NovelToon NovelToon
Dari Perjodohan Yang Salah, Lahir Cinta Yang Benar

Dari Perjodohan Yang Salah, Lahir Cinta Yang Benar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Uzumaki Amako

Sejak ibu kandungku meninggal, aku hidup sebagai orang asing di rumahku sendiri. Saat perjodohan datang, harapanku hancur ketika kakak tiriku merebut segalanya dan aku dipaksa menikah dengan pria lumpuh yang tak kukenal. Namun, dari perjodohan yang tidak adil itu, aku justru menemukan ketulusan dan cinta yang selama ini tak pernah kudapatkan. Ketika kebenaran terungkap dan masa laluku ingin mengklaimku kembali, aku harus memilih—kembali pada yang seharusnya, atau bertahan pada cinta yang telah menjadi rumahku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uzumaki Amako, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 18

Langkah kami terhenti sesaat di ambang aula utama.

Lampu kristal menggantung megah di atas, memantulkan cahaya ke seluruh ruangan. Musik lembut mengalun, bercampur dengan suara percakapan para tamu yang terdengar elegan… tapi terasa dingin.

Tanganku masih berada di pegangan kursi roda Adrian.

Dan untuk pertama kalinya di tempat seperti ini…

Aku tidak mundur.

Vanessa berjalan mendekat.

Langkahnya tenang, anggun, dan penuh percaya diri. Gaun merah gelap yang ia kenakan memeluk tubuhnya dengan sempurna, membuatnya terlihat seperti pusat perhatian di ruangan itu.

Dan memang… semua orang memperhatikannya.

Namun matanya hanya tertuju pada satu orang—

Adrian.

“Adrian…” ucapnya lembut, seolah nama itu memiliki arti khusus baginya.

Aku bisa merasakan tangan Adrian sedikit menegang di sandaran kursi rodanya.

Namun wajahnya tetap datar.

Tidak berubah.

“Vanessa,” jawabnya singkat.

Tidak ada senyum.

Tidak ada kehangatan.

Vanessa berhenti tepat di depan kami.

Lalu perlahan… tatapannya bergeser ke arahku.

Senyumnya tidak hilang.

Tapi matanya berubah.

Menilai.

“Malam ini kamu datang juga,” katanya pelan, seolah terkejut—padahal jelas tidak.

“Aku pikir kamu akan menghindar.”

Adrian tidak menjawab.

Aku yang akhirnya membuka suara.

“Kami diundang,” kataku tenang.

Vanessa menoleh padaku.

Alisnya sedikit terangkat.

“Oh?” katanya ringan. “Dan kamu… memilih untuk datang?”

Aku mengangguk kecil.

“Iya.”

Sunyi sesaat.

Lalu Vanessa tersenyum lebih lebar.

“Bagus,” katanya. “Aku senang kamu tidak lari.”

Kalimat itu… terdengar seperti tantangan.

Aku tidak menjawab.

Tidak perlu.

Vanessa lalu berbalik sedikit, memberi isyarat pada pelayan yang langsung datang membawa dua gelas minuman.

Ia mengambil satu, lalu menyodorkan satu lagi ke arahku.

“Untuk menyambutmu,” katanya.

Aku menatap gelas itu.

Sebentar.

Lalu menerimanya.

“Terima kasih.”

Aku tidak langsung meminumnya.

Vanessa memperhatikan itu.

Dan aku bisa melihat sesuatu di matanya—

Seperti… kepuasan kecil.

Seolah aku baru saja melewati tes pertama.

“Adrian,” katanya lagi, kali ini lebih santai, “aku tidak menyangka kamu benar-benar datang.”

“Kamu mengundang,” jawab Adrian singkat.

“Tentu saja,” balas Vanessa. “Tapi biasanya kamu tidak peduli dengan hal seperti ini.”

Adrian tidak menanggapi.

Vanessa tertawa kecil.

Lalu berkata—

“Ah, mungkin karena sekarang kamu tidak sendiri lagi.”

Kalimat itu diucapkan ringan.

Tapi jelas mengarah padaku.

Aku tetap diam.

Namun sebelum Vanessa bisa melanjutkan, seorang pria lain datang menghampiri.

