Pernikahan adalah tentang kepercayaan. Setidaknya itu yang diyakini oleh Arini selama lima tahun pernikahannya dengan Galang. Namun saat kenyataan itu terungkap secara tidak sengaja, ternyata pernikahan mereka hanyalah sebuah lelucon yang dibuat oleh suami dan selingkuhannya selama ini. Dan dia hanyalah wanita bodoh yang tidak tau apa-apa, dan sudah bekerja keras untuk membangun reputasi suaminya sebagai istri yang baik selama ini.
Hancur dan merasa di bohongi sudah pasti, lalu apa yang akan dilakukan Arini setelah mengetahui semua kebohongan suaminya?
Apakah dia bisa bertahan di kerasnya hidup tanpa Galang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Sekutu
Kamar kontrakan sempit di pinggiran Jakarta itu terasa begitu mencekik bagi Dita. Bau lembap dari dinding yang berjamur dan suara bising kendaraan dari jalan raya di luar sana seolah mengejek nasibnya yang jatuh terperosok. Ia menatap pantulan dirinya di cermin retak; tidak ada lagi perawatan wajah mahal, tidak ada lagi perhiasan emas yang melingkar di lehernya. Semuanya telah ludes disita untuk menutupi hutang-hutang Galang yang menggunung.
Di sudut ruangan, Galang duduk termenung menatap lantai semen yang kasar. Wajahnya kuyu, sorot matanya kosong, seperti orang yang sudah kehilangan separuh jiwanya.
"Mas! Kamu mau sampai kapan begini?" teriak Dita tiba-tiba, memecah keheningan yang suram. "Kamu mau kita mati kelaparan di lubang tikus ini? Lihat Galih, dia harus makan seadanya karena kamu cuma bisa melamun!"
Galang mengangkat kepalanya perlahan, suaranya parau. "Lalu aku harus bagaimana, Dita? Perusahaanku hancur. Namaku sudah busuk di semua bank. Tidak ada orang yang mau memberiku pekerjaan bahkan sebagai staf biasa pun."
Dita mendekat, matanya berkilat penuh dendam. Ia berjongkok di depan Galang dan mencengkeram lengan suaminya kuat-kuat. "Kita hancur karena Arini, Mas. Wanita itu sengaja menjebakmu! Dia punya segalanya tapi dia pura-pura miskin hanya untuk melihat kita merangkak seperti ini. Apa kamu terima dipermalukan begitu saja olehnya dan si Kevin itu?"
"Tentu saja aku tidak terima!" Galang menggeram, amarah yang selama ini terpendam mulai mendidih kembali. "Tapi dia sekarang Arini Samudera. Dia punya benteng yang terlalu kuat untuk kutembus."
Dita tersenyum licik, sebuah senyum yang penuh racun. "Benteng sekuat apa pun pasti punya celah, Mas. Dan kamu adalah orang yang paling tahu cara Arini bekerja. Kamu tahu cara dia berpikir, kamu tahu strategi-strategi yang pernah dia susun. Jika kamu tidak bisa berdiri sendiri, maka carilah raksasa lain yang bisa kamu tunggangi untuk menginjak Arini."
Galang mengerutkan kening. "Maksudmu?"
"Wijaya Group," bisik Dita tajam. "Mereka adalah saingan bebuyutan Samudera Group selama puluhan tahun. Aku dengar dari berita, mereka baru saja kehilangan dua proyek besar karena investornya lari ke tangan Arini. Mereka pasti sedang sangat murka. Bayangkan jika kamu datang ke sana, membawa semua rahasia internal dan kelemahan operasional yang kamu pelajari dari Arini selama lima tahun."
Galang terdiam sejenak. Pikirannya yang sempat buntu kini mulai bekerja liar. "Wijaya... mereka memang ambisius. Tapi apa mereka mau menerima orang yang sudah 'bermasalah' sepertiku?"
"Mereka tidak butuh namamu, Mas. Mereka butuh otakmu dan dendammu," desak Dita. "Katakan pada mereka, kamu punya cara untuk menarik kembali para investor itu. Katakan kamu punya cara untuk menghancurkan Arini. Jangan jadi pecundang, Mas! Jika kita harus jatuh ke neraka, pastikan Arini jatuh lebih dulu!"
"Aku mengerti! "
Dua hari kemudian, Galang berdiri di depan gedung pencakar langit milik Wijaya Group. Berbeda dengan kunjungannya ke Samudera tempo hari, kali ini ia datang dengan kepala tertunduk, masuk melalui pintu belakang untuk menemui sosok yang paling membenci keluarga Samudera: Hendra Wijaya.
Di dalam ruangan kantor yang bernuansa gelap dan dingin, Hendra Wijaya duduk di balik meja besarnya, menatap Galang seperti sedang melihat barang rongsokan yang mungkin masih bisa dijual.
