NovelToon NovelToon
Dari Perjodohan Yang Salah, Lahir Cinta Yang Benar

Dari Perjodohan Yang Salah, Lahir Cinta Yang Benar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Uzumaki Amako

Sejak ibu kandungku meninggal, aku hidup sebagai orang asing di rumahku sendiri. Saat perjodohan datang, harapanku hancur ketika kakak tiriku merebut segalanya dan aku dipaksa menikah dengan pria lumpuh yang tak kukenal. Namun, dari perjodohan yang tidak adil itu, aku justru menemukan ketulusan dan cinta yang selama ini tak pernah kudapatkan. Ketika kebenaran terungkap dan masa laluku ingin mengklaimku kembali, aku harus memilih—kembali pada yang seharusnya, atau bertahan pada cinta yang telah menjadi rumahku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uzumaki Amako, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 3

Hari pernikahanku tiba… tanpa pernah benar-benar kurasakan.

Sejak pagi, rumah sudah ramai. Bukan karena kebahagiaan, tapi karena persiapan yang terasa dingin dan terburu-buru. Tidak ada tawa tulus, tidak ada pelukan hangat—semuanya hanya formalitas.

Aku duduk di depan cermin, mengenakan gaun pengantin putih yang terasa asing di tubuhku sendiri.

Cantik.

Mereka bilang begitu.

Tapi yang kulihat di cermin… hanya seseorang yang tampak seperti boneka.

Diam. Kosong. Tidak punya pilihan.

“Jangan banyak bergerak, nanti rusak riasannya.”

Suara ibu tiriku terdengar dari belakang. Aku hanya mengangguk pelan.

Di sudut ruangan, Celine berdiri sambil memainkan ponselnya. Sesekali ia melirik ke arahku, lalu tersenyum tipis—senyum yang penuh arti.

“Lucu juga ya,” katanya santai. “Pengantin, tapi nggak kelihatan bahagia.”

Aku tidak menjawab.

Tidak ingin memberinya reaksi yang ia inginkan.

Beberapa saat kemudian, suara dari luar terdengar.

“Mobilnya sudah datang!”

Jantungku berdegup pelan.

Ini saatnya.

Aku berdiri perlahan. Langkah kakiku terasa ringan… sekaligus berat.

Setiap langkah menuju pintu terasa seperti berjalan menuju sesuatu yang tidak bisa kuhindari.

Begitu pintu rumah terbuka, aku langsung melihat sebuah mobil hitam berhenti di depan.

Namun kali ini… bukan hanya satu.

Ada beberapa mobil lain di belakangnya.

Pintu-pintu mobil itu terbuka hampir bersamaan.

Beberapa pria berpakaian rapi turun, membawa kotak-kotak besar yang dihias dengan elegan—warna emas dan merah mendominasi. Ada yang membawa perhiasan, kain mahal, dan nampan berlapis kain sutra.

Mahar.

Aku langsung tahu.

Nilainya… pasti tidak kecil.

Semua mata langsung tertuju ke arah itu.

Bisik-bisik yang tadi terdengar meremehkan perlahan berubah menjadi kagum.

“Wah…”

“Banyak sekali…”

“Keluarga itu benar-benar kaya…”

Ibu tiriku langsung tersenyum lebar, matanya berbinar melihat semua itu. Celine bahkan melangkah sedikit maju, memperhatikan setiap kotak dengan penuh minat.

Namun perhatianku tidak ke sana.

Mataku tertuju pada satu hal—

Di antara mereka tidak ada yang memakai pakaian pengantin, hanya seorang pria dengan setelan hitam rapi.

Tenang. Tegas.

Seperti seorang bodyguard.

Bukan calon suamiku.

Aku langsung tahu.

Satu pria yang memakai jas abu-abu melangkah mendekat, lalu membungkuk sopan di hadapanku.

“Nona Alina?”

Aku mengangguk pelan.

“Saya asisten pribadi Tuan Adrian,” katanya. “Saya ditugaskan untuk menjemput Anda, sekaligus menyerahkan mahar dari pihak Tuan.”

Sunyi.

Mahar yang mewah.

Tapi…

Tidak ada pengantin pria.

Ayah berdiri di sampingku, wajahnya sedikit berubah, tapi ia tetap diam. Seolah selama semuanya terlihat “layak”, maka tidak ada masalah.

“Ah, luar biasa sekali,” kata ibu tiriku cepat, mencoba menutupi suasana. “Silakan, silakan masuk dulu.”

Namun asisten itu menggeleng sopan. “Maaf, kami hanya menjalankan tugas. Proses selanjutnya akan dilakukan di kediaman Tuan.”

Celine tertawa kecil di sampingku.

“Jadi…” bisiknya pelan, “bahkan untuk menjemput saja dia nggak mau datang?”

Dadaku terasa sesak.

