Pernikahan adalah tentang kepercayaan. Setidaknya itu yang diyakini oleh Arini selama lima tahun pernikahannya dengan Galang. Namun saat kenyataan itu terungkap secara tidak sengaja, ternyata pernikahan mereka hanyalah sebuah lelucon yang dibuat oleh suami dan selingkuhannya selama ini. Dan dia hanyalah wanita bodoh yang tidak tau apa-apa, dan sudah bekerja keras untuk membangun reputasi suaminya sebagai istri yang baik selama ini.
Hancur dan merasa di bohongi sudah pasti, lalu apa yang akan dilakukan Arini setelah mengetahui semua kebohongan suaminya?
Apakah dia bisa bertahan di kerasnya hidup tanpa Galang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Pemeran Figuran
Sinar matahari pagi yang menembus celah gorden tidak lagi terasa hangat bagi Arini. Cahaya itu kini seperti lampu sorot yang memaksanya bangun untuk naik ke panggung sandiwara dan menjalankan perannya sebagai figuran. Matanya sedikit sembab namun sorot matanya telah berubah tak lagi layu dan tak berdaya. Kehancuran yang sudah meluluh lantakkan hidupnya kini telah membeku, dan merubah arah hidupnya.
Ia memakai setelan kerja berwarna merah dan lipstik dengan warna yang sama. Sebuah warna yang lebih berani dan jarang ia sentuh selama ini. Arini sudah bertekad akan mengakhiri semua ini.
Dengan langkah tenang ia keluar dari kamar menuju ruang makan. Aroma nasi goreng dan gelak tawa kecil menyapa indra penciuman dan pendengarannya. Disana ia lagi-lagi melihat pemandangan yang sama, sebuah keluarga kecil bahagia. Galang sedang membaca laporan di ponselnya, sedangkan Dita sedang menyuapi Galih dengan telaten. Merekan tampak begitu serasi, seolah-olah disana tidak ada tempat untuknya.
Arini menarik nafas panjang dan mendekati meja makan. Menarik kursi dan duduk di depan mereka. Membuat suasana yang tadi terlihat natural berubah menjadi tegang.
Galang berdehem tampak sedikit gugup saat melihat Arini sudah rapi dengan pakaian formalnya yang sedikit berbeda dari biasanya. Biasanya dia hanya menggunakan pakaian berwarna hitam, putih atau warna soft lainnya. Tapi kali ini, Arini terlihat sangat berbeda, sangat berani dan... Cantik.
"Selamat pagi, sayang. Kamu sudah siap ke kantor. " sapa Galang terdengar sangat basa basi. "Kemarin kamu terlihat sangat lelah, aku jadi tidak tega membangunkanmu. "
Arini tidak menjawab .Iya meraih piring dan mengambil sepotong roti dan mengoleskan selai coklat, tanpa sepatah katapun.
"Emmm, Oh, ya, " Galang melirik Dita, "Semalam Dita menginap di sini. Galih sangat rewel, dan aku tidak tega membangunkanmu. Karena itu aku meminta Dita untuk menemaninya dan tidur bersamanya. Kamu tidak keberatan kan? "
Kalimat itu meluncur begitu mulus dari mulut Galang, sebuah kebohongan yabg dibalut dengan alasan demi kebaikan bersama. Sungguh luar biasa, tapi Arini tetap diam. Matanya masih fokus pada kegiatan mengoles selai lalu memakannya dengan perlahan. Ia sama sekaki tidak menggubris ucapan Galang, bahkan tidak melirik ke arah Dita dengan curiga sedikitpun.
Suasana berubah menjadi canggung. Galang sudah merasa sangat kedal dengan pengabaian dari Arini. Dia yang sudah terbiasa memegang kendali di rumah atau di kantor merasa Arini tidak sopan karena sudah mengabaikan.
"Arini, Aku sedang bicara padamu. Apa kau tuli? Suasana menjadi tidak nyaman saat kau bersikap acuh seperti itu. Dita merasa tidak nyaman, padahal dia hanya ingin membantu. "
Arini meletakkan rotinya dan menatap mereka satu persatu. Wajah Galih yang terlihat sangat polos, lalu beralih ke wajah Dita yang seolah merasa tidak nyaman, tapi mungkin di dalam hatinya dia berteriak penuh kemenangan. Dan yang terakhir ia menatap Galang, pria yang sudah menulis skenario ini selama ini. Benar-benar kisah yang luar biasa.
"Apa kamu tidak pernah mempelajari table manners? Di meja makan di larang banyak bicara, nanti tersedak. " ucap Arini datar. "Dan Terserah apa yang ingin kalian lakukan di rumah ini, aku tidak peduli."
