NovelToon NovelToon
SEBELUM SENJA PAMIT DI AKAR TUA

SEBELUM SENJA PAMIT DI AKAR TUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Healing
Popularitas:453
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

"Kalau kau memang ingin mati, setidaknya selesaikan dulu 7 permintaanku. Setelah itu, aku tidak akan melarangmu gantung diri di pohon ini."
Kehilangan karier, dikhianati sahabat, dan ditinggal tunangan, Gani pulang ke desa masa kecilnya hanya dengan satu tujuan: mati dengan tenang di bawah pohon beringin tua.
Namun, rencananya berantakan saat Kirana—gadis desa yang cerewet, keras kepala, namun memiliki senyum paling tulus—menemukannya di hutan dan memberinya satu kesepakatan gila. Gani terpaksa menyetujui "7 Permintaan" gadis itu sebelum ia diizinkan mati.
Mulai dari mencuri mangga Kepala Desa hingga menari di bawah hujan badai, setiap permintaan justru perlahan mengembalikan warna di hidup Gani yang kelabu.
Namun, saat cinta mulai menunda niat kematiannya, Gani menyadari satu kebenaran yang kejam: Kirana memiliki alasan yang jauh lebih tragis darinya untuk tidak bisa hidup lebih lama lagi.
Kini, mampukah tangan yang pernah hancur itu menyelamatkan satu-

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Bubur Polos dan Cahaya di Rawa Hitam

​Debu yang ditinggalkan oleh ban mobil SUV Paman Lukman perlahan mengendap, kembali menyatu dengan tanah kering pekarangan rumah Gani. Keheningan siang yang meranggas kembali mengambil alih.

​Gani masih berdiri di tempat yang sama selama beberapa menit, membiarkan angin kemarau menyapu wajahnya yang mengeras. Ia baru saja membuang tiket emas untuk keluar dari kemiskinan. Secara logika, ia seharusnya merasa panik atau menyesal. Namun anehnya, ketukan di dadanya terasa sangat stabil. Akar-akar tak kasat mata seolah baru saja tumbuh dari telapak kakinya, menancap dalam-dalam ke bumi Karangbanyu, mengukuhkan eksistensinya di tempat ini.

​Ia menoleh ke arah kantong plastik hitam yang ia letakkan di atas lincak bambu. Beras, telur, kecap, dan kopi. Bahan-bahan mentah untuk bertahan hidup. Gani membawa kantong itu masuk ke dalam rumah, langsung menuju dapur tuanya yang remang-remang.

​Pikirannya melayang pada obrolannya dengan Bibi Ratna pagi tadi. Kirana libur. Gadis itu tidak keluar rumah.

​Rasa bangga karena berhasil mengusir Paman Lukman perlahan menguap, digantikan oleh awan kecemasan yang mendung. Gani tahu persis bahwa bagi seorang gadis hiperaktif seperti Kirana, berdiam diri di rumah bukanlah sebuah pilihan, melainkan sebuah paksaan dari tubuh yang sudah tidak sanggup lagi berkompromi.

​Gani menatap beras dan telur di atas meja kayu yang lapuk. Sebuah ide yang sangat asing muncul di kepalanya. Di apartemen mewahnya dulu, ia bahkan tidak pernah menyalakan kompor selain untuk merebus air atau memanaskan makanan beku premium. Kehidupannya selalu disokong oleh layanan pesan antar atau koki pribadi.

​Tapi hari ini, di dapur berlantai tanah yang hanya mengandalkan tungku kayu bakar ini, Gani memutuskan untuk memasak.

​Ia mencuci beras menggunakan air sumur, mengingat-ingat samar cara almarhum ibunya memasak bubur ketika ia sakit demam saat masih kecil. Beras yang banyak airnya, dimasak perlahan hingga hancur. Ia memotong kayu bakar sisa perbaikan atap Balai Desa menjadi potongan kecil, menyusunnya di dalam tungku, dan menyalakannya menggunakan kertas koran bekas serta korek api.

​Asap putih mengepul, membuat matanya perih dan berair, tapi Gani tidak menyerah. Ia mengaduk panci aluminium tipis itu dengan sabar. Setelah berasnya mulai melunak dan pecah, ia memecahkan dua butir telur ke dalamnya, membubuhi sedikit garam dan lada dari sisa bumbu dapur yang entah sudah berapa lama ada di laci, lalu menuangkan sedikit kecap manis.

