Veliora tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah ibunya menikah dengan pria paling berbahaya di dunia elite Jakarta.
Kaelric Vorn.
Pria dingin yang dikenal sebagai penguasa bisnis internasional itu memiliki segalanya, kekuasaan, uang, dan dunia gelap yang tidak tersentuh orang biasa.
Namun di balik mansion mewah, tatapan tajam, dan nama besarnya…
Kaelric menyimpan sesuatu yang jauh lebih menakutkan.
Seekor black panther betina bernama Nyx.
Dan anehnya, binatang liar itu memilih Veliora.
Awalnya Veliora hanya ingin bertahan hidup di dunia baru yang terasa asing baginya.
Namun semakin lama dia berada di sisi Kaelric…
semakin dia menyadari bahwa pria itu bukan sekadar ayah tirinya.
Kaelric terlalu protektif.
Terlalu dominan.
Dan perlahan mulai memperlakukannya seperti sesuatu yang tidak ingin dia lepaskan.
Di tengah dunia elite penuh rahasia, pengkhianatan, dan kekuasaan…
Veliora terjebak di antara rasa cinta terhadap Ayah Tirinya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wandhansari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 : Badai Di Adiwinata Corporation
Seperti yang dijanjikan Kaelric beberapa waktu lalu, sekarang waktunya yang tepat untuk mengambil alih Adiwinata Corporation.
Beberapa jam sebelum Ravian tiba di Adiwinata Corporation, sesuatu sudah lebih dulu bergerak.
Sesuatu yang tidak terlihat dan terdengar.
Tapi cukup untuk menggeser fondasi yang selama ini mereka anggap kuat.
Di layar pasar, angka-angka mulai berubah.
Tidak drastis, hanya cukup untuk menarik perhatian lalu menimbulkan pertanyaan.
Saham Adiwinata bergerak tidak wajar. Volume transaksi meningkat. Kepemilikan perlahan berpindah tangan. Dan tidak satu pun dari mereka yang menyadari, siapa yang berada di baliknya.
Ini bukan penurunan biasa. Bukan juga fluktuasi pasar. Ini adalah pergerakan yang diarahkan. Nampak terukur dan disengaja.
Kaelric tidak perlu muncul untuk memulainya.
Ia hanya perlu memberi satu perintah.
Dan sistem itu… bergerak sesuai kehendaknya.
Beberapa tim yang sudah di persiapkan oleh Ravian atas perintah Kaelric telah mulai bekerja hari itu.
Mobil Audi A8 L Hitam Metalik itu meluncur tenang di jalanan pagi. Tidak terlalu mencolok, tetapi juga tidak bisa diabaikan. Ravian duduk di kursi belakang, pandangannya lurus ke depan. Tablet tipis berada di tangannya, menampilkan rangkaian data yang terus bergerak. Tidak ada lagi yang perlu ia cek ulang. Semuanya bahkan hasil akhirnya sudah dipastikan sejak semalam.
“Kita sampai dalam lima menit, Tuan,” ujar sopirnya. Ravian tidak menjawab.
Ia hanya menutup layar itu perlahan. Hari ini bukan tentang persiapan lagi. Hari ini adalah eksekusi.
Adiwinata Corporation sudah berdiri selama bertahun-tahun dengan sistem yang sama. Berjalan stabil dan aura kuat. Tapi tidak untuk hari ini.
Mobil itu berhenti tepat di depan lobi utama.
Pintu terbuka. Ravian turun tanpa terburu-buru. Langkahnya tenang, seolah ia hanya datang untuk menghadiri rapat biasa.
Padahal dalam beberapa jam ke depan,
tempat itu tidak akan pernah sama lagi.
Ruang rapat utama di lantai tertinggi Adiwinata Corporation pagi itu terasa seperti biasa.
Dinding kaca memperlihatkan kota yang bergerak tanpa henti.
Meja panjang mengilap.
Kursi-kursi telah terisi oleh para pemegang kendali lama.
Tidak ada yang menyadari, bahwa pagi itu akan menjadi yang terakhir bagi mereka.
“Rapat kita mulai,” ujar salah satu direktur senior, suaranya tenang, berwibawa.
Beberapa kepala mengangguk. Dokumen dibuka. Presentasi mulai ditampilkan. Semuanya berjalan seperti rutinitas yang sudah terlalu sering dilakukan.
Sampai layar di ujung ruangan berkedip.
Satu detik.
Dua detik.
Lalu mati.
“Kenapa dengan laptopnya?”
Salah satu dari mereka menoleh ke arah operator. Tidak ada jawaban yang pasti. Di waktu yang sama, beberapa orang mulai membuka laptop mereka. Alis mereka berkerut. Jari-jari berhenti di atas keyboard.
“Mengapa akses saya ditolak?”
“File laporan keuangan tidak bisa dibuka.”
“Apa ini sistem error?”
Suara-suara kecil mulai muncul. Pelan, tidak ada yang berani mengeraskan suara. Tapi cukup untuk mengubah suasana. Pintu ruang rapat pun terbuka.
Langkah kaki terdengar tenang, tidak tergesa. Semua mata beralih ke arah yang sama. Ravian masuk tanpa banyak ekspresi. Jasnya terlihat rapi. Tatapannya lurus. Seolah tidak ada yang aneh terjadi di ruangan itu.
“Sepertinya kita harus menunda agenda lama,” ucapnya singkat. Nada suaranya tidak tinggi.
Tapi cukup untuk membuat ruangan itu diam.
“Menunda?”
Seorang direktur menatap tajam.
“Apa maksudmu ini, Ravian?”
