Pada jaman kuno, pertempuran besar terjadi antara Dewa dan Iblis, yang menyebabkan dunia hancur.
Satu juta tahun setelah pertempuran itu terjadi. Dewa dan Iblis menghilang, seolah-olah menjadi dongeng untuk anak kecil yang diceritakan oleh orang tuanya.
Manusia-manusia semakin kuat, tumbuhan memiliki kesadarannya sendiri, bahkan suku binatang buas mulai bangkit berkuasa.
Mengisahkan tentang kisah seorang Tuan Muda keluarga Zhou yang terlahir dari orang tua nya yang merupakan dua keberadaan terkuat di Wilayah Timur. Namun, dia terlahir dengan kondisi Akar Spiritual yang cacat, membuatnya di anggap sebagai Aib keluarga, bahkan tunangannya pun memilih untuk membatalkan pernikahan mereka.
Di tengah-tengah rasa putus asa, dia bertemu dengan secercah kesadaran Dewa, yang memberinya kesempatan untuk bangkit, tetapi menanggung misi untuk menyalakan sembilan Api Jiwa sang dewa yang ikut terkubur di Reruntuhan Dewa.
Namun, di mana Reruntuhan Para Dewa dan Iblis itu berada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon APRILAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RPD: Chapter 22
Keesokan harinya, setelah kemarin Chen Xuan mempermalukan Zhou Xiaowang dan juga Huan Yu.
Saat itu,di dalam Paviliun Langit, kediaman pribadi Ketua Sekte Embun Pagi 'Fang San', suasana begitu tenang dan damai. Cahaya pagi yang lembut menyusup melalui jendela-jendela kristal, menyentuh lantai marmer dengan kehangatan yang halus, seolah embun pagi sendiri ikut bernapas pelan di dalam ruangan suci itu.
Masih ada tiga hari tersisa sebelum Alam Rahasia yang disebut kan oleh Fang San, akan terbuka. Saat itu, Chen Xuan duduk bersila di atas batu meditasi berukir rumit. Matanya terpejam, napasnya pelan dan dalam, seolah menyatu dengan irama alam semesta. Kini ia telah mencapai Ranah Lima Elemen, dan hari ini ia berusaha memahami esensi sejati dari hukum elemen kayu, logam, air, api, dan tanah yang kini mengalir dalam dirinya.
Dengan hati yang tenteram, Chen Xuan memasuki alam lautan ilahi miliknya, alam kesadarannya sendiri. Begitu jiwanya meluncur masuk, dunia di sekitarnya berubah menjadi samudra qi yang luas tak bertepi. Langit kesadarannya berwarna biru lembut bercampur hijau muda, seperti pagi yang abadi. Di tengah samudra itu berdiri lima pilar agung, masing-masing memancarkan cahaya elemen yang lembut namun penuh kekuatan.
Ia melangkah pertama kali ke Pilar Kayu yang bercahaya hijau keemasan.
Seketika, hutan purba yang megah muncul di sekelilingnya. Pohon-pohon raksasa menjulang tinggi, daun-daunnya bergoyang pelan seolah bernyanyi. Akar-akarnya menembus tanah dengan penuh kehidupan. Chen Xuan mengulurkan tangan, dan dari telapaknya tumbuh sebatang tunas kecil yang dengan cepat menjelma menjadi pohon sakti yang rindang. Energi kehidupan yang murni mengalir deras, menyembuhkan segala luka di dalam jiwanya.
Sebuah goresan qi tajam ia buat di lengannya sendiri. Namun sebelum darah sempat menetes, cahaya hijau lembut telah menutupinya. Luka itu lenyap tanpa bekas, seolah waktu sendiri berbalik. Hukum Kayu bukan sekadar pertumbuhan, ia adalah napas kehidupan, penyembuh yang penuh kasih, siklus abadi yang tak pernah padam.
Chen Xuan tersenyum lembut. "Indah sekali... dan... begitu lembut." kemudian ia berpaling ke Pilar Api yang menyala dengan nyala merah keemasan.
Lautan kesadarannya berubah menjadi samudra api yang berkobar tanpa membakar. Dari telapak tangannya, muncul seekor Phoenix agung yang mengepakkan sayapnya dengan anggun. Burung api itu melengking indah, tubuhnya terbuat dari api suci yang hidup, bulu-bulunya berkilauan seperti permata. Phoenix itu terbang mengelilingi Chen Xuan dengan gerakan penuh keanggunan sebelum kembali menyatu menjadi bola api kecil di tangannya.
'Hukum Api... api yang membakar segalanya. Ternyata, elemen api ku berwujud roh Phoenix!' gumam Chen Xuan, di dalam hatinya.
Dari Pilar Air yang biru jernih, ia memanggil pusaran air yang lembut. Dari pusaran itu muncul seekor Ikan Rock raksasa yang indah. Tubuhnya terbuat dari air yang padat namun mengalir, sisiknya berkilau seperti batu giok yang hidup. Ikan itu berenang dengan lincah di sekelilingnya, penuh kekuatan namun tetap lembut, sebelum meledak menjadi ribuan tetes embun yang kembali menyatu dengan samudra qi.