​Aromanya sangat sederhana. Jauh dari kata mewah. Tampilannya pun pucat dan sedikit menggumpal. Gani mencicipinya menggunakan ujung sendok kayu. Rasanya hambar, hanya didominasi rasa asin telur dan sedikit manis kecap.

​"Jauh dari standar bintang lima," gumam Gani pada dirinya sendiri. "Tapi setidaknya ini bisa ditelan."

​Ia memindahkan bubur hangat itu ke dalam sebuah mangkuk keramik putih yang pinggirannya sedikit gempil, lalu menutupinya dengan piring kecil. Matahari sudah mulai condong ke barat, menandakan waktu asar telah tiba. Udara di luar sudah tidak terlalu menyengat.

​Gani melangkah keluar dari rumah, membawa mangkuk hangat itu dengan sangat hati-hati.

​Perjalanan menuju rumah Kirana sore itu terasa lebih panjang dari biasanya. Pikiran Gani dipenuhi berbagai skenario terburuk mengenai kondisi gadis itu. Saat ia tiba di pertigaan desa, ia melihat warung Bibi Ratna tutup. Mungkin wanita paruh baya itu sedang pergi ke ladang atau menjenguk kerabat. Itu berarti Kirana sendirian.

​Pekarangan rumah Kirana tampak sangat sepi. Tidak ada anak-anak yang berlarian, tidak ada buku-buku yang digelar di teras. Bahkan bunga-bunga mawar dan krisan di dalam pot tampak sedikit layu karena belum disiram air sejak pagi. Kesunyian ini terasa sangat salah. Rumah ini seharusnya berisik oleh celotehan dan tawa.

​Gani mendorong pintu pagar kayu kecil itu, berjalan menyusuri jalan setapak dari batu bata. Ia naik ke teras, berdiri di depan pintu rumah yang tertutup rapat, lalu mengetuknya pelan.

​"Kirana?" panggil Gani. Suaranya serak tertahan di tenggorokan.

​Hening. Tidak ada jawaban.

​Kepanikan kecil mulai memercik di dada Gani. Ia mengetuk lebih keras. "Kirana! Ini Gani! Apa kau di dalam?"

​"Masuk saja... pintunya tidak dikunci," sebuah suara yang sangat pelan dan bergetar terdengar dari balik dinding.

​Gani segera menekan gagang pintu dan membukanya. Rumah Kirana adalah sebuah kebalikan dari rumah Gani. Meskipun perabotannya sederhana dan usang, ruangan itu terasa sangat hangat dan hidup. Dindingnya dihiasi oleh banyak rak buku, bingkai foto berisi gambar-gambar anak-anak, dan beberapa buket bunga kering yang digantung terbalik. Tirai jendelanya yang berwarna krem dibiarkan terbuka separuh, membiarkan sisa cahaya matahari sore menerangi debu-debu yang melayang di udara.

​Dan di sudut ruang tengah, di atas sebuah sofa kain tua bermotif bunga yang warnanya sudah memudar, berbaringlah Kirana.

​Gadis itu nyaris tenggelam di balik selimut tebal berwarna biru tua. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai berantakan di atas bantal. Wajah yang biasanya selalu dihiasi senyum nakal dan mata yang berbinar itu kini terlihat luar biasa rapuh. Kulitnya sepucat porselen, bibirnya kering dan sedikit kebiruan. Matanya setengah terpejam, dan napasnya terdengar sangat dangkal, berbunyi ngik halus di setiap tarikan.

​Dada Gani serasa diremas oleh tangan raksasa melihat pemandangan itu. Segala bentuk kekuatan dan arogansi yang ia tunjukkan pada Paman Lukman tadi siang menguap tak berbekas. Di hadapan kerentanan gadis ini, Gani merasa sangat tidak berdaya.

​Ia berjalan mendekat dengan langkah sangat pelan, seolah takut suara sepatunya akan melukai Kirana. Ia meletakkan mangkuk buburnya di atas meja kopi kecil di dekat sofa, lalu menarik sebuah kursi kayu dan duduk tepat di samping gadis itu.

