Selama 25 tahun, Rashaka Nareswara setia menjaga cintanya. Ia tetap bertahan, dan berharap pada satu nama yang tak pernah berubah di hatinya. Hingga akhirnya, penantian panjang itu berbuah manis.
Ia berhasil mempersunting wanita yang ia cintai sejak dulu, memulai kehidupan rumah tangga yang tampak sempurna.
Namun, kebahagiaan itu tak pernah benar-benar utuh. Di balik senyum sang istri, tersimpan bayang-bayang masa lalu yang belum selesai. Masalah demi masalah yang perlahan meretakkan kehangatan yang mereka bangun.
Akankah cinta yang bertahan selama seperempat abad itu mampu melawan luka yang belum sembuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GAYATRI S2 — BAB 20
Kaluna masih terdiam di hadapan Gayatri. Jemarinya saling bertaut di atas pangkuan, sementara tatapannya terus menghindar. Sikap itu justru semakin membuat Gayatri yakin bahwa putrinya sedang menyembunyikan sesuatu.
Ruangan itu mendadak terasa lebih sunyi.
Gayatri menatap Kaluna lekat-lekat sebelum akhirnya kembali berbicara dengan nada lebih lembut, meski ketegasan masih terdengar jelas di suaranya.
“Ibu tidak marah karena kau mengenakan barang-barang mahal itu,” katanya pelan. “Ibu hanya ingin tahu dari mana kau bisa mendapatkannya.”
Kaluna menarik napas kecil. “Ini semua hanya hadiah dari teman,” jawabnya singkat penuh kebohongan.
Gayatri mengernyit dalam. “Teman yang seperti apa sampai bisa memberimu tas dan jam tangan semahal itu?”
Kaluna kembali terdiam.
Gayatri mulai kehilangan kesabarannya. “Kaluna.”
“Aku tidak melakukan hal yang macam-macam. Kenapa sekarang Ibu terus bertanya-tanya dan seolah mencurigai ak!” potong Kaluna cepat, seolah sudah tahu ke mana arah pikiran ibunya.
Gayatri mengernyit tipis. “Bukan itu maksud Ibu, Nak. Ibu hanya penasaran saja.”
Kaluna menggigit bibir bawahnya, ia tahu bahwa sang ibu hanya merasa penasaran dan cemas terhadapnya, tetapi ia juga takut, jika ia mengatakan yang sebenarnya. Gayatri pasti akan marah besar terhadapnya karena Kaluna sudah menghabiskan banyak uang ayah sambungnya.
“Baiklah jika kau tidak mau memberitahu Ibu,” kata Gayatri akhirnya membuang muka. “Ibu akan mencari tahu sendiri, kau pulanglah, ayahmu pasti akan cemas jika kau tidak segera pulang ke rumah. Ingat belajar dengan giat dan kuliah dengan baik.”
***
Malam itu, suasana rumah terasa jauh lebih tenang dibanding biasanya. Setelah seharian sibuk di restoran dan berbicara dengan Kaluna, pikiran Gayatri justru semakin penuh. Ia duduk sendirian di ruang keluarga sambil menatap halaman belakang yang tampak gelap diterpa malam.
Percakapannya dengan Kaluna terus terulang di kepalanya tanpa henti. Tentang barang-barang mahal yang dikenakan putrinya dan bagaimana Kaluna perlahan berubah menjadi sosok yang terasa asing di matanya sendiri.
Gayatri mengembuskan napas panjang pelan. Ia mulai menyadari bahwa selama ini Kaluna mungkin sedang berusaha mencari pelarian atas perubahan hidup mereka. Perceraian dirinya dengan Mahesa, kondisi ekonomi Mahesa yang kini jauh berbeda, lalu kehadiran Shaka dengan kehidupan yang jauh lebih mapan, semua itu pasti memberi pengaruh besar pada putrinya.
Namun tetap saja, ada satu hal yang terus mengganjal pikirannya. Mengenai cara Kaluna menghabiskan uang dengan begitu mudah. Sampai akhirnya, satu kemungkinan tiba-tiba muncul di benaknya.
Gayatri langsung menoleh ketika mendengar langkah kaki mendekat. Shaka baru keluar dari ruang kerja sambil melonggarkan dasinya. Begitu melihat Gayatri yang masih duduk termenung di ruang keluarga, ekspresinya langsung berubah lebih lembut.
“Kau belum tidur?” tanyanya pelan sambil meletakkan kacamatanya dan mengusap wajahnya yang tampak lelah.
Gayatri menggeleng kecil. “Aku menunggumu.”
Shaka tersenyum tipis lalu duduk di sebelahnya. “Kenapa kau belum tidur? Hm, biar kutebak, jika aku melihat ekspresimu sekarang, pasti ada sesuatu hal serius yang ingin dibicarakan. Aku benar, kan?”
Gayatri terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menoleh ke arahnya lalu mengangguk. “Nares, kau selalu tahu aku,” katanya pelan seraya tersenyum tipis.
“Hm? Kau ingin membicarakannya sekarang atau menunggu aku selesai mandi?” tanyanya seraya mengedipkan sebelah matanya.
Gayatri tersenyum malu, ia ingin menunggu hingga Shaka mandi, tapi ia tak bisa menahan rasa penasarannya lagi. “Apa kau pernah memberikan kartu kreditmu pada Kaluna?”
Pertanyaan itu membuat Shaka sedikit mengernyit. “Kartu kredit?” ulangnya.
