NovelToon NovelToon
Sistem Pilihan Takdir

Sistem Pilihan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dikelilingi wanita cantik / Sistem
Popularitas:956
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

​Sinopsis
​Di Alam Fana, hukum rimba adalah satu-satunya kebenaran. Lin Chen, murid pelataran luar Sekte Pedang Awan, menyadari kenyataan pahit ini sejak hari pertama. Bakatnya pas-pasan, sumber dayanya selalu dirampas, dan nyawanya tak lebih berharga dari rumput liar. Saat maut hampir merenggutnya di ujung tebing, sebuah anomali tanpa asal-usul bangkit di dalam benaknya: Sistem Pilihan Takdir.
​Sistem ini menolak memberikan kekuatan instan. Setiap krisis hanya akan memunculkan tiga jalur pilihan di matanya, masing-masing membawa risiko dan hadiah yang berbeda. Hadiah tersebut bukanlah pil dewa yang langsung membuatnya kebal, melainkan teknik dasar, petunjuk tersembunyi, atau sekadar kesempatan bertahan hidup sesaat. Semuanya menuntut Lin Chen untuk memeras keringat, darah, dan akalnya sendiri. Dari kerasnya Alam Fana, merangkak naik menuju kemegahan Dunia Tengah para immortal hingga akhirnya mengincar keabadian sejati di alam dewa , Lin Chen mengukir jalannya selangkah demi selang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 21 kota batu hitam dan bayangan tambang kematian

Roda gerobak kayu berderit keras melintasi gerbang raksasa yang terbuat dari bongkahan obsidian murni. Gerbang itu menjulang setinggi lima puluh meter, memancarkan aura penindasan yang membuat dada siapa pun terasa sesak. Inilah Kota Batu Hitam, sebuah permukiman garis keras yang berdiri kokoh menantang keganasan Gurun Debu Bintang di wilayah pinggiran Dunia Tengah.

Dari balik celah kain penutup gerobak karavan keluarga Shen, Lin Chen mengamati dunia barunya dengan tatapan sedingin es. Langit di atas kota ini tidak pernah biru. Asap kelabu dari ratusan cerobong tungku peleburan logam terus mengepul, menutupi dua bulan raksasa yang menggantung di cakrawala. Bangunan-bangunan di kota ini tidak memiliki nilai estetika, semuanya dibangun menggunakan batu hitam kasar yang dirancang murni untuk menahan badai pasir dan serangan binatang buas.

Orang-orang yang berlalu-lalang di jalanan berdebu itu memiliki postur yang keras. Mereka membawa senjata berukuran besar, dan fluktuasi energi yang memancar dari tubuh mereka rata-rata berada di ambang batas Tahap Transformasi Fana. Di Alam Fana, orang-orang ini akan dipuja sebagai leluhur sekte. Di sini, mereka hanyalah kuli angkut, pedagang asongan, atau tentara bayaran tingkat rendah.

Kenyataan ini menampar keras ego siapa pun yang baru saja naik dari alam bawah. Kendati demikian, tidak ada setitik pun keputusasaan di mata Lin Chen. Matanya justru memancarkan kilat ketertarikan dari seorang predator yang baru saja menemukan wilayah perburuan yang lebih luas.

Gerobak karavan akhirnya berhenti di depan sebuah kompleks bangunan yang terlihat cukup usang di distrik pinggiran. Itu adalah kediaman keluarga Shen. Dibandingkan dengan paviliun-paviliun megah di pusat kota yang dilindungi oleh formasi energi bercahaya, rumah keluarga Shen tampak seperti gubuk tua yang berusaha bertahan dari terjangan zaman.

Shen Yu turun lebih dulu, memastikan keadaan aman sebelum membantu ayahnya memapah Lin Chen masuk ke dalam. Pemuda itu berjalan dengan langkah berat, jubah abu-abu kotornya menyembunyikan lengan kanannya yang kini terikat kaku di dada.

"Bawa Tuan Lin ke paviliun belakang," perintah Shen Chang pada dua pelayan tua yang menyambut mereka dengan wajah cemas. "Pastikan tidak ada seorang pun di luar keluarga inti yang tahu tentang kedatangannya."

