NovelToon NovelToon
Suami Rahasia

Suami Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Beda Usia
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: candra pipit

Clarindra Arabella, siswi kelas tiga SMA yang tinggal selangkah lagi menuju kelulusan, tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah dalam satu keputusan sepihak.
Di saat teman-temannya sibuk mempersiapkan ujian akhir dan masa depan, Clarindra justru dipaksa menerima kenyataan pahit—ia harus menikah.
Bukan dengan pria seusianya.
Melainkan dengan seorang pria dewasa… yang bahkan tak pernah ia kenal.
Demi alasan sederhana namun kejam—orang tuanya akan pindah ke luar negeri, dan mereka tak ingin meninggalkan putrinya sendirian.
Di balik keputusan itu, tersembunyi kesepakatan antara dua keluarga besar.
Nama besar keluarga Hardinata menjadi jaminan keamanan Clarindra… sekaligus awal dari keterikatannya.
Zavian Hardinata.
Pria itu bukan sekadar pewaris keluarga kaya raya. Ia adalah sosok bebas, penuh pesona, namun sulit dikendalikan. Seseorang yang lebih terbiasa bermain dengan hidupnya sendiri… daripada terikat dalam satu hubungan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon candra pipit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tak gendong kemana-mana

Pagi itu rumah benar-benar sibuk. Sejak subuh Mommy Eliza sudah sibuk mondar-mandir memastikan semua siap untuk agenda jalan-jalan keluarga. Daddy Alan bahkan lebih heboh lagi. Kamera mahalnya sudah menggantung di leher.

“Cepat sedikit kalian!” seru Mommy Eliza dari ruang tengah.

“Ini mau liburan apa pindahan rumah?”

Clarinda yang baru turun tangga dengan hoodie cream longgar dan celana jeans langsung menguap lebar. Ia melihat dua tas berukuran jumbo dan perlengkapan lainnya yang sudah siap di sisi sofa.

“Masih pagi banget Mom...”

“Sudah jam delapan, sayang... Kita sudah kesiangan.

"Gara-gara Pak Tua tuh Mom," sahut Clarinda asal ketika melihat Zavian turun dari tangga setelah dirinya.

Sejenak kesibukan orang-orang terhenti. Mereka menatap Clarinda dan Zavian bergantian.

"Kamu panggil dia apa?" Tanya Mommy Eliza.

Clarinda kikuk menggaruk tengkuknya. "Waduh jangan-jangan emak nya marah nih," batin Clarinda.

Gadis itu nyengir kuda. "Pak Suami, Mom." Ia melirik Zavian yang menatapnya aneh. "Panggilan sayang, hehehehe..."

Clarinda melirik Zavian lagi. Pria itu memakai kaos hitam polos dan jaket tipis. Casual sekali. Tak dibantah dia... Tampan.

Sial.

Pak tua itu kalau nggak nyebelin ya ganteng.

Clarinda buru-buru mengalihkan pandangan sebelum ketahuan.

“Zav!” panggil Daddy Alan antusias. “Nanti foto kalian harus banyak. Pose romantis juga.”

“Ah Daddy, nggak usah. Aku nggak hobi foto." Clarinda langsung protes.

Pret! Dalam hati Zavian langsung menyangkal. Mana ada remaja centil barbar seperti Clarinda tidak suka berfoto. Noh lihat memory pnselnya pasti dipenuhi dengan foto-foto selfie nya berbagai gaya.

“Kenapa malu? Kalian kan pasangan muda.”

“Pasangan tua dan muda,” sahut Clarinda.

Zavian mendengar. Pria itu menoleh pelan lalu menyipitkan mata.

“Ada masalah?”

“Enggak... Nggak ada kok." Lalu suaranya dipelankan sedikit. "Pak Tua baper!"

“Mulutmu!"

Kakek Damar yang duduk santai sambil minum teh malah tertawa keras.

“Hahaha! Bagus Claa! Dari dulu memang Zavian perlu dilawan sedikit.”

Zavian mendengus kesal melihat Clarinda yang menertawainya. Gadis itu seolah berkata— “Lihat kan? Kakek aja dukung aku.”

'Bener-bener ngeledek dia!' batin Zavian.

