NovelToon NovelToon
SEBELUM SENJA PAMIT DI AKAR TUA

SEBELUM SENJA PAMIT DI AKAR TUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Healing
Popularitas:456
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

"Kalau kau memang ingin mati, setidaknya selesaikan dulu 7 permintaanku. Setelah itu, aku tidak akan melarangmu gantung diri di pohon ini."
Kehilangan karier, dikhianati sahabat, dan ditinggal tunangan, Gani pulang ke desa masa kecilnya hanya dengan satu tujuan: mati dengan tenang di bawah pohon beringin tua.
Namun, rencananya berantakan saat Kirana—gadis desa yang cerewet, keras kepala, namun memiliki senyum paling tulus—menemukannya di hutan dan memberinya satu kesepakatan gila. Gani terpaksa menyetujui "7 Permintaan" gadis itu sebelum ia diizinkan mati.
Mulai dari mencuri mangga Kepala Desa hingga menari di bawah hujan badai, setiap permintaan justru perlahan mengembalikan warna di hidup Gani yang kelabu.
Namun, saat cinta mulai menunda niat kematiannya, Gani menyadari satu kebenaran yang kejam: Kirana memiliki alasan yang jauh lebih tragis darinya untuk tidak bisa hidup lebih lama lagi.
Kini, mampukah tangan yang pernah hancur itu menyelamatkan satu-

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Fajar di Punggung Komandan

​Hujan badai yang mengamuk sepanjang malam akhirnya menyerah tepat sebelum azan Subuh berkumandang dari kejauhan. Sisa-sisa kemarahan alam hanya berupa rintik gerimis tipis dan kabut tebal yang merayap rendah menyelimuti kawasan Rawa Hitam.

​Di dalam gubuk tua beratap rumbia itu, udara terasa sedingin es. Namun bagi Gani, suhu di sekitarnya tidak lagi menjadi masalah.

​Pria itu terbangun dengan rasa kaku yang luar biasa di sekujur lengannya, namun ia tidak berani bergerak satu milimeter pun. Di dadanya, Kirana masih tertidur sangat pulas. Gadis itu meringkuk nyaman di dalam balutan jaket parka abu-abu milik Gani, napasnya berhembus teratur dan hangat menembus kaus tipis yang Gani kenakan.

​Gani menundukkan pandangannya, menatap wajah damai Kirana dalam keremangan cahaya fajar yang mulai menyusup dari celah dinding bambu.

​Ingatan tentang apa yang terjadi semalam—pengakuan lukanya, validasi luar biasa dari gadis ini, dan ciuman di bawah atap bocor itu—kembali membanjiri benaknya. Sebuah senyum tipis yang sarat akan rasa syukur terbentuk di bibir Gani. Selama bertahun-tahun ia mengejar validasi dari orang-orang yang salah di Jakarta, tanpa menyadari bahwa penerimaan paling utuh justru ia temukan di sebuah gubuk reyot di tengah rawa.

​Gani mengusap pelan puncak kepala Kirana. Sentuhan itu membuat sang gadis mengerang pelan. Kelopak mata Kirana bergetar, lalu perlahan terbuka.

​Untuk beberapa saat, Kirana tampak disorientasi. Matanya mengerjap melihat serat-serat bambu yang lapuk di atasnya, sebelum akhirnya ia menyadari bahwa bantal yang ia gunakan semalaman adalah dada seorang pria. Rona merah seketika menjalar hebat di kedua pipinya yang pucat. Ia buru-buru mengangkat kepalanya.

​"Pagi," sapa Gani dengan suara bariton serak khas bangun tidur. Senyum usil menghiasi bibirnya melihat kepanikan kecil gadis itu. "Tidurmu nyenyak, Tiran Kecil?"

​Kirana berdeham, mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa wibawanya, meski usahanya gagal total karena wajahnya sudah semerah tomat. Ia merapatkan jaket parka di tubuhnya.

​"Pagi," balas Kirana canggung. Ia mengusap wajahnya, lalu menatap Gani dengan sorot khawatir. "Gani... bibirmu membiru. Kau kedinginan semalaman."

​Gani memang menggigil. Kaus oblongnya masih sedikit lembap, dan ia menahan hawa dingin rawa tanpa jaket selama lebih dari enam jam. Namun, Gani hanya mengedikkan bahu acuh tak acuh.

​"Aku pernah tidur di proyek konstruksi dengan angin yang lebih kencang dari ini. Ini bukan apa-apa," dusta Gani dengan elegan. Ia mengulurkan tangannya, menyentuh kening Kirana untuk memeriksa suhunya. "Yang terpenting adalah kau. Dadamu sesak? Ada yang sakit?"

