Nara mengira kehidupan barunya setelah transmigrasi akan berjalan indah. Nyatanya, dia malah terlempar ke masa kuno dan menjadi anak sulung dari keluarga miskin yang dibenci semua orang karena cacat fisik.
Pemilik tubuh yang asli mati tragis karena memotong jari keenamnya demi mencari keadilan. Kini, dengan jiwa modern yang mengisi tubuh tersebut, Nara bersumpah tidak akan membiarkan ibu dan adiknya diinjak-injak lagi.
bertahun-tahun kemudian "haaaaa mencapai puncak kekuasaan dengan enam jari emang berat"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Siksaan yang Belum Berakhir
Nara memapah Nyonya Mu berjalan keluar dari rumah utama. Tepat ketika mereka baru saja melangkah menuju Kamar Barat, sebuah teriakan kasar terdengar dari arah belakang.
"Kamu, berhenti di situ!"
Itu adalah suara milik Yan Shong. Nara sebenarnya ingin berpura-pura tuli dan terus melangkah, tetapi tubuh Nyonya Mu sudah telanjur kaku karena ketakutan.
Sebelum mereka sempat membalikkan badan, Yan Shong sudah berlari mendekat dengan langkah kaki yang menghentak berat.
"Dasar anak kurang ajar! Apa yang kamu katakan di dalam tadi, hah?!" bentak Yan Shong sambil menunjuk tepat di depan hidung Nara.
"Kamu mau jadi pemberontak sekarang? Merasa sayapmu sudah kuat sampai berani menceramahi ayahmu sendiri? Kalau sehari aja tidak dipukul, kamu mau melunjak sampai merusak rumah ini?!" makinya kasar.
Belum sempat kalimat itu selesai, kaki Yan Shong sudah melayang deras. Sebuah tendangan keras mendarat telak di tubuh Nara, membuatnya langsung terhempas ke atas tanah.
"Biar kuhajar kamu sampai mati, dasar anak pembawa sial! Memangnya kamu siapa sampai berani mengguruiku? Hak apa yang kamu punya buat mencampuri urusanku?!" umpat Yan Shong tanpa belas kasihan.
Nara yang bertubuh ringkih sama sekali tidak sempat menghindar. Namun, tepat saat Yan Shong bersiap melayangkan tendangan kedua, Nyonya Mu langsung menjatuhkan diri di atas tubuh Nara.
Wanita itu menjadikan dirinya sendiri sebagai perisai hidup untuk menahan serangan brutal suaminya.
"Jangan pukul dia lagi! Aku mohon, hentikan, hiks..." jerit Nyonya Mu sambil mendekap Nara erat-erat dalam pelukannya.
Dia meratap histeris di sela tangisnya, "Dia baru saja terluka parah! Tolong, jangan siksa anakku lagi!"
"Dasar perempuan tidak tahu diri! Berani sekali kalian mengguruiku!" teriak Yan Shong berang.
"Ibu sama anak sama-sama tidak berguna! Tahu begini, sejak bayi sudah kutenggelamkan kamu ke dalam lubang kotoran!" maki pria itu sambil terus melayangkan tendangan kasarnya.
Meskipun tubuh Nyonya Mu menghalangi sebagian besar hantaman, Nara tetap bisa merasakan guncangan yang menyakitkan di tubuhnya. Setiap hantaman terasa begitu berat, membuat buku-buku jarinya memutih karena mengepal saking menahan amarah.
Dari balik dekapan Nyonya Mu, Nara hanya bisa mendongakkan wajahnya. Sepasang matanya menatap tajam ke arah wajah bengis Yan Shong yang dipenuhi kemarahan murni.
Di sudut halaman, dia juga bisa melihat Han Ruo dan Yan Ran yang sedang berdiri bersedekah dada. Ibu dan anak tirinya itu menonton penyiksaan mereka dengan senyuman puas tanpa ada niat sedikit pun untuk melerai.
Nara menggertakkan giginya rapat-rapat hingga rahangnya mengeras. Sorot matanya memancarkan kilatan gelap yang begitu dingin dan menusuk.
