NovelToon NovelToon
Dari Perjodohan Yang Salah, Lahir Cinta Yang Benar

Dari Perjodohan Yang Salah, Lahir Cinta Yang Benar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Uzumaki Amako

Sejak ibu kandungku meninggal, aku hidup sebagai orang asing di rumahku sendiri. Saat perjodohan datang, harapanku hancur ketika kakak tiriku merebut segalanya dan aku dipaksa menikah dengan pria lumpuh yang tak kukenal. Namun, dari perjodohan yang tidak adil itu, aku justru menemukan ketulusan dan cinta yang selama ini tak pernah kudapatkan. Ketika kebenaran terungkap dan masa laluku ingin mengklaimku kembali, aku harus memilih—kembali pada yang seharusnya, atau bertahan pada cinta yang telah menjadi rumahku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uzumaki Amako, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 19

Kami keluar dari ruang VIP bersama.

Langkahku pelan di samping Adrian, tanganku kembali berada di pegangan kursi rodanya—kali ini tanpa ragu seperti sebelumnya. Namun suasana di antara kami… tidak lagi sama seperti saat kami masuk.

Ada sesuatu yang berubah.

Hal kecil.

Tapi terasa jelas.

Begitu pintu terbuka, suara pesta kembali menyambut kami. Lampu, musik, dan percakapan kembali mengisi udara, seolah tidak ada apa pun yang terjadi di dalam tadi.

Tapi aku tahu.

Dan Adrian juga tahu.

Tatapan beberapa tamu langsung kembali tertuju pada kami.

Namun kali ini… berbeda.

Bukan hanya penasaran.

Ada sesuatu yang lain.

Bisikan.

“…tadi mereka di atas ya?”

“Baru keluar dari VIP?”

“Vanessa juga ke sana tadi…”

Aku pura-pura tidak mendengar.

Aku hanya berjalan.

Mendorong Adrian dengan tenang.

Namun tiba-tiba—

Seorang pria paruh baya menghampiri kami dengan senyum lebar.

“Adrian! Sudah lama tidak bertemu.”

Adrian menoleh sedikit. “Pak Surya.”

Mereka berjabat tangan singkat.

Pria itu lalu melirik ke arahku.

“Ini pasti istrimu?” tanyanya.

Aku mengangguk kecil. “Iya, Pak.”

“Wah…” ia tersenyum ramah, tapi matanya menilai. “Kamu beruntung sekali, Adrian.”

Aku sedikit terdiam.

Beruntung?

Namun sebelum aku sempat berpikir lebih jauh, Adrian menjawab singkat—

“Iya.”

Aku langsung menoleh ke arahnya.

Ia tidak menatapku.

Tapi jawabannya…

Membuat dadaku terasa hangat sesaat.

Pria itu tertawa kecil. “Bagus, bagus. Jaga dia baik-baik ya.”

Adrian hanya mengangguk kecil.

Percakapan itu tidak lama.

Namun setelah pria itu pergi—

Aku masih memikirkan satu hal.

“Iya.”

Satu kata itu.

Kenapa… terasa berbeda?

Kami bergerak ke sisi ruangan yang lebih tenang.

Dekat jendela besar yang menghadap ke luar.

Aku berhenti mendorong kursi rodanya.

Dan untuk beberapa detik, kami hanya diam.

Lalu aku berkata pelan—

“Tadi…”

Ia menoleh sedikit.

“…terima kasih lagi.”

Ia menghela napas kecil.

“Kamu sudah bilang itu.”

“Aku tahu,” jawabku. “Tapi aku tetap mau bilang.”

Sunyi.

Lalu aku melanjutkan—

“Kalau bukan karena itu… mungkin dia akan terus menekan.”

Adrian menatap lurus ke depan.

“Dia memang seperti itu.”

Nada suaranya datar.

Tapi ada sesuatu di dalamnya.

Sesuatu yang… lama.

Aku ragu sejenak.

Namun akhirnya bertanya—

“Kamu… masih memikirkan dia?”

Pertanyaan itu keluar pelan.

Hati-hati.

Aku tidak ingin melewati batas.

Adrian tidak langsung menjawab.

Beberapa detik ia hanya diam.

Lalu berkata—

“Tidak.”

Jawabannya cepat.

Terlalu cepat.

Aku tidak tahu kenapa… tapi aku tidak sepenuhnya percaya.

Namun aku tidak menekan.

“Aku hanya ingin tahu,” kataku pelan. “Supaya aku tidak salah langkah.”

Ia menoleh ke arahku.

Tatapannya… lebih lembut dari biasanya.

“Kalau kamu salah langkah,” katanya, “aku akan bilang.”

Aku mengangguk kecil.

“Itu cukup.”

Acara mulai memasuki bagian utama.

Lampu sedikit diredupkan.

Musik berubah menjadi lebih formal.

Dan seseorang naik ke panggung kecil di tengah ruangan.

Vanessa.

Ia berdiri di sana dengan percaya diri.

Semua mata langsung tertuju padanya.

“Terima kasih sudah datang malam ini,” katanya dengan suara lembut namun jelas.

