Aurin Josephine— tidak pernah menyangka, niatnya kabur dari perjodohan yang diatur paman dan bibinya justru menyeretnya ke dalam pernikahan tak terduga dengan pria asing, malam itu.
Gallelio Alastar, seorang CEO dingin yang mati rasa, mengubur perasaannya bersamaan dengan istrinya lima tahun lalu. Pernikahan itu tidak pernah ia inginkan. Bahkan terasa seperti pengkhianatan pada janji yang pernah ia berikan.
Namun di rumah yang sama, di bawah satu atap yang terasa asing, Aurin mulai mengenal sisi lain pria itu.
Dan untuk pertama kalinya, ia bertekad… membuatnya jatuh cinta lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3. Salah paham.
Di dalam mobil, tubuh Aurin yang basah membuat kursi mewah itu ikut basah kuyup. Gadis itu masih meringkuk dengan tubuh gemetar hebat karena kedinginan. Bibirnya bergetar pucat. Dia memeluk tubuh kecilnya sendiri, berusaha sekuat tenaga menyalurkan sedikit saja rasa hangat yang tersisa.
"Siapa namamu?" tanya pria itu. Dia melirik sekilas ke arah samping sebelum kembali fokus menatap jalanan.
Aurin tidak menjawab. Hanya suara desisan tertahan yang keluar dari sela giginya yang bergemeletuk.
Pria itu tidak lagi mendesak. Dia menggerakkan bahunya, melepas jas mahal yang dikenakannya, lalu menyodorkannya kepada Aurin.
"Pakai ini!" perintahnya datar.
Aurin menerima kain tebal itu dan menempelkannya ke tubuh. Namun, jas tersebut tidak banyak membantu selama pakaian di balik tubuhnya masih basah kuyup oleh air hujan.
"Sial!" umpat pria itu pelan begitu melihat jalanan di depannya tertutup palang. "Kenapa jalan ini ditutup?" gumamnya heran. Dia segera memutar setir, membawa mobil melaju ke arah jalan tikus yang melintasi sebuah kompleks perumahan padat penduduk.
Kabin mobil sempat hening sejenak. Hanya ada suara helaan napas pria itu dan desisan Aurin yang menggigil. Tak lama, umpatan kembali terdengar dari mulut sang pria begitu melihat antrian kendaraan yang mengular di depannya.
"Astaga... di sini juga macet?" Dia akhirnya menghentikan mobil tepat di depan gerbang sebuah rumah warga yang tampak sepi.
Begitu mesin mobil dimatikan, suara gumaman lirih Aurin yang bergetar terdengar jelas di telinganya. Pria itu mengumpat kasar, tampak sedikit menyesal karena telah memutuskan untuk menolong gadis itu.
"Kalau dingin, lepas bajumu!" ucap pria itu dengan nada perintah yang santai, namun berhasil membuat Aurin tersentak.
Gadis itu mendongak, menatap wajah pria di sampingnya dengan pandangan tidak percaya. Dia ragu dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Tu... Tuan menyuruh saya lepas baju?" tanya Aurin lirih. Dia menggeser duduknya hingga mepet ke kaca mobil, memeluk jas pria itu erat-erat dengan wajah yang sarat akan rasa takut.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak. Saya menyuruhmu buka baju supaya kamu tidak semakin kedinginan!" sahut pria itu, sadar sepenuhnya bahwa Aurin tengah ketakutan melihat matanya yang menatap tajam. "Pakai jas itu saja. Percuma saya beri jas saya kalau kamu masih memakai pakaian basah. Dinginnya tidak akan hilang!"
"Ta... tapi..." ujar Aurin ragu.
"Saya tidak akan melihat tubuh kecilmu, tidak doyan! Cepat ganti! Saya tutup mata!" titahnya tak terbantahkan. Dia kemudian memejamkan mata rapat-rapat.
Aurin ragu sejenak. Dia menatap jas di pelukannya, lalu beralih menatap pria di sampingnya untuk memastikan mata itu benar-benar tertutup. Perlahan, gadis itu mulai melepas atasan dan pakaian dalamnya yang basah, bersiap memakai jas pemberian pria itu.
Namun, sebelum jas itu sempat terpasang, kaca mobil diketuk dari luar berkali-kali dengan keras. Pria di sampingnya sontak membuka mata. Dengan gerakan sangat cepat dan berantakan, Aurin langsung menutupi tubuh polosnya menggunakan jas tersebut.
Kaca mobil yang awalnya diketuk pelan, kini digedor dengan beringas. Beberapa orang di luar sana tampak memegang batu besar, bersiap memecahkan kaca mobil tersebut.
Rahang pria itu mengeras. Dia menurunkan kaca mobil perlahan. "Kena—"
"Keluar! Kalau mau berbuat mesum jangan di sini! Astaga, anak zaman sekarang!" teriak seorang pria paruh baya yang mengenakan mantel hujan di samping mobil. Wajahnya merah padam karena marah. Batu di tangannya diletakkan kembali, namun dia sudah memanggil beberapa tetangga yang kini mulai berkerumun di sekitar kendaraan mewah tersebut.
Beberapa warga mendekat, satu dua orang menyorotkan lampu senter ke dalam kabin, berusaha melihat lebih jelas. Aurin memeluk jas itu erat-erat. Karena dipakai terburu-buru, sebagian bahu dan tubuh bagian atasnya masih terlihat terekspos samar. Pakaian basahnya yang tergeletak di lantai mobil, termasuk pakaian dalam, semakin memperkeruh pikiran liar warga.