Lin Chen dibimbing menuju sebuah kamar yang sepi dan remang-remang. Aroma kayu cendana murahan tercium di udara, berusaha menutupi bau debu gurun. Ia duduk bersila di atas ranjang kayu yang keras, menolak bantuan pelayan untuk membersihkan tubuhnya. Begitu pintu ditutup rapat, ia ditinggalkan sendirian dalam keheningan.

Pemuda itu menundukkan pandangannya, menatap lengan kanannya yang terbungkus perban tebal.

Menggunakan tangan kirinya, ia perlahan membuka balutan kain tersebut. Pemandangan di baliknya cukup untuk membuat orang biasa memuntahkan isi perutnya. Lengan itu berwarna ungu kehitaman. Otot-ototnya menyusut drastis, kulitnya mengelupas memperlihatkan jaringan daging yang mati. Tulang di dalamnya telah hancur menjadi serpihan kecil layaknya kerikil.

Lin Chen mencoba mengalirkan sedikit Qi ke arah bahu kanannya.

*BZZZT!*

Rasa sakit yang menyengat langsung meledak di otaknya. Jalur meridian utama di lengannya telah terputus sepenuhnya. Tidak ada jalan bagi energi untuk mengalir. Lengan ini telah menjadi daging mati yang hanya menjadi beban bagi tubuhnya.

"Harga dari tiga detik," bisik Lin Chen pada udara kosong. Suaranya serak, matanya tidak menunjukkan penyesalan. Jika ia tidak membakar lengan kanannya untuk menciptakan Ledakan Kehampaan hari itu, kepalanya pasti sudah terpisah dari tubuhnya oleh serangan Hei Feng. Kehilangan satu tangan adalah transaksi yang sangat menguntungkan untuk mempertahankan nyawa dari seorang True Immortal.

Ia memutar *Napas Karang Esensi* yang telah berfusi dengan *Metode Bintang Pudar*. Udara berat Kota Batu Hitam ditarik masuk ke paru-parunya, disaring dengan susah payah, lalu diubah menjadi Qi Abadi kualitas rendah. Ia mengarahkan energi itu untuk menutrisi organ dalamnya yang terluka akibat serangan balasan, mengabaikan lengan kanannya yang tidak bisa diselamatkan oleh metode penyembuhan biasa.

Menjelang tengah malam, ketukan pelan terdengar di pintu. Shen Chang melangkah masuk membawa nampan berisi teko teh dan beberapa potong daging panggang hewan spiritual. Pria paruh baya itu terlihat sangat lelah, kerutan di wajahnya semakin dalam akibat tekanan memimpin keluarga yang sedang berada di ambang keruntuhan.

"Tuan Lin Chen," sapa Shen Chang penuh hormat, meletakkan nampan itu di atas meja kecil. Ia kemudian membungkuk dalam-dalam. "Keluarga Shen berhutang nyawa padamu. Jika bukan karena tindakan beranimu di Ngarai Tulang Hitam, tulang belulangku dan putriku pasti sudah menjadi santapan anjing gurun saat ini."

"Berdirilah," balas Lin Chen datar. Ia menggunakan tangan kirinya untuk menuangkan teh panas. "Aku tidak melakukannya demi kebaikan hati. Kita memiliki kesepakatan. Putrimu berjanji bahwa keluarga Shen akan menjadi mata dan telingaku di kota ini."

Shen Chang duduk perlahan di kursi kayu seberang ranjang. Ia menghela napas panjang. "Tentu saja. Kami akan memberikan informasi apa pun yang Tuan butuhkan. Sayangnya... keluarga kami sedang berada dalam situasi yang sangat genting. Kami hanyalah keluarga pedagang kecil yang mendistribusikan ramuan. Bulan ini, jalur pasokan kami dihancurkan oleh para Pemulung Gurun. Keluarga Xue, faksi pesaing kami yang memiliki bekingan kuat dari pusat kota, sedang berusaha mencaplok sisa bisnis kami."

Mata Lin Chen menatap pria itu dengan tajam. "Itu urusan kalian. Aku tidak akan campur tangan dalam perang dagang antarkeluarga yang tidak menguntungkanku. Aku membutuhkan informasi spesifik. Ceritakan padaku tentang Tambang Batu Hitam."

