Elizabeth Zamora atau yang biasa di panggil dengan Liz telah terjebak dalam pernikahan kontrak yang membawa dia pada titik terendah dalam hidupnya.
Akankah Liz bisa melalui takdir yang telah digariskan semesta untuknya ??
Happy Reading 💜
Enjoy 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratu_halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15
Hari-hari berikutnya berjalan lambat. Hampir empat minggu penuh Liz dan Tama menikah, tapi disepanjang waktu itu juga hubungan mereka malah semakin membingungkan.
Entah kenapa Tama malah semakin overprotektif. Liz tidak boleh ini, tidak boleh itu. Pergi dan berangkat kerja harus selalu dengan nya. Padahal Liz sudah katakan berulang kali, Tama harus tau batasannya. Pernikahan mereka hanya kontrak dan tidak boleh ada perasaan didalamnya.
Kalau terus begini, Liz takut akan benar-benar menaruh hati pada lelaki itu. Liz tidak mau sampai hal itu terjadi karena Liz tidak mau dicap sebagai 'pelakor'.
Ditambah lagi sikap Yurike yang setiap hari makin keterlaluan. Dia selalu menghina Liz dengan lisan maupun perilakunya. Liz masih berusaha untuk sabar, mengingat persahabatan mereka yang sudah terjalin lama. Tapi lambat laun kesabarannya justru dijadikan Yurike kesempatan untuk berlaku semena-mena padanya.
'Di dalam setiap rumah hanya boleh ada satu ratu. Dan itu aku. Kamu disini cuma Selir!'
Begitu kata Yurike beberapa hari yang lalu.
Yang jadi pertanyaan nya, apakah Liz membalas ?! Tentu saja, Iya. Liz memberikan jawaban menohok yang mungkin saja membuat Yurike jadi semakin membencinya.
'Benar, aku memang hanya selir. Tapi aku datang dan menjadi bagian dari keluarga ini bukan semata karena keinginanku, tapi karena permintaan bodohmu itu! Jadi jangan salahkan aku ketika nanti posisi ratu yang selalu kau agungkan jatuh ke tangan selir yang kau rendahkan saat ini!'
Yurike bungkam.
Dan dihari setelah itu permusuhan diantara mereka semakin kentara. Meskipun Liz tidak pernah ingin memusuhi Yurike, namun justru Yurike sendiri yang secara terang-terangan menabuh genderang perang.
Seperti malam ini, di meja makan berkali-kali Yurike berbicara soal perusak rumah tangga orang.
"Mas, teman ku kasihan deh, suami nya direbut sama sahabatnya sendiri. Tega sekali ya, air susu dibalas air tuba. Ternyata di dunia ini masih saja ada orang sepicik itu," Kata Yurike di tengah-tengah makan malam mereka.
Liz berusaha untuk menahan diri supaya tidak terpancing dalam obrolan Yurike itu. Namun semakin lama perkataan nya justru semakin menyakitkan.
"Tapi aku yakin sih, pasti akan ada karma yang paling menyakitkan untuk sahabat tidak tahu diri seperti sahabatnya teman aku itu."
Tiba-tiba Liz meletakkan garpu dan sendoknya cukup keras membentuk huruf X di piringnya hingga bunyi dentingannya menyentakkan semua orang termasuk Tama.
"Aku sudah selesai. Terimakasih makanannya. Permisi." Ucap Liz yang langsung beranjak dari meja makan. Meninggalkan piring yang belum sepenuhnya kosong.
Tama mengelap mulut dengan napkin kemudian berdiri, "Aku juga sudah selesai," Tama menyusul Liz.
"Mas, kamu mau kemana ?" Yurike hendak bangun dari kursinya namun Nenek langsung menyela,
"Diam disitu Yurike, habiskan makananmu! Dari tadi kau asik mengoceh terus sampai makananmu masih utuh." Omel Nenek pada akhirnya. Sebenarnya mulut Nenek Zalia sudah gatal ingin menegur Yurike, tapi Nenek mengurungkan niat karena seharusnya yang paling berhak menegur itu suaminya, Tama.
Yurike melipat bibir dengan tatapan sinis, terpaksa dia pun kembali duduk di kursi nya. Tapi tatapannya tidak luput dari pintu kamar tamu yang sudah tertutup dimana didalamnya ada dua manusia berlawanan jenis yang entah sedang apa.
Di kamar....
"Ngapain kamu kesini ? Memang makan malamnya sudah selesai ?" Tanya Liz dengan nada jutek,
Tama mendekat, mencondongkan tubuhnya ke depan. Menatap Liz lekat-lekat, "Aku tidak perlu alasan apapun untuk mendatangi istri ku sendiri."
