Selama 25 tahun, Rashaka Nareswara setia menjaga cintanya. Ia tetap bertahan, dan berharap pada satu nama yang tak pernah berubah di hatinya. Hingga akhirnya, penantian panjang itu berbuah manis.
Ia berhasil mempersunting wanita yang ia cintai sejak dulu, memulai kehidupan rumah tangga yang tampak sempurna.
Namun, kebahagiaan itu tak pernah benar-benar utuh. Di balik senyum sang istri, tersimpan bayang-bayang masa lalu yang belum selesai. Masalah demi masalah yang perlahan meretakkan kehangatan yang mereka bangun.
Akankah cinta yang bertahan selama seperempat abad itu mampu melawan luka yang belum sembuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GAYATRI S2 — BAB 17
Pagi itu, sinar matahari masuk melalui jendela kamar rumah sakit, menghangatkan ruangan yang beberapa hari terakhir terasa begitu asing bagi Keandra. Suasana di sana jauh lebih tenang dibandingkan sebelumnya. Tidak ada lagi rasa panik atau ketegangan yang berlebihan seperti saat pertama kali ia dilarikan ke rumah sakit karena cedera kakinya.
Keandra duduk di tepi ranjang dengan salah satu kaki masih dibalut penyangga medis. Meski begitu, kondisinya kini terlihat jauh lebih baik. Wajahnya tidak sepucat beberapa hari lalu, dan tubuhnya juga mulai kembali bertenaga. Seorang fisioterapis baru saja selesai membantunya melakukan latihan ringan. Meski sesekali rasa nyeri masih muncul, Keandra sudah bisa menggerakkan kakinya dengan jauh lebih baik dibanding sebelumnya.
“Perkembangannya bagus,” ujar dokter yang berdiri sambil memeriksa hasil laporan medis di tangannya. “Kalau kondisinya terus stabil seperti ini, beberapa hari lagi kau sudah bisa kembali beraktivitas secara normal.”
Keandra langsung menoleh. “Benarkah?”
Dokter tersenyum kecil. “Tetapi, harus hati-hati, jangan memaksakan diri terlalu cepat. Tapi sejauh ini pemulihannya sangat baik.”
Mendengar itu, Keandra menghembuskan napas lega. Rasanya seperti beban besar yang selama ini menekan dadanya perlahan terangkat..Selama berminggu-minggu, ia hidup dengan ketakutan bahwa cedera itu akan menghancurkan karier yang susah payah ia bangun di Korea.
Menjadi penari latar bukan pekerjaan mudah. Dunia hiburan bergerak cepat, dan satu kesalahan saja bisa membuat seseorang tertinggal. Karena itu, mendengar bahwa dirinya bisa segera kembali berlatih terasa seperti kabar terbaik yang pernah ia dengar akhir-akhir ini.
“Terima kasih, Dok,” ucap Keandra senang.
Dokter mengangguk sebelum akhirnya pamit keluar dari ruangan. Begitu pintu tertutup, Keandra menyandarkan tubuhnya perlahan ke kursi. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa sedikit lebih tenang..Tidak lama kemudian, terdengar ketukan di pintu.
“Masuk,” sahut Keandra.
Pintu terbuka, dan seorang pria muda berpakaian rapi masuk ke dalam ruangan. Wajahnya langsung dikenali Keandra.
“Hyung?” ucapnya terkejut.
Pria itu tersenyum tipis sambil membawa kantong berisi buah dan beberapa minuman kesehatan. Ia adalah salah satu staf dari agensi tempat Keandra bekerja, orang yang cukup sering mengurus jadwal para penari.
“Aku dengar kondisimu sudah membaik,” katanya sambil meletakkan barang bawaan di meja.
Keandra tersenyum kecil. “Ya, dokter bilang kondisiku sudah mulai membaik.”
Pria itu mengangguk puas. “Syukurlah jika kau baik-baik saja. Semua orang sempat khawatir.”
Keandra menggaruk tengkuknya pelan. “Maaf jadi merepotkanmu, Hyung.”
“Kau terlalu banyak meminta maaf. Santai saja, Kean. Bisa dianggap ini sudah menjadi tugasku,” balas pria itu santai sebelum akhirnya menarik kursi dan duduk di dekatnya.
Beberapa saat mereka mengobrol ringan mengenai kondisi Keandra dan suasana di agensi selama ia dirawat. Namun perlahan, ekspresi pria itu berubah sedikit lebih serius.
