Larasati, gadis desa sederhana, percaya bahwa pernikahannya dengan Reza Adiguna akan membawa kebahagiaan. Namun semua harapan itu hancur di hari ia melahirkan—anaknya direbut, dirinya diceraikan, dan ia dicampakkan tanpa sempat memeluk buah hatinya.
Sendiri dan hancur, Larasati berjuang bertahan hidup di tengah kota yang asing. Hingga takdir mempertemukannya dengan Hajoon Albra Brajamusti, pria yang dulu pernah dikenalnya tanpa sengaja.
Dengan keberanian yang tumbuh dari luka, Larasati menyamar sebagai ibu susu demi bisa dekat dengan anaknya kembali.
Di tengah perjuangannya, hadir perasaan yang tak pernah ia duga.
Apakah Larasati sanggup merebut kembali anaknya sekaligus menemukan arti cinta sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dasar Sialaan!! 22
Brigita mengerutkan alisnya ketika melihat Laras ada di dapur pada jam seperti ini. Ia kembali menatap jam di dinding, dan memastikan bahwa matanya tak salah melihat. Tapi meski dilihat berkali-kali, jam itu jelas menunjukkan pukul 09.00.
"Lho Ras, kenapa masih di rumah?" tanya Brigita sambil berjalan menghampiri Laras.
"Iya Bu, hari ini saya tidak kesana. Katanya hari ini Bu Eva mau berduaan saja sama Elio," jawab Laras lesu. Tampak sekali bahwa saat ini dirinya tak memiliki semangat barang sedikitpun. Tentu saja penyebabnya adalah Laras tidak bisa bertemu dengan putranya.
Brigita tersenyum, dia paham betul perasaan Laras. Namun Brigita tak akan berkata sabar, karena jika ia berada di posisi Laras, belum tentu dirinya bisa setenang ibu muda tersebut.
"Paling cuma hari ini. Nanti kalau ASIP nya habis, mereka pasti bakalan kelabakan nyari kamu. Eomma yakin Baby El cuma mau minum ASI dari kamu."
Perkataan Brigita sungguh sangat menenangkan bagi Laras. Dia yang tadinya lesu, kini sedikit bisa tersenyum.
Laras sendiri juga punya keyakinan yang besar bahwa Elio hanya akan meminum ASI dari tubuhnya, bukan dari siapapun.
Dan benar saja demikian. Ada maksud tersembunyi dari Eva ketika meminta Laras untuk tidak datang hari ini. Wanita itu ingin menjalankan rencananya. Untuk membuat agar Elio menjadi anaknya seutuhnya, ia harus memberikan ASI miliknya kepada Elio.
Waktu itu berkali-kali Eva mencoba, Elio menolak. Sekarang Eva memiliki caranya sendiri yakni dengan mencampur ASI milik Laras dengan ASI miliknya.
Pagi-pagi sekali Eva yang tidak bisanya datang untuk melihat Elio, ini datang sambil tersenyum lebar. Dia sudah membawa botol susu yang penuh.
Ani mengerutkan alisnya. Dalam hati perawat Baby Elio itu berkata, "Tumben nih orang datang jam segini. Biasanya mah nanti siangan, itu pun cuma nengok bentaran aja."
Ani bisa berkata demikian dalam hatinya karena memang Eva selama ini tak pernah sekalipun menggendong Elio dan membawa bayi itu meski hanya menimangnya saja. Eva seperti bersikap acuh tak acuh ketika ibu susu yang cocok untuk Elio ditemukan, yakni Lara. Semenjak datangnya Laras, Eva benar-benar tak pernah menggendong. Padahal dengan menyedihkan Elio dipisahkan dari Laras.
"Selamat pagi anak ganteng Mama. Waktunya minum susu,"ucap Eva. Wajahnya nampak riang sekali. Karena tak terbiasa menggendong Elio, dia meminta Ani untuk meletakkan Elio di pangkuannya.
"Apa Mbak Saras nya nggak datang, Bu? Kok tumben jam segini belum datang dan langsung dikasih botol susu?" tanya Ani hati-hati. Selama menuju dua bulan ia berada di sana, Ani paham bahwa Eva dalam tipe orang yang sensitive dan sedikit emosian. Jika tidak sesuai dengan hatinya, maka dia pasti akan marah.
"Oh iya, dia nggak datang. Katanya hari ini ada urusan gitu. Nggak tahu kemana,"ucap Eva bohong. Bukan Laras yang punya urusan tapi Eva lah yang menyuruh Laras untuk tidak datang.