Aku berdiri di sana, mengenakan gaun pengantin… tapi yang datang menjemputku hanyalah asisten dan rombongan pembawa mahar.

Indah di luar.

Menyedihkan di dalam.

Tatapan orang-orang sekitar mulai berubah lagi.

Kali ini campuran antara kagum… dan iba.

“Maharnya banyak, tapi pengantinnya nggak datang…”

“Kasihan juga…”

Aku menunduk.

Tanganku mengepal pelan di sisi gaun.

“Sini,” kata ibu tiriku tiba-tiba, merapikan sedikit gaunku. “Jangan bikin malu.”

Aku tersenyum kecil.

Malu?

Bukankah sejak awal… aku sudah dijadikan bahan malu?

“Silakan, Nona,” kata asisten itu sambil membuka pintu mobil.

Aku mengangguk.

Namun sebelum aku melangkah, suara Celine kembali terdengar—

“Enak juga ya,” katanya santai, “dapat mahar banyak walaupun suaminya nggak bisa jalan.”

Ia tertawa kecil.

“Eh, tapi jangan salah,” lanjutnya, “habis ini kamu yang repot. Dorong kursi roda tiap hari.”

Beberapa orang di sekitar ikut tersenyum tipis.

Aku berhenti sejenak.

Hanya satu detik.

Aku menutup mata sebentar… lalu membukanya kembali.

Tanpa menoleh.

Tanpa membalas.

Aku melangkah masuk ke dalam mobil.

Pintu tertutup.

Semua suara di luar langsung meredam.

Mobil mulai berjalan perlahan.

Aku duduk diam, menatap lurus ke depan.

Di luar, bayangan rumah itu semakin menjauh.

Rumah yang tidak pernah benar-benar menjadi milikku.

“Maaf atas ketidakhadiran Tuan,” suara asisten itu terdengar dari depan.

Aku tidak langsung menjawab.

“Beliau memiliki alasan pribadi,” lanjutnya.

Aku tersenyum tipis.

Alasan.

Semua orang selalu punya alasan.

“Tidak apa-apa,” jawabku pelan.

Memang tidak apa-apa.

Apa lagi yang bisa lebih buruk dari ini?

Aku menoleh ke arah jendela.

Melihat jalan yang perlahan membawa aku menjauh dari masa lalu.

Hari ini seharusnya menjadi hari bahagia.

Hari di mana seorang wanita merasa dipilih.

Dihargai.

Dicintai.

Namun aku…

Hanya seorang pengantin yang bahkan tidak dijemput oleh suaminya sendiri.

Hanya diwakilkan.

Aku menghela napas panjang.

Menyandarkan kepala ke kaca dingin di sampingku.

Mahar yang mewah.

Nama keluarga yang besar.

Tapi semua itu tidak bisa menutupi satu hal—

Aku tetap terlihat… menyedihkan.

Namun tanpa kusadari,

di balik semua ketidakhadiran itu,

ada sebuah alasan yang belum aku ketahui.

Dan mungkin…

alasan itulah yang akan mengubah segalanya.

Perjalanan terasa lebih panjang dari yang seharusnya.

Aku tidak tahu berapa lama aku duduk di dalam mobil itu. Jalanan yang kulewati terasa asing, semakin jauh dari pusat kota, semakin sepi.

Tidak ada percakapan.

Hanya suara mesin mobil dan pikiranku sendiri.

Aku menatap ke luar jendela, melihat pemandangan yang perlahan berubah—dari keramaian menjadi ketenangan yang hampir… kosong.

Sampai akhirnya mobil melambat.

Gerbang besar menjulang di depan kami.

Tinggi. Hitam. Kokoh.

Mobil berhenti sebentar sebelum gerbang itu terbuka perlahan, seolah menyambut kami masuk ke dunia yang berbeda.

Aku menelan ludah.

Entah kenapa… ada perasaan aneh di dadaku.

Mobil kembali berjalan, melewati jalan panjang yang diapit taman luas dan rapi. Pohon-pohon tinggi berdiri di sisi kanan kiri, memberi kesan teduh… tapi juga sepi.

Sangat sepi.

Di ujung jalan, sebuah rumah besar terlihat.

Bukan sekadar rumah.

Lebih seperti… mansion.

Putih, megah, dan sangat terawat. Namun tidak ada kehidupan yang terasa dari luar. Tidak ada suara. Tidak ada tawa.

Hanya diam.

Mobil berhenti tepat di depan pintu utama.

Salah satu pria dari rombongan tadi turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untukku.

“Silakan, Nona.”

Aku mengangguk pelan.

Begitu kakiku menginjak tanah, hawa dingin langsung terasa. Entah karena cuaca… atau suasana tempat ini.

Aku melangkah perlahan menuju pintu.

Setiap langkah terasa berat.

Bukan karena ragu.

Tapi karena… aku tidak tahu apa yang menungguku di dalam.

