Selama 25 tahun, Rashaka Nareswara setia menjaga cintanya. Ia tetap bertahan, dan berharap pada satu nama yang tak pernah berubah di hatinya. Hingga akhirnya, penantian panjang itu berbuah manis.
Ia berhasil mempersunting wanita yang ia cintai sejak dulu, memulai kehidupan rumah tangga yang tampak sempurna.
Namun, kebahagiaan itu tak pernah benar-benar utuh. Di balik senyum sang istri, tersimpan bayang-bayang masa lalu yang belum selesai. Masalah demi masalah yang perlahan meretakkan kehangatan yang mereka bangun.
Akankah cinta yang bertahan selama seperempat abad itu mampu melawan luka yang belum sembuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GAYATRI S2 — BAB 15
“Siapa yang menelepon?” tanya Shaka sesaat Gayatri menerima panggilan.
Gayatri meletakkan kembali ponselnya ke meja dan menatap Shaka dengan perasaan tak enak hati. “Dari Mahira,” jawabnya pelan.
Kening Shaka mengernyit tipis. “Mahira? Siapa Mahira?”
“Adiknya Mahesa. Dia tadi memberitahuku perihal Keenan,” lirih Gayatri, suaranya tertahan oleh sesak.
“Keenan? Ada apa dengannya? Apakah terjadi sesuatu?” tanya Shaka, penasaran.
Namun, Gayatri menggeleng pelan, enggan memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi, terlebih lagi ia perlu mengetahuinya dengan jelas. “Bukan apa-apa, hanya masalah kecil, kau tidak perlu khawatir.”
Shaka menatapnya lama. “Kau yakin?”
“Ya.” Gayatri mengangguk singkat, namun raut kekhawatirannya tetap terlihat jelas oleh Shaka.
“Jangan ragu untuk memberitahuku jika terjadi sesuatu.”
***
Siang itu, kafe tempat Gayatri dan Mahira bertemu terasa cukup tenang. Aroma kopi yang hangat memenuhi udara, berpadu dengan alunan musik lembut yang mengalir pelan di latar belakang. Beberapa pengunjung tampak sibuk dengan aktivitas masing-masing, menciptakan suasana yang nyaman namun tetap privat.
Gayatri duduk lebih dulu di salah satu meja di sudut ruangan. Jemarinya saling bertaut di atas meja, sesekali ia melirik ke arah pintu, menunggu. Tidak lama kemudian, Mahira datang.
Langkahnya cepat, wajahnya terlihat serius, jauh dari kesan santai seperti biasanya. Begitu duduk di hadapan Gayatri, ia tidak langsung memesan apa pun. Tatapannya langsung tertuju pada Gayatri, seolah membawa sesuatu yang terlalu berat untuk ditunda.
“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, Kak. Ini tentang Keenan dan kurasa kau harus tahu hal ini,” ucap Mahira pelan.
Gayatri mengangguk. “Apa yang sebenarnya terjadi? Kau tidak mengatakan semuanya dengan jelas di telepon.”
Mahira menarik napas dalam, mencoba menyusun kata-katanya. Namun jelas terlihat bahwa ia masih menahan sesuatu.
“Kemarin malam aku ke hotel,” katanya akhirnya.
Gayatri tidak langsung bereaksi. Ia hanya mendengarkan dengan saksama.
“Aku dan suamiku memang sudah berencana menginap untuk merayakan hari pernikahan kami,” lanjut Mahira. “Awalnya semua biasa saja sampai aku melihat seseorang.
Gayatri sedikit menegakkan tubuhnya. “Siapa? Keenan?”
Mahira menatapnya sejenak, mengangguk lalu menjawab perlahan, “Iya, Kak. Aku bertemu dengan Keenan.”
Nama itu membuat Gayatri langsung terdiam.
“Dia di sana,” lanjut Mahira. “Di lobi hotel.”
Gayatri masih belum bereaksi banyak. “Lalu?”
