Pada jaman kuno, pertempuran besar terjadi antara Dewa dan Iblis, yang menyebabkan dunia hancur.
Satu juta tahun setelah pertempuran itu terjadi. Dewa dan Iblis menghilang, seolah-olah menjadi dongeng untuk anak kecil yang diceritakan oleh orang tuanya.
Manusia-manusia semakin kuat, tumbuhan memiliki kesadarannya sendiri, bahkan suku binatang buas mulai bangkit berkuasa.
Mengisahkan tentang kisah seorang Tuan Muda keluarga Zhou yang terlahir dari orang tua nya yang merupakan dua keberadaan terkuat di Wilayah Timur. Namun, dia terlahir dengan kondisi Akar Spiritual yang cacat, membuatnya di anggap sebagai Aib keluarga, bahkan tunangannya pun memilih untuk membatalkan pernikahan mereka.
Di tengah-tengah rasa putus asa, dia bertemu dengan secercah kesadaran Dewa, yang memberinya kesempatan untuk bangkit, tetapi menanggung misi untuk menyalakan sembilan Api Jiwa sang dewa yang ikut terkubur di Reruntuhan Dewa.
Namun, di mana Reruntuhan Para Dewa dan Iblis itu berada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon APRILAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RPD: Chapter 18
"Arena Bela Diri? Kenapa guru tiba-tiba menginginkan kita untuk datang ke arena? Apakah ada murid-murid yang ingin menantang kita?" gumam Xiao Ling'er sangat begitu terkejut dan penuh tanda tanya.
Mendengus!
"Cih! Memangnya... ada murid Sekte Embun Pagi kita ini yang bisa menandingi kita? Tingkatan ranah kita saja sudah hampir menyamai para tetua." kata Chen Dong. Walaupun ia juga cukup terkejut, tetapi jika memang murid-murid Sekte Embun Pagi ingin menantang nya, ia sangat percaya diri dengan kekuatannya sendiri.
"Sebaiknya, kita lihat saja dulu. Ini tidak sesederhana itu! Membuat guru sampai memanggil kita seperti itu, aku rasa ini sangat serius. Kalian juga tahu, guru tidak pernah menanggapi tantangan para murid sekte jika ada yang menantang kita." ujar Shen Mu
Chen Xuan hanya terdiam menyikapi. Biar bagaimanapun, dia hanyalah murid baru di sekte ini, dia belum sepenuhnya tahu tentang murid-murid di Sekte Embun Pagi. Bahkan, selama tiga Minggu itu, Chen Xuan hanya fokus berlatih.
Saat itu, Shen Mu, memimpin kelompok itu dan bergegas menuju Arena Bela Diri Sekte Embun Pagi. Walaupun Shen Mu adalah murid Ketua Sekte dan memiliki tingkatan ranah yang paling rendah, tetapi Shen Mu adalah murid pertama yang di angkat menjadi murid Ketua Sekte, terlebih lagi Shen Mu juga memiliki usia yang lebih tua dari ketiga adik seperguruannya.
Tidak lama dari itu, kelompok yang dipimpin oleh Shen Mu pun tiba di tempat itu 'Arena Bela Diri'.
Sudah ada begitu banyak murid Sekte Embun Pagi yang mengenakan pakaian serba putih yang berada di tepi arena. Namun, pandangan Chen Xuan terfokuskan kepada dua orang yang berdiri di tengah-tengah Arena Bela Diri.
Dari kejauhan, Chen Xuan merasa itu tidak mungkin. Namun, ketika mereka terus berjalan mendekati arena, kedua sudut mata Chen Xuan pun seketika melebar, di saat sepasang matanya menangkap dua orang yang sangat begitu familiar.
"Hm! Siapa kedua orang itu? Aku rasa, mereka bukan murid sekte kita!" gumam Xiao Ling'er.
"Zhou Xiaowang! Huan Yu! Ke— kenapa mereka datang ke sini ...?!" gumam Chen Xuan dengan nada yang rendah, hampir tak terdengar.
Namun, Chen Dong yang berjalan bersisian di samping Chen Xuan, mendengar semua ucapan Chen Xuan.
Lalu, ia pun berbicara, "Junior Chen! Kau ... mengenal mereka?" tanya Chen Dong, telunjuknya mengarah kepada dua orang yang berada di tengah-tengah arena, tetapi pandangannya menghadap Chen Xuan sembari terus berjalan.