"Itu perempuannya cuma pakai jas saja!" celetuk seseorang dengan sorot mata penuh penasaran.
Aurin menggeleng lemah. Pria di kursi kemudi melirik ke arahnya, lalu beralih menatap pakaian Aurin yang berserakan di bawah kursi.
"Shit!!" umpatnya tertahan.
"Astaga... benar, kan? Cepat turun! Bisa-bisanya memanfaatkan cuaca dingin untuk berbuat mesum. Ya Tuhan..." sahut warga yang lain.
Wajah Aurin seketika pucat pasi. Tangannya mencengkeram jas itu semakin kuat. "Tidak seperti yang kalian pikirkan!" ucapnya cepat dengan suara yang gemetar.
"Cih! Semua orang juga bilang begitu kalau sudah ketahuan!" balas seorang ibu-ibu dengan nada sinis.
Pria di samping Aurin menghela napas panjang, berusaha tetap tenang. "Kalian salah paham. Ini tidak seperti yang kalian bayangkan. Dia hanya... hanya berganti pakaian—"
"Omong kosong! Berganti pakaian atau habis berbuat yang tidak-tidak? Lihat saja sendiri, sampai pakaian dalamnya juga dilepas!" potong seorang warga dengan ketus. Beberapa orang lainnya mulai bergerak menuju rumah ketua RT untuk melaporkan kejadian tersebut.
Hujan yang mulai mereda membuat warga semakin banyak berdatangan. Malam itu berubah menjadi kacau. Untuk pertama kalinya, Aurin terjebak dalam kondisi yang sangat memalukan.
"Keluar kalian, atau kami bakar mobil ini beserta kalian berdua di dalam!" teriak warga dengan nada mengancam.
...****************...
"Keluar!!"
"Keluar!!" teriak mereka berulang kali.
Aurin menunduk dalam, deru napasnya berdetak tidak beraturan.
"Tuan..." bisiknya pelan. Suaranya hampir hilang ditelan kebisingan warga.
Pria itu melirik sekilas. Wajahnya tampak dingin, namun sorot matanya mulai menunjukkan emosi yang berbeda. Kesal dan terjebak.
"Pakai lagi celanamu!" perintah pria itu datar sebelum dia membuka pintu dan keluar dengan langkah terpaksa.
Aurin bergerak cepat. Mendadak tubuhnya yang tadi lemah tak berdaya seakan mendapatkan suntikan kekuatan instan. Dia memakai kembali celananya dengan terburu-buru, lalu menyusul keluar masih dengan jas mahal itu menutupi tubuh bagian atasnya.
Di luar, di bawah temaram jalanan yang hanya dicahayai senter, semua mata tertuju pada dua orang yang berdiri bersisihan. Sang pria tetap dengan raut tenang yang membeku, sementara di sampingnya, Aurin terus gemetar karena ketakutan.
"Astaga... kamu masih kecil tapi sudah bisa berbuat begitu! Katakan kalau kamu dipaksa, Dek!" Beberapa ibu-ibu menyerbu Aurin dengan pertanyaan. Gadis itu semakin menunduk.
"Dia siapanya kamu? Pacar atau om-om gadun?" tanya yang lain menimpali.
"Jangan jadi perempuan tidak benar saat masih kecil, Dek. Masa depanmu masih panjang. Jangan karena pria itu tampan dan bermodal jas, kamu mau saja dibawa ke mana-mana jam selarut ini!"
Kebetulan jam sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam. Hal itu membuat warga semakin yakin dengan prasangka mereka.
"Cukup!" bentak pria itu. "Apa kalian melihat tampang saya seperti orang cabul? Lihat situasinya! Saya masih rapi seperti ini, dan dia... dia basah kuyup! Celananya basah, bajunya juga. Dari mana pemikiran kotor kalian itu? Saya hanya berniat baik, membantu—"
"Bulsit!! Bisa saja dia Anda culik. Dilihat-lihat sepertinya Anda pedofil. Sudah berumur tapi sukanya anak kecil!" ujar mereka, masih sibuk menghakimi sendiri.
"Sudah... sudah... Kita selesaikan ini di rumah saya," ucap Pak RT berusaha menengahi dengan bijaksana.
Warga akhirnya setuju. Mereka menggiring dua orang itu menuju rumah Ketua RT untuk dimintai keterangan lebih lanjut.
Di rumah Pak RT, perdebatan panjang berlangsung tanpa titik temu. Para warga terus mendesak mereka untuk mengaku. Namun, apa yang harus diakui? Mereka sudah bicara jujur, tapi tidak satu pun pasang telinga yang mau menerima. Warga jauh lebih percaya pada pikiran liar mereka sendiri dibandingkan pengakuan dari dua orang asing tersebut.
"Kalian pilih diarak atau menikah sekarang juga!" ancam seorang warga dengan nada tinggi.
Suasana mendadak hening. Bahkan Pak RT, yang sejak tadi mencoba bersikap netral dan menjelaskan duduk perkara, tidak lagi dihiraukan. Massa sudah terlanjur tersulut emosi.
Daripada harus menanggung malu dan diarak keliling kompleks pada jam segini, pria itu akhirnya bersuara. Dia mendengus masam dengan raut wajah yang tampak sangat terpaksa.
"Nikahkan kami berdua!" putusnya tegas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...