Mahira menahan napas sejenak, sebelum melanjutkan dengan suara yang lebih pelan namun tegas, “Tapi dia tidak sendirian. Kupikir itu Shakira, tetapi ternyata bukan.”
Sejenak, suasana di antara mereka menjadi hening.
Gayatri menatap Mahira, mencoba memastikan bahwa ia tidak salah menangkap maksudnya. “Maksudmu apa, Mahira? Katakanlah dengan lebih jelas.”
Mahira tidak mengalihkan pandangannya dari Gayatri. “Ada seorang wanita bersamanya. Dan dari cara mereka berinteraksi, kurasa mereka itu bukan sekadar teman.”
Kalimat itu terasa seperti sesuatu yang jatuh pelan, namun menghantam keras. Gayatri membeku, untuk beberapa detik, ia tidak mampu berkata apa-apa.
“Mahira, apa kau yakin?” tanya Gayatri, pelan dan bergetar.
Mahira mengangguk tanpa ragu. “Aku melihatnya sendiri, Kak. Aku bahkan langsung menegur Keenan.”
Gayatri menunduk, napasnya terasa berat. Ada sesuatu yang mengendap di dadanya. Kemarahan, kecewa, dan tidak percaya, semuanya bercampur menjadi satu.
“Keenan … ” gumamnya lirih.
Gayatri memejamkan mata sejenak, mencoba menahan emosi yang perlahan mulai naik ke permukaan. Shakira yang sedang hamil. Kondisinya yang rapuh. Dan di saat seperti itu,
Keenan justru melakukan hal seperti ini.
Gayatri mengepalkan tangannya di atas meja. “Aku tidak menyangka dia bisa seperti ini,” ucapnya akhirnya, suaranya terdengar lebih tegas meski tetap tertahan.
Mahira memperhatikannya dalam diam. Ia bisa melihat jelas bagaimana perasaan Gayatri saat ini.
“Aku juga tidak menyangka,” balas Mahira pelan. “Makanya aku langsung menarik dia keluar waktu itu.”
Gayatri menatapnya. “Kau bicara dengannya?”
Mahira mengangguk. “Aku tanya dia. Dan dia bilang dia tidak siap menjadi ayah.”
Gayatri menutup matanya lagi. Seolah semua itu semakin memperjelas keadaan.
“Dia berkata bahwa ia butuh ruang untuk merenung,” lanjut Mahira, kali ini dengan nada yang sedikit lebih tajam. “Tapi menurutku itu hanya alasan untuk lari.”
Gayatri tidak membantah. Karena di dalam hatinya, ia tahu Mahira tidak salah.
Beberapa saat mereka sama-sama diam. Hingga akhirnya Mahira kembali berbicara, kali ini dengan nada yang lebih hati-hati.
“Aku belum mengatakan ini ke siapapun termasuk kakak,” katanya.
Gayatri menoleh lalu mengusap punggung tangan mantan adik iparnya itu, berterima kasih karena sudah memberitahunya lebih dulu.
“Aku tidak ingin membuat keributan,” lanjut Mahira. “Terutama dengan kondisi Shakira sekarang.”
Gayatri mengangguk pelan. Ia mengerti.
“Tapi aku tidak bisa diam saja,” tambah Mahira. “Karena ini bukan hal kecil.”
Gayatri menarik napas dalam, mencoba menenangkan dirinya sendiri. “Kau benar,” ucapnya pelan.
Mahira menatapnya dalam. “Aku berharap kau bisa menyelesaikan ini dengan bijak. Terutama menasihati Keenan,” lanjut Mahira.
Gayatri menunduk, menatap jemarinya sendiri. Ada banyak hal yang berputar di pikirannya. Sebagai seorang ibu, sebagai seseorang yang memahami luka, dan sebagai wanita yang tahu betapa rapuhnya posisi Shakira saatnya ini.
“Aku akan bicara dengannya,” ucap Gayatri akhirnya.
***
Sore menjelang malam ketika Gayatri tiba di rumah.
