NovelToon NovelToon
Suami Rahasia

Suami Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Beda Usia
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: candra pipit

Clarindra Arabella, siswi kelas tiga SMA yang tinggal selangkah lagi menuju kelulusan, tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah dalam satu keputusan sepihak.
Di saat teman-temannya sibuk mempersiapkan ujian akhir dan masa depan, Clarindra justru dipaksa menerima kenyataan pahit—ia harus menikah.
Bukan dengan pria seusianya.
Melainkan dengan seorang pria dewasa… yang bahkan tak pernah ia kenal.
Demi alasan sederhana namun kejam—orang tuanya akan pindah ke luar negeri, dan mereka tak ingin meninggalkan putrinya sendirian.
Di balik keputusan itu, tersembunyi kesepakatan antara dua keluarga besar.
Nama besar keluarga Hardinata menjadi jaminan keamanan Clarindra… sekaligus awal dari keterikatannya.
Zavian Hardinata.
Pria itu bukan sekadar pewaris keluarga kaya raya. Ia adalah sosok bebas, penuh pesona, namun sulit dikendalikan. Seseorang yang lebih terbiasa bermain dengan hidupnya sendiri… daripada terikat dalam satu hubungan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon candra pipit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bikin panik

Clarinda berdiri di depan cermin cukup lama.

Tangannya sibuk merapikan rok selutut berwarna krem. Atasan rajut putih lengan panjang membuatnya terlihat manis dan sopan. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai dengan sedikit jepitan mutiara di samping.

Clarinda tak kesulitan memilih baju. Karena segala keperluannya sudah ada walk in closed kamar Zavian. Bik Imah dan Jodi yang mempersiapkan tadi atas perintah Kakek Damar.

Clarinda menatap dirinya di cermin. Anak manis yang imut.

"Tapi kenapa jantung gue deg-degan gini."

Ini pertama kalinya ia bertemu orang tua Zavian.

Ia takut.

Takut dianggap tidak pantas. Takut dibanding-bandingkan. Takut dipandang sebelah mata karena ia hanyalah menantu pilihan Kakek Damar.

“Aduh... kalau mereka galak gimana?”

"Kalau mereka nggak suka gue gimana?"

"Trus gue diusir gimana?"

"Tinggal gimana gue?"

Tok! Tok! Tok!

Clarinda melangkah membuka pintu.

“Non Clea..., sudah ditunggu di bawah,” ucap Bik Imah.

Clarinda langsung menegakkan badan.

“Iya Bik... Sebentar."

Begitu pintu tertutup lagi, Clarinda buru-buru menarik napas panjang.

“Ayo Clarinda... jangan malu-malu. Anggap aja Lo ketemu calon mertua," Clarinda meyakinkan dirinya. "Eh tunggu... Lha emang mereka mertua gue ding.”

Ia menepuk kedua pipinya pelan lalu keluar kamar.

Clarinda menuruni tangga perlahan.

Detik berikutnya...

Ia langsung membeku.

Pasangan paruh baya yang duduk di ruang keluarga itu terlalu... mencolok.

Wanita yang duduk anggun sambil menyilangkan kaki itu memiliki kulit putih bersih dan wajah cantik yang masih sangat terawat. Rambut coklat gelap bergelombang sebahu membuatnya terlihat elegan seperti artis luar negeri. Mukanya kebule-bulean. Kalau Clarinda tebak pasti wanita itu blesteran.

Sementara pria di sampingnya...

Ya ampun.

Clarinda sampai melotot diam-diam.

Pria itu tampan sekali untuk ukuran seusianya. Tubuhnya tegap, wajahnya tegas, senyumnya karismatik. Perpaduan Kakek Damar dan Zavian benar-benar terlihat jelas di sana.

“Incaran sugar baby banget ini,” batin Clarinda ngeri sendiri tapi juga kagum.

Kalau gen nya sebagus ini... pantas anaknya bikin jantung jedag jedug.

“Woah... mantu kecil kita cantik sekali.”

Wanita itu tersenyum lebar melihat kedatangan Clarinda.

Clarinda reflek gugup.

“I-iya tante—eh—”

“Mommy,” potong wanita itu cepat sambil tertawa kecil.

“Panggil Mommy saja sayang.”

Clarinda tersenyum kikuk.

Pria itu ikut tersenyum hangat.

“Pilihan Ayah boleh juga.”

Clarinda melirik Kakek Damar yang duduk santai sambil menyeruput teh dengan wajah penuh kemenangan.

“Tentu saja, mataku ini jeli," jawab Kakek Damar bangga.

“Selera Ayah nggak pernah gagal," Eliza bangkit dari duduknya lalu menghampiri Clarinda.

“Sini sayang dekat Mommy.”

Belum sempat Clarinda bereaksi, wanita itu sudah memeluknya hangat.

Pelukan itu nyaman.

Tidak ada tatapan merendahkan. Tidak ada aura galak seperti yang Clarinda bayangkan.

Yang ada malah aroma parfum mahal dan rasa hangat seperti dipeluk ibu sendiri. Clarinda jadi rindu mama nya.