Mendengar nama tambang tersebut, wajah Shen Chang seketika pucat pasi. Ia melirik ke sekeliling seolah takut dinding kamar itu memiliki telinga.

"Tambang Batu Hitam..." suara Shen Chang bergetar pelan. "Itu adalah detak jantung dari kota ini, sekaligus kuburan terbesar di Gurun Debu Bintang. Tambang itu dikuasai sepenuhnya oleh tiga penguasa kota, yang masing-masing merupakan praktisi Tahap True Immortal. Tempat itu menghasilkan bijih energi yang menjadi mata uang utama di Dunia Tengah."

Shen Chang menelan ludah sebelum melanjutkan. "Area luar tambang diisi oleh para budak, tawanan, dan orang-orang berhutang yang dipaksa bekerja hingga mati. Area terdalam... area yang disebut 'Jurang Kehampaan', adalah tempat di mana material langka bermunculan. Udara di sana dipenuhi racun miasma abadi yang sangat tebal. Hewan iblis bawah tanah merayap di setiap sudutnya. Mengapa Anda bertanya tentang tempat terkutuk itu, Tuan?"

"Aku mencari Esensi Logam Abadi," jawab Lin Chen tanpa mengubah ekspresi wajahnya.

Shen Chang terkesiap. Ia refleks berdiri dari kursinya. "Esensi Logam Abadi?! Tuan, benda itu... itu adalah material legendaris yang hanya tercipta dari endapan energi bumi selama ratusan ribu tahun! Jika benda itu muncul, letaknya pasti berada di dasar Jurang Kehampaan. Bahkan para pengawas tambang yang berada di ambang batas True Immortal tidak berani turun ke kedalaman itu!"

Pria paruh baya itu menatap lengan kanan Lin Chen yang terbalut kain. Ia menyadari sesuatu. "Apakah... apakah Tuan berniat menggunakan material itu untuk memperbaiki lengan Tuan?"

"Aku tidak berniat memperbaikinya. Aku akan menggantinya," balas Lin Chen dingin.

"Itu tindakan bunuh diri!" Shen Chang berusaha memperingatkan, membuang kesopanannya demi mencegah penyelamatnya mengantar nyawa. "Penjagaan di pintu masuk tambang sangat ketat. Anda tidak memiliki medali identitas pekerja tambang. Jika Anda menyusup masuk dan tertangkap oleh formasi pelacak, para pengawas akan mengeksekusi Anda di tempat."

Lin Chen meletakkan cangkir tehnya dengan suara ketukan keras yang membuat Shen Chang terdiam.

"Lalu, bagaimana cara orang rendahan bisa masuk ke area dalam tambang secara legal?"

Shen Chang menggigit bibir bawahnya, menimbang-nimbang apakah ia harus menceritakan hal ini. Pada akhirnya, ia menghela napas pasrah. "Ada satu cara. 'Jalur Darah'. Tiga penguasa kota membuka sebuah arena bawah tanah yang terhubung langsung dengan pintu masuk tambang. Para budak, penjahat hukuman mati, atau orang-orang gila yang mencari kekayaan instan bisa mendaftar di sana."

"Jelaskan aturannya," tuntut Lin Chen.

"Anda harus bertahan hidup di dalam arena tersebut menghadapi binatang iblis atau gladiator lainnya selama sepuluh ronde berturut-turut. Jika Anda menang, Anda tidak akan diberi kebebasan, melainkan diberi 'Segel Penambang Bebas'. Segel itu memberikan Anda hak untuk turun ke area mana pun di dalam tambang, menambang apa saja, asalkan Anda menyerahkan lima puluh persen dari hasil temuan Anda kepada penguasa kota saat keluar. Tingkat kelangsungan hidup di Jalur Darah bahkan tidak mencapai satu dari seratus orang."

Sebuah senyuman yang sangat tipis dan kejam mengembang di wajah Lin Chen. Sebuah arena berdarah. Sistem penindasan yang menyaring yang kuat untuk dikirim ke dalam lubang kematian, sementara yang duduk di atas singgasana memanen hasilnya. Aturan ini sangat familiar baginya.

Tepat saat Shen Chang selesai menjelaskan, layar cahaya biru transparan meledak di tengah udara, hanya bisa dilihat oleh mata Lin Chen.

