Elizabeth Zamora atau yang biasa di panggil dengan Liz telah terjebak dalam pernikahan kontrak yang membawa dia pada titik terendah dalam hidupnya.
Akankah Liz bisa melalui takdir yang telah digariskan semesta untuknya ??
Happy Reading 💜
Enjoy 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratu_halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18
Tama terduduk di kursi tunggu, pandangannya jatuh ke bawah dengan nafas memburu, dasinya di tarik asal hingga miring ke kiri. Saat Liz hendak meninggalkannya, Tama menggenggam pergelangan tangan Liz, membuat wanita itu seperti merasakan aliran listrik yang baru saja menyengat.
"Jangan pergi," Suara lembut Tama berhasil membuat tubuh Liz seketika mematung.
Hati Liz terasa melambat.
Tidak berhenti.
Hanya melambat.
Seolah sebagian dari dirinya mengerti bahwa ada sesuatu di dalam hatinya yang baru saja tumbuh.
Tangan Tama turun, dari pergelangan ke jemari Liz. Ibu jarinya mengusap lembut punggung tangan Liz.
"Aku harus menemui Ibu," ucap Liz pelan,
Tama mendongak, kemudian berdiri lagi.
"Aku temani." Jawabnya tanpa melepaskan genggaman di jemari Liz.
Liz menggeleng, "Kamu harus selesaikan masalahmu dengan Yurike. Dia pasti terkejut melihat kamu semarah tadi," ucap Liz tanpa menatap mata Tama sama sekali.
"Aku dan Yurike sudah lama selesai." Jawab Tama membuat Liz reflek menatap Tama, dan sedetik kemudian kembali membuang muka.
"Lihat aku," Titah Tama, suaranya lembut, tapi menuntut.
Liz menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.
"Lihat aku, Liz,"
Liz memutar lehernya, pelan namun terarah, tepat menatap lurus ke mata Tama.
"Aku dan Yurike sudah selesai." Tama memperjelas apa yang tadi dia katakan.
Dahi Liz berkerut, tanda bingung, namun tak ada pertanyaan yang keluar dari mulutnya.
Tama membawa Liz ke taman rumah sakit. Disana mereka duduk di kursi panjang yang menghadap ke kebun bunga yang terlihat indah karena baru saja mekar.
Daripada menjelaskan ini dan itu yang akan menguras emosinya, Tama lebih memilih mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan semua bukti perselingkuhan Yurike yang sudah dia kumpulkan setahun terakhir ini.
Saat melihat foto hingga video dari ponsel Tama, ekspresi Liz berubah-ubah. Sesekali menutup mulut, memicing hingga menahan mual ketika video Yurike yang sedang berada di atas perut seorang pria berputar tanpa jeda.
Liz yang tidak tahan langsung memberikan kembali benda pipih itu pada pemiliknya.
"Aku nggak tau kalau Yurike bisa berbuat seperti itu di belakang mu," Ucap Liz, berempati.
Tama tersenyum tipis, "Siapa yang tau ?! Bahkan aku pun tidak pernah menyangkanya."
"Kenapa tidak kamu tanya, aku yakin Yurike punya alasan."
"Apapun alasannya, perselingkuhan tetap tidak bisa dibenarkan!"
Liz mengangguk, "Kamu benar. Tapi tunggu... Kalau kamu sudah tau Yurike berselingkuh, terus kenapa kamu menerima tawaran dia untuk menikah kontrak dengan ku ? Atau jangan-jangan kamu sengaja melakukan ini untuk ajang balas dendam mu ???"
Tepat sasaran.
Wajah Liz menegang, sedetik kemudian wanita itu tertawa sinis. Hanya hitungan menit saja Tama merubah hatinya, dari getaran suka menjadi sesak yang luar biasa.
"Baiklah. Pernikahan kontrak itu memang untuk alasan ini, kan ? Tidak masalah. Manfaatkan aku sebisa mu karena satu hari setelah kontrak berakhir aku akan langsung mengajukan gugatan perceraian kita ke pengadilan."