Gayatri mengangguk pelan. “Iya, kartu kredit atau debit, mungkin? Apa kau pernah memberinya?”
Shaka tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab, “Aku memang pernah memberinya kartu kreditku.”
Gayatri langsung menatapnya. “Kapan? Kenapa kau tidak memberitahuku? Kenapa kau memberikan kartu kredit pada Laluna?”
“Beberapa minggu lalu,” jawab Shaka tenang. “Kau ingat saat kita menikah? Kalina tampak sedih karena tak bisa tinggal bersama kita. Dan juga, waktu itu Kaluna berkata bahwa ia memiliki beberapa kebutuhan kuliah dan merasa tidak enak terus meminta uang pada Mahesa. Jadi, aku memberinya kartu kreditku dengan harapan ia tak akan mengganggu kita untuk sementara waktu.”
Gayatri langsung memijat pelipisnya pelan lalu menghela napas berat. Jawaban Shaka itu cukup membuat semuanya tersambung.
“Kenapa kau tidak memberitahuku lebih dulu?” tanyanya lirih.
Shaka memperhatikan wajah istrinya yang tampak kecewa beberapa saat sebelum akhirnya menjawab, “Aku tidak menganggap itu masalah besar. Lagi pula aku pikir itu bisa sedikit membantu Kaluna.”
Gayatri menghela napas panjang lalu menggeleng lemah. “Tidak, Nares. Aku memahami niat baikmu, tetapi Kaluna Laluna … dia masih terlalu muda untuk memahami tanggung jawab memegang kartu kredit.” Nada suara Gayatri terdengar serius, membuat Shaka mulai menyadari bahwa ini bukan perkara sepele.
“Apa yang terjadi? Apakah limitnya kurang?” tanyanya pelan.
Gayatri menggeleng, lalu menceritakan apa yang ia lihat siang tadi di restoran. Tentang penampilan Kaluna yang berubah drastis, barang-barang mewah yang dikenakannya, hingga sikapnya yang terlihat congkak.
Semakin lama mendengarkan, ekspresi Shaka perlahan berubah. “Aku tidak tahu kalau dia menggunakannya sejauh itu,” gumamnya pelan.
Gayatri menatap lurus ke depan. “Kaluna sedang ada di usia yang sangat mudah terpengaruh. Apalagi statusmu ….” Gayatri memilih tak melanjutkan ucapannya.
Shaka terdiam, merasa sudah salah langkah. Ia pikir, kartu kredit yang diberikannya pada Kaluna itu akan mempermudah hidupnya, namun kini justru mempersulitnya.
“Aku takut dia mulai terbiasa hidup berlebihan,” lanjut Gayatri pelan. “Atau lebih buruk lagi, mulai menilai dirinya dari kemewahan semata.”
Suasana mendadak hening. Shaka menyandarkan tubuhnya perlahan sambil mengusap dagunya. Wajahnya terlihat berpikir keras sementara Gayatri termenung di sampingnya.
“Awalnya, aku hanya tidak ingin dia merasa kekurangan, apalagi dia adalah anak sambungku,” kata Shaka akhirnya.
Gayatri menoleh pelan. “Aku tahu niatmu baik. Dan aku juga bersyukur kau menyayangi anak-anakku seperti anakmu sendiri.”
Kalimat itu membuat Shaka tersenyum kecil, setidaknya ia bisa merasa sedikit bangga saat Gayatri mengucapkan kalimat itu.
“Tapi justru karena itu,” lanjut Gayatri, “Kita harus lebih hati-hati. Kaluna belum cukup dewasa untuk memahami batasannya sendiri, apalagi dia adalah anak yang manja. Sebelumnya, Mahesa sangat memanjakannya, hal itu membuat Kaluna sedikit besar kepala dan egois.”
Shaka mengangguk perlahan. Kini ia mulai memahami kekhawatiran Gayatri. “Besok kartu itu akan aku minta kembali,” katanya tegas.
Namun Gayatri justru menggeleng pelan. “Jangan langsung seperti itu.”
Shaka mengernyit bingung. “Kenapa?”
“Kalau kau tiba-tiba menarik semuanya, Kaluna justru akan merasa sedang dihukum,” jawab Gayatri tenang. “Aku tidak ingin dia semakin memberontak.”
Shaka memperhatikan istrinya dalam diam sebelum akhirnya bertanya, “Lalu bagaimana?”
Gayatri terdiam sesaat sebelum berkata pelan, “Aku ingin bicara baik-baik dulu dengannya.”
Shaka mengangguk memahami. Beberapa detik kemudian, pria itu meraih tangan Gayatri perlahan. “Kau terlalu banyak memikirkan semuanya sendirian,” ujarnya lembut.
Gayatri tersenyum tipis, meski matanya masih menyimpan kelelahan. “Aku hanya takut gagal jadi ibu yang baik.”
Kalimat itu keluar begitu saja. Dan seketika, Shaka langsung menggenggam tangannya lebih erat.
“Kau bukan ibu yang gagal,” katanya tegas. “Kau hanya sedang berusaha menjaga terlalu banyak orang sekaligus. Padahal kau tidak bisa melakukannya sendirian.”
Gayatri menunduk pelan. Entah kenapa, ucapan sederhana itu justru membuat dadanya terasa hangat. Karena di tengah semua masalah yang terus datang tanpa henti, setidaknya masih ada seseorang yang tetap berdiri di sisinya.