Elizabeth Zamora atau yang biasa di panggil dengan Liz telah terjebak dalam pernikahan kontrak yang membawa dia pada titik terendah dalam hidupnya.
Akankah Liz bisa melalui takdir yang telah digariskan semesta untuknya ??
Happy Reading 💜
Enjoy 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratu_halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14
Liz merengut, "Kenapa sih ancamannya soal uang, uang, dan uang terus ?"
Tama menyeringai, "Karena kamu tidak punya,"
Liz mendelik, giginya gemerutuk tanda menahan marah. Liz menghentakkan kakinya, berjalan masuk meninggalkan Tama.
Dibelakangnya Tama tersenyum puas, "Lucu juga menggodanya," Katanya dalam hati
Liz tidak menoleh lagi sampai pintu kamar tamu di tutupnya tanpa suara.
Sebenarnya Tama ingin masuk, mengobrol lebih lama dengan Liz. Tapi dia tidak punya alasan apapun untuk melakukan itu.
Hari berikutnya..
Nenek membuktikan ucapannya semalam, wanita tua itu kini duduk di kursi belakang mobil dengan Tama, sementara Liz yang tau diri, duduk di depan bersama supir pribadi keluarga Baskoro.
"Apa Yurike semalam pulang ?" Tanya Nenek membuka percakapan,
Pratama Baskoro tidak bergerak, menatap layar tabletnya yang masih menyala. Laporan kuartal ketiga masih terbuka. Tapi matanya sudah tidak membaca sejak tiga detik lalu.
"Tidak," Jawab Tama singkat. Tama tau kemana Yurike pergi tadi malam. Orang suruhannya melapor dengan sangat detail. Dan pelan-pelan itu telah menjadi bom waktu yang kapan saja bisa meledak.
Liz yang mendengar percakapan itu jadi bertanya-tanya, sebenarnya ada masalah apa antara Tama dan Yurike, kenapa Tama bisa seacuh itu pada istrinya sendiri.
Dulu Yurike sering cerita, katanya dia adalah wanita paling beruntung karena dicintai sebesar itu oleh suaminya. Tapi kenapa kenyataanya sekarang sangat jauh berbeda dengan apa yang dikatakan Yurike dulu. Tama terkesan tidak perduli, mau Yurike pulang atau tidak, Tama seperti tidak mau tau lagi.
"Kalau kamu tidak mau menghubunginya, biar Nenek yang telepon," Nenek mengeluarkan ponselnya, mencoba untuk menghubungi nomor Yurike.
Tapi berkali-kali di coba, suara disebrang sana tetap sama. Operator yang menjawabnya.
Tama menarik satu sudut bibirnya sambil berkata, "Untuk apa Nenek mengkhawatirkan seseorang yang bahkan tidak perduli pada dirinya sendiri, Nek ?"
"Tama, Nenek tidak tau apa yang membuat sikap mu berubah setahun terakhir ini pada Yurike. Tapi pesan nenek, apapun masalah yang kalian hadapi, selesaikan dengan kepala dingin. Jangan sampai emosi sesaat mu menghancurkan pernikahan kalian."
"Kalau saja nenek tau apa yang dilakukan Yurike dibelakangku, aku yakin nenek tidak akan berkata begitu." Batin Tama.
Sepanjang perjalanan Liz hanya diam, namun tanpa Liz sadari Tama terus memperhatikan nya dari balik jok belakang.
Sampai di rumah sakit, Liz langsung menuntun Nenek je ruang perawatan sang Ibu.
Pintu diketuk dua.kali sebelum Liz membukanya.
"Selamat pagi. Maaf mengganggu datang pagi-pagi kesini,"
Melihat kebingungan di wajah Ibu Nira, Nenek membuka suaranya.
"Ibu, ini Nenek Zalia. Neneknya Tama." Ucap Liz mengenalkan Nenek pada Ibu.
Raut Ibu dari yang bingung seketika berubah cerah.
"Ya Tuhan, maafkan saya Nyonya. Kita harus bertemu dirumah sakit seperti ini," Ibu berusaha bangun, namun Liz, Nenek dan Tama langsung mencegahnya.
"Sudah, tidak apa-apa. Saya datang kesini mewakili mendiang kedua orang tua Tama untuk bertemu secara resmi dengan anda, Ibu dari istri Tama, Elizabeth."
"Terimakasih, Nyonya. Saya sangat bahagia karena putri saya menikah dengan nak Tama. Meskipun pernikahan mereka mendadak, tapi saya sangat berharap pernikahan mereka akan abadi selamanya."
Uhuk!