**[Situasi Misi Terdeteksi: Akses Menuju Esensi Logam Abadi.]**

**[Kondisi Tambang Batu Hitam sangat terlarang. Pengawasan oleh tiga True Immortal.]**

**[Silakan tentukan metode infiltrasi Anda:]**

**[Pilihan 1: Menyusup secara diam-diam melalui saluran pembuangan udara beracun di sisi utara tambang.

Hadiah: Anda berhasil masuk tanpa diketahui. Saluran tersebut akan melelehkan paru-paru Anda secara perlahan. Anda mati keracunan sebelum mencapai dasar Jurang Kehampaan.]**

**[Pilihan 2: Bekerja sama dengan keluarga Shen untuk memalsukan identitas sebagai budak tambang tingkat rendah.

Hadiah: Anda berhasil masuk ke area luar dengan aman. Anda diikat menggunakan 'Kerangkeng Qi' yang membatasi kultivasi Anda. Anda tidak akan pernah diizinkan masuk ke area dalam tempat esensi itu berada.]**

**[Pilihan 3: Mendaftar di Arena Jalur Darah. Gunakan tangan kiri Anda yang tersisa untuk membantai seluruh penantang. Rebut 'Segel Penambang Bebas'.

Hadiah: Akses legal dan tidak terbatas ke seluruh area tambang. Anda akan menjadi target incaran gladiator lain. Menyelesaikan arena ini akan meningkatkan pemahaman Anda tentang resonansi Qi Abadi.]**

Sistem selalu mengarahkan jalannya menuju pusat badai. Pilihan pertama dan kedua menawarkan ilusi keamanan yang berujung pada kegagalan mutlak. Jalur Darah, sebuah tempat di mana pembantaian adalah hiburan, merupakan satu-satunya pintu yang terbuka lebar bagi seseorang yang bersedia membayar dengan darah.

"Pilihan ketiga," batin Lin Chen tajam. Ia mengunci keputusannya tanpa setitik pun keraguan.

Layar biru meredup. Lin Chen menatap Shen Chang kembali. "Besok pagi, tunjukkan jalan menuju arena pendaftaran Jalur Darah. Pastikan kau menyiapkan topeng dan jubah hitam untuk menyembunyikan wajahku. Aku tidak ingin Hei Feng atau antek-antek Pemulung Gurun mengenali identitasku sebelum waktunya."

Shen Chang menundukkan kepalanya, mengerti bahwa membujuk pemuda ini adalah usaha yang sia-sia. "Sesuai keinginan Anda, Tuan. Saya akan menyiapkan semuanya."

Setelah Shen Chang keluar, kamar itu kembali dikuasai oleh keheningan malam.

Lin Chen turun dari ranjangnya. Ia tidak memiliki kemewahan untuk beristirahat. Masuk ke dalam arena berdarah dengan kondisi kehilangan satu lengan adalah kerugian taktis yang sangat fatal. Keseimbangan tubuhnya hancur. Pusat gravitasinya bergeser. *Langkah Bayangan Berat* yang biasa ia gunakan kini berisiko membuatnya terjatuh akibat hilangnya penyeimbang dari lengan kanannya.

Ia harus beradaptasi. Malam ini juga.

Menggunakan tangan kirinya, Lin Chen merogoh kantong penyimpanannya dan mengeluarkan sebuah gulungan kulit hitam yang ia dapatkan dari Sistem sebagai hadiah menyelamatkan karavan: fragmen teknik *Telapak Penghancur Bintang*.

Ia membuka gulungan tersebut dengan satu tangan. Aksara-aksara kuno yang memancarkan pendar keperakan menyala di dalam kegelapan kamar.

Teknik ini bukanlah tinju yang mengandalkan kekuatan fisik murni seperti *Batu Tumbuk*, melainkan teknik telapak tangan yang memanipulasi energi internal secara ekstrem. Prinsip kerjanya adalah membenturkan elemen Yin (dingin) dan Yang (panas) di telapak tangan, mengompresinya hingga seukuran titik jarum, lalu meledakkannya ke dalam tubuh musuh melalui sentuhan. Daya hancurnya tidak menghancurkan kulit luar, melainkan langsung meremukkan organ dalam musuh menjadi debu.