​Mendengar pergerakan Gani, Kirana perlahan membuka matanya. Sebuah senyum tipis—senyum yang dipaksakan dengan sisa tenaga terakhirnya—terbentuk di bibir keringnya.

​"Wah... lihat siapa yang datang," bisik Kirana, suaranya terdengar seperti daun kering yang bergesekan. "Sang arsitek hebat... dan pahlawan layang-layang. Kau mau memamerkan kemenanganmu lagi, Komandan?"

​Gani tidak tersenyum. Matanya memindai wajah Kirana dengan tatapan yang dipenuhi kekhawatiran absolut. "Berhentilah mencoba melucu, Tiran Kecil. Kau terlihat seolah baru saja diseret truk tronton melintasi jalanan aspal."

​"Itu pujian yang sangat manis," kekeh Kirana lemah, yang segera diikuti oleh batuk kecil. Ia memejamkan mata, menahan rasa ngilu di dadanya.

​Gani secara refleks mencondongkan tubuhnya, tangannya terjulur ingin menyentuh bahu gadis itu, tapi ia menahannya di udara, bingung apakah sentuhannya akan membantu atau justru mengganggu.

​"Sudah ke dokter?" tanya Gani akhirnya, menarik tangannya dan menautkan jemarinya di atas lutut.

​Kirana menggeleng pelan di atas bantal. "Tidak perlu. Obatku masih ada. Ini... ini cuma reaksi karena aku terlalu banyak berteriak saat layang-layang Udin memutus layang-layang Bowo kemarin. Jantungku cuma butuh istirahat."

​"Kau berbohong." Gani berkata datar. Sorot matanya menembus topeng yang Kirana kenakan. "Bibi Ratna sudah memberitahuku semuanya, Kirana. Soal jantungmu. Soal operasi itu. Soal waktu."

​Keheningan yang berat langsung jatuh di antara mereka. Senyum di bibir Kirana perlahan memudar. Ia memalingkan wajahnya, menatap ke arah jendela yang menampilkan langit sore yang mulai menguning. Selimut biru itu naik turun dengan irama yang tidak beraturan seiring napasnya yang berat.

​"Bibi Ratna memang stasiun radio dengan sinyal terkuat di desa ini," gumam Kirana lirih, berusaha terdengar sarkastis, namun getaran di suaranya mengkhianatinya. "Jadi... sekarang kau sudah tahu. Kasihan sekali, kan? Gadis cerewet yang sok menasihatimu tentang hidup ini, ternyata organ tubuhnya sendiri sedang bersiap untuk mati."

​"Jangan bicara begitu," potong Gani cepat. Nada suaranya sedikit meninggi, dipicu oleh rasa sakit yang aneh di dadanya mendengar Kirana merendahkan dirinya sendiri.

​Gani mengambil mangkuk bubur dari atas meja. "Aku membuatkan ini untukmu. Bibi Ratna bilang akan membawakan sop nanti malam, jadi aku buatkan bubur polos untuk mengganjal perutmu sore ini. Hanya ada telur dan kecap. Rasanya mungkin mengerikan, tapi kau butuh kalori."

​Kirana memutar kepalanya, kembali menatap Gani. Mata sabitnya melebar, terpaku pada mangkuk keramik yang mengepulkan uap hangat di tangan pria itu.

​"Kau... Gani Raditya yang mantan CEO itu... memasak bubur menggunakan tungku kayu bakar untukku?" tanya Kirana dengan nada tidak percaya.

​"Jangan meremehkanku. Insting bertahan hidupku lebih kuat dari yang kau kira," balas Gani, berusaha terdengar acuh tak acuh. Ia menyendok sedikit bubur itu dan meniupnya perlahan. "Ayo, buka mulutmu. Tanganmu terlihat terlalu lemah bahkan untuk mengangkat sendok."

​Rona merah muda yang sangat tipis menjalar di pipi Kirana yang pucat. Ia ragu sejenak, namun melihat kesungguhan di mata Gani—mata yang biasanya sinis namun kini dipenuhi kelembutan yang mentah—gadis itu akhirnya sedikit menyangga tubuhnya dengan siku, dan membuka mulutnya.

