NovelToon NovelToon
Suami Rahasia

Suami Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Beda Usia
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: candra pipit

Clarindra Arabella, siswi kelas tiga SMA yang tinggal selangkah lagi menuju kelulusan, tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah dalam satu keputusan sepihak.
Di saat teman-temannya sibuk mempersiapkan ujian akhir dan masa depan, Clarindra justru dipaksa menerima kenyataan pahit—ia harus menikah.
Bukan dengan pria seusianya.
Melainkan dengan seorang pria dewasa… yang bahkan tak pernah ia kenal.
Demi alasan sederhana namun kejam—orang tuanya akan pindah ke luar negeri, dan mereka tak ingin meninggalkan putrinya sendirian.
Di balik keputusan itu, tersembunyi kesepakatan antara dua keluarga besar.
Nama besar keluarga Hardinata menjadi jaminan keamanan Clarindra… sekaligus awal dari keterikatannya.
Zavian Hardinata.
Pria itu bukan sekadar pewaris keluarga kaya raya. Ia adalah sosok bebas, penuh pesona, namun sulit dikendalikan. Seseorang yang lebih terbiasa bermain dengan hidupnya sendiri… daripada terikat dalam satu hubungan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon candra pipit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kencan

Jam sekolah sudah berakhir. Clarinda berjalan santai sambil mengayun tasnya menuju parkiran. Mood gadis itu terbilang bagus siang ini.

Sepertinya semesta sedang berpihak pada Clarinda. Mobil Zavian tidak terlihat di parkiran khusus guru dan staf.

“Paling juga rapat,” celetuknya sendiri. “Tugas kepsek kan gitu, sibuk banget. Sok penting.”

Clarinda langsung melenggang ringan menuju mobil Rama yang terparkir tak jauh dari gerbang.

Rama bentar lagi nyusul. Ia masih ada sedikit urusan di kelasnya. Jadi Clarinda menunggu sambil memainkan tali tasnya.

Namun ketenangan itu tak berlangsung lama.

Rombongan Meta dan gengnya muncul seperti villain drama korea. Meta berjalan paling depan dengan rambut tergerai dan ekspresi penuh percaya diri. Di kanan kirinya ada Wanda, Leona, dan Viona yang tampak kompak layaknya girlband gagal debut.

“Cari tumpangan lo?” sindir Meta sambil melipat tangan.

Clarinda memutar kepala ala gadis India.

“Males banget gue, ketemu Rosa," ujarnya tanpa dosa.

Teman-teman Meta langsung melihat ke belakang kali ada orang lain lagi.

“Rosa siapa woi?” Wanda sewot.

“Rombongan Sapi.”

“Oh syialan!” desis Leona.

Clarinda malah menatap langit dramatis.

Ya Tuhan… ini orang-orang nggak capek apa cari perkara tiap hari?

Untung sebelum keributan dimulai, Rama datang. Cowok itu berjalan santai sambil membawa tas selempangnya. Kehadirannya langsung menyita perhatian semua orang di sana.

“Kalian ribut lagi?” tanya Rama santai.

Seketika sikap Meta dan teman-temannya berubah 180 derajat.

“Nggak kok,” Wanda tersenyum manis.

“Kita nggak pernah ribut kali Ram,” sahut Leona cepat.

“Iya, kita cinta damai,” tambah Viona sok polos.

Mata Clarinda memicing. “Oh, so cuit,” sindirnya. Rama menahan senyum.

Meta maju satu langkah mendekati Rama. Senyumnya dibuat semanis, secantik dan seimut mungkin.

"Rahang Lo nggak kebas nahan terus Ta?" sindiran pedas Clarinda membuat teman-teman Meta melotot marah. "Apaan sih Cle. Merusak kesenangan orang aja!" Viona ingin sekali maju menarik mulut Clarinda tapi urung.

Clarinda menjulurkan lidah, meledek.

Meta tak menggubris Clarinda meski hatinya dongkol. “Rama… em… gue belum bilang makasih waktu itu.”

Ia melirik Clarinda sekilas sebelum kembali fokus pada Rama.

“Makasih ya udah nolongin gue. Sampai digendong segala. Gue nggak tahu kalau nggak ada Lo mungkin gue terlambat dapet penanganan.”

Rama hanya mengangguk singkat.

“Ya.” Jawaban super hemat energi.

Meta masih mempertahankan senyumnya meski kaku. “Sebagai balasannya gue mau traktir Lo sekarang.”

Clarinda langsung melirik Rama penuh arti. Seolah berkata. "Ayo cabut. Cepet. Sekarang Rama."

