Alih-alih menikmati fasilitas orang tuanya Sheeva memilih menepi dan hidup di panti asuhan sejak duduk di bangku kelas 8 menengah atas. Banyak hal membuatnya memutuskan demikian
lantas apa yang mendorong gadis sekecil itu menjauh dari dekapan hangat keluarganya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayra Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bakti sosial part 2
Seharian Kay lebih banyak melihat tawa Sheeva. Bahkan tawa Sheeva sangat lepas kali ini. Sheeva juga terlihat begitu aktif. Seperti punya energi ekstra tanpa henti membantu di sana-sini. Ini membuat Kay tak menyesal mengijinkan Sheeva ikut hari ini. Mungkin setelah ini dia akan lebih sering membawa sheeva ikut dalam acara seperti ini.
" Thank's kak Kay !" Kay terkejut tiba-tiba Nindy berdiri di sampingnya.
" Thank's sudah ijinin Sheeva ikut. Aku bisa melihat Sheevaku kembali kak, Sheeva yang sesungguhnya " Yongki membawa Nindy kedalam pelukannya.
" Inilah Sheeva yang sesungguhnya kak. Sheevaku dulu seerti ini. Yang kita lihat sehari-hari itu sisi rapuh seorang Sheeva. Dia sangat membentengi diri dari pergaulan, karena tak ingin banyak orang tau betapa sangat buruk keluarganya."
" Dia hanya terlihat kuat di permukaan kak, namum hatinya begitu rapuh. Masih bisa kutatap hingga saat ini saja sudah merupakan suatu anugrah besar kak " Air mata Nindy tak dapat di bendung. Dia menemani Sheeva saat kondisi paling terpuruk Sheeva. Dia tau bagaimana Sheeva berjuang untuk tetap waras.
" Kamu harus sabar, pelan-pelan kita akan bawa Sheeva keluar dari kubangan ini " Yongki berusaha menenangkan Nindy.
" Sudah jangan nangis Nin. Lihat Sheeva berjalan kearah sini " Ucap Kay.
" Nin kamu kenapa ?" Nindy tidak berhasil menghentikan air matanya.
" Tenang Sheev. Nindy hanya terbawa perasaan usai ngobrol sama pengungsi tadi " Kay menyesal harus berbohong pada Sheeva. Namum jika jujur Kay yakin, Sheeva juga akan menangis "
" Ugh.. Sini peluk " Nindy beralaih ke dalam pelukan Sheeva.
" Sudah ya jangan nangis terus nanti kepala kamu sakit lho ?" Dengan lembut Sheeva menghapus air mata Nindy.
Menjelang sore rombongan Kay pun pamit undur diri. Para korban bencana melepas mereka dengan berat hati. Para pengungsi merasakan betul manfaat kehadiran The King di tempat mereka karena selain membawa bantuan Kay dan The King juga membantu membersihkan rumah-rumah yang terendam lumpur.
" Saya mewakili warga mengucapkan banyak terima kasih nak, atas kehadiran kalian hari ini. Kami tidak bisa membalas apa-apa selain doa tulus, semoga kebaikan kalian ini di balas berlipat ganda oleh yang Maha kuasa." Ucap bapak kepala desa mewakili warganya.
" Sama-sama pak. Terima kasih juga sudah menyambut baik kedatangan kami. Semoga kita bisa berjumpa kembali dalam suasana yang jauh lebih baik lagi ya pak "
" Aamiin !"
" Kami sangat menanti kembali kehadiran nak Kay da kawan-kawan . Sekali lagi terima kasih banyak ya nak Kay dan kawan-kawan "
" Sama-sama pak "
Kay dan kawan-kawan menyalami kepala desa dan warganya satu persatu.
" Kak Sheeva kapan main kesini lagi ?" Fais menarik-narik ujung baju Sheeva.
" Doakan kakak sehat ya, biar bisa main kesini lagi " Sheeva menyamkan tubuhnya denngan tubuh Fais yang mungil lalu, dengan lembut mengusap pipi Fais.
" Boleh peluk kak Sheeva tidak ?'' Tanpa menjawab Sheeva membawa tubuh mungil Fais ke dalam dekapannya.
'' Jadi anak kuat dan berbudi baik ya sayang. Jagain ibu dan adiknya. Kakak akan usahain sering-sering jenguk kamu "
" Makasih kakak, aku sayang kak Sheeva !" Fais mengeratkan pelukannya di tubuh Sheeva. Semua orang di buat terharu karenanya.
" Kakak juga sayang Fais " Sheeva mengurai pelukannya lalu, mendaratkan satu kecupan di kening Fais .
" Kami pamit bapak ibu " Ucap Kay mewakili teman-temannya.
" Hati-hati bawa motornya ya nak, sebagian jalannya sangat licin " Kay mengangguk.
Sheeva di buat menghela nafas, melihat Nindy sudah nangkring di boncengan motor Yongki. Dia hanya bisa pasrah, tidak ada lagi yang menjadi teman ngobrol di perjalanan nanti.
" Masak kamu tega Nin ?" Ucap Sheeva dengan muka di tekuk.
" Sorry sheev, aku benar-benar tidak kuat kalau naik mobil "
" Ya Sudah " Mau memaksa Nindy juga Sheeva tidak tega.
" Mau naik motor ?" Kay yang melihat muka di tekuk Sheeva pun akhirnya tidak tega.
" Motornya mana ?" Sungguh Kay di buat gemas dengan ekspresi Sheeva.
" Bonceng gue aja Sheev " Celetukan Rama sontak mengejutkan Kay.
" Nggak boleh !" Kay lebih dulu menyaut sebelum Sheeva yang terlihat antusias mengiyakan tawaran Rama.
" Sheeva sama Gue " Rama terbahak.