“Vanessa, selamat ulang tahun,” katanya sambil tersenyum.

Vanessa langsung beralih dengan mulus.

“Terima kasih,” jawabnya, kembali ke perannya sebagai tuan rumah yang sempurna.

Ia melirik kami sebentar.

“Kita lanjut nanti,” katanya pelan—khusus padaku.

Lalu ia pergi.

Meninggalkan kami di tengah ruangan.

Aku menghela napas kecil tanpa sadar.

Adrian langsung berkata pelan—

“Jangan minum itu.”

Aku menoleh padanya.

“Kenapa?”

“Dia tidak pernah melakukan sesuatu tanpa alasan.”

Aku menatap gelas di tanganku.

Perlahan… aku meletakkannya di meja terdekat.

“Aku juga berpikir begitu,” kataku pelan.

Adrian menatapku sekilas.

Dan untuk sesaat… ada sesuatu di matanya.

Seperti… persetujuan.

Acara berjalan seperti pesta pada umumnya.

Orang-orang datang, berbicara, tertawa, berpura-pura akrab.

Beberapa tamu mendekat untuk menyapa Adrian.

“Sudah lama tidak bertemu.”

“Bagaimana kabarmu sekarang?”

“Aku dengar kamu kembali aktif di bisnis.”

Nada mereka sopan.

Tapi tidak semuanya tulus.

Aku bisa merasakannya.

Setiap kali mereka melihat Adrian, selalu ada satu detik—

Satu detik di mana mereka melihat kursi roda itu lebih dulu.

Baru kemudian melihat dia sebagai seseorang.

Dan itu…

Aku tidak suka.

Namun Adrian tetap tenang.

Menjawab secukupnya.

Tanpa emosi berlebih.

Seolah semua itu tidak berarti.

Beberapa kali, orang-orang juga menoleh padaku.

“Ini istrimu?”

“Cantik.”

“Dari keluarga mana?”

Pertanyaan-pertanyaan yang terdengar biasa.

Tapi sebenarnya… penuh penilaian.

Aku menjawab seperlunya.

Tidak lebih.

Tidak kurang.

Dan setiap kali aku ragu—

Aku hanya mengingat satu hal:

Aku tidak sendiri.

Beberapa saat kemudian, seorang pelayan mendekat.

“Nyonya, Tuan diminta ke area VIP.”

Aku langsung menoleh ke Adrian.

Ia tampak tidak terkejut.

Seolah sudah menduga.

“Vanessa?” tanyaku pelan.

Ia mengangguk kecil.

Aku menggenggam pegangan kursi rodanya sedikit lebih erat.

“Kita pergi?”

Ia menatapku.

Beberapa detik.

Lalu berkata—

“Kamu tidak harus ikut.”

Aku menggeleng.

“Aku ikut.”

Jawabanku tegas.

Untuk pertama kalinya.

Ia tidak membantah.

“Baik.”

Area VIP berada di lantai atas.

Lebih sepi.

Lebih eksklusif.

Dan jelas… lebih pribadi.

Pintu terbuka.

Dan di dalam—

Vanessa sudah menunggu.

Sendirian.

Ia berdiri di dekat jendela besar, membelakangi kami.

Seolah sudah tahu kami akan datang.

“Cepat juga,” katanya tanpa menoleh.

Aku mendorong Adrian masuk perlahan.

Pintu tertutup di belakang kami.

Ruangan itu langsung terasa berbeda.

Lebih sunyi.

Lebih… tegang.

Vanessa akhirnya berbalik.

Matanya langsung tertuju pada Adrian.

Lalu padaku.

Senyumnya muncul lagi.

Senyum yang sama.

“Kalian cocok juga,” katanya santai.

Aku tidak menjawab.

Adrian juga diam.

Vanessa berjalan mendekat perlahan.

Langkahnya pelan.

Terukur.

Lalu berhenti tepat di depan kami.

“Jujur saja,” katanya sambil menatapku, “aku penasaran.”

Aku menatapnya balik.

“Penasaran apa?”

Senyumnya sedikit berubah.

“Berapa lama kamu bisa bertahan?”

Sunyi.

Kalimat itu jatuh begitu saja.

