NovelToon NovelToon
GAYATRI S2 Mencintainya Hingga Akhir

GAYATRI S2 Mencintainya Hingga Akhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Hernn Khrnsa

Selama 25 tahun, Rashaka Nareswara setia menjaga cintanya. Ia tetap bertahan, dan berharap pada satu nama yang tak pernah berubah di hatinya. Hingga akhirnya, penantian panjang itu berbuah manis.

Ia berhasil mempersunting wanita yang ia cintai sejak dulu, memulai kehidupan rumah tangga yang tampak sempurna.
Namun, kebahagiaan itu tak pernah benar-benar utuh. Di balik senyum sang istri, tersimpan bayang-bayang masa lalu yang belum selesai. Masalah demi masalah yang perlahan meretakkan kehangatan yang mereka bangun.

Akankah cinta yang bertahan selama seperempat abad itu mampu melawan luka yang belum sembuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GAYATRI S2 — BAB 18

Gayatri menatap Mahesa beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan, “Ada yang melihatnya pergi ke hotel dengan wanita lain.”

Ruangan itu seketika terasa sunyi. Mahesa membeku di tempatnya, seolah tidak langsung memahami apa yang baru saja ia dengar. Tatapannya tertahan pada wajah Gayatri dengan ekspresi tidak percaya.

“Apa? Apa kau serius? Siapa yang melihatnya? Apa kau sudah memastikannya sendiri?” tanyanya beruntun.

“Mahira yang melihatnya sendiri,” jawab Gayatri tenang. “Dia bahkan sempat bicara langsung dengan Keenan.”

Mahesa masih terdiam. Wajahnya perlahan menegang, sementara rahangnya mengeras menahan sesuatu yang mulai bergejolak di dalam dirinya. “Kau yakin ini bukan salah paham?” tanyanya lagi, kali ini dengan nada lebih berat.

Gayatri menggeleng pelan. “Aku sudah bicara langsung dengan Keenan.”

Jawaban itu cukup untuk menghancurkan sisa keraguan Mahesa. Ia menyandarkan tubuh perlahan ke sofa, lalu mengusap wajahnya kasar. Beberapa saat berlalu tanpa suara. Kekecewaan terlihat jelas di matanya, begitu juga rasa lelah yang mendadak muncul.

“Keenan, ba-bagaimana dia bisa melakukan ini?” gumamnya lirih.

Gayatri menunduk sejenak sebelum kembali berbicara. “Aku merasa kau juga berhak tahu soal ini.”

Mahesa tertawa kecil tanpa humor. “Berhak tahu kalau anakku ternyata menyakiti istrinya sendiri?”

Nada suaranya terdengar pahit hingga membuat Gayatri kembali terdiam. Ia tahu Mahesa sedang berusaha menerima kenyataan yang bahkan sulit dipercaya olehnya sendiri.

“Aku benar-benar tidak menyangka dia bisa melakukan hal seperti itu,” lanjut Mahesa pelan. “Apalagi di saat Shakira sedang hamil.”

Mahesa menggeleng perlahan, masih tampak sulit menerima semuanya. Sebagai seorang ayah, rasa kecewa itu terasa jauh lebih menyakitkan dibanding kemarahan.

“Aku sudah mencoba bicara dengannya,” ujar Gayatri hati-hati. “Tapi aku rasa Keenan juga butuh mendengar dari ayahnya.”

Mahesa mengangkat pandangan dan menatap Gayatri perlahan. “Kau ingin aku menasihatinya?”

Gayatri mengangguk kecil. “Dia sedang takut dan bingung. Tapi caranya menghadapi semuanya itu salah.”

Mahesa kembali terdiam cukup lama. Ada banyak emosi bercampur di dalam dirinya saat ini. Marah, kecewa, sekaligus rasa gagal sebagai seorang ayah yang merasa tidak benar-benar mengenal anaknya sendiri.

“Aku bahkan tidak tahu sejak kapan dia berubah seperti ini,” katanya pelan.

“Orang bisa kehilangan arah saat merasa tertekan,” jawab Gayatri tenang. “Tapi bukan berarti kita bisa membiarkannya terus melakukan kesalahan.”

Mahesa menunduk, menatap kedua tangannya sendiri dengan tatapan kosong. “Keenan selalu keras kepala,” gumamnya. “Kalau dia sudah takut pada sesuatu, dia akan memilih lari daripada menghadapi.”

“Karena itu dia butuh seseorang yang bisa membuatnya berhenti lari,” balas Gayatri tegas.