Syarat utama dari teknik ini sangat gila: praktisi harus mengalirkan energi Yin di tangan kiri dan energi Yang di tangan kanan secara bersamaan, sebelum menyatukannya di depan dada.

Lin Chen menatap tangan kanannya yang mati. Ia tidak bisa memenuhi syarat tersebut.

"Jika dua tangan tidak tersedia," bisik Lin Chen dengan mata berkilat kejam, "maka aku akan memaksakan kedua elemen itu berbenturan di dalam satu lengan."

Pemuda itu tidak peduli pada aturan keselamatan bela diri. Ia duduk bersila di lantai batu yang dingin. Ia memutar Qi Abadi yang baru saja ia saring dari udara, membaginya menjadi dua aliran di dalam Dantiannya. Menggunakan sisa-sisa energi vulkanik, ia menciptakan elemen panas (Yang). Di saat bersamaan, ia menarik hawa dingin dari udara malam gurun yang ekstrem, memaksanya masuk menjadi elemen dingin (Yin).

Alih-alih menyalurkannya ke dua lengan yang berbeda, Lin Chen memaksa kedua aliran energi ekstrem itu masuk ke dalam satu jalur meridian di lengan kirinya.

*BZZZZZT!*

Mata Lin Chen membelalak lebar. Urat-urat di lengan kirinya menonjol keras, berwarna setengah merah pijar dan setengah biru beku. Rasa sakitnya melampaui deskripsi kata-kata. Meridian di lengan kirinya menjerit seolah dilewati oleh aliran lava dan gletser es yang saling bertarung untuk mendominasi jalur yang sama.

Otot bisep kirinya robek dari dalam, merembeskan darah segar ke lantai batu. Pemuda itu menggigit bibirnya hingga robek. Ia menolak untuk menghentikan sirkulasi tersebut. Jika ia gagal beradaptasi malam ini, ia akan menjadi mayat di dalam arena besok.

*Napas Karang Esensi* bekerja bagai mesin pandai besi yang tak kenal lelah, terus-menerus memperbaiki meridian yang rusak sementara teknik *Telapak Penghancur Bintang* terus menghancurkannya. Siklus penyiksaan ini berlangsung selama berjam-jam. Lin Chen mengompresi kedua energi itu, menekannya terus turun menuju telapak tangan kirinya.

Di penghujung malam, tepat saat suara kokok burung malam di luar kediaman Shen menandakan fajar, sebuah letupan energi kecil meledak di telapak tangan kiri Lin Chen.

Sebuah pusaran cahaya kecil seukuran biji kacang, memancarkan warna campuran antara merah dan biru, berputar dengan kecepatan mengerikan tepat di tengah telapak tangannya. Udara di sekitar pusaran itu terdistorsi, menghasilkan daya isap yang menghancurkan debu-debu di lantai kamar.

Lin Chen terengah-engah. Keringat membanjiri seluruh tubuhnya. Lengan kirinya bergetar hebat akibat kelelahan otot yang melampaui batas kewajaran, namun telapak tangannya kini menyimpan daya hancur yang siap merenggut nyawa musuhnya. Ia berhasil memaksa sebuah teknik tingkat menengah bekerja menggunakan satu lengan melalui jalan pintas yang merusak tubuhnya sendiri.

"Ini sudah cukup," desis Lin Chen perlahan, mengepalkan tangan kirinya untuk meredam cahaya pusaran tersebut.

Saat matahari pagi yang tertutup debu mulai menyinari Kota Batu Hitam, Shen Chang telah menunggu di halaman depan. Pria paruh baya itu memegang sebuah jubah hitam tebal yang menutupi seluruh tubuh, lengkap dengan topeng besi polos berwarna kelabu pekat.

Lin Chen berjalan keluar dari kamarnya. Pakaiannya telah diganti, seluruh lengan kanannya terikat erat di balik jubah hitam yang baru ia kenakan. Ia mengambil topeng besi itu menggunakan tangan kirinya, lalu memasangnya di wajahnya. Hanya sepasang mata sedingin kematian yang terlihat dari balik celah topeng tersebut.

"Mari kita pergi," ucap Lin Chen singkat.