Ravian melangkah lebih dekat ke meja. Tidak terburu-buru. Tidak juga menjelaskan terlalu cepat.
“Mulai hari ini,” katanya, “beberapa akses telah dialihkan.”
“Dialihkan ke mana?” suara lain memotong, mulai tidak sabar. Ravian menatap mereka satu per satu. Lalu menjawab dengan tenang.
“Ke pihak yang seharusnya.” Suasana pun berubah. Bukan lagi sekadar kebingungan. Tapi sesuatu yang lebih berat.
“Ini tidak bisa dilakukan sepihak!”
Salah satu dari mereka berdiri.
“Kami adalah dewan direksi!”
“Benar,” jawab Ravian tanpa emosi.
“Dan itulah alasan perubahan ini diperlukan.”
Beberapa orang mulai berdiri. Nada suara mereka meningkat.
“Ini pelanggaran!”
“Kami tidak menyetujui ini!”
“Kembalikan akses sekarang juga!”
Namun tidak ada satu pun sistem yang kembali normal. Tidak ada satu pun file yang bisa diakses. Seolah seluruh perusahaan itu sudah tidak lagi berada di tangan mereka.
“Hubungi IT sekarang!” seseorang terdengar berseru.
“Saya sudah mencobanya.” jawab yang lain cepat.
“Mereka juga tidak bisa masuk.”
Suasana terasa sunyi dan berlangsung dalam waktu singkat. Tapi cukup untuk membuat satu kesadaran perlahan muncul. Ini bukan kesalahan sistem. Ravian tidak bergerak dari tempatnya.
Ia hanya berdiri di sana menyaksikan bagaimana kendali lama mulai retak dari dalam.
“Siapa yang ada di balik ini?”
Suara itu lebih pelan sekarang. Lebih hati-hati. Ravian tidak langsung menjawab. Seolah memberi mereka waktu untuk memahami sendiri.
“Vorn Aegis Consortium,” ucapnya akhirnya.
Nama itu jatuh begitu saja ke dalam ruangan.
Dan seketika tidak ada yang bicara. Beberapa wajah nampak berubah. Sebagian lagi menegang. Sedang yang lainnya langsung mengerti.
“Tidak mungkin…” seseorang berbisik.
“Semua yang terjadi hari ini,” lanjut Ravian,
“sudah melalui proses hukum dan akuisisi yang sah.”
“Bohong!”
Salah satu direktur membanting tangannya ke meja.
“Kami tidak pernah menyetujuinya, dan ini saya anggap tidak sah! ”
“Dokumen sudah ditandatangani,” potong Ravian.
“Termasuk oleh pihak yang berwenang.”
“Siapa?”
Ravian tidak menjawab dengan kata. Ia hanya menggeser satu berkas ke tengah meja.
Satu per satu, mata mereka tertuju ke sana.
Tanda tangan itu nyata. Bahkan Legal. Itu tidak bisa dibantah.
Ruangan itu tidak lagi gaduh. Bukan karena mereka setuju tapi karena tidak ada lagi yang bisa disangkal.
Dalam hitungan jam, kendali itupun sudah berpindah. Tanpa mereka sadari. Tanpa mereka hentikan.
“Mulai hari ini,” ujar Ravian kembali,
“struktur manajemen akan disesuaikan.”
Tidak ada yang menyela. Dan tidak ada yang berdiri lagi di ruangan itu.
Perlawanan itu sudah selesai bahkan sebelum benar-benar dimulai. Sedang di tempat lain yang jauh dari ruangan itu nampak seorang pria duduk tenang.
Tidak hadir dan tidak terlihat. Tapi semua yang terjadi berasal dari satu keputusan. Yaitu Kaelric Vorn.
Dan di pagi itu, tanpa satu pun suara tembakan, tanpa satu pun kekacauan terbuka seperti biasa yang terjadi. Adiwinata Corporation resmi bukan lagi milik mereka.
Badai itu tidak datang dengan suara yang dahsyat dan mengambil segalanya.
Pada malam itu selesai pengambilalihan perusahaan, Adisti Adiwinata anak gadis dari Tuan Adiwinata menghubungi Ravian. Dia menangis mendengarkan apa yang terjadi dengan perusahaan ayahnya. Dia minta bertemu dengan Ravian malam itu juga.
"Ravian, sebenarnya apa yang terjadi?. Apa salah ayahku?"
Suara Adisti menangis pilu. Dia benar-benar tak tahan mendengar isak tangisnya.
"Sudahlah, sayang. Ini semua demi ayahmu. Usianya sudah senja, sudah saatnya ayahmu beristirahat dan meninggalkan beban pekerjaannya. Jangan khawatir, meskipun ayahmu berhenti, namun ayahmu masih diberi jabatan sebagai dewan direksi. Kami tidak menurunkan secara langsung. Jadi, kamu jangan sedih lagi ya?"
"Lantas, bagaimana dengan hubungan kita?"
"Hubungan kita tetap akan terus berlanjut kan, sayang!"
"Tentu tentu Disti. Semua itu gak akan merubah hubungan kita. Dan kamu jangan memikirkan semua itu. Kita nanti akan tetap menikah. Setelah, semua berjalan dengan baik."
"Benarkah itu, Ravian?"
"Aku sangat takut dengan semua ini.Aku benar-benar takut, Ravian."
Ravian pun memeluk Adisti erat, seolah tak mau dipisahkan. Tapi, memang rencananya demikian. Setelah rapat pengambilalihan kemarin, akan vakum selama satu minggu. Dan disitulah, Kaelric mengambil duduk pimpinan. Kemudian, diadakan acara pengangkatan CEO baru.