​Kirana merasakan sentuhan tangan Gani yang dingin di keningnya, dan dadanya kembali berdesir. Gadis itu menggeleng pelan. "Tidak. Anehnya, aku merasa sangat... hangat semalaman. Jantungku baik-baik saja."

​Gani menghela napas lega yang luar biasa panjang. Bencana hipotermia yang ia takutkan tidak terjadi. Keajaiban rupanya masih berpihak pada mereka.

​"Bagus. Kalau begitu, kita harus segera pulang sebelum Bibi Ratna menyebarkan berita kehilangan ke kantor polisi kecamatan," ucap Gani sambil bersiap berdiri.

​Otot-otot kaki dan punggungnya menjerit protes saat ia memaksakan diri untuk bangkit. Gani mengulurkan tangan, membantu Kirana berdiri. Gadis itu tampak sedikit goyah, efek dari kelelahan berjalan semalam dan sisa masa pemulihannya.

​Gani melongok ke luar pintu gubuk. Hutan dan jalan setapak di sekitar rawa telah berubah menjadi kubangan lumpur merah yang sangat licin. Dahan-dahan pohon patah berserakan di mana-mana. Berjalan kaki di medan seperti ini akan sangat menguras stamina, bahkan untuk orang normal sekalipun. Bagi Kirana, ini adalah medan yang mematikan.

​Tanpa banyak bicara, Gani berbalik, lalu berjongkok membelakangi Kirana.

​"Naiklah," perintah Gani.

​Kirana membelalakkan matanya. "Apa? Gani, jangan gila. Aku bisa jalan sendiri. Kau sudah menggendongku tadi malam, punggungmu bisa patah!"

​"Jalanan di luar sana penuh lumpur, licin, dan menanjak. Kau bisa terpeleset, atau lebih buruk lagi, membebani jantungmu," Gani menoleh dari balik bahunya, menatap gadis itu dengan tatapan komando yang tidak menerima bantahan. "Naik, Kirana. Atau aku akan menggendongmu di pundakku seperti karung beras."

​Mengetahui bahwa Gani benar-benar bisa melakukan ancaman konyolnya itu, Kirana akhirnya menghela napas pasrah. Ia melangkah maju, lalu mengalungkan kedua lengannya di leher Gani, membiarkan pria itu menopang kedua pahanya dan mengangkat tubuhnya dengan mudah.

​Gani berdiri tegak. Tubuh Kirana menempel di punggungnya, seringan kapas.

​"Kau harus mulai makan lebih banyak, Tiran Kecil," gumam Gani saat ia melangkah keluar dari gubuk, sepatunya langsung tenggelam ke dalam lumpur sedalam mata kaki. "Beratmu tidak lebih dari tumpukan bata ringan."

​Kirana menyandarkan dagunya di bahu Gani, tersenyum geli. "Perempuan mana pun akan membunuhmu kalau kau membandingkan berat badan mereka dengan batu bata, Komandan."

​Gani terkekeh pelan. Ia melangkah dengan sangat hati-hati, memastikan setiap pijakannya stabil sebelum mengambil langkah berikutnya. Perjalanan menembus kebun sengon yang berlumpur itu sangat sunyi, hanya diisi oleh suara napas Gani dan cicit burung-burung yang mulai keluar mencari makan pascabadai.

​"Gani..." panggil Kirana pelan setelah sepuluh menit mereka terdiam. Napas hangat gadis itu menyapu tengkuk Gani.

​"Hm?"

​"Tentang semalam..." suara Kirana terdengar ragu. "Apa... apa itu akan mengubah sesuatu di antara kita saat kita kembali ke desa nanti?"

​Langkah Gani tidak berhenti, namun ritmenya sedikit melambat. Ia tahu persis apa yang gadis itu khawatirkan. Kirana takut bahwa dengan diakuinya perasaan mereka, segalanya akan menjadi rumit, atau Gani akan memperlakukannya dengan terlalu protektif dan mengasihaninya.

​"Semalam tidak mengubah apa pun tentang janjiku padamu, Kirana," jawab Gani tegas. "Kau tetap bosku yang punya sisa tiga permintaan, dan aku tetap pelaksana tugasmu."

​Gani memutar kepalanya sedikit agar bisa melihat ujung hidung gadis itu. "Hanya saja... sekarang aku punya alasan yang jauh lebih egois untuk memastikan kau tetap hidup. Di depan orang-orang, kita akan bersikap biasa saja. Tapi kau tidak bisa lagi melarangku untuk menjagamu. Karena kau adalah tanggung jawabku sekarang."

