[TAHAP REVISI] [UPDATE 3 HARI SEKALI]
Elleta Clarissa Crassia, ia tahu bahwa nama belakangnya bukanlah hal yang harus di banggakan. Terlahir dari keluarga pengusaha sukses membuatnya menahan beban yang tak seharusnya ia pikul. Keputusan sang ayah membuatnya tak memiliki pilihan, sebuah perjanjian bisnis dengan kata "pernikahan."
Elleta di jodohkan dengan laki-laki, pewaris utama keluarga Danendra. Steve Athariz Danendra, laki-laki dingin yang katanya tak pernah tersentuh. Dan semuanya berawal dari sana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lovelyiaca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Pelarian dan Cincin Penanda
Langkah kaki yang tegap dan beritme konstan membelah kerumunan aula dengan penuh percaya diri. Sosok pria dengan rahang tegas dan sepasang mata hitam kecokelatan yang sangat mirip dengan Elleta muncul. Rambut hitam legamnya tertata rapi, namun urat-urat nadi di leher dan pelipisnya terlihat menegang, menahan gelombang emosi yang siap meledak.
"Lepaskan tanganmu dari adikku, Steve!" Suara bariton Michael terdengar rendah, namun getaran otoritas di dalamnya sanggup mengintimidasi siapa pun yang mendengar.
Michael tahu persis apa yang sedang menimpa adiknya. Ia tahu perusahaan Crassia Group sedang berada di jurang kebangkrutan, dan Elleta dijadikan pion jaminan untuk melunasi utang-utang gila ayahnya kepada keluarga Danendra.
Merasa kedatangan Michael akan merusak skenario besar yang sudah disusun, Yuda bangkit dari kursinya. Wajahnya memerah menahan berang. "Michael! Jangan mempermalukan Papa di sini! Ini urusan bisnis, jangan ikut campur!"
"Bisnis?" Michael berbalik, menatap ayahnya dengan kilat kemarahan yang membara. "Bisnis apa, Pa?! Papa tega menjual Elleta demi menyelamatkan muka Papa sendiri?!"
Di tengah pusaran ketegangan itu, Steve tetap bergeming. Wajahnya sedingin es. Bukannya melonggarkan cengkeramannya di pinggang Elleta, ia justru mempereratnya hingga membuat gadis itu tertahan. Steve menunduk sedikit, membisikkan ancaman yang seketika membuat tubuh Elleta membeku.
"Satu langkah saja kamu menjauh dariku dan pergi bersama abangmu... besok pagi kamu akan mendengar kabar bahwa Daniel enggak bernyawa di California."
Napas Elleta tertahan. Setelah memastikan pesannya tertanam sempurna, Steve melonggarkan kekangannya dan menatap Michael dengan seringai miring khasnya.
"Acara pertemuan keluarga akan dilaksanakan besok malam jam tujuh, Elleta. Aku berharap kamu bisa menentukan pilihan dengan bijak, karena semua keputusan kini ada di tanganmu," bisik Steve sebelum melangkah mundur setapak.
Elleta menatap abangnya, lalu menghela napas panjang demi mengontrol sesak yang menghimpit dadanya.
Ia tidak boleh membiarkan Michael menjadi korban kegilaan Steve. "Bang, pergi dari sini. Jangan mengacaukan acara ini," ucap Elleta, berusaha terdengar dingin.
Michael menangkap gurat keputusasaan yang disembunyikan adiknya dengan rapi. "El, kenapa? Abang di sini untuk membantumu," sahut Michael seraya meraih pergelangan tangan Elleta.
"Aku baik-baik saja, Bang. Bang Michael enggak usah khawatir," dusta Elleta. Kata-katanya bertolak belakang dengan hatinya yang menjerit perih.
Melihat penolakan itu, Michael perlahan melepaskan genggamannya. Ia menatap adiknya dengan sorot mata kecewa yang mendalam, sebelum akhirnya berbalik meninggalkan aula.
Malam yang melelahkan itu akhirnya usai.
Steve mengantarkan Elleta pulang menggunakan mobilnya. Namun, tepat di teras rumah, sebelum Elleta turun, Steve kembali melayangkan ultimatum terakhirnya dengan nada sedingin tudung es.
"Aku tahu seberapa keras kepalamu, Elleta. Jika kamu berani berniat macam-macam, tunggu saja berita kematian kekasihmu di halaman utama besok pagi."
Begitu pintu mobil terbuka, Elleta langsung berlari masuk ke dalam rumah. Ia mengabaikan rasa sakit di kakinya akibat memakai heels.