*

Tempat wisata yang mereka kunjungi ternyata sebuah kawasan alam dekat pegunungan. Udara sejuk langsung menyambut begitu mereka turun dari mobil.

Clarinda langsung menarik napas panjang.

“Wah enak banget udaranya.” senyum Clarinda mengembang lebar.

“Jangan mencar sendiri,” tegur Zavian otomatis.

“Kau pikir aku bisa bebas berekspresi, ada mereka?" Clarinda melihat ketiga orang tua di belakang Zavian.

"Pintar." Pujian Zavian seperti ledekan. "Dengan begitu kamu nggak akan bertingkah macam-macam."

"Emang kau pikir aku anak TK apa?"

“Tapi kelakuanmu sebelas duabelas.”

Clarinda mendelik.

"Pak Tua resek!"

Daddy Alan langsung mengangkat kameranya.

Cekrek!

“Bagus! Natural!” katanya puas.

“Loh... Daddy jangan foto pas aku lagi jelek dong!” Clarinda cemberut.

“Justru candid itu seni.”

“Kalau jelek namanya musibah.”

Kakek Damar ngakak lagi.

Hari itu mereka benar-benar terlihat seperti keluarga harmonis. Mommy Eliza menggandeng tangan Clarinda ke sana kemari. Kakek Damar sibuk mengomentari semua makanan yang mereka lihat. Daddy Alan tak berhenti memotret.

Sedangkan Zavian...

Pria itu lebih sering jadi satpam pribadi Clarinda.

“Jangan naik situ.”

“Pelan jalannya.”

“Clarinda lihat depan.”

“Clarinda!”

“Clarinda!!”

“Apa sih?!” Clarinda akhirnya.

“Lihat tuh di sampingmu jurang, On!” 0on maksudnya.

"Zavian, kenapa sih bentak-bentak!" Protes Mommy Eliza.

"Ndak papa Mommy aku sudah terbiasa," wajah Clarinda dibuat menyedihkan.

"Zaviiiiiii!!!" Teriak mommy nya.

Zavian lagi-lagi hanya bisa mendengus berjalan mendahului Clarinda dan mommy nya. Ingin rasanya ia seret bocah ini lalu menjejali mulutnya pakai daun.

Bukan tanpa sebab Zavian jadi seposesif itu. Ini perintah Mommy Eliza yang suruh mengawasi anak mantu kesayangannya itu. Apalagi dia tahu, jika tidak diawasi Clarinda bakal ngilang dari rombongan. Mengeksplor tempat ini sesuka hatinya. Jika dia beneran nyasar yang repot sudah pasti... Zavian.

"Aduh... Mommy aku capek banget... Kakiku sudah lemas..." Clarinda jalannya sempoyongan. Di depan mereka jalan menanjak. Malas dia. "Istirahat sebentar saja ya..." Rengeknya.

"Sedikit lagi sayang... Diatas ada tempat peristirahatan," Mommy Eliza menyemangati. "Barang-barang kita pasti sudah sampai disana duluan."

Perlengkapan piknik yang seabrek tadi memakai jasa porter untuk sampai ke atas. Tempat peristirahatan para wisatawan.

"Tapi aku mau pingsan rasanya." Clarinda menjatuhkan bok0ngnya sendiri di tanah berlagak lemas.

"Eeeiiiii, sayang... Haduh...," Mommy Eliza panik.

"Zaviiii... Stop. Kau tak lihat istrimu kelelahan."

Zavian yang berada di depan bersama Daddy dan Kakek Damar berhenti. Ia berbalik dan menghela nafas.

"Jangan drama deh. Masa kalah sama Kakek yang nah tanah... Aduh!!!" Zavian memekik, memegang kepalanya. Tongkat Kakek Damar baru saja mendarat.

"Anak kurang ajar!" Omel pria sepuh itu. "Cepat gendong istrimu!"

Zavian tak segera beranjak sampai tongkat sang Kakek akan menghantamnya lagi.

"Haiiishh... Merepotkan!" Gerutu Zavian menghampiri Clarinda.

Kini ia tepat ada di depan gadis itu. Clarinda mendongak. "Puas kau!" Ucapan itu cuma Clarinda yang mendengar.