Selanjutnya, Chen Xuan menyatukan Pilar Tanah dan Pilar Logam. Bumi di bawah kakinya bergetar pelan. Tiba-tiba muncul sebuah dinding tebing raksasa yang kokoh, permukaannya dipenuhi logam spiritual yang mengkilap dingin. Dinding itu berdiri tegar seperti punggung gunung purba, tak tergoyahkan. Chen Xuan menempelkan telapak tangannya di atasnya, rasanya sejuk dan menenangkan, seolah seluruh dunia bisa ia lindungi di baliknya.
Lalu, ia mengangkat pandang ke langit. Dari awan yang gelap, sebuah Pedang Raksasa turun dengan megah. Bilah pedang itu terbuat dari logam spiritual murni yang dibalut api suci, panjangnya mencapai ratusan meter. Pedang itu menghujam ke bawah dengan kekuatan yang menggetarkan jiwa, menebas udara dengan suara nyaring yang indah. Tabrakan dengan dinding tebing menghasilkan ledakan cahaya yang memukau, namun dinding itu hanya retak sedikit sebelum segera pulih kembali.
Keseimbangan antara serangan dan pertahanan itu begitu sempurna, begitu harmonis. Akhirnya, kelima elemen itu ia satukan dalam satu hembusan napas.
Phoenix Api menari di langit, Ikan Rock berenang di samudra, Pohon Kayu suci tumbuh di pulau yang dikelilingi Dinding Tebing Tanah-Logam, sementara Pedang Api Logam mengawasi segalanya dari atas seperti penjaga langit. Lima warna qi saling berpelukan, saling melengkapi, menciptakan keseimbangan yang indah dan utuh.
Boom!
Seluruh alam kesadaran Chen Xuan berguncang lembut. Lima pilar menyatu menjadi satu Pilar Agung Lima Elemen yang menembus langit dan samudra. Cahaya lembut menyebar ke seluruh penjuru jiwa Chen Xuan.
Di dunia nyata, tubuh Chen Xuan yang duduk di Paviliun Langit perlahan mengeluarkan aura yang hangat dan nyaman. Embun pagi dari seluruh gunung seolah merespons, berkumpul di sekitar paviliun dan membentuk kabut tipis yang berkilauan seperti mimpi.
Chen Xuan membuka matanya perlahan. Di kedalaman pupilnya, lima warna cahaya samar-samar berputar sebelum lenyap dengan anggun.
"Ranah Lima Elemen... akhirnya benar-benar menyatu dalam diriku." guma Chen Xuan pelan, suaranya penuh kedamaian.
Pintu paviliun terbuka pelan. Fang San melangkah masuk dengan senyum lembut di wajahnya yang bijaksana.
"Xuan, kau kembali lagi membuat embun pagi seluruh sekte ikut bernyanyi," ujar Fang San dengan nada penuh kasih sayang. "Lima Elemen yang kau kuasai sudah begitu halus. Bahkan aku, sebagai gurumu, merasa kagum." sambung Fang San, menyadari potensi anak muda dihadapannya sangat besar.
Selama sejarah Benua Tian Yuan, hanya segelintir orang yang memiliki kemampuan untuk menguasai lima elemen sekaligus. Bahkan, ketika Chen Xuan menghadapi Zhou Xiaowang saat itu, ia mengeluarkan elemen cahaya, memungkinkan Chen Xuan dapat menguasai elemen ilahi cahaya.
Lalu, Chen Xuan berdiri dan membungkuk dengan penuh hormat. "Semua ini berkat bimbingan Guru. Tanpa teknik Lautan Kesadaran Embun, murid tidak akan mampu memahami hukum-hukum ini sepenuhnya." ujar Chen Xuan, segaris senyuman tergambar di bibirnya.
Fang San tertawa kecil, suaranya seperti angin musim semi. "Besok pagi, aku akan membawamu ke Ruang Lima Elemen. Di sana, kita akan menguji kekuatan barumu. Istirahatlah dengan tenang malam ini. Perjalananmu baru saja memasuki babak yang lebih indah."
Chen Xuan mengangguk pelan. Di dalam hatinya, ada rasa syukur yang mendalam bercampur tekad yang menyala pelan.
Dari seorang pemuda yang pernah dibuang keluarganya, kini ia mulai melangkah dengan lima elemen yang hidup di dalam jiwanya. Benua Tian Yuan sangat lah luas, dan ia siap menyambutnya dengan hati yang tenang.
buat kalian yang mau sawer author bisa via Gopay: 081774888228
Dana juga bisa: 081774888229
dana sama gopay cuma beda belakang nya aja
Bisa juga lewat BCA: 3520695370
semuanya a.n APRILAH
Terimakasih sudah setia membaca karyaku 🙏🙏