Rama menangkap kode itu. Cowok itu menatap ke Clarinda sebentar lalu kembali pada Meta.

“Lain kali aja ya Ta,” katanya santai. “Gue ada perlu sama Clea.”

Deg.

Senyum Meta langsung retak halus.

Wanda, Leona, dan Viona juga tampak ikut tersambar petir masal.

Meta ditolak!

Oleh Rama.

Sementara Clarinda... Dalam hati gadis itu sudah jungkir balik sambil kibas rambut kemenangan. Rasakan!

“Yuk,” Rama menganggukkan kepala pada Clarinda.

Mereka masuk ke mobil tanpa memperdulikan gerombolan Meta yang menggerutu.

**

Siang itu Mall terlihat cukup ramai. Clarinda langsung bersemangat begitu melihat tulisan besar XXI di lantai atas.

“Gas!”

Namun sayangnya mereka ketinggalan.

“Yahhhh…” Clarinda menjatuhkan bahunya dramatis. Film sesi pertama baru saja dimulai lima belas menit lalu.

Rama melihat lagi jadwal layar. “Masih dua jam lagi. Gimana masih mau lanjut?"

Clarinda mendesah panjang. “Nasib. Ya udah deh gak papa nanti aja." Lagi pula apa yang Clarinda cemaskan. Hari ini dia bebas. Para tetua di rumah pasti membelanya dari Zavian, jika orang itu ngamuk.

“Makan dulu yuk,” ajak Rama.

“Oke. Udah laper nih.”

Setelah makan, waktu masih tersisa cukup lama. Akhirnya mereka berakhir di Timezone.

Clarinda langsung heboh sendiri melihat deretan mesin capit boneka. Matanya berbinar seperti anak TK diajak rekreasi.

“Seseneng itu ya ngajak gue kesini?” godanya sambil tertawa kecil. “Kapan hari juga kesini.”

“Lo maunya kemana?” tanya Rama santai.

“Hehehe… bercanda Ram. Disini asyik kok.”

Clarinda segera mencoba mesin capit.

Namun…

Gagal.

Coba lagi.

Gagal lagi.

Lagi.

Dan lagi.

“YAELAHHH!” serunya frustrasi. "Susah amat seh!"

Rama terkekeh melihatnya. “Bonekanya takut Lo plintir kayaknya.”

Clarinda manyun. “Giliran Lo deh Ram.”

Kini Rama mengambil alih.

“Oke.” Ia melihat isi mesin. “Kamu ngincer yang mana sih Cle?”

Clarinda menunjuk semangat. “Tuh itu yang ular!”

Rama langsung tertawa. Emang agak lain nih cewek. “Nggak mau bear atau kelinci?”

Clarinda menunjuk boneka ular hijau panjang dengan corak bulat bulat kuning. “Itu aja lebih gemes.”

“Yang bear lucu tuh, Cle.”

“Ular juga lucu kok.”

Rama geleng-geleng kepala sambil memainkan joystick. Clarinda sudah berdiri heboh di sampingnya.

“Awas… dikit lagi… kiri… KIRI RAMA!”

“Ini kiri gue apa kiri Lo?”

“Ya pokoknya kiri.”

Capit itu turun perlahan. "Iya... Iya... yang itu Ram. Ayo!!!" Clarinda girang sendiri.

Capit Mencengkeram boneka ular.

Terangkat.

Clarinda menahan napas. Lalu...

“Aaaaaaa kenaaaaa!!!” Ia melompat kegirangan sampai Rama ikut tertawa.

Tak hanya ular, Rama juga berhasil mendapatkan boneka bear coklat setelah percobaan kedua.

“Wuiih... Hebat Lo Ram!”

Rama menyerahkan dua boneka itu pada Clarinda.

“Makasih papa Rama…” celetuk Clarinda spontan sambil membuat kedua boneka itu berpelukan.

Rama diam sebentar. Lalu tersenyum tipis.

“Sama-sama Mama Clea.”

Deg.

Jantung Clarinda langsung salto tiga kali.

Huaaaa...Ciat... Ciat...

Pipinya otomatis memerah.

Oemjiiiiii... Kenapa suara Rama lembut banget sih?

Rama jelas menyadari perubahan ekspresi Clarinda. Cowok itu malah makin senyum geli.

“Udah,” katanya santai. “Ayo beli tiket sekarang.”

Clarinda mengangguk kaku. “I-iya.”

Ya ampun Clarinda. Oemjiiii...

Kalem. Jangan salting.