​Senyum yang sangat damai mekar di wajah Kirana. Ia menyusupkan wajahnya lebih dalam ke lekukan bahu Gani, menghirup aroma tubuh pria itu. "Aku pegang kata-katamu, Komandan."

​Kepanikan tingkat dewa sedang melanda rumah Kirana.

​Saat Gani dan Kirana tiba di halaman rumah gadis itu sekitar pukul enam pagi, Bibi Ratna sedang mondar-mandir di teras dengan daster yang berantakan, sementara Pak Kades dan beberapa pemuda desa sedang berkumpul dengan wajah tegang bersiap melakukan pencarian.

​"GUSTI ALLAH!!" jeritan Bibi Ratna memecah suasana pagi saat matanya menangkap sosok Gani yang berjalan memasuki pekarangan dengan Kirana di punggungnya. Pakaian Gani dipenuhi lumpur, dan wajahnya tampak pucat kedinginan.

​Semua orang langsung berhamburan mendekat.

​"Kalian dari mana saja?! Dicari keliling desa dari subuh ndak ketemu!" semprot Bibi Ratna, setengah menangis, membantu Kirana turun dari punggung Gani. "Kirana, kamu ini baru sembuh kok kelayapan pas badai?!"

​"Kami berteduh di gubuk kebun sengon, Bi. Terjebak hujan," Gani mengambil alih penjelasan sebelum Kirana sempat beralasan. Ia menggunakan nada yang tenang namun otoritatif, mencegah omelan Bibi Ratna lebih panjang. "Kirana baik-baik saja. Dia memakai jaket saya semalaman dan sama sekali tidak kehujanan. Tapi dia butuh istirahat, sarapan hangat, dan obatnya sekarang."

​Mendengar instruksi tegas itu, Bibi Ratna langsung berhenti mengomel dan beralih ke mode ibu perawat. Ia segera menuntun Kirana masuk ke dalam rumah. Kirana sempat menoleh ke arah Gani, memberikan senyum penuh terima kasih sebelum menghilang di balik pintu.

​Pak Kades menghampiri Gani yang sedang membersihkan sisa lumpur di sepatunya ke rerumputan. Pria paruh baya itu menatap Gani dengan tatapan menyelidik.

​"Membawa gadis yang sedang sakit jantung ke luar rumah saat mendung, apalagi ke arah bukit... itu bukan tindakan cerdas untuk seorang pria berpendidikan, Mas Gani," tegur Pak Kades dengan nada rendah, namun sarat akan otoritas seorang tetua desa.

​Gani menengadahkan wajahnya, membalas tatapan Pak Kades tanpa rasa gentar, namun dengan rasa hormat yang tulus. "Saya tahu, Pak Kades. Dan saya siap menerima risikonya jika terjadi apa-apa padanya. Tapi terkadang, membiarkan burung berada di luar sangkar adalah satu-satunya cara untuk memberitahunya bahwa ia masih bisa terbang."

​Pak Kades terdiam mendengar filosofi itu. Ia melihat ketulusan di mata Gani, dan mengingat bagaimana pria ini rela merakit bambu siang malam demi taman bacaan Kirana. Sang Kepala Desa akhirnya menghela napas panjang dan menepuk bahu Gani pelan.

​"Mandilah pakai air hangat, Mas Gani. Jangan sampai Mas yang malah tumbang," nasihat Pak Kades sebelum membubarkan para pemuda desa yang gagal jadi tim SAR.

​Gani mengangguk. Ia berjalan pulang ke rumahnya sendiri.

​Pekarangan belakang rumah limasan tuanya terlihat berantakan akibat badai. Daun dan ranting patah berserakan di mana-mana. Namun, mata Gani langsung tertuju pada struktur utama Taman Bacaan Akar Pelangi yang telah ia bangun bersama warga.

​Paviliun bambu itu berdiri kokoh. Tidak ada satu pun pilar yang miring, tidak ada atap yang terbang. Sistem interlocking bambu dan desain aerodinamisnya berhasil membelah amukan angin badai semalam tanpa cela. Mahakarya pertamanya di desa ini telah lulus uji kelayakan alam.

​Sebuah senyum miring penuh kebanggaan terlukis di bibir Gani.

​Namun, senyum itu perlahan memudar saat ingatannya kembali pada secarik kertas di saku belakang celananya. Surat peringatan eksekusi dari Bratasena & Partners.