Semua orang diam.

Mendengarkan.

“Aku sangat menghargai kehadiran kalian semua…”

Ia tersenyum.

Berbicara dengan elegan.

Sempurna.

Namun aku tahu—

Itu hanya bagian luar.

“…dan tentu saja, ada beberapa orang spesial yang ingin aku ucapkan terima kasih secara langsung.”

Tanganku sedikit menegang.

Entah kenapa…

Aku punya firasat tidak baik.

Vanessa menatap ke arah kerumunan.

Pelan.

Seolah mencari seseorang.

Lalu—

Tatapannya berhenti.

Di kami.

Senyumnya melebar.

“Adrian,” katanya.

Suasana langsung berubah.

Semua orang menoleh.

Aku bisa merasakan puluhan mata kini tertuju pada kami.

Adrian tetap diam.

Tidak bergerak.

Vanessa melanjutkan—

“Terima kasih sudah datang malam ini.”

Nada suaranya terdengar tulus.

Tapi aku tahu—

Tidak.

“Dan…” ia berhenti sejenak, lalu tersenyum lebih manis, “aku juga ingin mengundangmu ke atas.”

Sunyi.

Undangan itu jelas.

Terbuka.

Di depan semua orang.

Aku langsung menoleh ke Adrian.

Menunggu reaksinya.

Beberapa detik ia tidak bergerak.

Lalu—

Ia berkata pelan—

“Kita pergi.”

Aku sedikit terkejut. “Ke atas?”

“Iya.”

Jawabannya tegas.

Aku mengangguk.

“Baik.”

Kami bergerak perlahan menuju panggung.

Langkah demi langkah.

Semua orang memperhatikan.

Bisikan semakin terdengar.

“Dia benar-benar naik…”

“Vanessa dan Adrian…”

“Ini akan menarik…”

Aku menarik napas pelan.

Berusaha tetap tenang.

Begitu sampai di depan panggung, beberapa orang membantu memberi jalan agar Adrian bisa naik melalui jalur khusus.

Aku tetap di belakangnya.

Tidak melepaskan.

Dan saat kami sampai di atas—

Vanessa berdiri tepat di depan kami.

Senyumnya tidak berubah.

Namun matanya—

Tajam.

“Terima kasih,” katanya pelan.

Adrian tidak menjawab.

Vanessa lalu menoleh ke arah semua tamu.

“Malam ini… ada sesuatu yang ingin aku bagikan,” katanya.

Aku langsung merasa tidak enak.

Sangat tidak enak.

“Sebagai seseorang yang pernah menjadi bagian penting dalam hidup Adrian…”

Jantungku langsung berdetak lebih cepat.

“…aku rasa tidak ada salahnya untuk mengenang sedikit masa lalu.”

Ruangan langsung hening.

Aku menatapnya.

Dan saat itulah aku sadar—

Ini bukan sekadar pesta.

Ini jebakan.

Dan kami…

Sudah berdiri tepat di tengahnya.

Ruangan itu mendadak terasa lebih dingin.

Semua mata tertuju ke panggung.

Ke arah kami.

Ke arah Vanessa.

Dan… ke arah masa lalu yang sengaja ia buka.

Aku berdiri sedikit di belakang Adrian, tanganku masih memegang kursi rodanya. Jantungku berdetak lebih cepat dari sebelumnya.

Naluri dalam diriku langsung mengatakan satu hal—

Ini tidak baik.

Vanessa tersenyum manis, lalu memberi isyarat kecil ke arah seseorang di sisi panggung.

Lampu sedikit diredupkan.

Layar besar di belakangnya menyala.

Dan dalam satu detik—

Foto pertama muncul.

Aku langsung membeku.

Itu Adrian.

Berdiri.

Tanpa kursi roda.

Dengan jas rapi.

Dan di sampingnya—

Vanessa.

Mereka terlihat… sempurna.

Serasi.

Bahagia.

Beberapa tamu mulai berbisik.

“Oh… itu dulu ya?”

“Dia dulu bisa jalan…”

“Vanessa dan Adrian memang pernah dekat…”

Setiap bisikan itu seperti pisau kecil.

Aku menatap layar.

Lalu tanpa sadar—

Menoleh ke Adrian.

Wajahnya tetap tenang.

Terlalu tenang.

Namun tangannya…

Sedikit menggenggam sandaran kursinya lebih erat.

Vanessa mulai bicara lagi.

“Dulu,” katanya lembut, “kami punya banyak kenangan indah.”

Foto berganti.

Tertawa bersama.

Makan malam.

Acara resmi.

Liburan.

Semua terlihat seperti cerita cinta yang sempurna.

Aku menunduk sedikit.

Bukan karena kalah.

Tapi karena… aku tahu ini bukan untukku.

Ini untuk semua orang.

Untuk menunjukkan—

Bahwa aku… hanya pengganti.

“Sayangnya,” lanjut Vanessa, nada suaranya berubah sedikit, “hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana.”

Layar berubah lagi.

Namun kali ini…

Bukan foto bahagia.