Pintu terbuka.

Seorang wanita paruh baya berdiri di sana, mengenakan pakaian rapi seperti kepala pelayan.

“Selamat datang, Nyonya,” katanya sopan.

Aku sedikit terkejut.

Nyonya.

Kata itu terasa asing.

Aku mengangguk kecil. “Terima kasih…”

Aku masuk ke dalam.

Dan lagi-lagi… sunyi.

Interior rumah itu sangat indah. Lantai marmer mengilap, lampu gantung besar, dan perabotan mahal di setiap sudut.

Tapi tidak ada kehangatan.

Tidak ada suara orang berbicara.

Tidak ada tanda bahwa rumah ini… benar-benar dihuni.

“Silakan duduk, Nyonya,” kata wanita itu, menunjuk sofa besar di ruang tamu.

Aku menurut.

Duduk di ujungnya.

Tanganku saling menggenggam di pangkuan.

Beberapa detik berlalu.

Lalu menit.

Tidak ada yang datang.

Aku mulai gelisah.

“Maaf…” panggilku pelan. “Di mana… Tuan Adrian?”

Wanita itu menatapku sebentar, lalu menjawab dengan nada datar.

“Tuan berada di lantai atas.”

Aku mengangguk.

“Apakah… aku bisa menemuinya?”

Ia tampak ragu sejenak.

Namun akhirnya mengangguk. “Saya akan mengantar Anda.”

Aku berdiri perlahan.

Jantungku mulai berdetak lebih cepat.

Ini pertama kalinya aku benar-benar akan bertemu dengannya.

Pria yang sekarang… menjadi suamiku.

Kami berjalan melewati lorong panjang, lalu menaiki tangga besar menuju lantai dua.

Setiap langkah terasa semakin berat.

Aku tidak tahu harus berekspresi seperti apa.

Harus bicara apa.

Harus bersikap bagaimana.

Kami berhenti di depan sebuah pintu besar.

Wanita itu mengetuk pelan.

Tok. Tok.

“Masuk.”

Suara itu terdengar dari dalam.

Dalam. Dingin. Tenang.

Jantungku berdegup kencang.

Pintu dibuka.

Aku melangkah masuk.

Dan di sanalah aku melihatnya untuk pertama kali.

Seorang pria duduk di kursi roda, membelakangiku, menghadap jendela besar yang memperlihatkan taman di luar.

Tubuhnya tegap.

Rambutnya hitam rapi.

Dan aura yang ia bawa… berbeda.

Kuat.

Tapi juga… jauh.

Aku berhenti beberapa langkah di belakangnya.

Tidak tahu harus mendekat atau tidak.

Beberapa detik berlalu dalam diam.

Lalu—

“Kamu sudah datang.”

Ia berbicara.

Tanpa menoleh.

Aku menelan ludah.

“Iya…”

Sunyi lagi.

Aku menggenggam gaunku pelan.

“Maaf…” kataku pelan, “aku—”

“Kamu tidak perlu minta maaf.”

Kalimat itu memotong ucapanku.

Nada suaranya tetap datar.

Tidak kasar.

Tapi juga tidak hangat.

Akhirnya, ia memutar kursi rodanya perlahan.

Dan untuk pertama kalinya—

Tatapan kami bertemu.

Matanya tajam.

Dingin.

Namun entah kenapa… tidak menyakitkan.

Ia menatapku beberapa detik.

Seolah menilai.

Seolah membaca.

“Jadi,” katanya pelan, “kamu yang mereka kirim.”

Aku terdiam.

Bukan “istriku”.

Bukan “pasanganku”.

Hanya…

yang mereka kirim.

Dadaku terasa sedikit sesak.

“Iya…” jawabku pelan.

Ia mengangguk kecil.

Tidak terkejut.

Seolah sudah tahu semuanya.

“Aku harap kamu tidak berharap apa-apa dari pernikahan ini.”

Kalimat itu jatuh begitu saja.

Tanpa emosi.

Tanpa ragu.

Aku menggenggam tanganku lebih erat.

Harapan?

Sejak awal… aku tidak punya itu.

“Aku mengerti,” jawabku lirih.

Ia menatapku lagi.

Lebih lama kali ini.

Lalu berkata—

“Bagus.”

Sunyi kembali memenuhi ruangan.

Aku berdiri di sana.

Masih mengenakan gaun pengantin.

Di hadapan pria yang bahkan tidak datang menjemputku.

Namun anehnya…

Aku tidak merasakan kebencian.

Tidak juga kekecewaan yang berlebihan.

Yang ada hanya satu perasaan—

Asing.

Sangat asing.

Dan tanpa kusadari,

langkah pertama dalam kehidupanku yang baru…

telah dimulai di ruangan yang terlalu sunyi ini.

1
Siti Jubaedah
trima kasih karyanya semoga lebih semangat membacanya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!