Liz hampir tersedak ludahnya sendiri. "I-istri ? Oh, Istri kontrak maksud kamu ?!" Liz memalingkan muka, tidak sanggup lama-lama di tatap sedalam itu.
Tama memegang dagu Liz, menuntun wajah wanita itu untuk kembali menatap nya. "Jangan tunjukan kelemahanmu didepan Yurike. Kau harus kuat karena kontrak kita masih sebelas bulan lagi!"
Liz menatap Tama dengan tatapan tak percaya. Dibalik kata-kata Tama yang seolah membela nya, Liz tahu ada niat lain.
Liz menepis tangan Tama dari wajahnya, lalu berjalan ke arah jendela, membelakangi Tama. Liz menatap keluar, pada kolam yang tenang, sementara di dalam dadanya badai mulai berkecamuk. "Ya, kau benar. Aku harus kuat untuk menjalani neraka yang kuciptakan sendiri!"
Tama terdiam, ucapan Liz berhasil menyentil sesuatu yang bernama hati. Rasanya sungguh tidak nyaman mendengar Liz mengatakan itu.
Saat Tama hendak menghampiri Liz lagi, wanita itu berkata dengan nada dingin, "Tolong keluar. Aku ingin sendiri!"
Bukannya pergi, Tama malah naik ke atas tempat tidur. Berbaring di kasur Liz tanpa izin.
Liz menoleh, "Kamu mau aku tidur di kamar tamu yang lain ?"
"Coba saja kalau berani!"
Malam berlalu begitu lambat.
Didalam satu kamar yang sama, Liz dan Tama hanya dipisahkan oleh diam yang panjang. Tidak ada percakapan, bahkan posisi mereka saling membelakangi. Keheningan yang terasa semakin aneh.
Hingga pagi pun tiba.
Liz bangun lebih awal. Sedikit terkejut karena saat bangun melihat Tama masih dikamar nya dengan posisi yang sama seperti semalam.
Bergegas Liz mandi dan berpakaian. Hari ini adalah hari terakhir Liz bekerja. Revan sudah mendapatkan sekertaris baru untuk menggantikannya. Namanya Sandy. Dia laki-laki. Revan memilih sendiri kandidat calon sekretarisnya seminggu yang lalu.
Entah apa alasannya hingga Revan akhirnya memilih Sandy. Padahal biasanya seorang pemimpin perusahaan lebih memilih seorang wanita sebagai sekretaris pribadi.
Tama baru bangun saat cahaya matahari menembus celah tirai kamar. Hangatnya mengusik ketenangan Tama.
Eugh....
Tama menggeliat sebelum akhirnya tersadar akan satu hal.
"Astaga, jadi semalam aku tidur disini," Gumamnya sambil memijat pangkal hidung.
Tama turun dari kasur, mencari keberadaan Liz. Namun di kamar tamu yanh tidak terlalu luas itu sosok Liz tidak terlihat.
Setelah mencuci muka, Tama keluar dari kamar.
"Tam, kamu baru bangun ?" Nenek yang muncul dari arah dapur sambil mengangkat alis.
"Liz mana, Nek ?" tanya Tama tanpa menjawab pertanyaan Nenek lebih dulu.
"Loh. Nenek kira tadi kalian pergi bersama. Lihat, sudah jam delapan. Liz sudah berangkat kerja sejak dua jam lalu."
Tama terdiam. Ia tidak menanggapi, tapi terlihat berpikir.
Setengah jam kemudian,
"Nek, aku berangkat." Tama berpamitan sambil merapikan lengan jas nya yang sedikit terlipat.
"Kamu tidak sarapan dulu ?" Teriak Nenek karena Tama langsung berjalan ke arah pintu utama.
"Tidak," Jawabnya singkat.
Sambil berjalan menuju mobilnya, Tama mengeluarkan ponsel. Yang pertama di hubungi Asisten pribadinya, Faizal.
Faizal 📞 Halo. Selamat pagi, Tuan.
Tama 📞 Kenapa kau tidak menghubungiku ?
Faizal 📞 Maaf, Tuan. Tadi pukul 6 saya sudah datang untuk menjemput Tuan dan Nona Liz seperti biasa, namun Nona Lizabeth mengatakan anda masih tidur dan memperingatkan saya untuk tidak membangunkan anda.
Panjang lebar Faizal menjelaskan kronologi yang terjadi tadi pagi. Dari nada bicara Tama, Faizal tau Tama marah makanya dia langsung memberitahu apa yang terjadi, Faizal tidak mau disalahkan.
Tama 📞 Satu jam lagi aku sampai. Handle pekerjaan sampai aku tiba.
Tuttttt......
Setelah mengatakan itu, Tama memutus sambungan.
Tama masuk ke dalam mobil, sengaja menyetir sendiri karena ingin secepatnya menemui Liz.