Naraya Pramaswari Dhanubrata, seorang CEO muda yang dikenal dingin dan perfeksionis, terbiasa hidup dalam kemewahan. Di usianya yang terbilang matang, ia tidak lagi benar-benar percaya pada cinta, apalagi hubungan rumit.
Segalanya berubah ketika ia bertemu Sagara, pemuda tampan berusia 24 tahun yang sederhana. Namun, penuh semangat hidup. Berbeda jauh dari dunia Naraya, Sagara menjalani berbagai pekerjaan demi bertahan hidup. Mulai dari montir, ojek online, hingga pekerja paruh waktu. Meski hidupnya keras, Sagara tetap hangat, tulus, dan pantang menyerah.
Pertemuan tak terduga mereka perlahan menyeret Naraya ke dalam dunia yang tak pernah ia bayangkan. Sagara yang gigih, tanpa sadar meruntuhkan dinding hati Naraya yang selama ini terkunci rapat.
Namun, perbedaan status, usia, dan prinsip hidup menjadi tantangan besar bagi keduanya. Belum lagi seseorang dari masa lalu Naraya yang kembali hadir.
Akankah cinta mereka mampu bertahan, atau justru menjadi luka yang tak terhindarkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Begitu tiba di kantor pusat, Tiwi sudah bersiap menyambutnya. Asisten yang selalu sigap itu langsung berlari kecil ke arah Nara begitu melihat wanita itu keluar dari lift.
"Selamat pagi, Nona."
Nara hanya mengangguk singkat sambil melangkah menuju ruangannya. Wajahnya masih tenang, tetapi sorot matanya terlihat jauh lebih dingin dari biasanya.
Begitu Nara masuk ke ruangannya, Tiwi langsung mengikuti masuk lalu menutup rapat pintunya.
"Katakan semua yang kau tahu," ucap Nara lugas sambil duduk di kursi kebesarannya.
Tiwi tampak ragu sesaat sebelum akhirnya mulai menjelaskan. "Dari informasi yang saya dapat, pria yang menyabotase mobil Nona, semalam memang sudah berhasil ditangkap. Namun, saat diinterogasi, dia hanya menyebut bahwa yang memberi perintah padanya berasal dari keluarga Dhanubrata. Selebihnya pria itu memilih bungkam."
Tatapan Nara langsung berubah tajam. "Lalu?"
"Saya berniat datang ke kantor polisi pagi ini untuk mencari informasi lebih lanjut, tapi ...." Tiwi menggantung kalimatnya.
Nara mengernyit tipis. "Tapi apa?" tanyanya tak sabar.
Tiwi menelan ludah sebelum menjawab pelan. "Pria itu ditemukan tewas di dalam selnya pagi tadi."
Ruangan langsung hening. Nara perlahan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Ekspresinya tetap datar. Terlalu datar malah. Namun, jemarinya perlahan mengetuk meja kaca di depannya dengan ritme pelan. Satu-satunya tanda bahwa pikirannya sedang bekerja keras.
"Bunuh diri?" tanyanya akhirnya.
Tiwi menggeleng pelan. "Belum ada kepastian. Tapi pihak kepolisian menyatakan kasusnya masih diselidiki."
Nara terkekeh lirih tanpa humor. "Terlalu cepat."
Tiwi diam, karena ia sendiri berpikir hal yang sama. Semalam pria itu masih hidup, tapi pagi ini dinyatakan tewas. Dan kebetulan seperti itu jarang terjadi di dunia keluarga besar seperti Dhanubrata.
Nara memejamkan mata beberapa detik. Kakeknya, Seokjin, Wirahadi, Marsella. Satu persatu nama itu terus muncul di kepalanya.
Namun, buru-buru ia menggeleng, menepis semua dugaan itu. Ia kembali berpikir. Bisa saja pria itu sengaja menyebut nama keluarganya hanya untuk membuat kesalahpahaman.
Nara masih terus bergulat dengan pikirannya, tiba-tiba ...
BRAK.
Pintu ruangan terbuka tiba-tiba tanpa diketuk lebih dulu.
