Clarindra Arabella, siswi kelas tiga SMA yang tinggal selangkah lagi menuju kelulusan, tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah dalam satu keputusan sepihak.
Di saat teman-temannya sibuk mempersiapkan ujian akhir dan masa depan, Clarindra justru dipaksa menerima kenyataan pahit—ia harus menikah.
Bukan dengan pria seusianya.
Melainkan dengan seorang pria dewasa… yang bahkan tak pernah ia kenal.
Demi alasan sederhana namun kejam—orang tuanya akan pindah ke luar negeri, dan mereka tak ingin meninggalkan putrinya sendirian.
Di balik keputusan itu, tersembunyi kesepakatan antara dua keluarga besar.
Nama besar keluarga Hardinata menjadi jaminan keamanan Clarindra… sekaligus awal dari keterikatannya.
Zavian Hardinata.
Pria itu bukan sekadar pewaris keluarga kaya raya. Ia adalah sosok bebas, penuh pesona, namun sulit dikendalikan. Seseorang yang lebih terbiasa bermain dengan hidupnya sendiri… daripada terikat dalam satu hubungan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon candra pipit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidur di kamar Zavian
Zavian baru selesai mandi. Rambut hitamnya masih basah, beberapa tetes air jatuh membasahi tubuh atletisnya yang hanya mengenakan handuk. Aroma sabun dan parfum maskulin langsung memenuhi ruangan.
Percayalah, jika Clarinda melihat pemandangan ini ia akan berteriak histeris sehingga orang-orang di lantai bawah datang menghampirinya.
Namun tatapan Zavian terhenti di sofa panjang dekat jendela, Clarinda tertidur tengkurap dengan posisi yang benar-benar berantakan. Salah satu tangannya menjuntai ke bawah hingga hampir menyentuh lantai.
Zavian menghela napas panjang.
“Dasar bocah…”
Nada suaranya terdengar kesal, tapi matanya tak bisa menyembunyikan rasa khawatir.
Ia berjalan mendekat lalu berdiri tepat di samping sofa. Pria itu memperhatikan wajah Clarinda yang masih pucat. Gadis itu tidur begitu lelap sampai bibirnya sedikit terbuka.
Zavian perlahan menempelkan telapak tangannya ke kening Clarinda.
Meskipun tidak sepanas semalam tapi suhu tubuh gadis itu belum sepenuhnya normal.
Hangat.
Dengan hati-hati mengangkat tubuh yang lebih mungil darinya itu. Clarinda menggumam tidak jelas. Kepalanya refleks bersandar di da da bidang Zavian.
Pria itu langsung membeku sepersekian detik.
Tatapannya turun menatap wajah Clarinda yang damai.
Jantungnya berdetak aneh.
“Nyusahin…”
Namun meski mengomel, langkahnya justru sangat hati-hati saat membawa Clarinda ke tempat tidur.
Ia menurunkan tubuh gadis itu perlahan di atas kasur empuk miliknya. Selimut segera ditarik menutupi tubuh Clarinda hingga sebatas da da.
Clarinda bergerak kecil mencari posisi nyamannya sendiri dan bergumam lagi.
"Pak Tua... Cepet...kebelet pipis..."
Suara itu sangat lirih. Hampir seperti bisikan dalam mimpi.
Zavian mendengus. "Mulutmu ini nggak bisa diem ya," lelaki itu tersenyum tipis.
Zavian mematikan lampu utama dan menggantinya dengan cahaya yang lebih redup.
Bukannya menemani istrinya tidur tapi Zavian malah keluar. Mengendap-endap tanpa sepengetahuan Kakek Damar. Orang tua nya juga belum datang ternyata.
Kesempatan emas buat nongkrong bersama teman-teman nya. Lagi pula apa yang ia kerjakan dirumah? Bosan!
Ketika mobilnya melaju keluar pagar Kakek Damar keluar dan berteriak.
"ZAVIAAAAAN!!!"
Zavian hanya tersenyum miring melihat kakeknya yang kesal dari spion.
***
Hari berganti malam. Clarinda akhirnya terbangun. Tubuhnya menggeliat.
Kelopak matanya berkedip beberapa kali menyesuaikan cahaya redup kamar.
“Hmmm…”
Tubuhnya terasa jauh lebih ringan.