​Gani menyuapkan bubur itu dengan sangat hati-hati. Gerakannya canggung, kaku, sangat kontras dengan aura maskulinitasnya, namun justru di situlah letak ketulusannya.

​Kirana mengunyah perlahan, lalu menelan. Matanya berbinar kecil. "Benar katamu. Rasanya sangat hambar."

​Gani mendengus, namun sudut bibirnya berkedut menahan senyum. "Makan saja. Kau tidak punya hak untuk protes pada koki amatir."

​Suapan demi suapan berlanjut dalam keheningan yang nyaman. Interaksi tanpa kata itu berbicara jauh lebih banyak daripada ribuan kalimat. Setiap suapan yang diberikan Gani adalah bentuk validasi bahwa ia peduli. Dan setiap suapan yang diterima Kirana adalah bentuk penerimaan bahwa ia tidak harus selalu menjadi pihak yang kuat dan menyelamatkan orang lain; bahwa tidak apa-apa menjadi rapuh dan membiarkan seseorang merawatnya.

​"Aku dengar dari Udin yang sempat mampir siang tadi... ada mobil bagus di depan rumahmu," Kirana membuka percakapan setelah menelan suapan kelimanya, menolak suapan keenam dengan isyarat tangan. Ia bersandar kembali ke tumpukan bantal. "Penagih utang?"

​Gani meletakkan mangkuk itu kembali ke meja. Ia mengusap sisa kecap di pinggiran mangkuk dengan ibu jarinya. "Pamanku. Adik ayahku. Dia datang membawa agen properti."

​Mata Kirana membulat khawatir. Ia mencoba bangkit. "Gani... kau tidak menjual rumahmu, kan? Kau tidak berniat kembali ke Jakarta?"

​Kepanikan dalam suara Kirana membuat Gani tersentak. Gadis ini, dalam keadaan selemah ini, masih lebih mengkhawatirkan nasib Gani daripada dirinya sendiri.

​Gani segera meletakkan tangannya di atas selimut, tepat di atas kaki Kirana, untuk menenangkan gadis itu. "Tenanglah. Aku tidak menjualnya. Aku menolak uangnya dan mengusirnya dari halamanku."

​Kirana menghela napas lega yang panjang, menyandarkan kepalanya kembali. "Bagus. Kota itu tidak cocok untukmu. Mereka akan menelanmu hidup-hidup lagi."

​"Lagipula," Gani melanjutkan, suaranya merendah, menjadi sebuah bisikan yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua di ruangan yang hening itu. "Kalau aku menjual tanah itu dan kembali ke Jakarta... siapa yang akan menyelesaikan sisa permintaanmu? Siapa yang akan kau siksa dengan tugas-tugas tukang kayu dan pencurian mangga?"

​Kirana tertawa lemah. Tawa yang kali ini terdengar lebih rileks, mencapai hingga ke sudut matanya. "Tepat sekali. Kontrak kita belum selesai. Nyawamu masih milikku, Komandan."

​Gani menatap wajah gadis itu lamat-lamat. Cahaya senja dari luar jendela menyapu profil wajah Kirana, menciptakan siluet yang sangat indah sekaligus melankolis. Rambut hitamnya yang kontras dengan bantal putih, dan kulit pucatnya yang memancarkan pendar kehidupan yang memudar. Gani tidak pernah merasa se-terikat ini pada seorang manusia. Bahkan pada Sania, wanita yang dulunya ia cintai, tidak pernah ada perasaan ingin melindungi setelanjang ini.

​"Kirana," panggil Gani pelan.

​"Hm?"

​"Kenapa kau memilihku?" tanya Gani, mengungkapkan pertanyaan yang terus menghantuinya sejak malam di bawah pohon Akar Tua. "Dari sekian banyak cara untuk menghabiskan sisa waktumu yang berharga, kenapa kau memilih untuk menyelamatkan nyawa seorang pecundang yang tidak kau kenal? Kau bisa saja mengabaikanku malam itu."

​Kirana terdiam. Ia menatap langit-langit kamarnya yang terbuat dari anyaman bambu. Senyum di bibirnya menghilang, digantikan oleh ekspresi kontemplatif yang sangat dalam.