Chen Xuan hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan Chen Dong, hingga mereka pun tiba di tepi arena.
Prok! Prok! Prok!
Zhou Xiaowang bertepuk tangan di saat ia melihat Chen Xuan yang baru saja tiba bersama rekan-rekannya. Lalu, ia pun berjalan dengan langkah yang begitu sombong, raut wajahnya yang sombong, dan segaris senyuman sinis dengan sorot matanya yang menatap Chen Xuan dengan sangat meremehkan.
"Ternyata benar. Kau ... ada di sini, kakak!" seru Zhou Xiaowang, berbicara dengan sangat begitu dingin dan ekpresi wajahnya yang mengejek.
"Xiaowang, kenapa kau berada di sini?" tanya Chen Xuan, mencoba untuk tetap tenang walaupun menyimpan banyak pertanyaan atas kedatangan saudara dan juga mantan tunangannya itu.
"Kenapa ...?!" kata Zhou Xiaowang, raut wajahnya menyeringai, "Tentu saja ... tentu saja untuk melihat kakak sepupuku sampahku yang tak berguna ini. Apa kau pikir... aku ingin bergabung dengan sekte bobrok ini?" sambung Zhou Xiaowang dengan nada yang ketus, penuh ejekan.
Tidak ada yang tidak marah. Semuanya sangat marah dan kesal ketika Zhou Xiaowang yang tidak hanya mencela Chen Xuan, bahkan Sekte Embun Pagi pun ia katakan sebagai Sekte yang bobrok.
"Sombong sekali!"
"Siapa orang ini? Beraninya dia menghina Sekte Embun Pagi!"
Murid-murid berteriak marah. Tidak terima dengan ejekan yang dilontarkan oleh Zhou Xiaowang. Namun, murid-murid Sekte Embun Pagi memiliki bakat dan kemampuan yang terbatas. Mereka hanyalah sekelompok pemuda yang hanya berada pada tingkatan ranah tingkat satu.
Sedangkan Zhou Xiaowang, ia merupakan seorang kultivator Ranah Lima Elemen, dan Huan Yu— yang telah berada di tingkatan ranah Manifestasi Qi tahap menengah.
Jika dibandingkan dengan murid-murid yang disebut sebagai jenius Sekte Embun Pagi, Huan Yu saja... sudah sebanding dengan Xiao Ling'er yang juga berada pada tingkatan ranah Manifestasi Qi.
Chen Xuan menghela nafas panjangnya.
"Hm! Xiaowang! Pulang lah! Aku baik-baik saja di sini, kau tidak perlu datang ke sini lagi untuk melihat ku." ujar Chen Xuan dengan nada yang rendah.
"Ha ha haa..." Zhou Xiaowang tertawa terbahak-bahak, "justru itu! Justru karna kau baik-baik saja maka dari itu aku datang ke sini!" sambung Zhou Xiaowang, berbicara dengan nada yang meninggi dan angkuh.
Ledakan!
Luapan energi Qi dari tubuh Xiao Ling'er meledak-ledak. Membuat udara disekitarnya seolah-olah terbakar oleh elemen api miliknya. Membuat semua orang terkejut, bahkan Huan Yu dan juga Zhou Xiaowang, mundur selangkah karena hempasan itu.
Dari tubu Xiao Ling'er, angin itu berhembus kencang dari bawah ke atas, membuat gaunnya berkibar, rambutnya berantakan. Kedua tangan Xiao Ling'er terkepal kuat, tatapannya terhadap Zhou Xiaowang sangat begitu marah.
"Tenangkan dirimu, Ling'er!" Chen Dong menepuk bahu kanan Xiao Ling'er, lalu berjalan melewatinya, "Serahkan saja padaku!" kata Chen Dong, lagi.
Chen Dong pun berjalan maju ke tengah lapangan tembok batu bata, hingga ia pun berdiri di hadapan Zhou Xiao Wang dengan jarak tak lebih dari lima meter.
Chen Dong nampak begitu tenang dengan kedua tangannya yang berada di punggungnya. Lalu, Chen Dong pun bertanya kepada Zhou Xiaowang: "Apa yang kau inginkan, saudara Zhou, kan?"
buat kalian yang mau sawer author bisa via Gopay: 081774888228
Dana juga bisa: 081774888229
dana sama gopay cuma beda belakang nya aja
Bisa juga lewat BCA: 3520695370
semuanya a.n APRILAH
Terimakasih sudah setia membaca karyaku 🙏🙏