NovelToon NovelToon
GAYATRI S2 Mencintainya Hingga Akhir

GAYATRI S2 Mencintainya Hingga Akhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Hernn Khrnsa

Selama 25 tahun, Rashaka Nareswara setia menjaga cintanya. Ia tetap bertahan, dan berharap pada satu nama yang tak pernah berubah di hatinya. Hingga akhirnya, penantian panjang itu berbuah manis.

Ia berhasil mempersunting wanita yang ia cintai sejak dulu, memulai kehidupan rumah tangga yang tampak sempurna.
Namun, kebahagiaan itu tak pernah benar-benar utuh. Di balik senyum sang istri, tersimpan bayang-bayang masa lalu yang belum selesai. Masalah demi masalah yang perlahan meretakkan kehangatan yang mereka bangun.

Akankah cinta yang bertahan selama seperempat abad itu mampu melawan luka yang belum sembuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GAYATRI S2 — BAB 03

“Kau masih belum menjawab pertanyaanku tadi pagi,” kata Shaka memeluk Gayatri yang tengah memotong sayuran untuk makan siang mereka. 

Gayatri sempat terkejut, tetapi kemudian tersenyum. “Pertanyaan yang mana?” tanya balik Gayatri. “Kau menanyakan banyak hal padaku tadi pagi.” 

Shaka memeluk istrinya lebih erat, seolah melepaskan Gayatri sebentar saja bisa membuatnya sesak napas. “Pertanyaan tentang bulan madu kita,” bisiknya dengan sengaja membuat Gayatri merasa geli.

“Bulan madu?” ulangnya.

Shaka mengangguk. “Kau masih belum memberitahuku, katakanlah, kau ingin kita bulan madu ke mana?” tanyanya lembut. Tangannya meraih pisau yang sedang dipegang Gayatri lalu meletakkannya di meja. 

“Aku … aku tidak tahu. Aku bingung harus ke mana. Memangnya kita tidak bisa bulan madu dengan menghabiskan waktu di rumah saja?” tanyanya polos. Lebih tepatnya, Gayatri tak tahu harus pergi ke mana.

Selama menjadi istrinya Mahesa, Gayatri tak sekalipun diajak jalan-jalan ataupun memikirkan jalan-jalan ke suatu tempat. Seluruh waktunya selama 25 tahun habis untuk mengurus rumah dan keluarga.

Shaka mengedikkan bahu. “Tentu saja boleh, kita bisa melakukan banyak hal di rumah. Tapi, aku juga ingin mengajakmu pergi ke suatu tempat. Apakah kau tidak memiliki satu tempat istimewa yang ingin kau datangi?”

Gayatri tampak menimbang-nimbang, berusaha mengingat-ingat nama daerah yang ingin ia kunjungi. 

“Sebut saja nama tempat, daerah atau mungkin kau ingin mengunjungi suatu negara?” tanya Shaka mulai gemas dengan kepolosan istrinya itu. Ia bahkan tertawa pelan saat melihat wajah bingung Gayatri.

“Kenapa kau tertawa? Apakah ada yang lucu?” tanya Gayatri bingung, tapi tanpa sadar ikut tertawa.

“Tidak, tidak ada. Aku hanya merasa gemas saja,” katanya sambil berusaha menahan tawanya. “Ayo, coba pikirkan lagi. Bagaimana jika kita keliling dunia saja? Sepertinya menyenangkan, pergi keliling dunia bersama dengan orang yang kau cintai bisa menjadi pengalaman yang tak terlupakan.”

Gayatri memukul lengan Shaka pelan. “Itu terlalu berlebihan, jangankan keliling dunia. Keliling kota ini saja aku belum pernah,” katanya pelan.

Mendengar itu, Shaka cukup terkejut. “Sama sekali belum pernah?” tanyanya seolah tak percaya.

Gayatri mengangguk pelan. “Dulu waktuku habis untuk mengurus rumah dan keluarga, aku sama sekali tidak memikirkan tentang jalan-jalan atau yang lainnya.”