Eliza mengusap rambut Clarinda lembut.

“Kurus sekali ya... Zavian nggak ngasih makan?”

“M-Mommy!” Clarinda salah tingkah. Ah, kalau di bilang kurus rasanya tidak juga. Memang begitulah ukuran normal anak remaja.

Alan ikut mendekat lalu tersenyum ramah.

“Daddy senang kau jadi anggota baru keluarga Hardinata.”

Clarinda langsung menunduk sopan.

“Terima kasih Om Daddy... Ah, maksudku Daddy."

“Sudah tak canggung lagi nih,” goda Alan.

"Hehehehe... Iya. Tadi Clea sempat takut. Clea kira Daddy sama Mommy... Galak," Clarinda nyengir. "Maaf..."

Eliza tertawa kecil.

“Anak manis begini siapa yang nggak suka?”

Clarinda perlahan rileks.

Ternyata... orang tua Zavian tidak semenakutkan bayangannya.

*

Mereka mengobrol cukup lama. Eliza ternyata sangat cerewet dan ekspresif. Wanita itu berkali-kali memegang tangan Clarinda sambil bertanya ini itu.

“Kalau Zavian galak tinggal lapor Daddy ya.”

Clarinda refleks mengangguk cepat.

“Iya Daddy, pasti. Aku senang Daddy ada di pihak ku," mata Clarinda berbinar penuh ekspresi.

Kakek Damar sampai terbahak melihat itu.

“Nah mampus kau Zavian.”

Baru saja nama itu disebut...

Suara langkah kaki terdengar dari arah depan rumah. Zavian pulang.

“Mommy? Daddy?”

“Ck, ck, ck... akhirnya pulang juga!” Eliza langsung berkacak pinggang.

“Kamu ini anak macam apa? Orang tua datang tidak disambut!”

"Bentar, aku belikan kembang api, Mom,"

"ZAVIIIII!!!"

"Apa sih Mom? Aku capek banget ini."

"Capek ngapain?"

Zavian memijat pelipis.

“Aku kerja, Mom.”

"Bohong! Hari ini dia libur kok," sahut Clarinda.

Zavian melirik tajam padanya.

Dan yang membuatnya makin kesal...

Clarinda justru duduk diapit Mommy dan Daddy-nya dengan nyaman seperti anak kandung sendiri. Eliza bahkan menyuapi buah ke mulut gadis itu. Lihat, wajah gadis itu begitu sombong seolah meledek Zavian.

“Coba ini sayang.”

“Enak Mommy!”

Alan ikut tertawa melihat tingkah Clarinda yang manja. Mereka tidak memiliki anak perempuan. Ketiga putranya yang sudah berumur itu mana mau bermanja-manja seperti Clarinda.

“Lucu juga mantu kita Mom.”

Zavian mendengus pelan.

“Ck.”

“Kenapa ck ck?” tanya Eliza tajam.

"Dia ingin disuapin juga Mom," Clarinda tersenyum. Lebih tepatnya meledek.

Dalam hati Zavian menggerutu. “Setan kecil ini pintar juga mengambil hati orang.”

*

Malam semakin larut.

Setelah cukup lama bercengkrama, akhirnya semua masuk ke kamar masing-masing.

Clarinda langsung menjatuhkan tubuh ke atas kasur.

BUGH!

“Aaaa... nyaman sekaliii!”

Tubuhnya tenggelam di kasur mahal itu.

Clarinda bahkan memejam mata sambil tersenyum bahagia.

Zavian baru masuk kamar.

Karena merasa menang lebih dulu masuk kamar, Clarinda langsung duduk sambil menepuk-nepuk kasur.

“Karena aku lebih dulu di sini, jadi kasur ini milikku sekarang.”

“Dan kau Pak Tua tidur saja di sofa. Atau bawah. Atau karpet. Atau kandang harimau sekalian. Terserah yang penting tidur."

Tak ada jawaban. Zavian bahkan tidak menggubris. Pria itu hanya menyeringai tipis lalu berjalan menuju kamar mandi.

Clarinda menjulurkan lidah mengejek ke arah punggungnya.

“Sok cool.”

Clarinda kembali merebahkan tubuh.

Ia berguling ke kanan dan ke kiri lalu memeluk bantal.

“Uuuu... nyaman sekali...”

“Aku bakal tidur nyenyak malam ini.”

Ya, tadi saja ia molor sampai malam saking nyenyak nya tidur di kasurZavian.

Clarinda mulai membayangkan mimpi indah. Mimpi makan sepuasnya. Atau mimpi punya uang satu koper. Mimpi keliling dunia pake jet pribadi dan entahlah apa lagi.

Namun...

Kesenangannya tak berlangsung lama.

Pintu kamar mandi terbuka.

Clarinda awalnya santai saja.

Sampai...

Matanya terbelalak melihat Zavian tiba-tiba sudah berdiri di samping tempat tidur.

“AAAAAAA!”

Clarinda langsung bangun duduk seperti mayat hidup bangkit dari kubur.