Shen Chang menelan ludah, merasakan aura dingin yang memancar dari pemuda bertopeng di depannya ini. Ia mengangguk kaku, lalu membimbing jalan menuju pusat Kota Batu Hitam.

Perjalanan mereka membelah jalanan kota yang padat. Semakin mereka mendekati pusat kota, bangunan berubah dari batu kasar menjadi menara-menara obsidian yang menjulang megah. Di ujung jalan utama, sebuah bangunan melingkar menyerupai koloseum raksasa berdiri dengan angkuh. Bangunan itu dijaga ketat oleh puluhan penjaga berbaju zirah merah darah yang memegang tombak panjang. Bendera hitam dengan lambang palang beliang berkibar tertiup angin kencang.

Itulah Koloseum Jalur Darah. Pintu gerbang menuju Tambang Batu Hitam.

Aroma darah tercium bahkan dari jarak ratusan meter di luar bangunan tersebut. Ribuan orang bersesakan di sekitar koloseum. Sebagian besar adalah penonton yang datang untuk berjudi, sebagian lainnya adalah para pria berwajah putus asa, budak yang dirantai, dan buronan yang sedang mengantre di loket pendaftaran di sisi kiri bangunan.

Lin Chen tidak berbicara. Ia melangkah lurus menuju loket pendaftaran tersebut.

Seorang petugas berbadan gemuk dengan luka sayatan di pipi duduk di balik teralis besi. Ia menatap Lin Chen yang memakai topeng dan berjubah hitam dengan tatapan bosan. Pemuda ini bukanlah satu-satunya orang bertopeng yang datang ke sini; arena ini adalah tempat para pendosa menyembunyikan masa lalu mereka.

"Pendaftaran Jalur Darah," suara penjaga itu terdengar malas. "Sepuluh ronde. Jika kau mati, mayatmu menjadi milik koloseum untuk pakan binatang iblis. Jika kau menyerah, kau menjadi budak tambang seumur hidup. Biaya pendaftaran, lima keping Kristal Abadi rendah."

Lin Chen tidak memiliki Kristal Abadi. Mata uang Dunia Tengah ini berbeda dengan batu roh di Alam Fana. Ia menoleh sedikit ke arah Shen Chang yang berdiri di belakangnya. Shen Chang segera maju dan meletakkan lima keping batu kristal abu-abu menyala di atas meja besi.

Penjaga itu mengambil kristal tersebut, lalu melemparkan sebuah plat kayu berlumuran darah kering ke arah Lin Chen. Plat itu bernomor '404'.

"Tanda tangan perjanjian darah di atas kertas itu, lalu masuk ke lorong gelap di belakangku. Sebentar lagi giliran kloter pertama akan dimulai," perintah penjaga tersebut.

Lin Chen menggunakan jempol kirinya, menekannya pada paku kecil di meja hingga berdarah, lalu mengecapkannya di atas lembar perkamen yang tersedia. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, pemuda bertopeng itu melangkah melewati gerbang besi tebal, masuk ke dalam lorong gelap yang berbau apek dan dipenuhi suara geraman tertahan.

Shen Chang menatap punggung pemuda itu perlahan menghilang ke dalam bayangan. Ia tahu, dari ribuan orang yang masuk ke lorong tersebut setiap bulannya, mungkin hanya satu atau dua orang yang keluar dari pintu seberang sambil membawa 'Segel Penambang Bebas'. Sisanya berakhir menjadi genangan darah di atas pasir.

Di dalam lorong, penerangan hanya berasal dari obor yang berkedip redup. Puluhan pria dengan berbagai ukuran tubuh dan senjata berkumpul di sana. Beberapa dari mereka sedang mengasah kapak, yang lain bermeditasi dengan wajah tegang. Aura pembunuhan bercampur dengan keputusasaan meracuni udara di ruangan tertutup tersebut.

Saat Lin Chen masuk, beberapa pasang mata langsung mengunci sosoknya. Menggunakan jubah yang menyembunyikan lengan kanan membuat posturnya terlihat sedikit aneh, seperti burung yang sayapnya patah.

Seorang pria raksasa berkepala plontos, yang bahunya dipenuhi tato tengkorak, melangkah mendekati Lin Chen. Pria itu memegang sebuah palu godam berukuran raksasa. Fluktuasi energi yang memancar darinya berada di tahap Transformasi Fana Puncak, sangat buas dan kasar.