Dia bersumpah di dalam hati bahwa suatu hari nanti, semua rasa sakit ini akan dibayar lunas. Dia akan membuat orang-orang kejam ini berlutut di bawah kakinya dan memohon ampunan.
"Kamu..." Yan Shong kembali mengangkat kakinya tinggi-tinggi.
Namun, begitu tatapan matanya beradu dengan sorot mata Nara yang mengerikan, tenggorokannya mendadak tercekat. Rasa dingin yang aneh tiba-tiba menjalar di sepanjang tulang belakangnya, membuat pria itu mendadak membeku dan lupa melayangkan hantamannya.
Yan Shong akhirnya menurunkan kakinya kembali dengan gerakan canggung untuk menutupi rasa ngerinya.
"Awas kamu, urusan kita belum selesai!" ancam Yan Shong dengan nada kasar. Pria itu kemudian berbalik dan melangkah lebar menuju Kamar Timur dengan napas memburu.
"Yan Ran, ayahmu pasti lelah setelah emosi tadi. Cepat buatkan secangkir teh hangat untuknya," ujar Han Ruo dengan suara manja yang sengaja dibuat-buat.
Wanita itu berjalan genit menyusul suaminya masuk ke dalam kamar. Yan Ran pun bergegas mengekor di belakang ibunya dengan wajah riang.
Halaman rumah yang luas itu seketika mendadak sepi. Nyonya Mu segera mengangkat tubuhnya yang gemetar, mengabaikan rasa sakitnya sendiri demi memeriksa kondisi Nara.
"Ara, kamu tidak apa-apa? Bagian mana yang sakit? Katakan pada Ibu!" tanyanya panik dengan air mata yang mengalir deras di pipinya.
Nara hanya menggelengkan kepala pelan untuk menenangkan ibunya. Dari sudut matanya, dia menangkap sedikit gerakan pada kain penutup pintu rumah utama.
Ternyata Yan Ling sedang berdiri di sana sambil mencengkeram ujung tirai dengan erat. Begitu menyadari Nara melihatnya, gadis itu mendengus sinis, mencibir meremehkan, lalu menjatuhkan tirai kain itu kembali dengan kasar.
Tidak peduli apakah bibi bungsunya itu sengaja mengintip atau cuma mau menonton pertunjukan gratis, yang jelas dia menyaksikan penyiksaan tadi tanpa niat menolong sedikit pun. Bahkan, orang-orang di dalam rumah utama juga pura-pura tuli biarpun suara keributan di halaman terdengar sangat kencang.
Nara tersenyuman dingin di sudut bibirnya melihat kemunafikan itu.
"Kak, tangan Kakak berdarah!" teriak Yan Ning kaget sambil menunjuk ke arah tangan kiri Nara.
Nara mengikuti arah telunjuk adiknya dan melihat ke bawah. Kain perban yang membungkus tangan kirinya yang cedera kini sudah berubah warna menjadi merah pekat karena rembesan darah segar.
Rupanya bekas luka potongan jarinya tadi sempat tertekan dengan keras saat keributan berlangsung.
"Ya ampun, bagaimana ini bisa terjadi?!" tangis Nyonya Mu panik saat melihat darah segar itu.
"Ning, cepat ke dapur ambil abu dapur buat menyumbat darahnya! Anakku sayang, hiks..." serunya histeris.
Nyonya Mu memegang pergelangan tangan Nara dengan sangat hati-hati, tubuhnya berguncang hebat karena terus menangis tanpa daya. Nara hanya menatap cairan merah pekat yang terus menetes itu sambil mengetatkan bibirnya.
Keluarga Yan sialan ini benar-benar tidak bisa dipertahankan. Dia harus segera membawa Nyonya Mu dan Yan Ning pergi sejauh mungkin dari neraka ini.
Kalau terus bertahan di sini, belum sempat dia membangun kekayaan dan meraih kesuksesan, mereka bertiga pasti sudah mati dipukuli oleh pria iblis bernama Yan Shong itu.