Tanpa basa-basi.

Tanpa topeng.

Aku tidak langsung menjawab.

Namun sebelum aku bisa bicara—

Adrian lebih dulu membuka suara.

“Cukup, Vanessa.”

Nada suaranya lebih dingin dari sebelumnya.

Vanessa tertawa kecil.

“Kenapa? Aku cuma bertanya.”

Ia menatapku lagi.

“Tapi kamu belum jawab.”

Aku menarik napas pelan.

Lalu berkata—

“Aku tidak datang ke sini untuk menjawab pertanyaan seperti itu.”

Vanessa terdiam.

Sejenak.

Lalu tersenyum tipis.

“Menarik,” katanya.

Ia melangkah lebih dekat.

“Tapi kamu harus tahu satu hal.”

Matanya tajam.

Lebih tajam dari sebelumnya.

“Tempat yang kamu tempati sekarang… dulu milikku.”

Ruangan itu terasa semakin dingin.

Aku menatapnya tanpa berkedip.

“Dan aku bisa mengambilnya kembali kapan saja.”

Sunyi.

Namun kali ini—

Aku tidak mundur.

Aku tidak menunduk.

Aku hanya berkata pelan—

“Kalau memang itu milikmu… kamu tidak akan pernah meninggalkannya.”

Vanessa membeku.

Untuk pertama kalinya.

Senyumnya hilang.

Matanya menatapku—

Benar-benar menatapku.

Dan di detik itu…

Aku tahu.

Permainan ini—

Baru saja dimulai.

Ruangan itu tiba-tiba terasa lebih sempit.

Ucapan terakhirku masih menggantung di udara, dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, ekspresi Vanessa benar-benar berubah.

Senyumnya tidak langsung kembali.

Matanya menyipit sedikit.

Menilai ulang.

Bukan lagi seperti melihat seseorang yang bisa ia kendalikan dengan mudah.

Tapi seperti melihat… lawan.

Beberapa detik hening.

Lalu—

Vanessa tertawa kecil.

Pelan.

Namun kali ini… tidak sepenuhnya santai.

“Kamu cukup berani juga,” katanya.

Aku tidak menjawab.

Aku tidak ingin memperpanjang.

Tapi sebelum aku sempat mengalihkan pandangan—

Adrian bergerak.

Tiba-tiba.

Tangannya terulur, menarik pergelangan tanganku dengan cepat.

Aku terkejut.

“Adrian—”

Belum sempat aku bereaksi, tubuhku sudah tertarik mendekat—

Dan dalam satu gerakan yang tegas namun terkontrol—

Ia menarikku duduk… di pangkuannya.

Aku membeku.

Jantungku langsung berdetak keras.

Tanganku refleks menahan bahunya agar tidak kehilangan keseimbangan.

“Duduk di sini,” katanya pelan.

Nada suaranya tenang.

Tapi jelas.

Bukan permintaan.

Perintah halus.

Aku menatapnya, kaget.

Ini… pertama kalinya dia melakukan hal seperti ini.

Dekat.

Terlalu dekat.

Aku bisa merasakan hangat tubuhnya, meski ia tetap terlihat tenang seperti biasa.

Tanganku sedikit gemetar.

Namun ia tidak melepasku.

Justru satu tangannya tetap menahan pinggangku dengan ringan—cukup untuk memastikan aku tidak bergerak.

Dan saat itu juga—

Aku sadar.

Ini bukan spontan.

Ini sengaja.

Perlahan… aku menoleh ke depan.

Ke arah Vanessa.

Dan aku langsung mengerti.

Wajah Vanessa.

Untuk pertama kalinya—

Retak.

Senyumnya tidak hilang sepenuhnya.

Tapi matanya… tidak bisa menyembunyikan reaksinya.

Terkejut.

Tidak suka.

Dan… terganggu.

Adrian menatapnya datar.

“Kalau kamu sudah selesai,” katanya tenang, “jangan buang waktu kami.”

Nada suaranya dingin.

Lebih dingin dari sebelumnya.

Vanessa menatap kami.

Lebih tepatnya—

Menatap posisiku.

Duduk di pangkuan Adrian.

Dekat.

