yang tampan dan berkuasa, takdir mempermainkan Aira dengan kejam.
Alvaro salah mengenali "Ai" sahabat kecilnya. Berkat kelicikan dan nama mereka yang hampir mirip, Airin dengan mudah mencuri identitas Aira. Kini, pria yang paling dicintai Aira justru menjadi orang yang paling rajin menghina dan merundungnya demi membela sang kembaran palsu.
Di tengah luka yang menganga, muncul Bara—sang bad boy penguasa sekolah yang menolak tunduk pada siapa pun. Bara berjanji akan memberikan dunia pada Aira.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
"Kenapa kamu nggak pernah bilang kalau dia memang selicik itu dari dulu, Ai? Kenapa kamu harus nanggung semuanya sendirian?"
Suara Alvaro berat, sarat dengan penyesalan yang begitu kental hingga udara di balkon lantai dua rumah keluarga Maheswari itu terasa sesak. Ia berdiri membelakangi lampu taman, membiarkan tubuhnya diselimuti bayangan, sementara pandangannya terkunci pada Airin yang sedang duduk di kursi rotan putih.
Airin menunduk, jemarinya yang lentik memainkan ujung sapu tangan bordir yang selama ini menjadi jimat bagi Alvaro. Ia menarik napas gemetar, sebuah akting yang begitu halus hingga helaan napasnya terdengar seperti pecahan kaca yang rapuh.
"Aku nggak mau kamu benci dia, Varo," bisik Airin. Suaranya serak, sengaja dibuat seolah ia baru saja menghabiskan banyak air mata. "Bagaimanapun, Aira itu kembaranku. Aku selalu berharap suatu saat nanti sifat 'anak kecil' yang suka menghina dan meremehkan itu hilang. Tapi ternyata... obsesinya padamu malah makin parah."
Alvaro mengepalkan tangan di atas pagar balkon yang dingin. Pikirannya melayang kembali ke jamuan makan malam tadi. Narasi Ratna seolah menjadi bensin yang membakar ingatan-ingatan kaburnya. Ia teringat sosok gadis kecil yang berdiri di balik pohon, menertawakannya saat ia terjatuh dan menangis. Gadis yang menyebutnya 'anak manja pengecut'.
Selama ini, ia pikir itu hanya fragmen mimpi buruk. Tapi sekarang, semuanya masuk akal. Gadis jahat itu adalah Aira. Sedangkan 'Ai' yang datang membalut lukanya, yang memberikan sapu tangan ini, adalah Airin.
"Aku bener-bener bodoh, Ai," desis Alvaro. Ia berbalik, menatap Airin dengan sorot mata yang penuh dengan permintaan maaf yang tak terucapkan. "Aku sempet ragu sama kamu cuma karena liat dia berakting tertindas di depan preman sekolah itu. Aku harusnya sadar, Aira itu ahli dalam memanipulasi keadaan."
Airin bangkit dari kursinya, melangkah perlahan menuju Alvaro. Ia meletakkan tangannya di dada Alvaro, merasakan detak jantung pria itu yang tidak stabil. "Jangan salahin dirimu sendiri. Aira memang... dia pintar menggunakan wajah 'mirip' kami untuk bikin orang bingung. Mama dan Papa sudah bertahun-tahun sabar menghadapi kelakuannya yang sering merusak barang-barangku hanya karena dia pengin jadi aku."
Alvaro meraih tangan Airin, menggenggamnya erat seolah takut gadis itu akan menghilang jika ia lepaskan. "Mulai detik ini, dia nggak akan bisa nyentuh kamu lagi. Aku nggak peduli meskipun dia kembaranmu. Kalau dia berani bikin kamu nangis atau mencoba mencuri posisimu lagi, dia bakal berurusan langsung sama aku."
"Varo... kamu janji?" Airin mendongak, matanya yang besar dan jernih itu menatap Alvaro dengan binar yang terlihat sangat tulus.
"Aku janji, Ai. Aku bakal jadi tameng buat kamu dari segala 'kejahatan' yang dia rencanakan. Kamu nggak perlu takut lagi," Alvaro menarik Airin ke dalam pelukannya. Ia membenamkan wajahnya di rambut Airin, mencoba mencari ketenangan yang selama ini ia cari.
Airin menyandarkan kepalanya di dada bidang Alvaro. Di balik bahu pria itu, sudut bibirnya terangkat. Sebuah senyuman kemenangan yang sangat tipis, sangat dingin, dan sangat mematikan. Ia merasa seperti seorang sutradara yang baru saja menyelesaikan adegan klimaks dengan sempurna.
