NovelToon NovelToon
Suami Rahasia

Suami Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Beda Usia
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: candra pipit

Clarindra Arabella, siswi kelas tiga SMA yang tinggal selangkah lagi menuju kelulusan, tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah dalam satu keputusan sepihak.
Di saat teman-temannya sibuk mempersiapkan ujian akhir dan masa depan, Clarindra justru dipaksa menerima kenyataan pahit—ia harus menikah.
Bukan dengan pria seusianya.
Melainkan dengan seorang pria dewasa… yang bahkan tak pernah ia kenal.
Demi alasan sederhana namun kejam—orang tuanya akan pindah ke luar negeri, dan mereka tak ingin meninggalkan putrinya sendirian.
Di balik keputusan itu, tersembunyi kesepakatan antara dua keluarga besar.
Nama besar keluarga Hardinata menjadi jaminan keamanan Clarindra… sekaligus awal dari keterikatannya.
Zavian Hardinata.
Pria itu bukan sekadar pewaris keluarga kaya raya. Ia adalah sosok bebas, penuh pesona, namun sulit dikendalikan. Seseorang yang lebih terbiasa bermain dengan hidupnya sendiri… daripada terikat dalam satu hubungan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon candra pipit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Drama menderita

Sinar matahari masuk dari sela tirai.

Clarinda menggeliat pelan.

Hangat.

Empuk.

Nyaman.

Tanpa membuka mata, gadis itu malah memeluk benda di depannya lebih erat.

“Hmmm…”

Tangannya meraba-raba.

Eh?

Ini guling kok keras?

Tapi lembut.

Apa ini da da?

Wow, pulen sekali... Dia pasti rajin olahraga.

Oh enak sekali, dipegang...

Tangan Clarinda menari-nari di atas kulit halus itu sembari senyum-senyum sendiri. Matanya masih terpejam membayangkan sesuatu yang indah.

"Da da ini..."

Da-da?!

Mata Clarinda terbuka perlahan.

Tatapan mereka bertemu.

Sunyi.

Satu detik.

Dua detik.

Otak Clarinda loading.

Lalu...

“AAAAAAAAAAAAAA!!!”

BUGH! BUGH! BUGH!

Clarinda langsung memukuli Zavian brutal pakai bantal.

“PAK TUA CABUL!!”

Zavian yang tadi berbaring kini bangun menahan bantal itu dengan wajah kusut.

“Berisik!”

"KENAPA KAU DISINI?!"

“KENAPA KITA TIDUR BARENG?!”

Nafas Clarinda tak teratur. Di benaknya sudah terangkai adegan yang aneh-aneh.

Andai Clarinda tahu, Zavian sebenarnya juga menegang merasakan belaian tangan istrinya ini.

“Cih!" Zavian kesal. "Semalam ada bocah yang memelukku erat seperti koala.”

“MUSTAHIL!!”

"Kau bohong!"

Zavian mendengus. "Aku lebih nyaman tidur di kamarku sendiri dari pada sama bocah jelmaan beo."

"Beo?"

"Bahkan disaat merem pun mulut mu ngoceh terus."

“M-MANA MUNGKIN AKU...”

“Ilermu juga menodai leherku," Zavian menampilkan ekspresi jijik.

Wajah Clarinda langsung merah padam.

“AAAAAAAHHHH!!”

Buk! Buk! Buk!

Calrinda kembali memukuli Zavian membabi buta dengan tangannya.

SET.

Zavian menangkap kedua tangan Clarinda hingga gadis itu berhenti memukul.

“Sudah selesai ngamuknya?”

“LEPASIN!”

Zavian diam, melihat saja.

"Lepasin nggak!"

“Tanganmu ini berbahaya, pasti nonjok lagi jika bebas.” Lalu senyum Zavian tiba-tiba menjadi aneh di mata Clarinda.

"Gunakan seperti tadi. Membelai... Lembut... Sentuh sepuasnya, sayang..."

Mata Clarinda langsung membesar. Ia merinding sebadan-badan mendengar panggilan 'sayang' itu.

"Iiiiiihhhh...."

Clarinda meronta seperti ayam ketakutan akan di gor0k.

“Pak Tua mesum! Cabul! Penjahat kelamin!”

"Lepas, lepas, lepas!!!"

Zavian menatap datar.

“Kamu yang menempeliku duluan.”