Clarinda memasang muka jutek pada Zavian lalu melirik mommy Eliza dengan wajah melas. "Mommy dan yang lain pergi duluan aja. Aku tetap disini gak papa kok... Suamiku juga terlihat lelah. Dia pasti nggak kuat ngendong aku..."

"Zavian... Ayo lekas, makin panas ini," titah mommy Eliza.

"Kau mau di gendong gaya apa?!" Ucap Zavian ketus. "Bridal, koala, bekalang atau karung beras?!"

Clarinda tersenyum penuh kemenangan.

Kini disinilah dia berada. Di belakang punggung Zavian. Gadis itu teramat senang menyusuri jalan menanjak tanpa harus merasakan pegal di kedua kakinya.

"Sepertinya kau memang senang menempel padaku," sindir Zavian.

"Terpaksa," balas Clarinda singkat.

"Kuingatkan sekali lagi."

"Apa?"

"Jangan jatuh cinta padaku. Aku sama sekali takkan melirik bocah sepertimu."

Plak!

Clarinda langsung memukul pundak Zavian. "Cih, pede banget sih Lo! Gue nggak mungkin klepek-klepek sama pria tua kayak Lo!"

"Mulut mu benar-benar pingin dimasukin ranjau ya!"

"Kau yang mulai!" Balas Clarinda ketus. "Ingat umur... Bapak Zavian. Mata ku ini masih normal, masih bisa bedain mana yang kenceng dan yang kendur. Lagi pula sudah ada seseorang di hatiku."

Zavian diam tak menyahuti. Mendengar Clarinda punya seseorang rasanya agak aneh. Ia merasa tergeser atau apalah itu... Entahlah, rasanya tak nyaman.

"Setelah lulus nanti, aku akan nembak dia lebih dulu... Awwww!!!!" Clarinda memekik. "Sakit tau!" Tanpa sadar Zavian mencubit b0kong istri bocilnya itu.

"Sekolah yang bener! Mikir cinta-cintaan!" Ketus Zavian.

"Haaaaa..." Clarinda menghela nafas panjang. "Aku tak sabar segera lulus. Terus pisah denganmu lalu menyusul keluargaku ke Jerman."

"Ngoceh aja, beo betina!" Sahut Zavian dingin.

Plak!

Lagi, Clarinda memukul pundak kokoh lelaki tampan itu. Kemarin setan, sekarang beo... Entah apalagi julukan yang lelaki itu sematkan untuk Clarinda.

Sementara Daddy Alan yang menemani istrinya di belakang terus mengabadikan tingkah suami istri itu. Mereka tertawa lirih sekali agar tidak terdengar oleh anak dan mantunya.

1
Nona aan Chayank
Buaahahahhaha....🤣🤣🤣
partini
hemmm dah keliatan kamu kecintaan ma suamimu,aihhh why pihak cewek yg jatuh cinta duluan ga cowoknya ga pernah si saddddddd
Marini Suhendar
Dasar bocah😄
partini
ko cuma sama baby sitter doang apa duda anak satu ,, alamak tensi nanti suamimu cle
Titien Prawiro
Bagaimana jadinya
partini
👍👍👍
Erna Riyanto
ihh..pak tua bisa ae nyari kesempatan,pke pegang" segala🤣🤣
Marini Suhendar
Awas yah..nanti pada bucin kalian ya 😄
Marini Suhendar
Jangan cemburu pak tua😄
partini
ingio ingon wedus kaleee 😂😂
wah ada yg CLBK nih nanti jad jadi jendonggggg ,,
partini
kenapa selalu cewek yg klepek klepek duluan sih jarang bnggt cowoknya
partini
tinggal jaa kek yg lama cucu mu juga rada"suka keluar malam lupa pulang cucu mentu juga sama so 50/50
partini
jirrr Ampe lupa, maklumlah di club siapa sih yg ingat di rumah ga ada
partini
nah Lo habis megang apa gunung kembarnya 😂😂😂
nanti pasti terbayang bayang rasanya kenyal"
partini
😂😂😂😂 lah kaya bola di tendang
partini
hemmm SE anak kalian yg bikin ulah
partini
good story
partini
lanjut Thor Setu ceritanya
candra pipit: siap... lanjut 😍
total 1 replies
partini
lelaki bebas di luar OMG
partini
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!