Mendengar itu, Shaka langsung menarik lengan Gayatri meninggalkan dapur. Ia mengambil kunci mobilnya dan mengajak Gayatri pergi siang itu.

“Kita mau ke mana? Aku belum masak,” kata Gayatri saat sudah duduk di dalam mobil.

Namun, Shaka tak menjawabnya. “Duduk saja dan kau akan tahu ke mana kita pergi,” katanya lalu mulai mengendarai mobilnya keluar dari garasi mobil.

Gayatri tidak langsung menanggapi. Namun, tatapannya beralih ke luar jendela dengan rasa ingin tahu yang perlahan tumbuh saat mobil mereka melewati jalan raya.

Perhentian pertama mereka adalah sebuah restoran mewah di pusat kota. Interiornya tampak elegan, dengan pencahayaan hangat dan tata ruang yang tertata rapi. Para pelayan menyambut dengan sopan, mengantar mereka menuju meja yang telah disiapkan.

Gayatri tampak sedikit ragu saat duduk. “Kau yakin kita akan makan siang di sini?” tanyanya pelan. “Kenapa tidak makan siang di rumah saja lalu pergi keluar? Makanan di sini sepertinya sangat mahal.”

Shaka terkekeh pelan. “Tapi yang kudengar, makanan di sini sangat enak dan tempat ini sangat cocok untuk orang yang cantik sepertimu,” bisiknya memuji. 

Gayatri menunduk sebentar, menahan malu. “Tapi aku jarang sekali makan di tempat seperti ini. Bagaimana jika aku membuatmu malu? Apa kau tidak lihat orang-orang yang makan di sini?”

Shaka menatap sekitar, restoran itu penuh dengan orang yang berpakaian rapi. “Lalu kenapa? Kita sama saja seperti mereka yang ingin makan. Sudah, jangan pikirkan yang lainnya, kita nikmati saja makanan di sini,” jawab Shaka dengan nada yang lembut.

Makan siang mereka berlangsung dalam suasana yang hangat. Shaka sesekali membantu menjelaskan menu, bahkan tanpa diminta, ia memperhatikan hal-hal kecil seperti memastikan minuman Gayatri selalu terisi dan membersihkan bibir Gayatri dengan tisu.

“Bagaimana? Makanannya enak, kan?” tanyanya saat makanan mereka sudah hampir habis.

Gayatri mengangguk. “Sangat enak. Sepertinya kita harus menambahkan menu yang serupa untuk restoran kita,” bisiknya pelan.

Shaka tak menyahut hanya mengangguk dan tersenyum.

Setelah makan siang, mereka melanjutkan perjalanan menuju pusat perbelanjaan. Bangunan besar dengan deretan toko ternama itu membuat Gayatri sedikit canggung.

“Untuk apa kita ke sini?” tanyanya, menatap Shaka dengan bingung. “Apa kau mau membeli sesuatu?”

Shaka menggeleng. “Bukan aku, tapi kau yang akan berbelanja,” jawab Shaka singkat. 

“Tapi tidak membutuhkan apapun.”

Shaka menatapnya sejenak. “Tidak harus menunggu membutuhkan sesuatu untuk membelinya. Belilah apapun yang kau inginkan di sini.”

Gayatri menghela napas pelan. “Aku serius, Nares. Aku tifak membutuhkan apapun.”

“Aku juga serius,” balas Shaka dengan tenang lalu menarik lengan Gayatri memasuki salah satu toko pakaian. “Ayo pilih apa pun yang kau inginkan. Tidak perlu melihat harga, jika kau menyukainya, ambil saja. Aku yang akan membayarnya.”

Awalnya Gayatri hanya melihat-lihat. Namun perlahan, dengan dorongan halus dari Shaka, ia mulai mencoba beberapa pakaian.