Sangat dekat.

Dan itu jelas bukan sesuatu yang ia harapkan.

“Wah…” katanya pelan, mencoba mengembalikan senyumnya. “Aku tidak tahu kamu bisa seperti ini sekarang, Adrian.”

Ia melangkah sedikit mendekat.

“Ternyata… kamu berubah juga.”

Adrian tidak menjawab.

Tangannya masih di pinggangku.

Stabil.

Tenang.

Seolah itu posisi yang biasa.

Padahal bagiku—

Tidak.

Aku masih mencoba menenangkan jantungku sendiri.

Namun anehnya…

Aku tidak merasa tidak nyaman.

Hanya… kaget.

Dan sedikit—

Hangat.

Vanessa berhenti tepat di depan kami.

Tatapannya kembali tajam.

“Kamu serius dengan ini?” tanyanya.

Tidak jelas pertanyaannya untuk siapa.

Tapi aku tahu—

Untuk Adrian.

Adrian menatapnya lurus.

“Iya.”

Jawaban singkat.

Tapi berat.

Vanessa tertawa kecil lagi.

Namun kali ini… ada sesuatu yang dipaksakan.

“Lucu,” katanya. “Dulu kamu bahkan tidak membiarkanku menyentuhmu seperti ini.”

Sunyi.

Aku bisa merasakan tubuh Adrian sedikit menegang.

Tapi hanya sebentar.

Lalu ia berkata pelan—

“Dulu kamu pergi.”

Kalimat itu sederhana.

Tapi cukup untuk membuat ruangan kembali hening.

Vanessa tidak langsung menjawab.

Matanya menatap Adrian—

Lebih dalam dari sebelumnya.

Namun sebelum suasana berubah lebih jauh—

Adrian melanjutkan,

“Dan sekarang kamu tidak punya hak untuk mengatur apa pun.”

Nada suaranya tetap datar.

Tapi jelas.

Tegas.

Vanessa menarik napas pelan.

Lalu tersenyum lagi.

Senyum yang lebih tipis.

“Baik,” katanya. “Aku tidak akan memaksa.”

Ia melirik ke arahku.

“Untuk sekarang.”

Kalimat itu seperti ancaman halus.

Aku menatapnya balik.

Tenang.

Tidak mundur.

Vanessa mengangkat bahu kecil, lalu berbalik.

Langkahnya tetap anggun saat menuju pintu.

Namun sebelum keluar—

Ia berhenti.

Sedikit menoleh.

“Selamat menikmati pesta,” katanya.

Lalu ia pergi.

Pintu tertutup.

Dan akhirnya—

Sunyi.

Benar-benar sunyi.

Aku masih duduk di pangkuan Adrian.

Beberapa detik berlalu.

Tidak ada yang bergerak.

Tidak ada yang bicara.

Jantungku masih berdetak cepat.

Lalu aku pelan-pelan menoleh ke arahnya.

“Boleh… aku turun sekarang?” tanyaku pelan.

Ia menatapku.

Beberapa detik.

Lalu—

Tangannya perlahan melepasku.

“Iya.”

Aku langsung berdiri pelan, sedikit menjauh.

Namun suasana… terasa berbeda.

Sangat berbeda.

Aku menatapnya sebentar.

“Terima kasih,” kataku.

Ia mengangkat alis tipis.

“Untuk apa?”

Aku ragu sejenak.

Lalu menjawab jujur—

“Untuk… membelaku.”

Sunyi.

Ia tidak langsung menjawab.

Namun kali ini—

Tatapannya tidak sedingin biasanya.

“…Aku hanya tidak suka diganggu,” katanya akhirnya.

Jawaban yang terdengar biasa.

Tapi entah kenapa…

Aku tahu itu bukan hanya itu.

Aku tersenyum kecil.

“Iya… terserah kamu.”

Ia menatapku lagi.

Dan untuk pertama kalinya malam itu—

Ada sesuatu yang berbeda di antara kami.

Bukan sekadar kesepakatan.

Bukan sekadar kewajiban.

Tapi sesuatu yang perlahan…

Mulai berubah.

1
Siti Jubaedah
trima kasih karyanya semoga lebih semangat membacanya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!