Kania Maharani, harus menerima kenyataan pahit saat sang suami lebih memilih untuk kembali pada sang mantan kekasih setelah satu tahun usia pernikahan mereka.
Dulu mereka di jodoh kan saat Erlan Hadi Wijaya di tinggal kan oleh kekasih nya, demi pria lain.
Setelah sang kekasih berpisah dari laki - laki pilihan nya, dia ingin kembali pada Erlan. Erlan yang masih mencintai Wina, menerima wanita itu kembali tanpa perduli perasaan Kania.
Apakah Kania tetap bertahan dan menerima diri nya di madu, atau memilih mundur karena dia bukan lah istri pilihan suami nya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Mobil milik pak Rama perlahan bergerak meninggal kan halaman rumah nya, mereka pergi dengan di antarkan oleh sopir pribadi pak Rama. Kania dan bu Sarah duduk di bangku tengah, sedangkan pak Rama duduk di depan di samping sopir.
"Nak, apakah orang tua mu tahu bahwa kau akan pulang hari ini?" Tante Sarah bertanya pada Kania.
"Tidak tante!" Jawab Kania lirih sambil menggelengkan kepala nya.
"Kamu yang sabar ya nak, kamu wanita kuat, tante yakin kamu pasti bisa melewati nya!" Tante Sarah berkata lagi sambil membawa Kania ke dalam pelukan nya.
Tante Sarah tahu dan mengerti seperti apa perasaan Kania, wanita yang di buang oleh suami nya demi wanita lain. Tante Sarah berjanji di dalam hati, bahwa dia akan menganggap Kania sebagai putri kandung nya sendiri, pertemuan yang hanya sebentar tapi begitu terkesan di hati nya.
Hati Kania begitu kacau, dia tidak tahu bagaimana dia bisa menghadapi Abah dan Umi. Dia tidak bisa mempertahankan mahligai rumah tangga nya, karena sang suami lebih memilih cinta pertama nya di banding kan dengan diri nya.
'Maafkan Kania Abah, Umi. Kania tidak bisa menjaga amanah kalian, Kania tidak bisa menjaga suami Kania. Pernikahan sekali seumur hidup yang kalian ingin kan, kini telah hancur!" Batin Kania di dalam hati.
Tante Sarah menikmati perjalanan ke puncak, dia menikmati pemandangan di luar melalui jendela mobil nya. Tapi tidak dengan Kania, hati nya begitu kacau. Dia belum siap menghadapi orang tua angkat nya, kedua nya pasti akan sangat bersedih mengetahui apa yang terjadi pada diri nya.
*******
Di tempat yang berbeda, Erlan pulang ke rumah nya setelah sebelum nya mengantarkan Wina pulang. Erlan melangkah kan kaki nya memasuki rumah, suasana rumah begitu berbeda. Rumah ini terlihat sepi karena tidak ada lagi Kania yang menyambut nya, biasa nya wanita itu akan berdiri di depan pintu untuk menyambut nya.
Tapi kini semua nya sudah berbeda, bahkan Erlan tidak melihat para pelayan di rumah ini yang biasa nya sibuk dengan tugas nya masing - masing.
"Ingat jalan pulang juga kamu, Erlan?" Tiba - tiba Erlan di sambut suara ketus sang Mama di ruang keluarga.
"Mama,,, Papa,,, kapan kalian datang?" Tanya Erlan dengan gugup.
"Kami sudah berada di sini sejak tadi malam, menunggu mu pulang!" Jawab Mama Indri sambil melipat tangan di dada.
Erlan semakin gugup, Papa Beni memang tidak bicara sejak tadi. Tapi Erlan bisa melihat api kemarahan di bola mata nya, Erlan tahu saat ini semua nya sedang tidak baik- baik saja. Papa Beni bergerak maju mendekati Erlan, dia tetap tidak mengatakan apapun.
Buuuggghhh.
Kepalan tangan Papa Beni mendarat tepat mengenai rahang nya Erlan, Erlan pun jatuh tersungkur ke lantai.
"Laki - laki kurang ajar kau, berani nya kau berbuat hal memalukan seperti ini!" Papa Beni berkata dengan tatapan mata yang berkilat penuh kemarahan.
"Papa, kenapa Papa memukul ku?" Tanya Erlan sambil berusaha untuk berdiri.