“BOHONG!”

“Jangan tinggalin sendirian....aku takut...” Zavian menirukan rengekan Clarinda.

“DIAMMMMM!!!”

"Nggak! Nggak! Nggak! Kau bohong!!!"

Wajah Clarinda kini merah seperti tomat rebus.

'Duh...mati gue... Gue belum siap ketemu dia, malah sedekat ini," batin Clarinda panik, malu jadi satu.

Zavian justru terkekeh pelan melihat wajah itu.

Dasar bocah!

"Kalau kau bisa ngamuk berarti sudah sembuh."

Pintu di ketuk Bik Imah.

"Tuan... Ada tamu."

"Ck, siapa yang berani bertamu pagi-pagi begini?!" Zavian akhirnya melepaskan tangan Clarinda. Dengan kesal ia turun dari ranjang.

Clarinda langsung menarik selimut meringkuk bersembunyi di dalam sana.

Sungguh ia sangat amat malu sekali. Rasa itu meningkat beberapa kali lipat. Ingatannya samar-samar terlintas apa saja yang ia lakukan pada Zavian semalam dan pagi ini.

"Huaaaaaa...."

*

"Siapa Bik?" Tanya Zavian ketika membuka pintu kamar.

"Tuan lihat sendiri saja. Sudah menunggu di ruang tamu."

"Ck! Apa susahnya sih tinggal bilang!" Kena ucapan ketus Zavian adalah makanan sehari-hari Bik Imah. Tapi ia tak marah. Ya memang begitulah sang majikan muda nya ini.

Zavian sampai di ruang tamu. Dan...

"Kakek!"

Mata Zavian sampai melotot melihat lelaki sepuh itu duduk di sofa memegang tongkat kesaktiannya. Asistennya yang selalu ngintil juga berada di sana.

"Kenapa? Tak suka melihatku?!"

Sosok tua memakai kaos warna khaki berkerah itu duduk penuh wibawa.

Zavian berjalan angkuh lalu duduk dengan gaya songong nya di sofa single depan sang kakek.

Di meja sudah ada sekeranjang buah, bunga, bahkan dua kotak besar makanan dan obat herbal.

"Ada perlu apa kakek kemari?"

“Mana cucu mantuku?”

Zavian melirik Bik Imah curiga.

Pasti Bik Imah ini yang laporan.

“Bu-bukan saya Tuan!” Bik Imah langsung mengangkat kedua tangan. “Saya belum sempat!”

Zavian menyipitkan mata.

Kalau bukan Bik Imah…

Berarti satu orang lagi.

Dokter cerewet itu.

Ia langsung bisa membayangkan dokter tua langganan keluarganya sedang menelpon sambil mengadu dengan dramatis.

“Pak Damar! Cucumu sakit! Wajahnya menyedihkan! Saya curiga suaminya tidak memperhatikannya dengan baik."

Zavian mengepalkan tangan.

Dokter tua itu memang hobi mengganggu ketenangan hidup orang.

“Mana Clarinda?” tanya Kakek Damar lagi. Suaranya kali ini sedikit meninggi.

“Masih istirahat. Jangan diganggu. Sebaiknya kakek pulang."

"Anak kurang ajar! Bok0ngku baru saja mendarat, sudah kau usir!"

Kakek Damar melihat Bik Imah.

"Non Clea ada di kamarnya, Tuan," respon Bik Imah yang cepat tanggap inilah salah satu alasan ia bertahan lama di keluarga Hardinata.

“Aku mau lihat sekarang.”

Zavian belum sempat menjawab saat Kakek Damar sudah berjalan cepat menuju kamar Calrinda.

Asistennya mengikuti dengan membawa barang-barang di atas meja tadi.

Tok! Tok!

“Clarinda cucuku... Kakek datang.”

Di dalam kamar, Clarinda yang sebenarnya sedang makan keripik langsung tersedak. Setelah Zavian pergi ia membuka camilan dan memakannya untuk membvnvh rasa malunya. Ia berpikir dengan mengunyah terus-terusan perasaan malu itu akan hilang.

“Hah?!”

Gadis itu panik.

Ia buru-buru menyembunyikan bungkus keripik ke bawah bantal lalu menjatuhkan tubuhnya ke ranjang dengan pose paling mengenaskan.

Selimut ditarik sampai dagu.

Rambut yang semula memang sudah acak-acakan ditambah sedikit lagi.