​Gani mencuci tangannya di sumur, lalu masuk ke dalam rumah. Ia menyeduh segelas kopi hitam kental menggunakan sisa air panas di termos. Setelah itu, ia duduk di kursi rotan ruang tamunya, membentangkan surat berstempel merah itu di atas meja.

​Hari ini adalah hari keenam. Sisa waktu menuju eksekusi lahan tinggal delapan hari.

​Di masa lalu, jika perusahaannya diserang secara hukum, Gani akan menyewa pengacara yang lebih mahal untuk mencari celah dalam dokumen kontrak. Tapi di sini, ia tidak punya uang untuk itu. Hukum positif negara ini mungkin berpihak pada bank dan Raka yang memegang sertifikat agunan.

​Namun, Gani tidak akan bertarung di pengadilan. Ia akan bertarung di lapangan. Ia akan menggunakan taktik Sosio-Engineering—merekayasa nilai sosial sebuah aset agar biayanya terlalu mahal, secara politis dan reputasi, bagi siapa pun yang mencoba menyentuhnya.

​Gani meminum kopinya dalam satu tegukan panjang, lalu bergegas mengganti pakaiannya dengan kemeja yang lebih rapi. Ia keluar dari rumah dan berjalan cepat menuju Balai Desa.

​Saat Gani tiba, Pak Kades sedang menyesap teh manis di teras pendopo, tampak sedang bersantai setelah ketegangan pencarian pagi tadi. Melihat Gani datang dengan wajah serius dan langkah terburu-buru, Pak Kades mengerutkan dahi.

​"Ada apa, Mas Gani? Kok wajahnya tegang begitu? Kirana kambuh lagi?" tanya Pak Kades, setengah berdiri.

​"Kirana aman, Pak. Tapi saya butuh bantuan Bapak," Gani duduk di kursi berhadapan dengan Kepala Desa itu. Ia tidak berbasa-basi. Ia mengeluarkan surat sitaan itu dari sakunya, dan meletakkannya di atas meja, tepat di depan Pak Kades. "Tolong baca ini, Pak."

​Pak Kades mengambil kacamata bacanya dari saku kemeja. Ia membaca surat itu perlahan. Seiring dengan matanya yang menyusuri deretan kalimat hukum dan angka miliaran rupiah, wajah pria paruh baya itu semakin tegang, hingga akhirnya berubah menjadi terkejut bercampur pias.

​"Gusti Allah... Mas Gani... ini..." Pak Kades menatap Gani dengan mata terbelalak. Tangannya yang memegang surat sedikit gemetar. "Rumahmu... mau disita bank dalam delapan hari? Dua miliar?!"

​"Ya, Pak. Imbas dari pengkhianatan rekan bisnis saya," Gani menjawab tenang, seolah ia sedang mendiskusikan cuaca. "Pamanku, Lukman, yang datang beberapa hari lalu sudah tahu soal ini. Dia berniat membeli tanah saya dengan harga murah sebelum bank mengeksekusinya untuk dijual ke pengembang proyek liburan. Saya menolaknya."

​"Waduh! Mas Gani ini bagaimana toh!" Pak Kades memijat pelipisnya dengan panik. "Kalau bank yang turun tangan bawa polisi, Mas Gani bisa diusir paksa! Tanah almarhum Pak Haris bisa jatuh ke tangan orang kota! Padahal Mas Gani baru saja mulai menata hidup di sini. Kenapa Mas tidak cerita dari kemarin-kemarin?"

​"Karena saya belum menemukan jalan keluarnya, Pak. Tapi sekarang, saya sudah menemukannya."

​Gani mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap tepat ke mata Sang Kepala Desa. Mata Gani memancarkan ketajaman dan otoritas yang mengunci seluruh perhatian Pak Kades.

​"Pak Kades, saya tahu hukum. Secara administrasi, saya mungkin kalah. Tapi mereka tidak bisa sembarangan menggusur fasilitas sosial atau yayasan pendidikan yang aktif, karena itu akan mengundang perhatian media dan LSM. Reputasi bank akan hancur jika mereka merobohkan tempat belajar anak-anak desa."

​Gani mengetukkan jari telunjuknya ke atas meja kayu. "Taman Bacaan Akar Pelangi yang sedang kita bangun di belakang rumah saya itu... saya tidak ingin itu menjadi milik pribadi saya."

​Pak Kades mengerjap kebingungan. "Maksudnya bagaimana, Mas?"