Tidak pusing.
Tidak menggigil.
Ia bahkan merasa sangat segar setelah tidur panjang seharian.
Beberapa detik kemudian.
“Kruuukkk…”
Clarinda memegang perutnya.
“Duh… laper...”
Gadis itu duduk pelan di atas kasur sambil mengacak rambutnya yang berantakan.
Tatapannya berkeliling kamar.
Sunyi.
Sangat sunyi.
“Pak tua?”
Tak ada jawaban.
Clarinda mengerucutkan bibir.
“Ke mana sih?”
Ia turun dari kasur berniat mencari makanan ke dapur. Namun langkahnya tiba-tiba terhenti saat melihat kulkas di sudut kamar.
“Ohooo…"
"Bahkan kulkas ditaruh disini," Clarinda mencebik.
Ia berjalan cepat ke sana lalu membuka pintunya. Dingin langsung menyapa wajah gadis itu.
“Waaah…," mata Clarinda berbinar.
Di dalamnya tersusun rapi beberapa puding dingin, minuman herbal, buah potong, dan roti premium yang terlihat mahal.
Clarinda mengambil puding cokelat.
“Ah, ini cukup membuatku kenyang.”
Ia juga mengambil susu dingin lalu duduk santai di karpet dekat tempat tidur dan menyalakan tivi besar di depannya.
“Malas mau turun…”
Sendok kecil mulai bergerak menyuap puding ke mulutnya.
“Hmmm enak…”
Gadis itu kembali melihat sekeliling kamar.
Kamar Zavian sangat rapi.
Dominasi warna hitam, abu, dan cokelat gelap membuat ruangan itu terasa dingin dan maskulin. Bahkan aroma kamarnya pun seperti pemiliknya— maskulin, tenang, mahal, dan menyebalkan.
Kini ia tahu kenapa Zavian bilang lebih nyaman di kamarnya sendiri dan melarangnya menginjakkan kaki disini.
"Dasar curang!" Gumamnya cemberut.
Clarinda mendecakkan lidah.
“Ngomong-ngomong… di mana pak tua itu?”
***
Sementara itu…
Di sebuah klub olahraga elit, suara pukulan raket dan pantulan bola padel terdengar silih berganti.
Zavian berdiri di tengah lapangan dengan kaos olahraga hitam yang sedikit basah oleh keringat. Rahangnya tegas. Nafasnya stabil meski pertandingan berlangsung sengit.
Di sisi lain ada Reno yang dari tadi sibuk menggoda lawan perempuan di lapangan sebelah.
“Fokus main, gobl0k!” teriak Kevin.
Reno nyengir lebar.
“Aku fokus kok. Fokus cari jodoh.”
Leo tertawa keras.
“Cari jodoh apaan? Minggu lalu kau masih jalan sama model TikTok bohay itu.”
“Itu kan minggu lalu," sahut Reno. "Duda sepertimu pasti juga nggak tahan lihat yang bohay-bohay," imbuhnya.
Bram menggeleng sembari tersenyum melihat tingkah teman-temannya.
"Aku rasa cuma Bram duda waras disini," ujar Kevin.
Reno terkekeh. "Kau ini memang tak update. Kau tau, wanita yang ia kencani hamidun. Sekarang dia lagi stress makanya ngajak kita kemari."
"Lha ngapain stress, tinggal nikahin aja," Kevin memukul bola yang meluncur ke arahnya.
"Beg0 atau gimana sih Lu! Masa Nina mau dikasih ibu dari club malam," ujar Reno.
Ya, hari ini dari pada nongkrong di club Bram mengajak teman se-geng nya berolahraga malam.
Sejak siang Zavian menunggu dikantor Bram menunggunya selesai bekerja.
"Hahahahaha..." Leo menertawakan. "Kena batunya juga dia."
"Halah... Kaupun juga sama saja Yo. Bilang saja kau juga sedang mengincar yang bohay disini," Reno menimpali.
Pertandingan selesai sementara.
Mereka duduk di area istirahat VIP. Beberapa wanita diam-diam melirik ke arah kumpulan pria itu. Mereka sangat mencolok, menarik perhatian.
Wajar saja. Para duda ganteng itu memang mempesona. Sudah tampan, mapan pula.