Keheningan kembali hadir di antara mereka. Namun kali ini bukan keheningan yang canggung, melainkan keheningan dua orang tua yang sama-sama sedang memikirkan anak mereka. Hingga beberapa saat kemudian, Mahesa akhirnya mengangguk pelan.

“Aku akan bicara dengannya,” katanya tegas.

Gayatri menatapnya lega, meski rasa khawatir itu belum benar-benar hilang dari wajahnya.

“Aku tidak ingin rumah tangga anak kita hancur hanya karena ketakutannya sendiri,” lanjut Mahesa lirih. “Aku tidak mau ia mengulang kesalahan yang sama sepertiku.”

***

Malam itu, hujan kembali turun membasahi kota. Tetesannya terdengar samar di balik jendela apartemen Keenan, menciptakan suasana yang sunyi sekaligus menyesakkan.

Keenan duduk sendirian di ruang tamu dengan lampu yang hanya menyala sebagian. Jas kerjanya masih tergantung sembarangan di kursi, sementara ponselnya tergeletak di atas meja tanpa disentuh sejak tadi.

Ia belum benar-benar tidur sejak Gayatri datang menemuinya semalam. Pikirannya terlalu penuh oleh ucapan ibunya terus terngiang tanpa henti, membuatnya tidak bisa benar-benar tenang. Untuk pertama kalinya, ia mulai mempertanyakan dirinya sendiri, tentang keputusan-keputusan yang ia ambil, tentang ketakutan yang selama ini ia jadikan alasan untuk lari.

Namun semakin ia mencoba berpikir, semakin sesak semuanya terasa.

Suara ketukan pintu membuat Keenan mengangkat kepala. Ia mengernyit pelan. Sudah cukup malam, dan ia tidak mengharapkan siapa pun datang.

Dengan langkah malas, ia berjalan menuju pintu lalu membukanya dan seketika, ekspresinya berubah.

“Ayah?”

Mahesa berdiri di depan pintu dengan wajah serius. Tidak ada senyum, tidak ada basa-basi seperti biasanya.

“Apa kau sibuk? Aku harus membicarakan sesuatu denganmu,” ucap Mahesa tenang.

Keenan terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menyingkir untuk memberi ayahnya jalan. Suasana langsung terasa berat begitu pintu tertutup.

Mahesa melangkah masuk ke ruang tamu, memperhatikan apartemen itu sekilas sebelum akhirnya duduk di sofa. 

Sementara itu, Keenan masih berdiri beberapa langkah darinya, tampak gelisah.

“Ayah mau minum apa?” tanyanya pelan, mencoba mencairkan suasana.

“Aku ke sini bukan untuk minum,” jawab Mahesa langsung dengan tatapan datar.

Keenan kembali terdiam. Nada suara itu cukup untuk membuatnya sadar bahwa pembicaraan ini tidak akan mudah.

Mahesa menatap putranya beberapa saat sebelum akhirnya berkata, “Ibumu sudah menceritakan semuanya. Apakah itu benar, Keenan?”

Jantung Keenan langsung terasa menegang. Ia menunduk pelan, menghindari tatapan ayahnya.

“Apa benar kau pergi ke hotel dengan wanita lain?” tanya Mahesa lagi penuh desakan.

Keenan menarik napas panjang sebelum akhirnya menjawab pelan, “Iya. Aku tidak akan mencoba menyangkalnya.” 

Jawaban singkat itu membuat Mahesa memejamkan mata sejenak. Ekspresinya langsung berubah kecewa.

“Aku membesarkanmu bukan untuk jadi laki-laki seperti itu, Keenan,” ucapnya lirih.

Keenan mengepalkan tangannya pelan. “Aku tidak berniat selingkuh,” katanya cepat, seolah ingin membela diri.

Mahesa langsung menatapnya tajam. “Kalau begitu apa?”

Keenan membuka mulut, namun tidak ada jawaban yang benar-benar bisa keluar. Karena ia sendiri tidak tahu bagaimana menjelaskan semuanya.

“Aku hanya sedang bingung,” gumamnya akhirnya.

Mahesa tertawa kecil, namun tidak ada kehangatan di dalam tawanya. Hanya rasa lelah dan kecewa yang terdengar samar di balik suaranya.

“Semua orang juga pernah bingung,” ucapnya pelan.

Ia menyandarkan tubuh ke sofa, menatap putranya cukup lama sebelum kembali berbicara dengan nada yang lebih rendah.