Namun baru saja mereka berbalik seorang anak perempuan kecil berdiri di depan mereka. Usianya mungkin enam atau tujuh tahun. Matanya berkaca-kaca seperti habis menahan tangis lama.

Clarinda dan Rama saling pandang. “Ada anak ilang Ram,” bisik Clarinda.

Anak kecil itu menunjuk boneka ular di tangan Clarinda. “Aku mau itu…”

Clarinda langsung menatap boneka ularnya.

"Leeeeee... Minta belikan mama papamu," Clarinda menyembunyikan bonekanya.

"T-tapi aku mau... Huaaaaa...." Tangis anak itu pecah.

Clarinda menatap Rama. "Terserah Lo aja," ujar Rama.

Clarinda tak tega. Tapi hatinya berat. Ini kan hadiah dari Rama. Berharga banget. Dengan pasrah Clarinda menyerahkan boneka itu.

“Nih…”

Anak itu langsung memeluk boneka ular erat.

"Awas sampe ilang atau rusak!" Calrinda rada ketus.

“Dimana orang tuamu?” tanya Rama lembut.

Anak kecil itu menggeleng.

“Nggak tau. Tiba-tiba aja nggak ada.” Bibirnya mulai bergetar. “Padahal aku mau es krim…”

Lalu…

“Huaaaaaaa!”

Tangisnya pecah lagi.

Clarinda jadi ingat sang adik pas lagi tantrum. Ia mencebik, lalu...

“Ayo ikut kakak.”

Mereka akhirnya membeli es krim untuk anak itu. Setelahnya mereka mengantar anak kecil itu ke pusat informasi mall.

Clarinda membungkuk sedikit merapikan rambut anak itu yang berantakan.

“Oh ya, nama kamu siapa?”

“Nina.”

“Nina cantik banget sih,” puji Clarinda padahal tadi pasang muka jutek. Nina tersenyum malu sambil makan es krimnya.

Tak lama setelah pengumuman disiarkan seorang pria tinggi berpakaian casual serba hitam datang terburu-buru bersama seorang wanita berseragam babysitter.

Wajah pria itu tampan dan tegas.

Begitu melihat Nina, ia langsung memeluk anak itu erat.

“Oh syukurlah…” katanya lega. “Sudah saya bilang sama mbak jangan lengah.”

Babysitter itu langsung menunduk takut.

"Ayo pulang. Nanti mbak temenin Nina jalan-jalan lagi," ajak pria itu.

“Aku nggak mau sama mbak,” rengek Nina. “Mbak main hp melulu.”

Babysitter itu makin pucat.

"Aku maunya sama kakak itu," Nina menunjuk Clarinda.

Pria itu menghela napas panjang sebelum menatap Clarinda dan Rama.

“Terima kasih sudah membantu anak saya.”

“Nggak apa kok Om,” jawab Calrinda sopan.

“Saya Bram,” katanya memperkenalkan diri. “Papahnya Nina.”

Clarinda mengangguk kecil. “Nina tadi ada di Timezone Om.”

Bram kembali mengucapkan terima kasih.

“Ayo sayang... kita pulang,” katanya pada Nina.

Namun Nina malah sembunyi di belakang Clarinda tapi kepalanya miring melihat papa nya. “Nggak mau. Aku mau ikut kakak aja.”

Clarinda langsung kikuk. Ya ampun.

Bram tampak menahan kesabaran. “Nina…”

“Aku nggak mau sama mbak.”

"Adek cantik... Ikut papa pulang ya. Kakak mau nonton film," bujuk Rama.

"Ya udah aku ikut."

"Film horor tau!" Tekan Clarinda tapi masih mempertahankan senyuman. 'Cepetan ikut papah mu sana. Lo ganggu kencan gue sama papa Rama. Eh papa... Eh jadi malu hihihihi...' suara hati Clarinda sangat berisik.

"Nanti Nina dimakan sama hantunya gimana?" Calrinda menakut-nakuti.

Rama menoleh geli.

"Tapi aku mau ikut... Huaaaaaa..." Nina nagis.

"Nina... Nina, sayang sini sama papah," Bram langsung menghampiri lalu mengangkat anak itu. "Lain kali main sama kakak ya."

Sebelum pergi, Bram menyerahkan kartu nama pada Clarinda.

“Kalau ada waktu, hubungi nomor di situ ya.”

Clarinda menerimanya bingung. “Iya Om.”

Nina masih melambaikan tangan sambil sesenggukan. “Dadah Kakaaaak…”

Clarinda juga ikut melambaikan tangan.

Begitu mereka benar-benar pergi, Clarinda langsung menghela napas lega panjang.