​"Kau tahu, Gani..." Kirana memulai dengan suara yang bergetar. "Mengetahui bahwa kau akan mati sebelum waktunya adalah perasaan yang sangat mengerikan. Kau merasa dunia ini berjalan meninggalkanmu. Orang-orang di sekitarmu terus merencanakan masa depan, menikah, punya anak, membangun rumah... sementara kau hanya bisa merencanakan bagaimana caranya melewati malam tanpa terbangun karena sesak napas."

​Sebulir air mata lolos dari sudut mata Kirana, menuruni pelipisnya dan menghilang di balik rambutnya.

​Gani merasakan dadanya seakan ditusuk ribuan jarum. Ia mengepalkan tangannya di atas lutut, menahan dorongan untuk menghapus air mata itu.

​"Malam itu, saat aku melihatmu berdiri di atas akar beringin dengan seutas tali..." Kirana menoleh, menatap tepat ke sepasang mata Gani. "Aku tidak hanya melihat seseorang yang sedang putus asa. Aku melihat sebuah ironi yang membuatku marah, namun sekaligus memberiku harapan."

​"Harapan?" Gani mengerutkan dahi.

​"Iya," Kirana mengangguk lemah. "Aku melihat seorang pria yang punya segala hal yang sangat aku inginkan. Jantung yang berdetak kuat, napas yang panjang, raga yang sempurna. Dan saat aku melihatmu bersiap membuang semua itu... aku merasa bahwa aku harus mencegahnya. Karena jika aku berhasil membuatmu hidup, jika aku berhasil membuatmu kembali melihat indahnya dunia ini... maka secara tidak langsung, aku merasa... aku juga ikut hidup melaluimu."

​Air mata Kirana kini mengalir semakin deras. Dinding keceriaan yang selama ini ia bangun dengan sangat hati-hati, runtuh sepenuhnya di hadapan Gani.

​"Aku takut, Gani," isak gadis itu, suaranya pecah berkeping-keping. Tangan kecilnya mencengkeram selimut birunya dengan erat. "Aku sangat takut. Aku tidak mau pergi. Aku masih ingin melihat bunga mawar yang baru kutanam bulan lalu mekar. Aku masih ingin melihat Udin lulus SD. Aku... aku masih ingin punya waktu."

​Pertahanan Gani hancur berantakan.

​Ia tidak memedulikan kecanggungan atau batasan apa pun lagi. Gani mencondongkan tubuhnya ke depan, merengkuh tubuh rapuh gadis itu ke dalam pelukannya. Ia menarik Kirana dari bantalnya, memeluknya dengan sangat erat namun sangat berhati-hati, menempelkan kepala gadis itu ke bidang dadanya.

​Kirana tidak menolak. Ia justru membenamkan wajahnya ke kemeja Gani, menangis tersedu-sedu. Menumpahkan seluruh ketakutan, keputusasaan, dan rasa sakit yang selama bertahun-tahun ia pendam sendirian dengan senyuman palsunya.

​"Menangislah," bisik Gani parau, menempelkan pipinya pada puncak kepala Kirana. Tangannya mengusap punggung gadis itu dengan lembut, memberikan kehangatan yang selama ini sangat dibutuhkan oleh Kirana. "Aku di sini. Kau tidak sendirian lagi, Kirana. Aku di sini."

​Gani memejamkan mata, membiarkan air matanya sendiri menetes membasahi rambut Kirana. Ia mendengarkan suara tangis gadis itu, berpadu dengan detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang—sebuah detak jantung yang kini ia sadari tidak hanya berdetak untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk gadis di pelukannya.

​Mereka berada dalam posisi itu untuk waktu yang lama, membiarkan ruang tengah yang temaram itu menjadi saksi bisu dari dua jiwa hancur yang saling menopang. Yang satu hancur karena hilangnya tujuan, yang lain hancur karena hilangnya waktu. Bersama-sama, mereka membentuk satu kesatuan yang anehnya, terasa utuh.

​Setelah tangis Kirana perlahan mereda dan berubah menjadi isakan kecil yang kelelahan, Gani melonggarkan pelukannya. Ia membiarkan Kirana kembali bersandar pada bantalnya, lalu mengambil tisu dari meja untuk menghapus air mata di pipi gadis itu.