Sesampainya di kamar yang temaram, seluruh emosinya pecah. Tanpa berpikir panjang, ia mencengkeram kain gaun merah beludru pemberian Steve dan merobeknya dengan kasar hingga suara kain yang terkoyak memenuhi keheningan kamar.
Kalung berlian yang melingkar di lehernya ia sentak hingga putus, membuat butiran mutiara dan permata berceceran di lantai marmer.
Ting!
Layar ponselnya yang tergeletak di kasur menyala, menampilkan sebuah notifikasi foto. Itu adalah foto sebuah kue tar dengan tulisan, Happy 10th Anniversary, My Queen. Pesan itu dikirim oleh Daniel.
Hati Elleta rasanya seperti dihantam godam yang luar biasa berat. Sepuluh tahun hubungan yang mereka bangun kini dipertaruhkan di ujung tanduk. Sebuah ide gila mendadak melintasi benaknya.
Dengan gerakan nekat dan tangan gemetar, ia memasukkan baju seadanya, paspor, serta dokumen penting ke dalam ransel kecil. Ia harus kabur ke California malam ini juga.
Keesokan paginya, cahaya matahari yang cerah seolah mendukung rencana pelariannya. Elleta melangkah keluar kamar dan menutup pintu dengan sangat hati-hati. Namun, langkahnya mendadak terhenti di ruang tengah oleh suara sang ibu.
"Mau ke mana sepagi ini, El?" tanya Rena heran.
"Mau... jalan-jalan mencari udara segar bersama Dania, Ma," bohong Elleta, berusaha mengatur suaranya agar tidak bergetar meski jantungnya bertalu-talu di dalam dada.
Beruntung, Rena tidak menaruh curiga. "Ya sudah, hati-hati di jalan."
Begitu keluar dari gerbang rumah, Elleta langsung mencegat taksi yang kebetulan melintas. Tangannya yang dingin saling meremas kuat. "Ke bandara, Pak. Tolong agak cepat," instruksinya parau.
Taksi melaju membelah jalanan menuju bandara internasional. Sesampainya di sana, Elleta bergegas menuju meja check-in dan menyerahkan tiket elektroniknya kepada petugas. Namun, dahi petugas wanita itu perlahan berkerut saat menatap layar komputer.
"Maaf, Nona. Tiket Anda ditangguhkan. Ada instruksi khusus dari pusat terkait identitas Anda," ujar petugas itu dengan sopan namun tegas.
"Maksudnya apa?! Aku sudah bayar tiket itu secara legal!" seru Elleta, rasa frustrasinya mulai mencapai batas.
Tiba-tiba, aroma familiar perpaduan sandalwood dan citrus menguar di udara, disusul oleh derap langkah sepatu yang tegas di belakangnya. Bulu kuduk Elleta meremang. Seluruh tubuhnya mendadak kaku saat membalikkan badan.
"Kamu memang sudah membayar tiket itu, El. Tapi tidak ada satu pun maskapai yang diizinkan menerbangkanmu tanpa persetujuanku."
Steve berdiri dengan keangkuhan yang mutlak, dikelilingi oleh beberapa pengawal berjas hitam yang tegap.
"Kamu lupa sedang berurusan dengan siapa? Seluruh akses bandara di negara ini berada di bawah pengawasanku. Terutama... jika itu menyangkut pelarianmu, Elleta," bisik Steve dengan senyuman kemenangan yang dingin.
...***...
Matahari yang tenggelam di cakrawala menandakan waktu yang ditakuti Elleta telah tiba. Suasana restoran bintang tujuh tempat pertemuan kedua keluarga terasa begitu formal sekaligus mencekik. Hanya ada suara dentingan garpu dan pisau yang beradu di atas piring porselen mahal.
Makanan mewah tersaji di depan mata, namun Elleta merasa mual bahkan hanya untuk mencium aromanya. Ruang privat itu dipenuhi oleh dekorasi bunga lili yang alih-alih harum, justru terasa seperti jerat yang mengikat lehernya.
Di seberang meja, Steve duduk dengan tenang, bersikap seolah sabotase tiket pesawat pagi tadi tidak pernah terjadi. Di sebelahnya, Yuda tertawa riang, berusaha mencairkan suasana dengan obrolan seputar kenaikan saham yang membuat Elleta muak.
Steve yang menyadari wajah pucat gadis di hadapannya mulai membuka suara. "Kenapa, El? Makanannya enggak sesuai seleramu?"