Arini segera beranjak dari duduknya dan menyampirkan tasnya di pundak, "Aku sudah kenyang, silahkan kalian lanjutkan saja sarapannya. "
Tanpa menunggu balasan dari mereka, Arini segera meninggalkan meja makan itu. Galang dan Dita saling berpandangan. Ada kilat kepanikan di mata Dita saat melihat sikap Arini pagi ini. Sementara Galang merasa harga dirinya sudah di cabik-cabik oleh perlakuan dingin Arini, Ia segera bangkit dari duduknya dan mengejar Arini.
"Arini! Tunggu! " Galang menarik lengan Arini sebelum wanita itu membuka pintu mobil. "Kamu kenapa sih? Kenapa sejak semalam sikapmu berubah? Kalau ada masalah, katakan padaku jangan kau simpan sendiri. Bagaimana pun kita kan suami istri. "
Ingin sekali Arini tertawa mendengar ucapan pria dihadapanya ini. Dia menepis cekalan tangan Galang, dan menatap pria itu lekat-lekat. Mencari sisa-sisa cinta dari pria yang dulu sangat ia cintai, hingga harus mengabaikan perasaan papanya. Namun dia tidak menemukannya. Yang ia lihat hanyalah seorang penipu ulung yang sudah menjungkir balikkan hidupnya.
"Kamu tanya, apa yang terjadi? " ucap Arini dengan senyum sinisnya, "Bukankah kamu yang paling tau, apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini, mas. "
"Apa maksudmu? " Suara Galang sedikit bergetar.
"Sebaiknya, kamu pikirkan saja sendiri. Aku harus pergi, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan hari ini. " kata Arini dan langsung masuk ke dalam mobil, menjalankannya meninggalkan halaman rumah mewah itu, meninggalkan Galang yang diam berdiri mematung dengan berbahai pertanyaan yang berputar di kepalnya.
Dari belakang ia meraskan sebuah tangan melingkari perutnya, " Bagaimana, Apa yang dia katakan? " tanya Dita dengan sedikit godaan.
"Tidak ada, hanya saja ada sedikit yang aneh. "
Galang menceritakan pembicaraannya dengan Arini tadi. Dan disini lagi-lagi Dita mengambil satu kesimpulan.
"Jangan-jangan dia tau tentang kita, mas. "
"Sudahlah, jangan berfikir yang tidak-tidak. Mungkin dia hanya kelelahan banyak pekerjaan yang belum selesai, jadi membuatnya bersikap seperti itu. " Galang masih berpositif thinking. "Ayo masuk, aku juga harus bersiap ke kantor. "
Mereka berdua masuk kedalam rumah dan melanjutkan sarapannya yang sudah tak lagi sama. Galang memandangi piring yang berisis sisa roti milik Arini. Lagi-lagi ia menghela nafasnya.
"Arini terlihat sangat berbeda sejak semalam." gumam Dita yang masih terdengar Galang.
"Diamlah, Dita, jangan mengatakan hal yang sama. Itu membuatku pusing. " bentak Galang yang mengejutkan Dita dan Galih.
Sementara itu, Sepanjang jalan menuju ke kantor Galih, tangan Arini mencengkeram kemudi dengan kuat. Ia tau ini adalah awal dan akhir dari semua keputusannya. Sampai di kantor, Arini segera masuk kedalam ruangannya, menyalakan komputer dan mengetik sebuah dokumen yang sudah ia susun di kepalanya sejak semalam. Sebuah surat pengunduran diri.
Ia segera mencetaknya, membubuhkan tanda tangan dan menyerahkannya ke bagian HRD. Staf disana tampak terkejut saat menerima surat pengunduran Arini, karena yang mereka tau, Arini adalah istri dari Galang pemilik perusahaan ini. Dan posisi Arini sangat penting di perusahaan ini.
"Kami tidak berani menerima surat pengunduran diri ini, Bu Arini. Karena... "
"Segera proses pengunduran diri saya, tidak perlu menunggu konfirmasi dari Pak Galang. Saya tidak memiliki kontrak di perusahaan ini dan saya bebas mengundurkan diri kapan saja. Jika perusahaan mempersulit saya, saya tidak segan-segan melaporkan perusahaan ini karena sudah membatasi hak saya. " kata Arini menatap tajam ke arah direktur HRD.
"Baiklah, akan segera saya proses. Mungkin besok anda akan menerima gaji terakhir anda. " ucap direktur hrd itu dengan ragu.
"Saya tidak membutuhkan uang itu, simpan saja untuk bapak. "