Saat ia keluar dari ruang ganti dengan sebuah gaun sederhana, Shaka memperhatikannya dengan saksama.

“Itu terlihat sangat cocok untukmu,” ujarnya sambil menunjukkan kedua ibu jarinya.

Gayatri menatap bayangannya di cermin. “Apakah tidak berlebihan?”

Shaka menggeleng. “Tidak. Kau yang membuatnya terlihat istimewa. Percaya padaku, kau terlihat sangat cantik saat mengenakannya.”

Entah sudah berapa kali Shaka memujinya, tetapi setiap kaoi mendengar pria itu memujinya, Gayatri tetap saja merasa malu-malu tersanjung. Namun kali ini, Gayatri tidak menyembunyikan senyumnya sedikitpun.

Perjalanan mereka berlanjut ke taman kota ketika sore mulai turun. Suasana terasa lebih tenang, jauh dari hiruk pikuk pusat perbelanjaan. Mereka duduk berdampingan di sebuah bangku kayu, menikmati angin yang berembus pelan.

“Apa kau lelah?” tanya Shaka melihat wajah Gayatri yang tampak kelelahan.

“Sedikit,” jawab Gayatri jujur. “Tapi aku merasa senang.”

Shaka menoleh. “Benarkah? Padahal kita baru mengunjungi dua tempat saja.”

Gayatri mengangguk pelan. “Aku tidak pernah mengalami hari seperti ini sebelumnya.”

Jawaban itu membuat Shaka terdiam sejenak. Ia sudah menduga bahwa selama menikah dengan Mahesa, Gayatri sama sekali tidak diperlakukan selayaknya seorang istri. Namun mendengar pengakuan itu, membuat dadanya terasa sesak. Diam-diam ia mengutuk Mahesa.

Kemudian, mereka melanjutkan percakapan dengan topik-topik ringan, tanpa tekanan, tanpa beban. Waktu terasa berjalan lebih cepat dari yang seharusnya.

Menjelang senja, Shaka membawa Gayatri ke tepi danau di pinggiran kota. Airnya tenang, memantulkan warna langit yang perlahan berubah keemasan.

Gayatri berdiri di tepi danau, menatap pemandangan itu dengan kagum. “Indah sekali,” ucapnya lirih.

Shaka berdiri di sampingnya, namun perhatiannya tidak sepenuhnya tertuju pada danau. Ia justru memperhatikan wajah cantik Gayatri yang tampak bersinar tertimpa cahaya senja.

Untuk pertama kalinya, ia melihat wanita itu tertawa dengan bebas, tanpa keraguan ataupun beban. Momen itu membuat hatinya menghangat. Melihat Gayatri tersenyum seperti itu, membuatnya merasa menjadi pria yang sangat beruntung.

1
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
tentu saja 😒
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Awas kamu Keenan 😤
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
Bringsiiiikkkkk
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
waduh😣
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
diturutin ihh sama othor..
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
lah baru ditanyain.. pas celingkuh gak inget kalo manusia tuh bisa sakit bs mati.. ckckck
🌸sakura🌸
keenan mau ta enaknya saja tp g berani bertanggung jawab padahal shakira sdh bela belain buat nikah sama kami, klo smpe keguguran, pisah saja shakira, krn keenan g pantas jd seorang suami maupun seorang ayah. BANCI
matchaa_ci
apa aku harus seperti gayatri dulu menunggu 25 tahun untuk bertemu dng orng yg benar² menghargai
aurora
semangatttt💪💪
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
kau bahkan
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
makanya banyak belajar Keenan
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Dasar kau 😤
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
gugur aja sekalian.. toh keenan udah selingkuh,main celup sana sini, garelaaa akuuu ooiii
HK: 🥺🥺🥺🥺🥺
total 1 replies
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kaluna jadi sombong 😣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kaluna
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Jujur saja Luna🤭
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
semua akan tetap berjalan tanpamu gayatri.. jgn merasa paling penting
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kaluna
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
waduh 😣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!