​Kirana menatap Gani dengan mata yang sembap dan merah, namun ada sebuah kelegaan luar biasa di wajahnya. Beban seberat gunung baru saja diangkat dari dadanya.

​"Maaf," cicit Kirana pelan, menarik selimutnya hingga sebatas dagu karena malu. "Tiran kecilmu baru saja berubah menjadi bayi yang cengeng. Kemejamu jadi basah."

​Gani tertawa kecil, suara baritonnya menggetarkan udara sore. "Kemeja ini sudah pernah kotor oleh debu, getah mangga, dan serbuk bambu. Air matamu adalah noda paling bersih yang pernah menempel di sini."

​Kirana tersenyum, sebuah senyum yang kali ini 100% murni, tanpa beban. Ia menatap ke luar jendela. Matahari telah benar-benar tenggelam. Langit Karangbanyu berubah menjadi kanvas biru gelap yang dihiasi taburan bintang pertama.

​Tiba-tiba, mata Kirana berbinar. Ia teringat sesuatu.

​"Gani," panggil gadis itu, nada suaranya berubah menjadi antusias, meskipun masih terdengar lemah.

​"Ya?"

​"Aku sudah tidak menangis lagi. Dan aku sudah makan bubur puihmu," Kirana menatap Gani dengan kilatan nakal yang mulai kembali ke matanya. "Itu artinya, aku sudah cukup waras untuk menagih janji."

​Gani mengernyit, perasaannya tiba-tiba tidak enak. "Janji apa? Bukankah kau harus istirahat total?"

​Kirana menggeleng pelan. Ia mengeluarkan sebuah jari telunjuk dari balik selimut.

​"Permintaan keempat," ucap Kirana, suaranya mengalun penuh misteri di tengah ruangan yang remang. "Di ujung selatan desa ini, melewati bukit kecil itu, ada sebuah rawa. Warga menyebutnya Rawa Hitam."

​"Rawa Hitam?" ulang Gani. Tempat itu terdengar sangat tidak bersahabat. "Lalu?"

​"Lusa malam," Kirana melanjutkan, menatap tepat ke kedalaman mata Gani. "Saat tenagaku sudah kembali sepenuhnya... kau harus membawaku ke sana, Gani. Aku ingin melihat ribuan kunang-kunang yang berkumpul di atas air rawa itu. Dan aku ingin kau memotretnya untukku, agar aku punya bukti bahwa kegelapan sekalipun bisa menghasilkan cahaya yang indah."

​Gani mematung. Membawa gadis dengan penyakit jantung koroner ke tengah rawa di malam hari adalah definisi dari kecerobohan medis yang fatal. Akal sehat dan sifat protektifnya menjerit keras menyuruhnya menolak.

​"Kirana, itu terlalu berbahaya. Udara malam di rawa tidak bagus untuk paru-paru dan jantungmu," protes Gani tegas.

​Namun Kirana hanya menatapnya dengan tatapan memelas namun keras kepala. Tatapan seorang gadis yang tahu waktunya tidak banyak, dan menolak menghabiskan sisa waktu itu hanya dengan berbaring di atas ranjang.

​"Kumohon, Gani," bisik Kirana, mengulurkan tangannya menyentuh punggung tangan Gani. "Penuhi permintaanku. Jadilah mataku, jadilah kakiku. Bawa aku melihat cahaya itu."

​Merasakan dinginnya jari-jari Kirana di kulitnya, dan melihat sorot permohonan yang begitu tulus, dinding logika Gani runtuh seketika. Ia tidak bisa melawan. Jika Kirana menginginkan kunang-kunang di Rawa Hitam, maka Gani akan memastikan gadis itu mendapatkannya, meskipun ia harus melawan seisi dunia untuk itu.

​Gani menghela napas panjang, membalik telapak tangannya untuk menggenggam jari-jari dingin Kirana, memberikan kehangatan perlindungan.

​"Baiklah, Tiran Kecil," jawab Gani pelan, sebuah komitmen yang terucap di bawah saksi bintang malam pertama. "Lusa malam. Bersiaplah. Kita akan menangkap cahaya di Rawa Hitam."

1
Yeni Puspitasari
segar , konyol, keren 😍
Yeni Puspitasari
dari dua novel yg mengerikan Thor, cerita baru mu kali ini membuat ku tertawa lebar🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!