" Kena umpan gue kan loe "
" Brisik..!" Kay mengenggam tangan Sheeva lalu, membawa Sheeva kearah mobil yang tadi di tumpangi Sheeva.
" Katanya naik motor ?" Muka Sheeva kembali cemberut.
Tanpa banyak bicara Kay membuka bagasi mobil. Lalu mengambil jaket dan helm yang memang dia siapkan untuk Sheeva.
"Pakai ini dulu biar aman dan kamu tidak kedinginan " Tanpa di minta kay membantu Sheeva memakaikan Jaket dan helmnya. Sheeva sampai di buat kikuk karenanya.
" Awuk-awuk.. Benaran pasangan bucin jilid dua ini. OTW princessnya The king nambah. " Rama benar-benar tak bisa melihat suasana. Mulutnya selalu gemas untuk berkomentar. Tak ayal dia mendapat satu toyoran dari Nindy.
" Apaan sih Nin ?"
" Mulut kamu bisa di rem dikit nggak sih kak ?"
" Lha kenapa memangnya ?" NIndy terlihat begitu gemas.
" Sheeva bisa saja jadi tidak nyaman dodol !" Yuda ikut menimpali.
" Hehehe iya ya "
" Iya ya, iya ya " Cibir Nindy.
Sheeva di buat semakin salah tingkah karena tanpa aba-aba Kay mengangkatnya lalu menaikan ke atas motor.
" Kak.. !" Sheeva melotot kearah Kay, bukan takut Kay justru terkekeh.
" Akan lama kalau nunggu kamu naik sendiri " Ucap Kay santai.
" Kan tidak harus pakai di angkat kak "
" Maaf takut keburu gelap kalau kamu naim sendiri "
" Hobi banget sih menciptakan huru-hara "
Tanpa keduanya sadari interaksi mereka di perhatikan oleh anggota The King. Hampir semua inti The King mengulum senyum. Tak menyangka Kay akan senekad itu.
" Sweet banget sih kak Kay, enaknya punya ayang model begitu " Nindy memang benar-benar, padahal ada Yongki di sebalahnya.
" Kurang sweet apa aku selama ini baby ?" Memang Yongki mengucapkan dengan lembut tapi siapa pun yang mendengar pasti tau ada kekecewaan di sana.
" Kamu mah Sweetnya over dosis yang, cuma kurang peka dikit " Nindy memeluk tubuh Yongki dari belakang.
" Jangan peluk-peluk. Sudah boceng kembaran kamu sana " Yongki menunjuk kearah motor Rama.
Memang di lingkungan anak The King Rama dan Nindy sering di sebut saudara kembar. Karena sama-sama Jail.
" Yah masak aku sama kak Rama "
" Turun !" seru Yongki.
" Ya elah Yong loe mah Ngambeknya asik amat ya " Rama memang benar-benar, nggak takut apa ya diajak war sama Yongki.
" Sini ayang Nindy, babang Rama boncengin. Biarkan saja paduka raja yang sedang bermuram durja." Rama dengan santainya membantu Nindy turun dari motor Yongki dan membawa Nindy naik ke atas motornya.
" Anak itu hobi amat cari masalah " Ucap Antoni.
" Itung Nin, gue jamin nggak sampai lima, pangeran loe pasti nyamperin ke sini " Rama ternyata hanya mengoda Yongki dan Nindy senang di ajak kerja sama.
" Satu, dua..!'' Keduanya berhitung sambil terkikik. Anggota The king yang melihat itu hanya bisa mengelengkan kepala.
" Benar saja belum juga hitungan sampai angka lima, tubuh Nindy sudah melayang. Yongki menurunkan paksa tubuh Nindy dari motor Rama. Semua anggota The king menahan tawa.
" Emang paling-paling loe Ma " Ucap Yuda sambil mengelengkan kepalanya.
" Turunin nggak, siapa tadi yang minta aku boceng kak Rama ?" Nindy pura-pura merajuk. Padahal mah hatinya berbunga-bunga.jantungnya aja udah jedag-jedug macam sound horeg.
" Berani turun, habis bibir mungil kamu sama aku baby. Mau aku hup di sini kamu ?'' pipi Nindy merona.
" Apaan sih "
" Nurut nggak ?" Nindy mengangguk sok imut. Dan itu membuat Rama terbahak.
" Jangan lupa pajaknya Nin ?" Seru Rama.
" Udah aku transfer " Bukan Nindy tetapi yongki yang menjawab.
" Ah elah kamu memang paling baik Yong " Raa mendadak dapat sorakan dari teman-temannya.
Kay kembali memimpin konvoi dengan Sheeva duduk masih di boncengan motonya. Tangan Sheeva di paksa melingkar di perut Kai dengan alasan keamanan. Benar-benar pintar memanfaatkan momen ketua kita sepertinya.
" Bos.. Seru Faris , Kai menoleh.
" Bu bos tidur !" Kai lantas menoleh kearah spion. Benar saja Sheeva tertidur. Pantas pungungnya terasa agak berat. Rupanya kepala sheeva bersandar nyaman di pungungnya. Kai memutuskan menepi.
Kai rupanya memindahkan Sheeva ke dalam mobil dengan bantuan Yuda yang memegangi motornya.
" Yud kamu bawa motorku " Yuda mengangguk.
Kai tidak tega membiarkan Sheeva di dalam mobil hanya dengan sopir pun mengalah ikut naik mobil.
" Istirahatlah Sweety. Kamu pasti lelah " Dengan lembut Kay mengusap pipi Sheeva.
Nampaknya Sheeva benar-benar lelah. Bahkan di pindah dari motor ke dalam mobil saja dia tidak terusik. Kini bahkan dia semakin nyaman menjadikan paha Kai sebagai batal dia tidur.
terlalu berat beban hidup sheeva..