Daniela Arden Atmaja terpaksa masuk ke dunia malam demi bertahan hidup.
Darren Arkhanio Callister adalah pria perfeksionis yang menilai segalanya dari apa yang terlihat. Baginya, Daniela tidak pantas berada dalam hidupnya, apalagi ia sudah memiliki Crissiana, kekasih sempurna.
Namun di ujung napasnya, sang kakek memohon Darren menikahi Daniela, cucu dari almarhum sahabatnya.
Pernikahan pun akhirnya terjadi secara diam-diam. Tanpa cinta. Tanpa pengakuan. Tanpa diketahui siapa pun.
Darren tetap merendahkan Daniela dan tidak pernah ingin mengenalnya. Sementara Daniela memilih cuek dan tak perduli. Mau menikah pun karena permintaan terakhir dari sahabat almarhum kakeknya.
Hingga sebuah insiden terjadi.
Harga diri Daniela direnggut.
Saat Darren akhirnya menyadari bahwa Daniela tidak seperti yang ia kira, semuanya sudah terlambat.
Daniela pergi tanpa penjelasan dan tanpa jejak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Brilliante Brillia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh
Nit nit nit...
Terdengar nada notifikasi yang cukup nyaring dari ponsel milik Antonio. Itu adalah notifikasi pesan email yang baru saja dikirimkan oleh Hans. Isinya ternyata memuat semua data informasi penting tentang Daniela.
“Daniela Arden Atmaja?” gumamnya, hampir seperti bisikan.
Kening Antonio seketika berlipat sangat dalam, ia mencoba mengingat kembali nama belakang yang terasa cukup familiar di dalam otaknya.
“Om Surya Atmaja? Dia sebenarnya siapanya Om Surya?”
Antonio kembali melanjutkan membaca baris demi baris tulisan tersebut.
“Nama orang tua, Yudha Atmaja dan Hasnita Atmaja. Nama Kakek, Surya Atmaja...”
Antonio menghela napasnya dalam-dalam, dengan perasaan tak sabaran ia langsung melanjutkan membaca kelanjutan teks tersebut.
Setelah kedua orang tuanya meninggal dunia karena kecelakaan tragis, dia diurus oleh Surya Atmaja, sang kakek. Namun setelah kakeknya sendiri meninggal, ia harus hidup sebatang kara. Tak ada satu pun keluarga dari pihak ayahnya yang mau menampungnya. Sementara itu, keberadaan keluarga dari pihak ibunya tak pernah diketahui.
Daniela Arden Atmaja, sekarang masih tercatat sebagai mahasiswi aktif semester tujuh jurusan desain interior di salah satu perguruan tinggi negeri ternama di Jakarta. Ia juga diketahui berprofesi sebagai seorang Disc Jockey untuk membiayai hidupnya.
“Tapi kenapa Darren bisa berhubungan dengan gadis ini?” Antonio kembali bergumam. Matanya terus menatap tajam deretan huruf di layar ponselnya.
“Kenapa Pa? Ada sesuatu tentang gadis itu?” tanya Citra yang baru saja melangkah masuk ke dalam kamar setelah agenda makan malam tadi. Sementara sampai jam sembilan malam begini Darren belum juga pulang ke rumah.
Antonio menatap istrinya dengan pandangan yang dalam. Lalu ia menepuk jok sofa di sisi tempat duduknya. Citra pun langsung berjalan menghampiri.
“Nama gadis itu Daniela,” kata Antonio.
“Lalu?”
“Dia ternyata cucunya Om Surya.”
“Om Surya sahabat Papi kamu?”
Antonio mengangguk pelan, tetapi mata lelaki bule itu seperti sedang memancarkan rasa bersalah yang amat besar.
“Iya, Om Surya sahabat Papi, sekaligus orang yang sudah menyelamatkan hidup Papi, meski sekarang Papi pun sudah tidak ada lagi di dunia ini,” ucap Antonio dengan suara lirih. Kepalanya mendongak ke atas sambil memejamkan kedua mata.
