Namanya Arumi, seorang gadis yang tinggal di desa Dukuh Asem.
Arumi adalah seorang gadis yang baik hati dan suka membantu orang tuanya.
Namun, ketenangan itu perlahan menghilang, saat bayi-bayi di desanya mulai meninggal satu-persatu dengan darah yang mengering.
Arumi juga mulai sering melihat penampakan aneh, bahkan sampai hampir disakiti oleh sesosok kuntilanak merah.
Kuntilanak itu selalu mengatakan, kalau ibunya Arumi telah membuat hidupnya hancur.
Arumi dan adiknya, yang bernama Bella, mulai merasa curiga dengan kedua orang tuanya.
Apalagi, mereka sering tampak terlihat aneh.
Arumi juga merasakan keanehan dengan dirinya, sebab dirinya sering melihat penampakan aneh.
Sebenarnya, apakah yang terjadi? Dan mampukah Arumi mengungkap semuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Aksara 04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Hutan itu tersembunyi dari pemukiman warga.
Di sekitarnya tak ada desa, karena ini adalah hutan terpencil.
Suasananya sangat sunyi, bahkan suara hewan malam pun tak ada.
Padahal, biasanya hutan sangat ramai dengan suara hewan malam.
"Hihihi,"
Susi melayang, menembus pepohonan yang rapat.
Mungkin, ini juga alasan mengapa para hewan itu tak berbunyi, sebab mereka takut dengan wujud dari kuntilanak itu.
***Beberapa saat melayang, akhirnya tibalah Susi di sebuah gubuk sederhana.
Gubuk itu berada tepat ditengah hutan.
Orang-orang tidak akan mengira bahwa di hutan yang tak pernah di jamah warga itu terdapat manusia yang tinggal di sana.
Kuntilanak itu masuk begitu saja dengan menembus pintu.
Namun, auranya tampak lebih bengis daripada biasanya.
Dari luar, gubuk itu terlihat rapuh, karena hanya terbuat dari bambu.
Gubuk itu juga terlihat kecil, seperti tak ada banyak barang yang ada di sana.
Padahal, di dalamnya dipenuhi dengan lilin, sesajen, keris yang digantung di mana saja.
Tak ketinggalan juga kepala kerbau yang tergantung di dinding, seolah menjadi pajangan yang mengerikan sekali.
"Hihihi, hahaaaaaa, kenapa kau menggangguku, dukun sialan," Susi tampak sangat marah, karena ia gagal mendapatkan seorang bayi.
Lelaki paruhbaya yang sedang duduk bersila itu tampak tersenyum menatap Susi.
Tak ada ketakutan dalam tatapannya, yang ada malah seringaian kejam yang terlihat.
"Dengar, Susi, aku bisa saja membuatmu kehilangan kekuatan besarmu itu. Maka turutilah aku, karena ada tugas yang harus kau jalani. Untuk itulah aku memanggilmu ke sini," ucap dukun itu.
"Tidak, jangan harap aku mau menurut denganmu, aku belum mendapat mangsa, hihihi," jawab Susi.
Susi berusaha menyerang lelaki itu, namun rupanya si lelaki tak membiarkan Susi menyerangnya.
Dukun itu menghentakan tangannya dengan kuat, melemparkan sebuah kujang pada Susi.
Jleb.
Kujang itu menancap tepat di tangan Susi, membuat darah hitam mengucur deras dari tangan itu.
"Aaargh!"
Susi berteriak kesakitan.
Tak merasa cukup dengan itu, lelaki tersebut membaca mantra, membuat rantai gaib muncul di tangannya.
Rantai itu langsung dilemparkan pada Susi tanpa basa-basi.
"Panaaaas!" Susi berteriak kuat, saat rantai itu mengikatnya, dan rasa panas langsung dirasakan oleh kuntilanak merah itu.
"Hahahaha, bagaimana, apakah kamu masih ingin melawan aku?" tanya dukun itu.
"T-tidak, ampuni aku. Aku akan melakukan apa yang kau mau," jawab Susi.
Susi jatuh, akibat tak kuat menahan rasa panas dari rantai itu.
Itu adalah rantai penakluk makhluk gaib.
Siapapun mahkluk halus yang terkena rantai itu, jika kekuatannya belum sebesar dan sehebat itu, maka akan dijadikan budak oleh orang yang menggunakan rantai ini, akibat tidak tahan dengan rasa sakit dan panas yang menyiksa.