"Hei, wajah bertopeng," ejek pria raksasa itu dengan suara berat. "Koloseum ini bukan tempat untuk anak cacat. Lengan kananmu tidak bergerak sama sekali dari tadi. Jika kau masuk ke dalam sana, aku yang pertama kali akan menghancurkan kepalamu menjadi bubur."

Beberapa gladiator lain tertawa sumbang, menikmati tontonan kecil sebelum kematian menjemput mereka. Intimidasi adalah cara mereka mengurangi jumlah pesaing sebelum pertarungan resmi dimulai.

Lin Chen berhenti melangkah. Ia menolehkan kepalanya perlahan, menatap pria raksasa itu dari balik lubang topeng besinya. Mata hitam yang memancarkan kekosongan mutlak itu bertemu dengan pandangan meremehkan sang raksasa.

Lin Chen tidak berbicara. Ia tidak mencabut senjata.

Tangan kirinya bergerak dengan kecepatan yang tidak bisa ditangkap oleh mata pria raksasa tersebut. Tangan itu meluncur menembus udara, mengabaikan beratnya gravitasi ruangan, lalu mendarat dengan lembut di atas pelat dada pria raksasa itu.

Itu bukanlah sebuah pukulan. Hanya sebuah sentuhan telapak tangan yang sangat pelan.

Raksasa itu mengerutkan dahinya, bingung dengan tindakan aneh tersebut. "Apa yang kau—"

*BUMMM!*

Sebuah letupan teredam terdengar bukan dari telapak tangan Lin Chen, melainkan dari dalam punggung raksasa tersebut.

Pria bertato tengkorak itu membelalakkan matanya ngeri. Darah menyembur dari hidung, mulut, dan telinganya secara bersamaan. Kulit dan tulang dadanya sama sekali tidak terluka, bagian dalamnya telah hancur total. Jantung dan paru-parunya diremukkan menjadi bubur oleh ledakan fusi Yin dan Yang dari *Telapak Penghancur Bintang*.

Tubuh raksasa seberat tiga ratus kilogram itu rubuh seketika, menghantam lantai batu lorong dengan suara debuman keras. Ia mati dalam keadaan berdiri, tanpa sempat memahami bagaimana nyawanya melayang.

Ruang tunggu yang tadinya dipenuhi tawa ejekan seketika berubah menjadi sunyi senyap seolah berada di dalam kuburan. Para gladiator lain membeku di tempat, keringat dingin membasahi punggung mereka. Mereka menatap pemuda bertopeng besi itu dengan teror absolut.

Satu sentuhan. Tanpa ledakan Qi yang meledak-ledak. Seorang praktisi Transformasi Fana Puncak tewas seketika tanpa perlawanan.

Lin Chen menarik kembali tangan kirinya. Ia menyeka sedikit darah yang menciprat di punggung tangannya menggunakan kain jubahnya, lalu kembali melangkah menuju ujung lorong seolah tidak terjadi apa-apa.

"Siapa yang berikutnya?" suara Lin Chen bergema rendah di dalam lorong, tidak ditujukan pada siapa pun secara khusus.

Para gladiator itu buru-buru menyingkir, membelah jalan lebar-lebar dan menempelkan punggung mereka ke dinding batu. Ketakutan instingtual mengambil alih. Mereka tahu, iblis baru saja masuk ke dalam kandang, dan arena hari ini tidak lagi menjadi ajang bertahan hidup, melainkan panggung pembantaian sepihak.

Dari ujung lorong, suara klakson raksasa yang terbuat dari tanduk naga berbunyi panjang. Pintu gerbang besi yang memisahkan ruang tunggu dengan arena berdarah perlahan ditarik ke atas. Cahaya terang menyilaukan dari dua matahari menembus masuk, diiringi oleh sorakan ribuan penonton yang haus akan darah.

Ronde pertama di Jalur Darah telah dimulai. Lin Chen melangkah keluar dari kegelapan menuju cahaya yang menyilaukan, tangan kirinya mengepal perlahan, bersiap mengubah pasir arena tersebut menjadi danau darah. Jalan menuju dasar Tambang Batu Hitam baru saja terbuka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!