“Om Surya yang sudah rela mendonorkan ginjalnya pada Papi dulu, tepat saat pertama kali divonis menderita gagal ginjal.”
Citra seketika terdiam. Ia sangat mengerti, Antonio sekarang pasti sedang dirundung rasa menyesal. Perlahan-lahan tangan wanita itu mengelus lengan suaminya, mencoba memberi ketenangan.
“Aku tadi sudah menghina keturunan dari orang yang sudah menyelamatkan nyawa Papi-ku saat itu,” desah Antonio dengan sangat lirih.
“Itu karena kamu tidak tahu, sayang. Sekarang kita bisa cari gadis itu dan menolongnya secara finansial, mungkin? Siapa tahu dia memang sedang membutuhkan,” ucap Citra dengan begitu lembut.
“Tapi Hans bilang, sekarang gadis itu menghilang. Ini pasti ada hubungannya dengan Darren. Kita harus tanya langsung sama dia, karena Hans pun tidak bisa melacak keberadaannya.”
Citra mengangguk setuju sambil meraih ponselnya dan mulai menghubungi nomor Darren. Tapi ternyata ponsel milik Darren sama sekali tak bisa dihubungi.
“Ponselnya mati, Pa. Kenapa ya? Tidak biasanya Darren mematikan alat komunikasinya. Apalagi ini sudah larut malam. Dia belum pulang dan tak ada mengabari kita juga.”
Citra mulai merasa khawatir. Ia langsung berdiri dari duduknya, lalu mencoba menekan nomor lain, yaitu nomor telepon milik Reymond.
“Oh, Pak Darren tadi pergi bersama Bu Selina untuk menemui klien penting yang datang dari Thailand,” jawab Reymond di seberang telepon.
“Oh ya sudah, terima kasih,” ucap Citra. Setelah itu ia segera mematikan sambungan teleponnya.
“Darren masih ada pekerjaan, Pa.” ucapnya mencoba terdengar tenang.
Namun entah kenapa, perasaan Antonio justru semakin tidak enak.
***
Nun jauh di Sumatra sana, Daniela mulai terbiasa dengan kehidupannya. Dia mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Padahal kehidupannya sekarang dan dulu sangat jauh berbeda.
Namun pagi ini, ada sesuatu yang terasa salah dengan tubuhnya. Sejak pertama kali membuka mata, kepalanya langsung didera rasa pening yang berputar-putar. Kamar di rumah mak tuanya yang sederhana itu terasa seolah ikut berputar, memaksanya untuk memejamkan mata erat-erat di atas ranjang.
Belum sempat ia menenangkan denyut di pelipisnya, gelombang rasa mual yang hebat mendadak naik ke hulu kerongkongan.
“Ugh...”
Daniela membekap mulutnya sendiri. Dengan sisa tenaga yang ada, ia langsung bangkit dari tempat tidur dan berlari setengah tertatih menuju kamar mandi yang terletak di bagian belakang rumah.
Di dalam kamar mandi, ia langsung berlutut menghadap ke lantai dekat lubang pembuangan air dan memuntahkan cairan bening berulang kali. Perutnya bergejolak hebat, tetapi tidak ada makanan yang keluar karena ia memang belum menyantap apa pun sejak semalam. Tubuhnya bergetar menahan lemas, sementara keringat dingin mulai bercucuran di dahi dan lehernya.
Setelah membasuh mulut dan wajahnya dengan air sumur yang segar dari gayung, ia mencoba menepis rasa tidak nyaman yang terus mendera.
“Kenapa tiba-tiba bisa seperti ini?” gumam Daniela lirih.
Ia memegangi perutnya yang terasa mulas dan berputar. Rasa mual dan pusing yang datang bersamaan di pagi hari seperti ini adalah hal yang sangat baru baginya. Daniela mencoba mengingat-ingat apakah ia salah menyantap masakan mak tuanya semalam, namun rasanya semua makanan di rumah ini selalu bersih dan sehat.
Dengan langkah gontai dan kepala yang masih terasa sangat berat, ia berjalan keluar dari kamar mandi.