​"Saya ingin menghibahkan seluruh pekarangan belakang rumah saya secara resmi kepada Desa Karangbanyu, khusus untuk dijadikan lokasi permanen Yayasan Taman Bacaan Akar Pelangi," deklarasi Gani dengan suara mantap. "Saya ingin Bapak membuatkan Akta Pendirian Yayasan tingkat desa hari ini juga, dengan Kirana sebagai ketua yayasannya, dan Bapak sebagai pembina."

​Rahang Pak Kades seakan jatuh ke lantai. Menghibahkan tanah ribuan meter persegi yang harganya ratusan juta rupiah secara cuma-cuma, di saat pria itu sedang terlilit utang miliaran? Itu adalah tindakan orang gila, atau tindakan seorang martir.

​"Mas Gani... sampeyan serius?" Pak Kades masih tidak percaya. "Kalau tanah itu dihibahkan ke desa dan dijadikan fasilitas umum, nilainya secara komersial akan mati! Mas tidak akan bisa menjualnya lagi."

​"Saya memang tidak pernah berniat menjualnya," jawab Gani tanpa ragu seperseribu detik pun. "Jika tanah itu menjadi fasilitas sosial milik desa sebelum juru sita datang, status asetnya akan terkunci dalam sengketa fungsi sosial. Bank tidak bisa melelang lahan yang di atasnya berdiri yayasan pendidikan desa tanpa persetujuan warga dan bupati. Prosesnya akan memakan waktu bertahun-tahun, dan pada akhirnya, mereka biasanya akan menyerah atau hanya bisa menyita bangunan rumah utama, bukan pekarangannya."

​Pak Kades terdiam. Ia mulai menangkap kecerdikan luar biasa di balik rencana nekat pemuda ini. Gani menggunakan desanya, menggunakan anak-anak Karangbanyu, sebagai benteng manusia yang sah di mata hukum untuk melindungi jejak Kirana dari keserakahan orang-orang Jakarta.

​"Tapi Mas," Pak Kades menelan ludah, masih ragu. "Bikin yayasan atau mencatatkan hibah lahan itu butuh proses panjang di kecamatan. Apalagi sisa waktunya cuma delapan hari. Belum tentu stempelnya turun tepat waktu."

​"Di situlah saya membutuhkan Bapak," Gani menatap Pak Kades lekat-lekat, sebuah tatapan yang memohon sekaligus menantang. "Gunakan seluruh koneksi Bapak di kecamatan. Tekan siapa pun yang perlu ditekan. Bilang bahwa ini adalah program pendidikan desa yang sangat mendesak. Saya akan menyelesaikan pembangunan fisiknya dalam tiga hari ke depan, sehingga bangunan itu sudah berdiri utuh dan aktif sebelum surat eksekusi itu jatuh tempo."

​Gani menyandarkan punggungnya ke kursi, sebuah senyum tipis yang mematikan terlukis di bibirnya.

​"Mereka pikir mereka bisa menghancurkan saya dengan selembar kertas berstempel lilin merah," bisik Gani, suaranya dipenuhi oleh amarah dingin dan keyakinan absolut. "Mari kita tunjukkan pada mereka, Pak Kades. Kita akan melawan keserakahan orang kota dengan cara orang desa. Kita akan lawan mereka dengan gotong royong."

​Pak Kades menatap pemuda di hadapannya. Ia melihat kombinasi yang sangat mengerikan sekaligus mengagumkan: Kecerdasan predator dari seorang mantan elit ibu kota, yang kini dipersenjatai oleh ketulusan dan kekuatan sebuah komunitas pedesaan.

​Perlahan, senyum lebar terbentuk di wajah Pak Kades. Pria paruh baya itu menggebrak meja pendopo dengan telapak tangannya.

​"Baiklah, Arsitek!" seru Pak Kades, matanya menyala oleh semangat juang yang lama tertidur. "Saya akan berangkat ke kecamatan sekarang juga. Saya akan gedor pintu Camat kalau perlu. Mas Gani urus bangunannya, saya urus stempelnya. Biar tahu rasa orang-orang bank itu berurusan dengan Karangbanyu!"

​Pagi itu, di atas meja Balai Desa yang sederhana, sebuah deklarasi perang telah diresmikan. Gani Raditya tidak lagi berlari dari hantu masa lalunya. Ia telah berbalik, membangun bentengnya, dan siap menyambut kedatangan mereka dengan kepala tegak.

1
Yeni Puspitasari
segar , konyol, keren 😍
Yeni Puspitasari
dari dua novel yg mengerikan Thor, cerita baru mu kali ini membuat ku tertawa lebar🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!