Langkahnya tidak secepat biasanya, namun jelas lebih berat. Pikirannya masih dipenuhi percakapan dengan Mahira, setiap kata yang diucapkan, setiap detail yang tak bisa ia abaikan. Ia sudah berusaha menenangkan diri selama perjalanan, tetapi perasaan itu tetap ada.
Begitu pintu terbuka, suasana rumah menyambutnya dengan tenang. Tidak ada suara yang berisik, hanya langkah kaki Shaka yang terdengar dari arah dalam.
“Kau sudah pulang?” tanya Shaka, muncul dari ruang tengah.
Gayatri mengangguk pelan. “Iya.”
Shaka memperhatikan wajahnya sejenak. Ia tidak perlu bertanya banyak untuk tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
“Apa ada sesuatu yang terjadi?” tanyanya akhirnya.
Gayatri terdiam beberapa detik, seolah menimbang apakah ia siap membicarakannya sekarang. Namun pada akhirnya, ia menghela napas pelan.
“Kita perlu bicara tentang Keenan,” ujarnya.
Shaka tidak langsung menanggapi. Ia hanya mengangguk kecil, lalu memberi isyarat agar mereka duduk. Mereka berdua mengambil tempat di ruang tengah. Jarak di antara mereka tidak jauh, tetapi suasananya terasa cukup berat.
“Apa yang dia lakukan?” tanya Shaka, nadanya tenang seolah sudah mengetahuinya m
Gayatri menatap lurus ke depan sebelum akhirnya berkata dengan berat hati, “Dia bersama wanita lain.”
Shaka mengerutkan kening. “Kau yakin? Kau sudah memastikannya dengan benar?”
“Mahira yang melihatnya sendiri,” jawab Gayatri. “Dia berada di hotel bersama dengan seorang wanita. Entah apa yang dilakukannya di sana, aku tidak tahu.” Gayatri mengusap wajahnya kasar.
Shaka terdiam. Tidak ada reaksi berlebihan, tetapi dari sorot matanya, jelas bahwa ia tidak menganggap ini hal sepele.
“Shakira sedang hamil,” lanjut Gayatri, suaranya mulai bergetar.
“Dan dia justru melakukan itu.” Tangannya mengepal di atas pangkuan. “Aku benar-benar tidak mengerti bagaimana dia bisa seperti ini,” tambahnya.
Shaka menghela napas panjang, lalu menyandarkan tubuhnya. Ia tidak langsung memberi tanggapan, membiarkan Gayatri meluapkan apa yang ia rasakan.
“Dia bilang tidak siap jadi ayah,” lanjut Gayatri, kini menatap Shaka. “Tapi apa itu alasan untuk menyakiti istrinya seperti ini, Nares?”
Shaka menatapnya balik, tenang namun dalam. “Tidak,” jawab Shaka singkat, tapi tegas.
Gayatri menunduk, mengusap pelan keningnya. “Aku harus bicara dengannya.”
Shaka mengangguk. “Kau akan menemuinya sekarang?”
Gayatri terdiam sejenak. “Iya,” jawabnya akhirnya. “Aku tidak bisa menunda hal ini lebih lama lagi, aku tidak akan tenang sebelum semuanya selesai.”
Shaka tidak menahan. Ia hanya berkata pelan, “Aku akan ikut denganmu, ya?”
Gayatri menoleh. “Tidak, tidak perlu. Ini urusanku, Nares. Aku tidak ingin merepotkanmu.”
“Hei, apa maksudmu itu bukan urusanku?” balas Shaka tenang. “Ini menyangkut anakmu, maka aku juga harus ikut campur dalam urusan ini.”
Gayatri menatapnya beberapa detik. Ada sesuatu dalam sikap Shaka yang membuatnya merasa tidak sendirian.
Namun ia tetap menggeleng pelan. “Aku ingin bicara dengannya sebagai ibunya.”
Shaka tidak memaksa. Ia hanya mengangguk. “Baiklah jika itu keinginanmu. Tapi jika kau membutuhkanku—”
“Aku tahu,” potong Gayatri pelan. “Aku pasti akan langsung mengabarimu jika terjadi sesuatu.”