"Bagus, jangan melawanku jika tidak ingin terkena senjata milikku ini," ucap dukun itu.
Kemudian, dukun itu melemparkan sebuah foto seorang lelaki pada Susi.
"Lihat foto ini baik-baik, kau harus membunuh orang ini, karena dia telah membayar padaku," ucapnya.
Susi hanya bisa menurut saja.
Pasalnya, jika ia tidak menurut, maka bisa saja dukun itu menghabisi arwah Susi dengan kujang miliknya, atau terus menyiksa Susi dengan rantai itu.
Senjata kujang adalah senjata yang digunakan di tanah Sunda.
Dibuat pada abat 8, dan ada juga yang mengatakan dibuat pada abat ke 9, senjata ini memiliki berat 300g dan memiliki panjang 25CM.
Ditengah bilah, terdapat lubang-lubang kecil menembus logam, itulah mata kujang.
Mata-mata kujang ini tak hanya 1 lubang saja, melainkan ada beberapa, membuat kujang itu seolah memperhatikan musuh, dan siap menyerang kapan saja.
Ujungnya mencuat seperti cakar yang siap merobek musuh.
Susi terbang keluar dari gubuk itu.
Ia akan menjalankan tugas yang diberikan oleh majikannya, meski rasa sakit masih terasa akibat luka dari serangan kujang tadi.
***Sementara itu, kembali ke desa Dukuh Asem.
Saat ini, jam sudah menunjuk angka 22.00.
Malam itu, tidak ada bayi yang diculik,walaupun mungkin hanya untuk malam ini saja ketenangan itu.
Suasana desa juga tampak lebih baik, tidak mencekam seperti biasanya.
"Arumi, tidurlah. Aku akan membawa kamu ke suatu tempat besok," ucap Nyai Sekar Arum.
"Mau ke mana, Nyai? Bukannya besok aku masih harus tirakat?" tanya Arumi.
"Iya. Tapi, kamu harus memperkuat batinmu, dan aku juga ingin mengajari kamu beberapa ilmu," jawab Nyai Sekar Arum.
"Oh gitu, terus gimana keluargaku, Nyi?" tanya Arumi.
"Nanti aku akan menggunakan ilmu sirep untuk menidurkan orang-orang di rumah ini," jawab Nyai Sekar Arum.
"Nah, oke deh. Asal nggak bahaya aja itu, Nyai," ucap Arumi.
"Tidaklah, justru itu sebenarnya baik, mereka jadi nyenyak dan istirahat dengan cukup dan puas," jawab Nyai Sekar Arum.
Arumi sungguh tidak tahu harus beralasan seperti apa untuk pergi dari rumah dalam waktu yang lama.
Bisa saja ia beralasan hendak menginap di rumah Putri—temannya, tetapi sayangnya Putri sedang tidak ada di rumah.
"Tapi, Nyai, apa adikku harus di sirep juga?" tanya Arumi.
Pasalnya, esok adalah hari Sabtu, dan tentu saja Bella tidak akan pergi ke sekolah.
"Iya, dia akan terkena ilmuku juga, lagipula bukankah adikmu itu akan panik jika orang lain tertidur, lalu dia bangun sendirian, wah sudah kayak di cerita putri tidur saja, bukan," ucap Nyai Sekar Arum.
"Hahaha, ada-ada aja kamu Nyi, aku kira kamu nggak bisa bercanda," jawab Arumi.
"Matamu, aku ini kan juga capek serius terus, sekali-kali bercanda nggak papa lah," ucap Nyai Sekar Arum.
Arumi hanya bisa tersenyum sambil memejamkan matanya.
Jika masih ada waktu sebelum dirinya berangkat bersama Nyai Sekar Arum, Arumi berencana akan memberitahu adiknya soal mereka yang akan tertidur secara masal itu.
"Jadilah orang kuat suatu saat nanti, Arumi, dan semoga kamu mau menolong ciptaan Allah yang lain," doa Nyai Sekar Arum, sambil menghilang dari kamar itu, setelah Arumi tertidur.
Nyai Sekar Arum sudah menjaga Arumi sedari gadis itu masih bayi.
Namun, mata batin Arumi memang hanya akan terbuka saat dirinya dewasa.