Erlan berpura-pura tidak tahu permasalahan nya, dia sadar apa yang menyebabkan orang tua nya begitu mereka, sudah pasti karena kepergian Kania dari rumah ini.
"Di mana tanggung jawab mu sebagai suami? Jika kau memang tidak mengingin kan Kania lagi, maka kau bisa mengantarkan nya kembali pada orang tua nya. Bukan malah mengusir nya dari sini, kau tahu sendiri dia tidak mengenal siapa pun di sini selain diri mu!" Bentak Papa Beni.
"Pa, Kania itu bukan lagi anak kecil. Jadi dia pasti tahu jalan pulang, lagian satu hal lagi Pa. Aku tidak pernah mencintai Kania, aki hanya mencintai Wina!" Jawab Erlan dengan berani.
Mama Indri segera maju mendekati putra nya, dia melayang kan tamparan pada kedua pipi putra nya.
Plaaakkkk, plaakkkk.
Dua kali tamparan berturut- turut di berikan oleh Mama Indri pada Erlan, Erlan mengusap pipi nya yang terasa perih akibat tamparan itu.
"Erlan, kau benar - benar keterlaluan. Apa kau sudah lupa apa yang di lakukan oleh Wina pada mu dulu? Dan kini kau berani nya mengatakan bahwa kau mencintai jalang itu!" Mama Indri benar - benar terpancing emosi dengan ucapan putra nya.
"Ma, jangan bilang Wina jalang Ma. Dia melakukan semua itu karena paksaan orang tua nya, dan kini dia sudah menyadari semua nya!" Erlan membela sang kekasih di hadapan orang tua nya.
"Kau bilang dia bukan jalang? Lalu apa ini?" Tanya Papa Beni sambil melemparkan ponsel nya pada Erlan.
Erlan menerima ponsel itu dan dia tidak percaya dengan apa yang di lihat nya, semua itu adalah foto- foto diri nya dan juga Wina tadi malam. Keadaan yang sangat memalukan, dia dan Wina sedang berada di atas tempat tidur dengan di balut sebuah selimut. Erlan mengenali tempat itu, ya kamar hotel tempat dia dan Wina berada semalam.
'Dari mana mereka bisa mendapatkan foto - foto ini? Tidak mungkin mereka mengikuti aku tadi malam!' Guman Erlan di dalam hati.
"Jawab Papa, Erlan. Apa nama nya jika dia bukan jalang?" Bentak Papa Beni dengan murka nya.
Erlan hanya diam dan dia hanya bisa menunduk kan kepala nya, kini dia tidak bisa mengelak lagi. Semua itu memang benar ada nya, tadi malam dia memang menghabiskan waktu dengan Wina.
"Erlan, kau benar - benar keterlaluan Erlan. Kau lupa dulu Wina lah yang telah menghancurkan kehidupan mu, dan Kania lah yang menyelamatkan mu. Tapi kini kau dengan tega nya mengusir Kania, dan kembali pada wanita itu!" Mama Indri berkata sambil menangis.
Mama Indri sangat sedih, bagaimana bisa dia menghadapi orang tua Kania. Dulu mereka meminta nya pada mereka dengan cara baik - baik, tapi kini putra nya yang telah melakukan hal yang membuat mereka malu.
"Tidak ada kabar ma, Kania bahkan tidak ada di pesantren!" Papa Beni berkata pada Mama Indri.
"Ya Allah Kania, di mana kau berada nak?" Mama Indri menangisi menantu nya.
"Papa, ayo kita cari Kania sekarang juga. Mama tidak bisa tenang dan Mama tidak bisa menghadapi Abah dan Umi, jika Kania tidak ada!" Mama Indri berkata pada suami nya.
"Iya Ma, ayo!" Papa Beni membantu istri nya berdiri.
Sepasang suami istri itu meninggal kan Erlan sendirian yang masih berdiri terpaku di tempat nya, kedua nya bertekad akan mencari Kania sendiri. Kania yang sudah mereka anggap seperti putri kandung nya sendiri, kini malah di perlakukan dengan buruk oleh putra mereka.
Erlan akhir nya terduduk lesu, dia tidak menyangka bahwa semua nya akan menjadi serumit ini. Orang tua nya lebih memilih Kania, dari pada diri nya sebagai putra kandung.
mudah2han rujuk lagi sama erlan
tapi erlan hrs berjuang dulu
Jangan lama-lama Up lagiii 😘😍
bikin ancur aja tuh mereka berdua pak Beni 👍😡