NovelToon NovelToon
Istri Kecil Tuan Devano

Istri Kecil Tuan Devano

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Nikah Kontrak
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: adawiya

Alana Wijaya tidak pernah menduga hidupnya akan berubah menjadi neraka dalam semalam. Demi menyelamatkan perusahaan keluarganya yang diambang kehancuran, ia dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Devano Adhitama—seorang CEO arogan yang dikenal sebagai monster berdarah dingin dan harus duduk di kursi roda akibat kecelakaan misterius.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Tanda yang Tak Terhahpus

Lilitan kain sutra putih gading itu akhirnya terlepas dari leher Alana, jatuh mencium lantai marmer setelah dicengkeram dan dilemparkan oleh Devano dengan penuh kejijikan. Alana terengah-engah, meremas dadanya yang naik-turun demi meraup oksigen yang sempat hilang dari paru-parunya. Bibirnya berdenyut mati rasa, menyisakan sensasi hangat yang pekat setelah dihujani tuntutan tanpa ampun dari pria di hadapannya.

Devano berbalik perlahan, melangkah dengan tegap menuju tempat sampah berbahan stainless steel di sudut ruangan. Tanpa ragu, ia memungut kain mahal kiriman Julian Mahendra itu menggunakan ujung jarinya, lalu menjatuhkannya begitu saja ke dalam ceruk tempat pembuangan.

"Barang murah dari tangan bajingan tidak berhak menyentuh kulitmu," kata Devano. Suaranya kembali datar, namun getaran kemarahan yang tertahan masih terasa jelas di udara. Pria itu kembali berjalan ke arah kursi roda elektriknya, mendudukinya dengan anggun, dan dalam sekejap, sosok CEO lumpuh yang tak berdaya kembali tersaji sempurna.

Alana hanya bisa berdiri mematung di dekat dinding. Ia meraba lehernya sendiri yang kini terasa kosong namun memanas. Sepasang matanya menatap punggung tegap Devano dengan campur aduk. "Tuan Devano, jika Anda terus menanggapi provokasi Tuan Julian seperti ini, dia akan semakin gencar memanfaatkan saya untuk memancing kemarahan Anda."

Devano memutar kursi rodanya, menatap Alana dengan pandangan menggelap yang sulit diartikan. "Kau mengajariku cara menghadapi musuh, Alana?"

"Saya hanya berpikir realistis," jawab Alana, mencoba menahan getaran di suaranya. Sifat keras kepala yang ia pelajari dari kerasnya siksaan ibu tirinya selama belasan tahun membuat Alana tidak mau terus-menerus menjadi boneka pasrah. "Julian Mahendra tidak tertarik pada saya. Dia hanya tertarik pada fakta bahwa saya adalah kelemahan atau properti yang bisa ia gunakan untuk merusak konsentrasi bisnis Anda."

"Kelemahan?" Devano terkekeh rendah. Suara tawa yang dingin itu bergema di ruangan yang luas. Pria itu memajukan badannya, menatap Alana lekat-lekat. "Kau terlalu tinggi menilai dirimu sendiri, Istriku. Kau bukan kelemahanku. Kau hanyalah aset yang sudah kubayar lunas. Dan seorang pengusaha tidak akan membiarkan asetnya dicemari oleh coretan saingannya."

Kata-kata itu kembali menghujam jantung Alana dengan telak. Namun, ia tidak membiarkan air matanya jatuh kali ini. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi kuat demi bisa bertahan hidup di dalam sangkar mewah ini.

Keheningan itu terputus ketika Devano menekan tombol interkom di atas meja kerjanya. "Jefri, panggil tim desainer utama dari butik VVIP Adhitama Mall ke ruangan saya sekarang. Bawa koleksi gaun malam terbaru mereka."

Alana mengerutkan kening. "Untuk apa, Tuan?"

"Kau akan tahu nanti. Duduk di kursimu dan lanjutkan pekerjaanmu," titah Devano dingin tanpa memberikan ruang untuk perdebatan.

Setengah jam kemudian, pintu ganda ruang kerja terbuka. Tiga orang wanita paruh baya dengan pakaian modis masuk dengan tergesa-gesa, diikuti oleh beberapa asisten yang mendorong gantungan baju beroda berisi puluhan gaun malam yang dibungkus plastik pelindung transparan. Vivi, sang sekretaris senior, mengekor di belakang mereka dengan wajah yang menahan kesal luar biasa. Vivi melirik Alana dengan tatapan yang seolah ingin menguliti wanita itu hidup-hidup.