Tama tidak bisa menjawab, dadanya terasa sesak. Pada awalnya memang dia memanfaatkan Liz untuk menghukum Yurike, tapi lambat laun perasaan itu muncul. Rasa takut kehilangan.
Liz berdiri, "Malam ini biarkan aku sendiri. Besok kita bisa melanjutkan kembali sandiwara ini sampai kontrak kita berakhir!" Ucapnya pelan, nyaris tanpa getar. Matanya berkaca, tapi tidak jatuh air mata.
Kalimat itu menghantam. Bukan seperti petir, namun seperti pisau yang mengiris perlahan. Tama terdiam, namun tangannya mengepal di sisi tubuh.
Sunyi kembali menggantung ketika Liz berlalu meninggalkan Tama.
Sementara itu Liz berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang terasa asing dengan langkah gontai. Lengannya hampa. Ia memeluk dirinya sendiri.
Rasa dingin perlahan menetap di dada, luka yang belum sempat dipahami tapi sudah harus di tanggung.
Liz memegang handle pintu ruang rawat Ibu, tapi hingga satu menit berlalu belum juga dia menggesernya.
Perlahan pegangannya mengendur, Liz tidak jadi masuk. Dia pergi lagi. Kali ini tujuannya pulang, pulang kerumah Ibunya.
Turun dari taksi hari sudah gelap. Rumah beratap limas itu terlihat temaram. Lampu teras belum di nyalakan.
Liz masuk kedalam rumah tanpa suara, kemudian mandi dan langsung masuk ke kamar. Liz duduk di pinggiran tempat tidurnya. Dia menutup wajah. Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh juga. Liz menangis sesenggukan didalam kamar.
Hujan rintik mulai turun membasahi atap rumah dengan suara yang jauh lebih menenangkan. Liz menghapus air mata ketika ponselnya bergetar.
[Aku tadi kerumah sakit, kamu tidak ada. Jangan membuatku khawatir, kamu dimana ?]
Liz membaca pesan itu tanpa ekspresi. Ia hanya mengetik pesan singkat.
[Aku ingin sendiri.]
Ponsel diletakkan kembali diatas meja.
Liz berbaring, meringkuk. Kali ini dia hanya ingin istirahat. Berhenti sejenak memikirkan kesehatan Ibu dan perasaannya.
Satu jam kemudian, mobil berhenti didepan rumah. Kemudian terdengar pintu diketuk dari luar,
Liz bangkit berdiri. "Siapa yang bertamu malam-malam begini," gumamnya sambil berjalan menuju pintu.
Cklek!
Liz membeku ketika melihat Tama sudah berdiri di terasnya.
Tama menatap Liz lurus, "Aku khawatir." ucapnya lirih.
"Tolong jangan melewati batasmu, Tama" Liz membuang muka.
Kalimat itu membuat Tama terpaku.
"Kamu sadar nggak sih," Lanjut Liz tenang, "kalau kamu sudah melanggar kontrak yang kamu buat sendiri. Kamu menyentuhku sesuka mu, caramu bicara dan juga tatapanmu, kau sungguh sudah melewati batasmu!"
Tama menatap Liz lama, dan tatapan itu membuat Liz gelisah.
"Aku juga tidak mengerti dengan diriku sendiri. Tapi yang aku tau, sejak aku mengucapkan janji suci dihadapan ibumu, sejak saat itu aku merasa terikat dengan mu. Saat kamu tidak disisiku, aku merasa tidak tenang. Aku selalu ingin memastikan dengan mataku sendiri bahwa kamu baik-baik saja."
Tama menggenggam tangan Liz. Menatap Liz lebih hangat dan lebih dalam, "Sudah setahun lebih aku dan Yurike pisah ranjang. Dia sudah bukan istriku lagi sejak dia menghangatkan ranjang pria lain. Aku tau apa yang selama ini kamu cemaskan. Dengarkan aku, Liz. Kamu bukan selir apalagi pelakor. Kamu istriku. Dan akan selamanya begitu,"
Tama menarik pinggang Liz, membawa Liz kedalam pelukannya.
Mungkin ini terlalu cepat, tapi Tama hanya tidak ingin kehilangan istri kontraknya.