Ani yang tidak tahu tentang kejadian sebenarnya hanya mengangguk-anggukkan kepala. Baginya tidak masalah hari ini Laras tidak datang karen stok ASI masih sangat cukup untuk Elio. Namun jika sampai besok Laras tidak datang maka urusannya menjadi berbeda lagi.
"Tapi Bu, besok Mbak Saras akan datang kan?" tanya Ani lagi.
"Kamu kenapa sih cerewet banget? Kenapa takut banget Saras nggak dateng. Kan ada aku, aku yang ibunya Elio bukan dia. Dah sana brisik tahu nggak. Ngganggu aku sama Elio. Minggir, aku pengen berduaan aja sama Elio,"jawab Eva sengit.
Ani menciut. Dia lalu memilih untuk pergi dari kamar Elio dari pada mendengarkan perkataan Eva yang tidak menyenangkan.
Ketika baru melangkahkan kakinya keluar dari kamar Elio, Ani berpapasan dengan Reza. Pria itu mengerutkan alisnya saat melihat Ani keluar dari kamar sang putra.
"Kok kamu di sini? Terus yang jaga Elio siapa?" tanya Reza.
"Ada Bu Eva, tadi Bu Eva yang minta saya keluar, Pak,"jawab Ani apa adanya. Tanpa berkata apa-apa lagi Reza pun masuk ke dalam kamar Elio. Dia melihat Eva tengah memangku Elio dan hendak memberikan susu kepada Elio.
"Lihat kan, meskipun ada Ibu Sus, Elio tetap akan ada di pelukanmu, sayang,"ucap Reza. Pria itu tersenyum lalu berjalan mendekat ke arah istrinya.
"Bener Mas, dia tetaplah anakku. Nih aku lagi mau nyoba ngasih ASI ku yang dicampur sama milik wanita itu,"jawab Eva dengan wajah yang riang. Sebuah rencana sudah disusun nya. Jika Elio mau meminum ASI miliknya maka keberadaan Laras sudah tidak diperlukan lagi nanti. Dan Eva memang berharap demikian. Dia ingin Laras bisa meninggalkan rumahnya. Entah mengapa keberadaan Laras sangat mengganggu hati dan pikirannya.
Eva pun segera memberikan ASI yang ada di botol susu. Perlahan namun Eva sangat penuh harap agar Elio mau menerimanya. Akan tetapi harapannya harus pupus begitu saja. Karena ketika susu itu mendarat di mulut Elio, bayi tersebut tidak mau menelannya dan malah menangis kencang.
Oweeeek
Oweeeek
"Va, kamu apain Elio?" pekik Reza ketika mendengar tangis Elio. Sudah lama dia tidak mendengar Elio menangis seperti ini. Tepatnya adalah sejak Elio mendapat ibu susu yang cocok dengannya.
"Nggak aku apa-apain Mas. Kamu kan lihat sendiri, aku cuma ngasih susu ini,"sahut Eva cepat. Dia juga terkejut saat Elio menangis dengan sangat keras.
"Coba kasih susunya lagi,"ucap Reza memberi usulan.
Eva mengangguk, dia lalu memberikan ASI di botol susu itu kepada Elio. Tapi lagi-lagi Elio tak mau menelannya. Susu yang masuk ke mulut Elio seolah dimuntahkan oleh bayi itu. Dan alhasil Elio menangis sejadi-jadinya.
"Coba ditenangkan Va,"ucap Reza dengan panik.
"Ini aku lagi usaha Mas,"jawab Eva. Dia berdiri dan menimang Elio. Eva juga masih berusaha untuk memberikan ASI campuran miliknya dan milik Laras. Namun Elio tetap saja menolak dan malah menangis sejadi-jadinya.
Ani yang berada di luar kamar tentu mendengar tangis Elio. Perawat itu masuk dengan cepat, dia tidak peduli dengan kata permisi atau apapun itu. Tangis Elio sangat keras. Ani tidak ingi bayi itu kenapa-napa.
"Ada apa Pak, Bu?" tanya Ani. Dia kini sudah ada di depan Eva dan langsung meminta Elio dari gendongan Eva.
Ditangan Ani, tangis Elio mereda. Namun tatapan mata Eva penuh dengan amarah. Tatapan itu bukan ditujukan kepada Ani melainkan kepada Elio.
"Dasar sialan! Dasar anak jalangg! Kamu beneran sama kayak ibumu ya! Jalang sialann!"
"EVA STOP!!"
TBC