Bibir ditekuk lemah.

"Eh tunggu... kenapa aku mesti panik?"

"Aku kan emang sakit beneran." Ia memegang keningnya sendiri. "Loh kan masih anget."

Lalu senyuman miring terpampang di wajahnya yang manis.

“Masuk…” ucapnya lirih seperti pasien sinetron azab.

Pintu terbuka.

“Kakeeeeeekkkk…”

Suara Clarinda langsung berubah melas.

Kakek Damar masuk sambil membawa wajah khawatir.

“Astaga… cucu Kakek…"

Clarinda langsung meraih tangan pria tua itu dramatis.

“Kakek… hiks…”

Zavian berdiri di belakang sambil melipat tangan.

Tatapannya datar.

Sangat datar.

“Kenapa jadi kayak zombie kurang baterai begini?” tanya Kakek Damar panik duduk di tepi ranjang. "Mana Clarinda yang cantik dan enerjik itu?"

Clarinda melirik Zavian sekilas.

Kesempatan emas.

Mengadu pada pemilik kekuasaan tertinggi keluarga Hardinata.

“Kakek…” air matanya mulai dipaksa keluar. “Aku sengsara tinggal bersama dia… Aku mau pisah aja… aku mau nyusul mamah papah aku... Hiks..."

Zavian memejamkan mata pelan.

Mulai.

Drama dimulai.

“Cucu mantuku cerita saja,” ujar Kakek Damar lembut. “Bilang kamu diapain sampai sakit begini.”

“Aku… aku…”

Clarinda melirik Zavian yang sedang menatapnya sinis.

“Jangan takut,” kata Kakek Damar sambil menepuk tangan Clarinda. “Kakek pasti membelamu.”

Lalu pria tua itu menoleh tajam pada Zavian.

“Kau! Biarkan dia cerita! Jangan ngancem-ngancem cucuku!”

Zavian mengangkat alis.

“Aku bahkan tak bicara apapun.”

“Itu matamu, ngapain sinis begitu?!"

Clarinda hampir tertawa melihat suaminya dimarahi orang senior.

Tapi ia menahan diri dan kembali memasang wajah tragis.

"Aku banyak menderita Kek... Dia…” Clarinda mulai menangis palsu. “Dia membuat aturan konyol… "

“Konyol bagaimana?!”

"Aturannya banyak sekali, Kek. Aku akan dihukum jika tidak patuh... Mana berani gadis licik..." Clarinda segera meralat ucapannya. "Emm, maksud ku gadis cilik seperti ku ini melawan orang tua besar seperti dia."

Clarinda menunjuk Zavian gemetar dramatis.

"Aku ditindas terus disini Kek.... Hiks...

Aku tak boleh pulang telat. Bahkan satu menit saja aku akan dihukum. Padahal kegiatanku sangat banyak. Aku pernah tidur diluar sampai subuh.... Gak boleh masuk rumah... Hiks..."

"APA?!!!"

Kakek Damar melirik Bik Imah yang ada di pojokan pintu.

Parahnya Bik Imah mengangguk.

"Cih, penghianat!" Gumam Zavian menatap tajam Bik Imah.

"Iya, Kek. Badanku sampai sakit semua...

Dia selalu meninggalkanku sendirian tiap malam."

"Astaga... Tega kau...!"

Kakek Damar langsung melotot pada Zavian.

“Aku sibuk.”

"Memangnya kau menginap di sekolah, hah?!!!"

"Kesibukanku bukan jadi kepala sekolah saja, Kek."

“DIAM!”

Clarinda makin semangat jadi kompor.

“Aku juga tidak pernah dikasih uang jajan…” lanjutnya lirih. “Selama ini aku hidup dari sisa tabunganku sendiri…”

Kali ini Bik Imah melongo. Majikan kecilnya ini pandai berbohong. Tuan mudanya memang tidak seperhatian seperti suami pada umumnya tapi semua kebutuhan Clarinda terpenuhi.

Lihatlah... Sisa-sisa bungkus camilan ini semua dari Tuan Zavian.

Bahkan terakhir kali Bik Imah membersihkan sisa makan malam mereka berdua ketika subuh. Steak daging Wagiu dan minuman kekinian yang dipesan online. Ia lihat total harga di struk nya tak main-main sebelum ia buang ke tempat sampah.