“Tapi bukan berarti kau bisa menyakiti pasanganmu seperti ini. Jangan mengulang kesalahan yang pernah Ayah lakukan, Keenan. Karena sungguh, Ayah sangat menyesalinya sekarang.”

Kalimat itu membuat Keenan kembali terdiam. Tak ada bantahan ataupun pembelaan.

Hanya suara hujan di luar apartemen yang terdengar semakin deras, seolah mengisi keheningan yang menekan di antara mereka.

Mahesa menatap wajah putranya yang tertunduk. Untuk sesaat, ia melihat anak kecil yang dulu selalu menggenggam tangannya saat takut petir. Anak laki-laki yang dulu begitu ia banggakan.

Namun sekarang, anak itu tumbuh menjadi pria yang justru melukai keluarganya sendiri. “Shakira sedang hamil,” lanjut Mahesa lirih. “Kau tahu apa yang paling dibutuhkan perempuan saat hamil muda?”

Keenan tidak menjawab. Tatapannya tetap jatuh ke lantai.

“Rasa aman, Nak,” jawab Mahesa sendiri dengan suara berat. “Bukan ditinggal. Bukan dibuat menangis sendirian saat suaminya pergi.”

Setiap kata itu terasa menghantam perlahan ke dalam dada Keenan. Ia menelan ludah susah payah. Sementara Mahesa mengembuskan napas panjang sebelum kembali berkata, 

“Ayah paham kau pasti merasa takut dan cemas.”

Keenan sedikit mengangkat kepala, tampak terkejut mendengar pengakuan itu. 

Sorot mata Mahesa perlahan berubah. Tidak lagi hanya penuh kekecewaan, tetapi juga kelelahan seorang ayah yang berusaha memahami anaknya, meski tidak membenarkan kesalahannya.

“Ayah juga pernah ada di posisi itu,” lanjutnya pelan. “Waktu pertama kali tahu Gayatri hamil dirimu, Ayah takut setengah mati dan memikirkan hari-hari Ayah ketika memiliki anak.”

Keenan akhirnya benar-benar menatap ayahnya. 

“Ayah takut tidak bisa menjadi ayah yang baik,” ujar Mahesa jujur. “Takut hidup Ayah berubah. Takut kehilangan kebebasan. Takut tidak mampu membahagiakan keluarga.” Ia tertawa kecil lagi, namun kali ini lebih pahit.

“Bahkan dulu Ayah sempat duduk sendirian semalaman hanya karena kepala Ayah terlalu penuh.”

Keenan mematung mendengar pengakuan itu.

“Tapi saat itu Ayah menyadari satu hal,” lanjut Mahesa sambil menatap putranya dalam-dalam. “Rasa takut bukan alasan untuk lari, Nak”

Keheningan kembali memenuhi ruangan. Namun kali ini, Keenan benar-benar mendengarkan. Tak ada lagi keinginan untuk membantah ataupun alasan yang ingin ia lontarkan seperti saat ia berbicara dengan sang ibu.

“Kau pikir jadi ayah itu mudah?” Mahesa tersenyum tipis, namun matanya tampak lelah. “Ayah rasa, beberapa suami ada yang benar-benar merasa tidak siap.”

Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan. “Tapi seorang laki-laki tetap harus bertanggung jawab atas hidup yang sudah ia pilih,” katanya tegas. “Karena setelah menikah, hidupmu bukan cuma tentang dirimu sendiri.”

1
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
tentu saja 😒
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Awas kamu Keenan 😤
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
Bringsiiiikkkkk
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
waduh😣
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
diturutin ihh sama othor..
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
lah baru ditanyain.. pas celingkuh gak inget kalo manusia tuh bisa sakit bs mati.. ckckck
🌸sakura🌸
keenan mau ta enaknya saja tp g berani bertanggung jawab padahal shakira sdh bela belain buat nikah sama kami, klo smpe keguguran, pisah saja shakira, krn keenan g pantas jd seorang suami maupun seorang ayah. BANCI
matchaa_ci
apa aku harus seperti gayatri dulu menunggu 25 tahun untuk bertemu dng orng yg benar² menghargai
aurora
semangatttt💪💪
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
kau bahkan
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
makanya banyak belajar Keenan
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Dasar kau 😤
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
gugur aja sekalian.. toh keenan udah selingkuh,main celup sana sini, garelaaa akuuu ooiii
HK: 🥺🥺🥺🥺🥺
total 1 replies
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kaluna jadi sombong 😣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kaluna
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Jujur saja Luna🤭
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
semua akan tetap berjalan tanpamu gayatri.. jgn merasa paling penting
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kaluna
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
waduh 😣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!