“YES.” Ia mengepalkan tangan kecil. “Akhirnya.”

Rama tertawa. “Jahat banget.”

“Dia ganggu kencan gue.”

“Hah?”

“Maksudnya…” Clarinda langsung salah tingkah. “Ganggu waktu nonton kita.”

Rama menahan senyum.

"Lo yakin mau nonton horor?" Tanya Rama.

"Ya nggak lah!" Tolak Clarinda.

"Tapi gue mau Clea."

Clarinda melotot. "Ram serius?"

"Lo menginspirasi ku," Rama terkekeh berjalan lebih dulu menuju pintu masuk XII.

"Nonton yang lain aja," tolak Clarinda.

“Takut ya?”

“RAMAAA!”

Cowok itu tertawa puas.

Clarinda langsung sok berani.

“Berani lah! Siapa takut!”

Lima belas menit pertama film dimulai.

Clarinda masih santai. Masih bisa makan popcorn. Masih bisa komentar.

“Ah paling jumpscare receh.”

Tiba-tiba suara di film makin menegangkan.

Tokoh utama membuka lemari perlahan.

Clarinda sudah gemetar.

“Jangan dibuka… jangan dibuka... Beg0!!!” bisiknya tegang.

Tokoh film tetap buka.

DUARRR!

Hantu muncul.

“AAAAAAA MAMAAAAA!”

Clarinda spontan memeluk erat lengan Rama pakai dua tangan. Mukanya sampai nyaris nyelip di bahu cowok itu.

Rama mencoba menenangkan detak jantungnya, ditempeli Clarinda seperti ini.

“Itu Cle, lihat kepalanya kebalik,” goda Rama. "Matanya copot."

"Gak mau! Gak mau! Gak mau!"

Rama sampai susah fokus nonton karena sibuk menenangkan debaran jantungnya sendiri dan menahan tawa dengan tingkah Clarinda.

120 menit sudah berlalu. Clarinda memeluk lengan Rama dan menyembunyikan wajahnya disana sepanjang film. Sesekali mengintip karena penasaran tapi ngeri.

Erat.

Sangat erat.

Rama menghela nafas sebentar.

Cowok itu menoleh pelan pada Clarinda yang masih gemetar sambil memejamkan mata.

Napas gadis itu bahkan terasa di lengannya.

Rama tersenyum kecil. Lucu banget.

"Clea... Film nya usai," ucapnya lembut.

Clarinda menatap layar sebentar lalu mendongak menatap Rama. Ia masih tak sadar tangannya melingkar di lengan Rama.

Tatapan mereka bertemu.

Sunyi. Seolah hanya mereka berdua yang ada di dalam ruangan itu.

Jantung mereka berdebar. Rama memberikan senyuman mautnya.

"Woiii minggir, pacarannya lanjut ditempat lain," seru penonton yang akan lewat namun terhalang Rama dan Clarinda. Mereka berdua salting dengan versinya masing-masing.

1
Nona aan Chayank
Buaahahahhaha....🤣🤣🤣
partini
hemmm dah keliatan kamu kecintaan ma suamimu,aihhh why pihak cewek yg jatuh cinta duluan ga cowoknya ga pernah si saddddddd
Marini Suhendar
Dasar bocah😄
partini
ko cuma sama baby sitter doang apa duda anak satu ,, alamak tensi nanti suamimu cle
Titien Prawiro
Bagaimana jadinya
partini
👍👍👍
Erna Riyanto
ihh..pak tua bisa ae nyari kesempatan,pke pegang" segala🤣🤣
Marini Suhendar
Awas yah..nanti pada bucin kalian ya 😄
Marini Suhendar
Jangan cemburu pak tua😄
partini
ingio ingon wedus kaleee 😂😂
wah ada yg CLBK nih nanti jad jadi jendonggggg ,,
partini
kenapa selalu cewek yg klepek klepek duluan sih jarang bnggt cowoknya
partini
tinggal jaa kek yg lama cucu mu juga rada"suka keluar malam lupa pulang cucu mentu juga sama so 50/50
partini
jirrr Ampe lupa, maklumlah di club siapa sih yg ingat di rumah ga ada
partini
nah Lo habis megang apa gunung kembarnya 😂😂😂
nanti pasti terbayang bayang rasanya kenyal"
partini
😂😂😂😂 lah kaya bola di tendang
partini
hemmm SE anak kalian yg bikin ulah
partini
good story
partini
lanjut Thor Setu ceritanya
candra pipit: siap... lanjut 😍
total 1 replies
partini
lelaki bebas di luar OMG
partini
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!