“Aku bahkan tidak boleh lapor mamah papah juga pada Kakek…” lanjut Clarinda sambil sesenggukan palsu. “Aku tertekan Kek… aku stres… sampai sakit begini…”

Kakek Damar langsung berdiri.

BRAK!

Tongkatnya menghantam lantai.

“ZAVIAN!”

Sebelum menikah Zavian memenag bilang pada Kakek Damar jangan berharap dia menjadi suami yang baik untuk istri yang dipilih kakeknya itu. Tapi Kakek Damar tak menyangka Zavian benar-benar menepati ucapannya.

"Keterlaluan kau Zavi!"

Clarinda menunduk supaya tidak ketahuan bibirnya gemetar menahan tawa.

“Lelaki macam apa kau ini?!” omel Kakek Damar. “Istrimu masih muda! Kau biarkan dia menderita?!”

“Kakek percaya?"

“Apa?!”

"Dia pandai sekali... Drama," mata elang lelaki tampan itu memicing.

Clarinda langsung pura-pura menangis lebih keras.

“Huaaaa… dia bilang aku drama Kek…”

“Benar-benar kau Zav!” bentak Kakek Damar.

Zavian mulai kehilangan kesabaran.

“Clarinda!!!" Suara Zavian meninggi.

Gadis itu langsung menggenggam erat tangan Kakek Damar.

“Kakek lihat kan?! Dia marah."

“Satu langkah lagi kau mendekat, kupukul kepalamu!” ancam Kakek Damar sambil mengangkat tongkat yang sudah ada di tangannya lagi.

Zavian terdiam. "Terserah kalian saja. Lanjutkan," Zavian menatap Clarinda.

Kakek Damar menghela napas panjang.

Lalu…

“Kalau begitu Kakek akan tinggal di sini beberapa hari.”

Senyum Clarinda langsung hilang.

“Hah?”

“Aku harus memastikan cucuku mantu sekaligus dewi penolong ku ini benar-benar diperlakukan baik.”

Kini giliran Zavian yang hampir tersenyum.

Clarinda panik.

Bahaya.

Kalau Kakek tinggal di sini, semua kebohongannya bisa terbongkar.

“T-tidak usah repot Kek…”

“Harus!” ujar Kakek Damar tegas.

"Kadua mertuamu juga sudah pulang dari Canada. Mereka masih dalam perjalanan menuju kesini."

"Apa?!" Clarinda terkejut.

"Kamu belum bertemu dengan mereka kan?" Kakek Damar tersenyum hangat.

Zavian menatap Clarinda dengan senyum tipis penuh kemenangan.

Mati kau.

Clarinda melirik Zavian seperti mengiyakan pikiran suaminya itu.

Iya, mati gue.

1
Nona aan Chayank
Buaahahahhaha....🤣🤣🤣
partini
hemmm dah keliatan kamu kecintaan ma suamimu,aihhh why pihak cewek yg jatuh cinta duluan ga cowoknya ga pernah si saddddddd
Marini Suhendar
Dasar bocah😄
partini
ko cuma sama baby sitter doang apa duda anak satu ,, alamak tensi nanti suamimu cle
Titien Prawiro
Bagaimana jadinya
partini
👍👍👍
Erna Riyanto
ihh..pak tua bisa ae nyari kesempatan,pke pegang" segala🤣🤣
Marini Suhendar
Awas yah..nanti pada bucin kalian ya 😄
Marini Suhendar
Jangan cemburu pak tua😄
partini
ingio ingon wedus kaleee 😂😂
wah ada yg CLBK nih nanti jad jadi jendonggggg ,,
partini
kenapa selalu cewek yg klepek klepek duluan sih jarang bnggt cowoknya
partini
tinggal jaa kek yg lama cucu mu juga rada"suka keluar malam lupa pulang cucu mentu juga sama so 50/50
partini
jirrr Ampe lupa, maklumlah di club siapa sih yg ingat di rumah ga ada
partini
nah Lo habis megang apa gunung kembarnya 😂😂😂
nanti pasti terbayang bayang rasanya kenyal"
partini
😂😂😂😂 lah kaya bola di tendang
partini
hemmm SE anak kalian yg bikin ulah
partini
good story
partini
lanjut Thor Setu ceritanya
candra pipit: siap... lanjut 😍
total 1 replies
partini
lelaki bebas di luar OMG
partini
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!