Naraya Pramaswari Dhanubrata, seorang CEO muda yang dikenal dingin dan perfeksionis, terbiasa hidup dalam kemewahan. Di usianya yang terbilang matang, ia tidak lagi benar-benar percaya pada cinta, apalagi hubungan rumit.
Segalanya berubah ketika ia bertemu Sagara, pemuda tampan berusia 24 tahun yang sederhana. Namun, penuh semangat hidup. Berbeda jauh dari dunia Naraya, Sagara menjalani berbagai pekerjaan demi bertahan hidup. Mulai dari montir, ojek online, hingga pekerja paruh waktu. Meski hidupnya keras, Sagara tetap hangat, tulus, dan pantang menyerah.
Pertemuan tak terduga mereka perlahan menyeret Naraya ke dalam dunia yang tak pernah ia bayangkan. Sagara yang gigih, tanpa sadar meruntuhkan dinding hati Naraya yang selama ini terkunci rapat.
Namun, perbedaan status, usia, dan prinsip hidup menjadi tantangan besar bagi keduanya. Belum lagi seseorang dari masa lalu Naraya yang kembali hadir.
Akankah cinta mereka mampu bertahan, atau justru menjadi luka yang tak terhindarkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Percakapan di meja itu akhirnya mulai mereda. Samudra menatap jam tangannya sekilas sebelum kembali mengangkat pandangan pada Nara. "Sepertinya saya terlalu lama menahan waktu Anda malam ini."
Nada bicaranya tetap sopan, tenang. Namun, tatapannya beberapa kali masih jatuh pada Sagara, seolah pria itu masih memberi teka-teki yang belum berhasil ia pecahkan.
Nara tersenyum tipis. "Tidak juga," jawabnya halus. Meski begitu, ia tahu tujuan malam ini sudah tercapai.
Semakin lama mereka berada di sana, semakin besar kemungkinan semuanya justru berantakan. Karena itu, sebelum Samudra kembali membuka percakapan lain, Sagara lebih dulu berdiri pelan dari kursinya. "Kalau begitu kami permisi dulu," ucapnya tenang.
Kalimat itu terdengar natural, seolah ia terbiasa mendampingi Nara di acara-acara formal.
Nara ikut berdiri. Tanpa sadar, jemarinya kembali menyentuh lengan Sagara pelan. Refleks semata agar sandiwara mereka tetap terlihat sempurna. Namun, justru sentuhan kecil itu membuat Sagara menegang samar. Untungnya tidak ada yang menyadari.
"Atas jamuannya, terima kasih," lanjut Sagara sopan sambil menganggukkan kepala sedikit pada Samudra.
Samudra ikut berdiri. "Tentu," balasnya. "Saya harap lain kali kita bisa berbicara lebih banyak."
Sagara tersenyum tipis. "Tentu saja, saya juga berharap demikan."
Nara langsung melirik cepat ke arah pria di sampingnya. Sedangkan Samudra hanya tersenyum tipis.
Beberapa detik kemudian, Nara dan Sagara berjalan meninggalkan area restoran bersama. Langkah mereka tenang menyusuri lorong mewah restoran menuju pintu keluar.
Baru setelah pintu lift tertutup rapat dan tidak ada siapa pun di sana, Nara akhirnya menghembuskan napas panjang. "Syukurlah," gumamnya pelan.
Sagara melirik. "Berhasil?"
Sudut bibir Nara terangkat tipis "Lebih dari sekedar berhasil," jawabnya. Meski pun selanjutnya ia harus bersiap menghadapi banyak pertanyaan dari sang kakek dan tentu saja Seokjin, sepupunya yang selalu ikut campur dalam kehidupannya.
Sagara terkekeh kecil lalu melonggarkan sedikit dasi mahal yang terasa mencekik di lehernya. "Jujur saja," ucapnya sambil menghela napas, "Saya hampir mati tegang tadi."
Nara langsung tertawa kecil untuk pertama kalinya malam itu. Dan suara tawanya membuat Sagara diam sepersekian detik. Karena sejak awal bertemu, baru kali ini ia melihat Nara tertawa setulus itu.
"Kamu ternyata lumayan juga," ujar Nara setelah tawanya reda.
"Lumayan apa?"
"Berakting."
Sagara mendecak pelan. "Saya terpaksa karena Nona Tiwi terus saja meminta tolong."
Nara terkekeh kecil mendengar itu. "Harusnya kau menjadi aktor berbakat."
Tatapan wanita itu perlahan turun dari wajah Sagara sampai ke setelan jas hitam yang dikenakannya malam ini.
"Kau memiliki semuanya," ucap Nara lagi.
Sagara mengernyit samar. "Semuanya?"
"Wajah, tinggi badan, cara bicara ...." Nara memiringkan kepala sedikit sambil terus memperhatikannya. "Dan ternyata kau cukup pintar memainkan situasi."