"Tuan Galang," suara Hendra terdengar berat dan merendahkan. "Berani sekali Anda muncul di sini setelah berita kebangkrutan Anda memenuhi kolom gosip bisnis. Apa yang membuat Anda berpikir saya punya waktu untuk orang gagal?"
Galang mengepalkan tangannya di bawah meja, mencoba menelan harga dirinya yang sudah hancur. "Saya memang gagal dalam mempertahankan perusahaan saya, Tuan Hendra. Tapi saya tidak gagal dalam mengenal Arini Samudera. Saya menghabiskan lima tahun bersamanya, setiap hari, setiap jam. Saya tahu setiap detak jantung dari sistem kerja yang dia bangun."
Hendra sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, mulai tertarik. "Lanjutkan."
"Arini mungkin terlihat sempurna, tapi dia sangat konservatif dalam hal risiko. Dia memiliki satu kelemahan dalam rantai pasokannya yang selama ini saya tutupi. Jika celah itu digoyang, kontrak Singapura yang baru saja dia tanda tangani akan menjadi bumerang hukum baginya," jelas Galang dengan nada penuh keyakinan. "Saya membawa data-data yang tidak ada di dalam laporan resmi. Data yang bisa membuat investor meragukan stabilitas Samudera Group dalam jangka panjang."
Hendra menyandarkan punggungnya, jemarinya mengetuk meja secara berirama. "Dan apa yang Anda inginkan sebagai imbalannya? Uang?"
"Saya ingin posisi di tim strategis Anda, dan saya ingin melihat Arini Samudera kehilangan takhtanya," jawab Galang dengan mata yang memerah karena kebencian. "Saya ingin dia merasakan apa yang saya rasakan—diusir, dihina, dan tidak punya tempat untuk kembali. Saya tidak butuh pengakuan nama. Anda bisa menggunakan nama Wijaya Group, saya akan menjadi bayangan yang menghancurkan mereka dari dalam."
Hendra tertawa kecil, tawa yang kering dan tanpa perasaan. "Menarik. Musuh dari musuhku adalah temanku. Arini telah merebut dua pelabuhan utama yang seharusnya menjadi milikku tahun ini. Jika Anda benar-benar memiliki 'peluru' untuk menumbangkannya, saya akan memberikan Anda tempat untuk tampil."
"Saya punya lebih dari sekadar peluru, Tuan Hendra. Saya punya pemicunya," balas Galang.
Malam itu, Galang kembali ke kontrakan dengan membawa sebuah tas berisi uang muka yang diberikan oleh Hendra Wijaya. Begitu ia masuk, Dita langsung menyambarnya dengan mata berbinar-binar.
"Bagaimana, Mas? Mereka setuju?" tanya Dita tidak sabar.
Galang mengangguk mantap, melemparkan tas itu ke atas tempat tidur. "Kita akan pindah dari sini besok. Hendra Wijaya memberiku apartemen untuk bekerja. Dia setuju untuk menyerang Samudera Group minggu depan, tepat saat acara peluncuran proyek baru mereka."
Dita memeluk tas itu, mencium aroma uang yang sudah lama tidak ia rasakan. "Bagus... bagus sekali. Biarkan wanita itu merasa di atas langit sekarang. Dia tidak tahu kalau kita sedang menggali lubang kubur untuknya di bawah sana."
Galang berjalan menuju jendela, menatap lampu-lampu kota Jakarta yang gemerlap. Di salah satu titik cahaya itu, ia tahu Arini mungkin sedang merayakan kesuksesannya bersama Kevin. Rasa cemburu dan dendam menyatu menjadi satu dorongan gelap di hatinya.
"Kamu pikir kamu sudah menang, Arini?" gumam Galang pada kegelapan malam. "Kamu memang punya darah Samudera, tapi aku yang membentukmu selama lima tahun ini. Aku yang mengajarimu cara bertarung di dunia ini, dan aku juga yang akan mengajarimu bagaimana rasanya dikhianati oleh orang yang paling tahu rahasiamu."
Rencana busuk itu mulai tersusun rapi. Bersama Wijaya Group, Galang mulai menyiapkan serangan berupa sabotase logistik dan penyebaran isu miring terkait legalitas lahan yang digunakan oleh Samudera Group. Ia tidak lagi peduli pada etika atau hukum, baginya, satu-satunya cara untuk menyembuhkan lukanya adalah dengan melihat Arini hancur berkeping-keping.
Dita berdiri di samping suaminya, mengelus pundak Galang dengan senyum kemenangan. "Jangan kasih ampun, Mas. Hancurkan sampai dia harus mengemis padamu lagi."