"Tuan Besar Devano, kami telah membawa koleksi terbaik yang belum dirilis ke publik," ucap salah satu desainer dengan membungkuk hormat.

Devano hanya mengangguk pelan, jemarinya mengetuk sandaran tangan kursi roda. "Biarkan wanita itu mencobanya. Aku ingin gaun yang menutupi seluruh tubuhnya, namun tetap menunjukkan bahwa dia adalah Nyonya Adhitama."

Alana menghela napas pasrah ketika para desainer itu menggiringnya ke ruang ganti privat yang terletak di dalam ruang kerja CEO. Selama satu jam berikutnya, Alana dipaksa berganti pakaian berulang kali. Setiap kali ia keluar mengenakan gaun baru, Devano hanya menatapnya dengan pandangan menilai yang dingin, lalu menggelengkan kepala tanda menolak.

Hingga akhirnya, Alana keluar dengan mengenakan gaun malam berbahan beludru hitam pekat dengan potongan leher tinggi (turtleneck) dan lengan panjang yang dihiasi butiran kristal hitam kecil di sepanjang pergelangan tangan. Gaun itu melekat ketat, mempertegas siluet tubuh ramping Alana yang proporsional tanpa memamerkan satu jengkal pun kulit terbukanya.

Gerakan jemari Devano di atas kursi roda seketika terhenti. Pandangan matanya mengunci sosok Alana dengan kilat kepemilikan yang sangat pekat. Kepuasan yang gelap terpancar dari rahangnya yang sedikit melunak.

"Itu. Tinggalkan gaun itu dan bawa sisanya keluar," perintah Devano mutlak.

Setelah para desainer dan Vivi keluar dengan terburu-buru, ruangan kembali sunyi. Alana berdiri di depan cermin besar, menatap dirinya yang tampak anggun namun misterius dalam balutan gaun hitam itu.

Krek.

Suara itu membuat Alana menoleh. Devano sudah bangkit berdiri dari kursi rodanya. Langkah kakinya yang panjang berbunyi pelan di atas lantai marmer saat ia berjalan mendekati Alana dari belakang. Tubuh tingginya yang tegap kini membayangi tubuh kecil Alana di dalam cermin.

Devano mengulurkan tangannya yang besar, meraba pundak Alana yang terbalut kain beludru dingin. Napasnya yang hangat beraroma kayu cedar yang pekat berembus di puncak kepala Alana. Pria itu mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil dari saku celananya, membukanya, dan mengeluarkan sebuah kalung berlian dengan mata safir biru darah yang sangat besar.

"Kalung ini milik mendiang nenekku," bisik Devano dengan suara serak yang berbahaya tepat di dekat telinga Alana. Pria itu memasangkan kalung mewah itu ke leher Alana, menguncinya dengan perlahan. Berlian itu berkilau kontras di atas kain hitam yang menutupi dada Alana.

"Tuan Devano... ini terlalu berlebihan," cicit Alana, tubuhnya meremang hebat saat jemari dingin Devano sengaja mengusap permukaan kulit lehernya yang tidak tertutup kain di bagian belakang.

"Tidak ada yang berlebihan untuk menandai apa yang menjadi hak milikku," kata Devano posesif. Pria itu membalikkan tubuh Alana dengan satu sentakan pelan, mengunci pinggang ramping wanita itu dengan lengan kekarnya, memaksa dada mereka saling menempel erat tanpa jarak.

Devano menundukkan wajah tampannya, menatap lekat-lekat pada bibir mungil Alana yang bergetar. "Malam ini ada jamuan makan malam tertutup dengan asosiasi pengusaha. Julian Mahendra akan ada di sana. Aku ingin dia melihat dengan jelas, bahwa berlian di lehermu dan setiap embusan napasmu... hanya tunduk pada kuasaku."

Sebelum Alana sempat merespons, Devano membungkuk dan membungkam bibir Alana dalam sebuah ciuman yang lambat namun penuh tekanan intimidasi yang menguras seluruh kekuatan lutut Alana. Alana hanya bisa mencengkeram bahu lebar Devano, pasrah ditarik masuk ke dalam pusaran obsesi gelap sang tirani yang tak menyisakan celah untuk pelarian.

Namun, ketegangan intim itu mendadak terputus ketika pintu ruang kerja digedor dengan sangat kasar dari luar.

Brak! Brak!

"Tuan Devano! Ini darurat!" Suara Jefri terdengar panik dari balik pintu. "Julian Mahendra baru saja merilis dokumen palsu ke media! Dia menuduh Adhitama Group melakukan penipuan laporan keuangan menggunakan nama keluarga Wijaya!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!