Elleta menatap piringnya dengan pandangan kosong. "Aku tidak lapar."
"Mau kuganti dengan menu lain?" tawar Steve.
Elleta hanya menggelengkan kepala tanpa minat. Melihat kode dari ayahnya, Jeff Danendra, Steve mengangguk pelan. "Langsung saja, Dad. Enggak perlu menunggu hidangan penutup."
Jeff Danendra berdeham, memulai inti pembicaraan. "Selamat malam, Tuan dan Nyonya Crassia. Malam ini, kita berkumpul untuk meresmikan kesepakatan penggabungan dua grup besar kita. Bersamaan dengan itu, pertunangan anak-anak kita resmi dimulai."
Steve mengeluarkan sebuah kotak beludru merah elegan dari saku jasnya. Di dalamnya, berkilau sebuah cincin berlian putih yang sangat mewah. Steve mengambil cincin itu, lalu mengulurkan tangannya. "Elleta, tanganmu."
Gadis itu tetap bergeming, menyembunyikan kedua tangannya di atas pangkuan. Melihat keras kepalanya Elleta, Steve meraih tangan kanan gadis itu sedikit kasar, lalu menyematkan cincin tersebut ke jari manisnya.
Logam dingin itu terasa membakar kulit Elleta saat meluncur masuk. Di dalam lingkar cincin itu, ia bisa merasakan ukiran nama Steve Athariz Danendra, sebuah tanda kepemilikan yang permanen.
Harusnya Kak Daniel yang memasangkan cincin ini di jariku, batin Elleta sendu, menahan sesak.
"Sekarang giliranmu, Elleta," perintah Jeff dengan nada lembut namun menuntut.
Dengan tangan yang bergetar hebat dan tidak bisa lagi ia sembunyikan, Elleta mengambil cincin pasangan dan memasangkannya ke jari manis Steve.
Tepuk tangan riuh langsung terdengar dari kedua orang tua mereka. Hanya Michael, yang duduk di samping Elleta, yang tampak mengepalkan tinju dengan rahang mengeras.
"Akhirnya, Elleta, kamu resmi menjadi calon menantuku. Penggabungan bisnis ini akan menjadi sejarah besar," ucap Jeff puas.
"Ini bukan pertunangan. Ini pemaksaan, bahkan lebih cocok disebut perdagangan manusia!" sahut Michael ketus, tidak bisa lagi membendung amarahnya.
Yuda langsung melotot tajam, memberi isyarat agar anak lak-lakinya itu menjaga ucapannya. Michael yang sudah tidak tahan lagi langsung berdiri hingga kursinya berderit nyaring di atas lantai. "Pertemuan ini sudah selesai, kan? Aku akan membawa Elleta pulang sekarang!"
Steve ikut bangkit, menatap Michael dengan pandangan meremehkan dari sudut matanya. "Dia bukan lagi sekadar adikmu yang bisa kamu bawa pergi sesuka hati, Michael. Dia sekarang tunanganku. Dan malam ini, Elleta punya urusan denganku. Silakan pulang lebih dulu, Tuan Crassia sudah memberikan izinnya padaku."
Michael mengepalkan tangannya hingga bergetar, namun tatapan peringatan yang tajam dari Yuda membuatnya tidak berkutik. Di tengah keheningan itu, Steve mendekatkan wajahnya ke telinga Elleta, membisikkan kata-kata yang mengunci seluruh napas gadis itu.
"Kamu sudah resmi menjadi milikku, Elleta. Kamu tidak akan bisa lari lagi. Cincin itu memiliki pelacak tersembunyi yang akan memberitahuku ke mana pun kamu pergi. Ingat, aku bisa melenyapkan Daniel hanya dengan satu kata. Jadi, patuh-lah."
Elleta meremas kain gaunnya kuat-kuat hingga kusut, menyalurkan seluruh kebenciannya. "Kamu iblis tidak punya hati!"
Steve tersenyum miring, menatapnya dengan binar posesif yang pekat. "Benci aku sesukamu, El. Sampai di mana rasa benci itu nanti akan tumbuh menjadi cinta."
Tanpa memedulikan penolakan, Steve menarik tangan Elleta, membimbingnya keluar dari restoran menuju mobil Rolls-Royce hitam yang sudah menunggu di lobi.
Saat mobil mulai melaju dan Elleta menyadari bahwa rute yang mereka ambil sama sekali bukan arah menuju rumahnya, keringat dingin mulai bercucuran membasahi telapak tangannya. Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.