Tiwi langsung menegang. Sementara Nara perlahan membuka matanya dan mendapati Seokjin berdiri di sana dengan wajah dingin.
Pria itu masih mengenakan setelan gelap rapi, seolah baru selesai menghadiri rapat penting. Namun, tatapannya sejak tadi hanya tertuju pada Nara. Dan terlihat jelas, ia sedang menahan emosi.
"Keluar," ucapnya singkat pada Tiwi.
Tiwi refleks menoleh ke arah Nara meminta izin. Nara mengangguk pelan.
Setelah Tiwi keluar dan pintu kembali tertutup, suasana ruangan langsung terasa jauh lebih berat.
Seokjin berjalan mendekat perlahan. "Aku menghubungimu sejak pagi," ucapnya dingin. "Tapi kau malah sengaja mengabaikanku."
Nara bersandar santai di kursinya. "Aku sedang tidak ingin bicara dengan siapa pun."
"Kecuali montir itu?"
DEG.
Tatapan Nara langsung naik. Seokjin tersenyum tipis. Namun, sama sekali tidak terlihat hangat.
****
Di sisi lain.
Sagara baru saja sampai di bengkel tempatnya bekerja. Pagi itu ia datang begitu terlambat karena motornya baru diantarkan ke kontrakannya.
Begitu turun dari motor, ia langsung melepas helmnya sambil berjalan masuk ke area bengkel. Namun, belum sempat melangkah jauh, salah satu montir senior menghampirinya.
"Nak Aga," panggil pria itu. "Tadi ada yang nyariin kamu."
Alis Sagara langsung terangkat tipis. "Siapa, Bang?" perempuan?"
Bang Dori malah menggeleng. "Laki-laki. Datang naik mobil mahal. Pakai jas juga. Orangnya tinggi besar."
Langkah Sagara langsung terhenti. Entah kenapa firasatnya mendadak tidak enak. "Ada perlu apa dia nyari saya?"
"Abang juga kurang paham." Bang Dori mengangkat bahu. "Dia cuma nanya kamu. Pas Abang bilang kamu belum datang, dia malah langsung pergi lagi."
Sagara terdiam beberapa detik. Mobil mahal, pria berjas. Mencarinya sepagi ini, dan anehnya yang justru muncul di kepala Sagara justru wajah Samudra.
DEG.
Rahang Sagara perlahan mengeras. Tatapannya beralih ke jalan raya di depan bengkel dengan sorot mata yang berubah tajam. Untuk pertama kalinya sejak bertemu Nara, ia mulai merasa dirinya ikut terseret terlalu jauh ke dalam masalah keluarga wanita itu.
Padahal sejak awal, ia sama sekali tidak ingin terlibat. Semalam hanyalah kebetulan, ia hanya ingin membantu Tiwi berpura-pura menjadi kekasih Nara.
Sagara menghembuskan napas panjang sambil mengusap wajahnya kasar. Ia sudah hidup cukup tenang selama ini. Bekerja di bengkel, menjadi tukang ojek sambilan, lalu pulang ke rumah kontrakan sederhananya. Ia tidak ingin hidupnya kembali berubah rumit hanya karena terlibat dengan wanita bernama Naraya Dhanubrata.
Wanita yang sejak awal berasal dari dunia yang berbeda darinya saat ini. Dan semakin jauh ia masuk, semakin Sagara sadar kalau dunia Nara bukan sekedar tentang kekayaan, melainkan juga permainan kekuasaan yang bisa menghancurkan siapa saja termasuk dirinya.
"Ga!"
Suara Andi dari dalam bengkel membuat Sagara menoleh.
"Cepet sini! Ada pelanggan nunggu!"
Sagara terdian sebentar sebelum akhirnya menjawab singkat. "Iya."
Namun saat ia hendak melangkah masuk, sebuah mobil hitam perlahan melintas di depan bengkel. Kacanya gelap, tidak terlihat siapa di dalamnya. Tetapi mobil itu melambat beberapa detik tepat di depan Sagara. Seolah sengaja memperhatikannya lalu pergi begitu saja. Dan entah mengapa firasat kurang baik di dada Sagara tiba-tiba terasa semakin kuat.
*** bersambung.