Rumah sakit.

Adrian di kursi roda.

Wajahnya lebih dingin.

Lebih tertutup.

Dan—

Tidak ada Vanessa di sana.

Sunyi.

Beberapa tamu terlihat canggung.

Namun Vanessa tetap tersenyum tipis.

“Banyak hal berubah,” katanya. “Termasuk… keputusan.”

Aku bisa merasakan suasana mulai tidak nyaman.

Tapi Vanessa belum selesai.

Ia menoleh ke arah kami.

Lebih tepatnya—

Ke arah Adrian.

“Aku hanya ingin bertanya satu hal,” katanya.

Nada suaranya lembut.

Tapi jelas… tajam.

“Kalau waktu bisa diputar kembali…”

Sunyi.

Semua orang diam.

Menunggu.

“…apakah kamu akan memilih hal yang sama?”

Jantungku berhenti sesaat.

Pertanyaan itu—

Bukan untuk publik.

Itu pribadi.

Terlalu pribadi.

Aku langsung menatap Adrian.

Menunggu.

Cemas.

Marah.

Takut.

Semua bercampur.

Beberapa detik berlalu.

Tidak ada suara.

Tidak ada gerakan.

Lalu—

Adrian menggerakkan kursi rodanya sedikit maju.

Aku refleks mengikutinya.

Namun kali ini—

Ia berhenti tepat di tengah panggung.

Di bawah sorotan lampu.

Dan untuk pertama kalinya malam itu—

Ia berbicara lebih keras.

Cukup untuk didengar semua orang.

“Tidak.”

Jawaban itu langsung jatuh.

Tanpa ragu.

Tanpa jeda.

Ruangan langsung sunyi total.

Vanessa sedikit terdiam.

Namun Adrian belum selesai.

“Aku tidak akan memilih hal yang sama.”

Ia menatap lurus ke depan.

Bukan ke Vanessa.

Bukan ke layar.

Tapi… ke semua orang.

“Aku tidak akan memilih orang yang pergi saat aku jatuh.”

Sunyi.

Tegang.

Aku bisa merasakan perubahan di ruangan itu.

Vanessa tidak tersenyum lagi.

Wajahnya… benar-benar berubah.

Adrian melanjutkan—

“Dan aku tidak akan kembali ke masa lalu yang tidak memilihku.”

Kalimat itu…

Selesai.

Jelas.

Tidak bisa disalahartikan.

Beberapa orang mulai saling pandang.

Bisikan berubah arah.

Bukan lagi tentang masa lalu.

Tapi tentang sekarang.

Tentang siapa yang benar.

Vanessa menarik napas pelan.

Mencoba tetap tenang.

Namun kali ini… sulit.

Ia menatap Adrian.

Lalu perlahan—

Tatapannya bergeser ke arahku.

Dan aku bisa melihat sesuatu di sana.

Bukan lagi sekadar meremehkan.

Tapi… kesadaran.

Bahwa ia mulai kehilangan kendali.

Namun sebelum ia bisa berkata apa-apa—

Adrian tiba-tiba mengulurkan tangannya ke arahku.

Aku sedikit terkejut.

“Alina.”

Aku menatapnya.

“Iya?”

“Ke sini.”

Aku melangkah mendekat.

Dan sekali lagi—

Tanpa peringatan—

Ia menarikku.

Duduk di pangkuannya.

Di tengah panggung.

Di depan semua orang.

Napas beberapa tamu terdengar tertahan.

Aku membeku sejenak.

Namun kali ini…

Aku tidak panik.

Tanganku perlahan menahan bahunya.

Lebih tenang dari sebelumnya.

Adrian menatap lurus ke depan.

Lalu berkata—

“Ini pilihanku sekarang.”

Sunyi.

Kalimat itu sederhana.

Tapi dampaknya—

Besar.

Sangat besar.

Aku bisa merasakan tatapan semua orang sekarang tertuju padaku.

Bukan lagi sekadar penasaran.

Tapi… melihat.

Mengakui.

Vanessa berdiri diam.

Benar-benar diam.

Senyumnya hilang.

Wajahnya tidak lagi bisa menyembunyikan apa pun.

Untuk pertama kalinya—

Ia kalah.

Perlahan, Adrian memutar kursi rodanya.

Menghadap ke arah keluar panggung.

“Ayo,” katanya pelan padaku.

Aku mengangguk kecil.

Aku berdiri.

Namun kali ini—

Bukan sebagai orang yang tertinggal.

Aku berdiri… di sampingnya.

Kami turun dari panggung bersama.

Dan tidak ada satu pun orang yang menghentikan kami.

Tidak ada yang berani.

Karena semua sudah jelas.

Malam itu—

Bukan Vanessa yang mengendalikan permainan.

Tapi Adrian.

Dan tanpa kusadari—

Aku… ada di sisinya.

Bukan sebagai bayangan.

Bukan sebagai pengganti.

Tapi sebagai seseorang yang—

Dipilih.

Benar-benar dipilih.

1
Siti Jubaedah
trima kasih karyanya semoga lebih semangat membacanya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!