Eh tunggu... Bram, Kevin, Leo memang duda. Tapi tidak dengan Reno dan Zavian.
Reno sama dengan Zavian belum menikah diusia mereka yang sekarang ini—pertengahan kepala tiga. Namun bedanya Reno beberapa kali menjalin hubungan dengan wanita, tanpa komitmen.
Reno menyandarkan tubuh sambil minum.
“Sumpah capek juga.”
Kevin menyeringai.
“Usia tidak bisa bohong.”
“Heh! Aku masih muda!”
Leo tiba-tiba membuka topik lain.
“Eh, kalian dengar belum?”
“Apa?” sahut Reno cepat.
“Rosalia sudah bercerai.”
Hening sepersekian detik.
Kevin langsung menoleh.
“Benarkah?”
Namun yang paling diperhatikan justru Zavian. Pria itu duduk santai sambil membetulkan tali sepatunya seolah tak mendengar apa pun. Padahal tangannya berhenti bergerak sesaat.
Reno langsung penasaran.
“Darimana kau tahu?”
“Suami tanteku ternyata pengacara mantan suami Rosa,” jelas Leo.
Kevin mengangkat alis.
“Serius? Padahal selama ini rumah tangga mereka kelihatan baik-baik saja.”
“Katanya enam tahun menikah tapi belum punya anak,” lanjut Leo pelan. “Dan laki-lakinya selingkuh sampai bikin perempuan lain hamil.”
Reno melongo.
“Gila…”
Bram melirik Zavian.
Pria itu mengambil tumbler mahalnya lalu minum seteguk demi seteguk.
Ekspresinya datar.
Terlalu datar.
Padahal semua orang di lingkaran pertemanan mereka tahu.
Rosalia adalah wanita yang pernah membuat Zavian hancur.
Dulu mereka sangat dekat.
Sangat dekat sampai semua orang mengira mereka akan bersama.
Namun Zavian terlalu lambat.
Saat ia akhirnya sadar perasaannya, Rosalia sudah menerima lamaran pria lain pilihan keluarganya.
Pernikahan mewah itu sempat masuk berita selebrita dan majalah sosialita. Keluarga suami Rosa bukan orang sembarangan.
Sejak saat itu ia berubah.
Lebih dingin.
Lebih sulit didekati perempuan.
Keluarga Rosalia tidak pernah diterpa gosip miring sampai malam ini kabar perceraian Rosalia sampai ke telinga Zavian.
“Kau baik-baik saja, Zav?” tanya Bram hati-hati.
Hening.
Angin malam berhembus pelan.
Setelah tegukan terakhir, Zavian menutup tumblernya lalu gantian memperhatikan teman-temannya satu per satu.
“Aku?”
Tatapannya datar.
“Memangnya aku kenapa?”
Bram menyipitkan mata. Zavian bersandar santai. “Aku cuma heran kenapa kalian lebih sibuk mikirin orang lain. Hidup kalian sendiri bermasalah."
Kevin langsung tertawa keras.
“Nah keluar tuh mode nyebelin dia.”
Namun Reno belum menyerah.
“Jadi kalau Rosalia balik lagi gimana?”
Pertanyaan itu membuat suasana sedikit sunyi.
Tatapan semua orang tertuju pada Zavian.
Pria itu diam beberapa detik.
Lalu...
"Untukmu saja kalau mau."
Jawaban dingin itu membuat Leo bersiul pelan. “Sadis…”
"Mulut dan hatimu tak sama Zavi," ledek Reno.
Zavian berdiri mengambil raketnya.
“Kalian terlalu banyak gosip.”
“Mau ke mana?” Leo ikut berdiri.
“Pulang.”
Zavian mengambil handuk lalu menyampirkannya di bahu.
"Pulang? Ini masih sore, Zav."
Ya, biasanya dini hari mereka baru masuk rumah.
“Kelinciku belum minum obat," sahut Zavian.
Kalimat itu membuat semuanya langsung melotot.
Reno sampai hampir tersedak minumannya.
“Tunggu… apa?!”
"Sejak kapan kau punya ingon-ingon Zav?" Kevin terheran-heran.
wah ada yg CLBK nih nanti jad jadi jendonggggg ,,
nanti pasti terbayang bayang rasanya kenyal"