Tatapan intens itu membuat Sagara salah tingkah sendiri. Ia buru-buru mengalihkan pandangan ke pintu lift yang masih tertutup. "Nona terlalu melebih-lebihkan."
"Aku jarang melebih-lebihkan seseorang."
"Berarti saya harus takut?"
Nara tersenyum tipis. "Kenapa takut?"
"Biasanya orang kaya kalau mulai tertarik pada sesuatu bakal repot," jawab Sagara santai.
Nara tertawa kecil lagi.
Entah mengapa, melihat wanita itu tertawa beberapa kali malam ini terasa aneh bagi Sagara. Karena sejak awal mereka bertemu, Nara selalu terlihat dingin dan sulit didekati. Namun, sekarang wanita itu justru tampak jauh lebih hidup.
Lift akhirnya terbuka perlahan. Namun, baru saja mereka hendak keluar, langkah Nara tiba-tiba terhenti.
"Nona?"
Nara menoleh pelan ke arah Sagara. Tatapannya kembali jatuh pada pria itu beberapa detik lebih lama dari sebelumnya. "Jujur saja ...," gumamnya pelan.
"Hm?"
"Aku jadi semakin penasaran padamu."
Kalimat itu membuat Sagara diam sesaat. Sementara Nara sudah lebih dulu melangkah keluar lift dengan tenang, meninggalkan pria itu yang kini mulai merasa situasi mereka perlahan menjadi semakin berbahaya.
Melangkah keluar dari lift dengan tenang. Hak tinggi Nara berdetak pelan menyusuri lobi restoran yang mulai lebih sepi dibanding sebelumnya. Sementara Sagara berjalan beberapa langkah di belakangnya sambil sesekali menarik pelan kerah jasnya yang membuat tak nyaman.
Begitu sampai di area valet, seorang petugas langsung bergegas membawa mobil milik Nara ke depan pintu utama restoran.
Mobil sedan hitan mewah itu berhenti mulus tepat di hadapan mereka.
"Nona."
Nara menerima kunci itu singkat. Namun, bukannya langsung masuk ke kursi pengemudi seperti biasa, wanita itu justru menoleh pada Sagara. "Kau pasti bisa menyetir, kan?"
Pertanyaan mendadak itu membuat Sagara mengangkat sebelah alis. "Mobil?"
"Tidak. Pesawat."
Sagara langsung terkekeh kecil. "Bisa."
Tanpa banyak bicara, Nara lalu mengangkat tangan dan meletakkan kunci mobil itu tepat di telapak tangan Sagara. "Kalau begitu kau yang menyetir."
Sagara langsung menatap kunci itu beberapa detik, lalu menatap Nara. "Nona serius?"
"Apa aku terlihat bercanda?"
"Tapi mobil ini ...."
Nara menghela napas pendek seolah malas menjelaskan. "Kau tadi bicara soal mesin dan kendaraan seperti orang yang hafal semuanya." Tatapannya turun tipis pada Sagara. "Jangan bilang kau tidak bisa menyetir mobil seperti ini."
"Bisa sih ...," gumam Sagara pelan. "Cuma takut lecet."
"Itu bukan mobil pinjaman."
Jawaban santai itu membuat Sagara hampir tertawa tak percaya. 'Orang kaya memang berbeda'. Namun, pada akhirnya ia tetap berjalan menuju sisi pengemudi dan membuka pintu mobil itu perlahan.
Begitu duduk di balik kemudi, ekspresi Sagara berubah sedikit serius. Tangannya menyentuh stir dengan natural. Ia memperhatikan panen dashboard sekilas, lalu menyalakan mesin dengan tenang. Hal kecil itu tidak luput dari perhatian Nara. Karena pria di sampingnya terlihat terlalu terbiasa. Bukan seperti seseorang yang baru pertama kali menyentuh mobil mahal.
Mobil itu melaju perlahan meninggalkan restoran. Beberapa menit awal dipenuhi keheningan nyaman.
Nara duduk santai sambil menyandarkan kepala pada kursi penumpang, sesekali melirik Sagara diam-diam. Dan semakin diperhatikan, semakin aneh.
Cara pria itu menyetir terlalu halus dan rapi, bahkan lebih nyaman dibanding sopir pribadinya sendiri.
"Kau yakin cuma montir bengkel?" tanya Nara tiba-tiba.
Sagara melirik sekilas sambil tetap fokus ke jalan. "Kenapa?"
"Kau terlihat terlalu cocok berada di balik mobil ini."
Sudut bibir Sagara terangkat tipis. "Mungkin saya berbakat jadi sopir orang kaya."
Nara terkekeh kecil. Namun, sesaat kemudian tatapannya berubah lebih dalam. "Aku serius."
Sagara akhirnya menoleh sebentar. Dan untuk pertama kalinya malam itu, ia melihat tatapan penasaran Nara benar-benar nyata.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Nara akhirnya.
**** bersambung.