“Aku sebenarnya datang untuk menyampaikan sesuatu,” ujarnya serius.
Keandra langsung menatapnya penuh perhatian. “Tujuh hari lagi, kau harus mulai ikut latihan lagi.”
Keandra sedikit terdiam.
Pria itu melanjutkan, “Ada event besar yang tidak bisa dilewatkan. Semua tim sudah mulai persiapan dari sekarang.”
Keandra mengernyit tipis. “Event?”
Pria itu mengangguk. “Konser tahunan untuk salah satu idol group utama agensi. Jadwalnya padat, dan koreografinya cukup berat.”
Keandra menarik napas perlahan. Meski tubuhnya mulai membaik, membayangkan kembali ke ruang latihan secepat itu tetap membuatnya gugup.
Seolah memahami apa yang dipikirkan Keandra, pria itu kembali berkata, “Jika memang belum kuat, kami bisa cari penggantimu untuk sementara.”
Kalimat itu langsung membuat Keandra mengangkat kepala.
Ia tahu arti “pengganti sementara” di dunia seperti ini. Kadang sementara bisa berubah menjadi permanen jika seseorang dianggap tidak lagi mampu mengejar ritme pekerjaan.
“Aku bisa ikut,” jawab Keandra cepat.
Pria itu menatapnya sejenak. “Kau yakin?”
Keandra mengangguk pelan. “Aku akan berusaha.”
Ada tekad yang mulai terlihat di wajahnya. Cedera kakinya sudah cukup membuatnya tertinggal. Ia tidak ingin kehilangan kesempatan lebih banyak lagi.
Pria itu akhirnya tersenyum tipis. “Baiklah. Tapi jangan memaksakan diri. Kondisimu tetap jadi prioritas utama. Oke?”
Keandra mengangguk paham. Setelah pria itu pergi, suasana kamar kembali hening.
Keandra menoleh ke arah jendela, memandang langit Seoul yang cerah pagi itu. Dalam dadanya, ada rasa lega sekaligus gugup yang bercampur menjadi satu. Namun setidaknya sekarang, ia punya tujuan lagi.
Hanya tujuh hari sebelum ia kembali ke dunia yang selama ini ia perjuangkan.Dan kali ini, Keandra berjanji pada dirinya sendiri, ia tidak akan menyerah hanya karena rasa sakit.
***
Sore itu, langit tampak mendung ketika mobil Gayatri berhenti di depan rumah Wira. Udara terasa lembap setelah hujan ringan yang turun sejak siang, meninggalkan aroma tanah basah yang samar memenuhi halaman rumah.
Gayatri duduk beberapa detik di dalam mobil sebelum akhirnya keluar. Wajahnya terlihat tenang seperti biasa, namun pikirannya jelas dipenuhi banyak hal. Sejak pembicaraannya dengan Keenan malam sebelumnya, hatinya belum benar-benar tenang.
Gayatri tahu bahwa masalah ini tidak bisa dipendam terlalu lama. Dan lebih dari itu, Mahesa berhak mengetahui semuanya.
Begitu pintu rumah terbuka, Sarita langsung menyambutnya dengan senyum kecil. “Gayatri?”
Gayatri mengangguk pelan. “Mahesa ada di rumah, Bu?”
“Ada di dalam,” jawab Sarita sambil mempersilahkannya masuk.
Suasana rumah sore itu cukup sunyi. Wira tampaknya sedang beristirahat di kamar, sementara Nadya belum terlihat di ruang tengah. Gayatri melangkah masuk dengan tenang sampai akhirnya melihat Mahesa duduk di sofa sambil memperhatikan layar laptopnya.
“Gayatri?” Mahesa tampak sedikit terkejut melihat kedatangannya.
“Aku ingin membicarakan hal yang penting,” ujar Gayatri tanpa bertele-tele.
Nada suaranya membuat Mahesa perlahan menutup laptopnya. Ada sesuatu dalam ekspresi Gayatri yang langsung membuatnya sadar bahwa pembicaraan ini bukan hal sepele.
“Ada apa?” tanyanya pelan.
Gayatri tidak langsung menjawab. Ia duduk di sofa yang berhadapan dengan Mahesa, lalu menarik napas panjang seolah sedang menyiapkan dirinya sendiri.
“Aku baru tahu sesuatu tentang Keenan,” katanya akhirnya.
Nama itu langsung membuat Mahesa mengernyit. “Keenan? Dia kenapa? Apa terjadi sesuatu padanya?”