NovelToon NovelToon
Dewa Pedang Malas

Dewa Pedang Malas

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

.
Di dunia luar yang penuh dengan kultivator ambisius dan haus darah, penampilan Ji Huang yang pucat, lesu, dan serba putih membuatnya terus-menerus diremehkan. Namun, di balik kuapan malasnya, tersimpan Sword Intent legendaris yang mampu melumpuhkan musuh hanya dengan satu tebasan kasual tanpa keringat. Akankah Ji Huang berhasil menjaga ketenangan waktu tidurnya di tengah pusaran konflik dunia fana dan kultivasi yang bising

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BIODATA XIAO CUI

​Kereta kuda mewah pemberian Kaisar Nan Gong meluncur dengan anggun membelah jalanan tanah menuju wilayah utara. Kereta ini bukanlah kendaraan fana biasa, melainkan sebuah mahakarya dari pengrajin istana utama. Dindingnya terbuat dari kayu gaharu kuno penolak serangga, dan di bagian rodanya tertanam formasi spiritual Shock Absorber tingkat tinggi.

​Hasilnya? Luar biasa stabil. Di dalam kereta, riak air di dalam cangkir teh bahkan tidak bergoyang satu milimeter pun meskipun kereta sedang melaju kencang melewati jalanan berbatu gunung.

​Di dalam kabin kereta yang luas dan wangi itu, Ji Huang sedang tidur telentang dengan posisi horizontal yang sempurna. Kedua tangannya bersedekap di atas perut, dan wajah tampannya memancarkan aura kedamaian yang begitu suci. Di atas jidatnya, bertengger selembar daun selada segar—sebuah penemuan baru Ji Huang untuk meredam rasa silau matahari siang yang menerobos lewat celah tirai sutra.

​Sementara itu, di bangku kendali bagian depan kereta, seorang gadis muda dengan rambut yang dicepol dua bagaikan bakpao sedang memegang tali kekang kuda dengan ekspresi wajah yang sangat serius sekaligus menggemaskan.

​Gadis itu adalah Xiao Cui, satu-satunya pelayan pribadi perempuan sekaligus "manajer kehidupan" yang paling memahami seluruh isi kepala Ji Huang. Mari kita bedah biodata resmi dari gadis pelayan serbabisa yang tak ternilai harganya ini:

​BIODATA RESMI PELAYAN ISTIMEWA

​Nama Lengkap: Cui Xiao (崔小), biasa dipanggil Xiao Cui.

​Umur: 17 Tahun (Dua tahun lebih muda dari Ji Huang).

​Ranah Kultivasi: Qi Condensation Tingkat 2 (Sangat rendah, bahkan seekor angsa spiritual pemarah di halaman istana bisa mengalahkannya dalam duel fisik).

​Jabatan Tugas: Pelayan pribadi, kusir kereta, koki fana, pencuci jubah, dan penerjemah resmi bahasa isyarat kemalasan Tuan Muda.

​Keahlian Eksklusif:

​Akurasi Mengocok Bantal: Mampu menepuk dan mengocok bantal tidur hingga mencapai tingkat keempukan makro 99,9% dalam waktu kurang dari lima detik.

​Navigasi Kuliner Berdosa: Memiliki hidung ajaib yang sanggup mengendus keberadaan kedai makanan fana paling berminyak, manis, dan tidak sehat dalam radius tiga kilometer.

​Kesabaran Setingkat Buddha: Kebal terhadap segala bentuk stres mental akibat kelakuan ajaib tuannya. Bagi Xiao Cui, melihat Ji Huang menghancurkan sekte kultivasi tidak lebih mengejutkan daripada melihat sisa kuah mi yang mengering di lantai kereta.

​"Tuan Muda, kita hampir tiba di perbatasan Kota Angin Dingin," Xiao Cui berseru ke arah dalam kabin sambil memajukan bibirnya, menahan hembusan angin jalanan yang membuat pipi tembamnya bergoyang. "Apakah Anda mau makan manisan buah persik sekarang? Aku sudah mengupas kulitnya dengan sangat bersih menggunakan pisau buah fana tanpa energi spiritual, persis seperti yang Anda suka!"

​Dari dalam kabin, sepotong tangan putih yang lemas terjulur keluar dari balik tirai sutra, bergerak-gerak di udara dengan lambaian jari yang sangat lemah. Bagi orang awam, gerakan itu terlihat seperti orang yang sedang tenggelam. Namun bagi Xiao Cui, itu adalah kode tingkat tinggi yang artinya: "Aku terlalu malas untuk bangun duduk, tolong lemparkan langsung ke mulutku dengan akurat."

​"Siap, Tuan Muda! Target terkunci!"

​Xiao Cui dengan lincah mengambil sepotong buah persik madu menggunakan sumpit panjang dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya tetap stabil memegang kendali kuda. Dengan satu sentakan pergelangan tangan yang presisi—sebuah keahlian yang dia latih selama bertahun-tahun mengurus Ji Huang—potongan buah itu melesat parabola masuk ke dalam kabin.

​HUP.

​Buah persik itu mendarat dengan sangat sempurna tepat di dalam mulut Ji Huang yang terbuka kecil. Ji Huang mengunyahnya dengan mata yang masih tertutup rapat, lalu mengeluarkan suara lenguhan puas yang mirip kucing malas setelah diberi makan ikan.

​"Manis... Kerja bagus, Xiao Cui," gumam Ji Huang dari balik selimutnya. "Nanti kalau kita sampai di kota depan, beli satu karung garam fana lagi. Punggungku memberi tahu bahwa udara di luar mulai terasa dingin, yang berarti kita semakin dekat dengan bahan baku kasur empat jengkal milikku."

​"Baik, Tuan Muda! Serahkan padaku!" Xiao Cui menyahut dengan penuh semangat, membuat dua cepol rambut bakpaonya bergoyang dengan menggemaskan.

​Meskipun Xiao Cui hanya memiliki kultivasi fana yang sangat rendah, dia sama sekali tidak merasa rendah diri di dunia kultivator yang kejam ini. Mengapa harus takut? Selama dia memegang pasokan makanan dan bantal tidur milik Tuan Mudanya, dia secara tidak langsung memegang kendali atas senjata pemusnah massal terkuat di seluruh kekaisaran.

​GLEDAG... GLEDAG...

​Kereta kuda mereka terus melaju dengan santai. Di bagian depan kereta, sebuah plakat emas berukir naga murni pemberian kaisar berkilauan dengan angkuh di bawah sinar matahari.

​Setiap kali kereta mewah itu melewati pos penjagaan wilayah atau gerbang sekte kecil di sepanjang jalur utara, para ketua sekte dan tetua kultivator yang melihat plakat tersebut langsung mengalami serangan panik massal. Mereka secara sukarela turun ke jalan, memimpin ratusan murid mereka untuk berbaris rapi di pinggir jalan sambil memegang sapu ranting.

​"Cepat! Sapu semua kerikil dan batu tajam di depan! Jangan sampai kereta sang Kaisar Pedang Pemalas mengalami guncangan sekecil pun!" teriak seorang ketua sekte ranah Foundation Establishment dengan wajah bercucuran keringat dingin.

​Maka, sepanjang mata memandang, perjalanan Ji Huang menuju utara tidak terlihat seperti pelarian atau petualangan berbahaya, melainkan seperti parade agung di mana jalanan tanah dibersihkan secara berkala oleh para ahli bela diri terpandang, hanya agar seorang pemuda bermata sayu bisa menikmati tidur berjalan dengan keempukan yang paripurna.

1
Shen shandian luo
semua di labeli fana..tusuk gigi fana segala
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!