Bagaimana tidak! Zavian hanya memakai celana pendek santai sebatas paha.

DADANYA POLOS.

RAMBUTNYA BASAH.

Air masih menetes dari leher hingga dada bidangnya. Itu menggoda iman kaum hawa.

Clarinda menutup mukanya tapi jemarinya tidak rapat. Tidak di lihat sayang, dilihat kok malu.

"Pake baju nggak!"

Zavian terlihat santai. “Males.”

“Mataku ternoda ini!”

“Ya jangan lihat.”

“Tapi kelihatan terus!”

“Matamu melek."

Zavian naik ketempat tidur membuat Clarinda makin panik.

“Mau apa kau, makhluk cabul?!”

“Tidur lah... Masa mau ngising.”

Zavian berbaring terlentang. Clarinda reflek bergeser cepat seperti cicak ketakutan.

“MAMAAAAA!!!”

Zavian melirik malas.

“Berisik.”

“Pake baju Pak Tua!" Clarinda melempar bantal menutupi da da Zavian. Tapi bantal itu dilempar balik oleh Zavian.

"K-kau bisa masuk angin," Clarinda berusaha nego.

"Oh perhatian sekali... Tapi aku gerah."

“Gerah? INI KAMAR ADA AC!”

"Tetap gerah," tangan Zavian malah rebahan santai dengan satu tangan diletakkan di belakang kepala mempertontonkan lekuk ketiak yang sxsi dilapisi bulu-bulu halus.

Clarinda mematung sambil memegang bantal di depan dada seperti tameng perang.

Sangat menyebalkan.

Sangat menggoda.

Clarinda buru-buru menggeleng keras.

“Jangan terhasut setan... jangan terhasut setan..." Gumam Clarinda.

“Hah?”

“Ngomong sendiri kok!” sahut Clarinda.

Zavian menyeringai kecil. Ia memang sejak kecil terbiasa tidur tanpa baju. Entah kenapa melihat Clarinda salah tingkah seperti itu terasa lucu. Biasanya gadis-gadis malah sengaja mendekat.

Tapi yang ini? Malah seperti lihat hantu.

Clarinda masih sibuk ngoceh sendiri.

“Ya Tuhan... ini cobaan apa...”

“Kenapa ototnya banyak begitu...”

“Kenapa kulitnya bagus...”

“Kenapa manusia bisa seganteng itu tapi nyebelin...”

“Suaramu keras sekali,” ujar Zavian tiba-tiba sudah ada di depan matanya hampir tanpa jarak.

Clarinda langsung kaget. "Huuuuaaaaaaa!!!"

"Dengar bocah! Selama kau tinggal di kamar ini, biasakan mata mu melihat pemandangan indah ini setiap hari."

Mata Clarinda berkedip-kedip lucu.

"Kau bisa lihat manusia seganteng aku... Sepuasnya," Zavian menahan senyum.

Mata Clarinda membesar pipinya merah seperti tomat. "Mati gue, dia dengar ocehan gue tadi," gumam Clarinda malu setengah mati.

"Telingaku normal." Zavian menjauhkan dirinya lalu kembali rebahan. "Tidur... Jangan berisik. Besok aku harus kerja."

Sembari menahan malu Clarinda mengambil bantal lalu turun dari tempat tidur. Ia memilih tidur di sofa daripada bersama Zavian yang bertelanjan9 da da. Ia takut Zavian macam-macam nanti.

1
Nona aan Chayank
Buaahahahhaha....🤣🤣🤣
partini
hemmm dah keliatan kamu kecintaan ma suamimu,aihhh why pihak cewek yg jatuh cinta duluan ga cowoknya ga pernah si saddddddd
Marini Suhendar
Dasar bocah😄
partini
ko cuma sama baby sitter doang apa duda anak satu ,, alamak tensi nanti suamimu cle
Titien Prawiro
Bagaimana jadinya
partini
👍👍👍
Erna Riyanto
ihh..pak tua bisa ae nyari kesempatan,pke pegang" segala🤣🤣
Marini Suhendar
Awas yah..nanti pada bucin kalian ya 😄
Marini Suhendar
Jangan cemburu pak tua😄
partini
ingio ingon wedus kaleee 😂😂
wah ada yg CLBK nih nanti jad jadi jendonggggg ,,
partini
kenapa selalu cewek yg klepek klepek duluan sih jarang bnggt cowoknya
partini
tinggal jaa kek yg lama cucu mu juga rada"suka keluar malam lupa pulang cucu mentu juga sama so 50/50
partini
jirrr Ampe lupa, maklumlah di club siapa sih yg ingat di rumah ga ada
partini
nah Lo habis megang apa gunung kembarnya 😂😂😂
nanti pasti terbayang bayang rasanya kenyal"
partini
😂😂😂😂 lah kaya bola di tendang
partini
hemmm SE anak kalian yg bikin ulah
partini
good story
partini
lanjut Thor Setu ceritanya
candra pipit: siap... lanjut 😍
total 1 replies
partini
lelaki bebas di luar OMG
partini
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!