Dari arah dapur, tercium aroma masakan yang sedang disiapkan oleh mak tuanya. Alih-alih membangkitkan selera makan, bau bumbu masakan yang menyengat itu justru membuat perut Daniela kembali bergejolak, memaksanya untuk cepat-cepat kembali ke kamar sebelum mak tuanya menyadari kondisi tubuhnya yang mendadak drop.
***
Keesokan harinya, bahkan hingga beberapa hari kemudian, kondisi Daniela ternyata masih tetap seperti itu. Setiap pagi, ia selalu terbangun dengan rasa pening yang luar biasa dan langsung bergegas ke kamar mandi untuk memuntahkan cairan bening dari perutnya yang kosong.
Gejala yang terus berulang ini tentu saja tidak bisa disembunyikan selamanya, terutama di dalam rumah mak tuanya yang tidak terlalu besar. Suara Daniela yang terbatuk-batuk menahan mual setiap subuh mulai mengusik pendengaran sang mak tua.
Pagi itu, setelah Daniela selesai membasuh wajahnya dan keluar dari kamar mandi dengan langkah gontai, ia mendapati mak tuanya sudah berdiri di depan pintu dapur dengan kedua tangan terlipat di dada. Tatapan mata wanita paruh baya itu tampak menyelidik, memperhatikan wajah Daniela yang kian hari kian pucat dan badannya yang terlihat sedikit lebih kurus.
“Daniela, kamu sebenarnya sakit apa?” tanya Mak Tua dengan nada suara yang penuh selidik.
Daniela sedikit tersentak, lalu buru-buru menyunggingkan senyum tipis untuk menutupi rasa lemasnya.
“Tidak apa-apa, Mak Tua. Mungkin Daniela hanya masuk angin saja karena belum terbiasa dengan udara malam di sini,” jawab Daniela mencoba mengelak.
Mak Tua tidak langsung percaya begitu saja. Ia melangkah mendekat, lalu menempelkan punggung tangannya ke dahi Daniela untuk memeriksa suhu tubuh keponakannya itu.
“Badanmu tidak demam, dingin malah. Tapi kenapa setiap pagi selalu muntah-muntah seperti itu? Sudah berapa hari ini Mak Tua perhatikan kamu tidak pernah melewatkan pagi tanpa pergi ke kamar mandi sambil memegangi perut,” kata Mak Tua, matanya kini turun menatap ke arah perut Daniela.
Ada kilatan kecurigaan yang tertangkap dari sorot mata Mak Tua. Sebagai wanita yang sudah banyak makan asam garam kehidupan, gejala yang dialami Daniela tentu bukan hal yang asing lagi di telinganya.
“Kamu yakin hanya masuk angin biasa? Jangan-jangan ada hal lain yang tidak kamu ceritakan pada Mak Tua?” tanya Mak Tua lagi, kali ini dengan nada yang terdengar lebih tegas dan menuntut kejujuran.
Daniela langsung membeku di tempatnya berdiri. Jantungnya mendadak berdegup kencang, bukan hanya karena rasa pusing yang kembali menyerang, melainkan karena ia sendiri mulai merasa takut dengan spekulasi yang ada di dalam kepala mak tuanya.
kak jgn jahat2 sama Daniela yx kak ,,
lgi hamil looo dy ,,
🤭🤭🤭🤭🤭🤭😁😁😁😁
para readers tercinta, jika buku induk ada kesamaan dengan buku lain, mohon jangan nge-judge ini plagiat ya. otor bersumpah demi apapun tak ada plagiat karena sudah merasakan bagaimana rasanya di-plagiat-n. mungkin hanya kesamaan beberapa part aja.
terimakasih 🙏🫶
bayinya gimana Thor nasibnya 🫣😭😭
🤭🤭🤭🤭🤭
next kak
lanjut
biar laa Darren pusing keliling keliling nyari Daniela ,,
salah sendiri makin terkam aj anak org ,,
sekarang kalang kabut kan pas istri nu udh kabuur😒😒😒