*
(POV AIRA)
Hening. Tapi tidak benar-benar sunyi.
Aku meringkuk di atas kasur tipis di dalam gudang belakang yang sekarang menjadi 'kamarku'. Bau kapur barus dan debu tua menusuk hidungku, tapi aku sudah terbiasa. Yang tidak bisa kubiasakan adalah rasa sakit yang menembus dinding triplek tipis ini.
Kamar ini berbatasan langsung dengan area bawah balkon. Dan malam yang sunyi ini membuat setiap kata yang meluncur dari mulut Alvaro terdengar seperti belati yang diasah tepat di depan telingaku.
"Aku bakal jadi tameng buat kamu dari segala 'kejahatan' yang dia rencanakan..."
Aku memejamkan mata rapat-rapat, menutup telingaku dengan bantal kusam yang sudah mengempis. Tapi suara itu tetap masuk. Suara tawa kecil Airin yang terdengar begitu manja, suara yang dulu selalu berbagi rahasia denganku, kini justru menjadi racun yang membunuh karakterku di depan orang yang paling kucintai.
Aku ingin berteriak. Aku ingin keluar dan memaki mereka. Aku ingin bilang, "Alvaro, gadis yang menghinamu dulu itu bukan aku! Gadis itu adalah Airin yang sengaja memakai bajuku untuk menjebakku!"
Tapi siapa yang akan percaya?
Mama sudah menyiapkan skenario 'kelainan mental' untukku. Papa sudah menganggapku sebagai aib. Dan Alvaro... pangeranku yang dulu berjanji akan menjagaku, kini justru berjanji akan menjaga si pembohong dariku.
Aku merasa duniaku terbalik. Benar-benar gila. Bagaimana bisa kebenaran terkubur begitu dalam hanya karena setetes air mata palsu?
Cklek.
Suara pintu balkon tertutup terdengar, diikuti suara langkah kaki yang menjauh. Lalu, tawa bening Airin kembali terdengar, kali ini lebih lepas karena Alvaro mungkin sudah turun ke bawah. Tawa itu penuh dengan penghinaan. Tawa seorang pemenang yang sedang merayakan kehancuran saudaranya sendiri.
Aku meremas sprei di bawahku hingga jemariku memutih. Rasa perih di hatiku sudah melampaui batas air mata. Aku tidak menangis lagi. Air mataku sudah habis dikuras oleh ketidakadilan rumah ini.
Di kegelapan gudang ini, aku hanya bisa menatap bayangan tikus yang berlari di sudut ruangan. Sesak. Napasku terasa pendek. Aku teringat Bara. Cowok berandalan yang semua orang jauhi, tapi justru satu-satunya orang yang tidak butuh sapu tangan untuk melihat siapa aku sebenarnya.
"Kenapa duniaku harus sekejam ini, Al?" bisikku pada kegelapan. "Kenapa kamu harus percaya pada racun yang dia bungkus dengan air mata?"
Aku mendengar suara mobil Alvaro menyala di depan gerbang, lalu deru mesinnya menjauh. Meninggalkan aku di sini, terkunci dalam labirin ingatan yang salah yang sengaja dibangun oleh keluargaku sendiri.
Malam ini, aku menyadari satu hal. Di rumah ini, kebenaran tidak ada harganya jika tidak menguntungkan citra keluarga. Dan aku... aku adalah harga yang harus dibayar demi kesempurnaan seorang Airin Maheswari.
Aku kembali meringkuk, memeluk tubuhku sendiri yang gemetar karena kedinginan. Dinding gudang ini terasa semakin sempit, seolah-olah ia ingin menghimpitku sampai mati. Tapi di balik rasa sakit ini, sebuah tekad kecil mulai tumbuh. Jika semua orang memilih untuk buta, maka aku akan menjadi duri yang paling tajam sampai mereka terpaksa membuka mata.
"Tunggu saja, Airin," desisku di tengah kegelapan. "Kamu boleh curi ingatannya, tapi kamu nggak akan pernah bisa curi jiwaku selamanya."
Pov aira
"Teruslah menenun racun di balik air mata palsumu, Airin. Alvaro, tetaplah buta dalam dekapan ular yang kau puja sebagai cahaya. Kalian boleh mengunci ragaku di gudang gelap, tapi Sang Serigala telah mengunci takdirku. Saat fajar tiba, singgasana kebohongan kalian akan runtuh menjadi debu. Tunggu saja, pembalasan ini akan sangat sunyi."