Liz terbatuk, membuat Tama, Nenek serta Ibu menoleh ke arah nya.
"Loh Liz, kenapa ? Kamu sakit ?" tanya Ibu khawatir.
Liz menggeleng sambil menyambar tisu di atas nakas, lalu mengelap bibirnya yang basah.
Sementara itu Tama tersenyum tipis, harapan yang Ibu panjatkan menyentuh sesuatu didalam dirinya.
Setelah saling berkenalan dan Nenek memberi semangat pada Ibu untuk sembuh, ketiga nya pun pamit.
Diparkiran,
"Liz, ayo naik." Ucap Nenek yang sudah duduk di kursi yang sama. Sedang Tama pun baru menjatuhkan bokongnya di samping Nenek.
Liz tersenyum, "Nek, Liz naik kendaraan umum saja ya. Kasihan Nenek harus bolak balik, lagi pula jalan ke kantor Tama dan rumah searah, jadi...."
"Masuk!"
Belum sempat Liz.menyelesaikan ucapannya, suara berat Tama sampai ke telinganya.
Liz menutup mulutnya, tapi tidak bergerak dari tempatnya berdiri.
"Masuk, Liz." Suara Tama berubah lembut, tapi Liz tetap pada pendirian.
"Maaf, taksi onlineku sudah datang. Nenek aku pergi kerja dulu. Permisi." Tanpa menunggu jawaban dari Tama maupun Nenek, Liz sudah melangkah ke arah mobil datsun berwarna abu tua yang berhenti di depan lobi.
Tama memejamkan mata, "Shit!" Umpatnya sebelum turun dan mengejar Liz.
Nenek melihat bagaimana Tama hanya fokus pada Liz. "Sepertinya kamu sudah jatuh cinta pada gadis itu,"
"Jalan, Pak," Titah Nenek pada supir,
"Ta-tapi, Nyah, Den Tama..."
"Sudah. Biarkan saja, dia sudah besar. Ayo,"
Supir itu pun patuh lalu kemudian menginjak pedal gas, membawa mobil Fortuner putih milik Nenek keluar dari area parkir rumah sakit.
Di sisi lain, sesampainya Tama didekat Liz, pria itu langsung mencekal tangan Liz hingga membuat Liz tersentak kaget.
"Ta-tama ? Ngapain kamu disini ?"
"Kenapa kamu selalu membantah ucapan ku ?"
"Yang mana ?"
"Tadi aku menyuruhmu masuk ke mobil, tapi kamu milih buat naik taksi online ini!"
Liz menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Perdebatan mereka ini disaksikan hampir semua pengunjung rumah sakit, kalau tidak dihentikan sekarang pasti akan semakin banyak yang menonton mereka.
"Sudahlah. Aku sudah terlambat. Kalau kamu mau nebeng, ayo naik, kalau tidak, yasudah cari taksi online lain saja."
Liz masuk ke dalam mobil itu tanpa perduli dengan ekspresi Tama yang siap menerkamnya hidup-hidup.
"Mbak, temennya mau ikut naik atau tidak ?" tanya supir taksi
"Jalan aja, Pak." Jawab Liz enteng,
Bertepatan dengan mobil yang mulai melaju, Tama menggedor kaca mobilnya. Supir taksi itu pun terpaksa berhenti lagi,
Liz menahan senyumnya saat Tama membuka pintu mobil lalu masuk dan duduk di samping Liz.
"Jalan," Kata Tama dengan suara berat.
Kendaraan roda empat itu akhirnya melaju juga meninggalkan lokasi penjemputan.
"Kamu ini benar-benar merepotkan!" Omel Tama sembari menetralkan nafasnya yang memburu
"Aku tidak merasa merepotkan siapapun!"
"Kelakuan mu ini merepotkan ku!"
"Loh. Emangnya aku minta kamu untuk ikut bersamaku ? Padahal aku sudah bilang tadi, aku tidak mau merepotkan kamu dan nenek kalau harus mengantarku dulu ke kantor. Lokasi rumah, kantormu dan kantorku tidak searah Tama." Liz menjelaskan ulang, kali ini nadanya lebih tegas.
"Sudahlah. Aku tak mau dengar ocehanmu lagi!" Tama melipat tangan di depan dada sambil memejamkan matanya,
"Ish. Dasar aneh!" Gerutu Liz membuang pandangan ke sisi jendela.
Sampai ditujuan, kantor Liz, Liz dan Tama pun turun. Didepan, Liz bisa melihat mobil Faizal terparkir tak jauh dari lobi.
"Aku akan menjemputmu sore nanti. Jangan berani naik taksi online lagi! Itu merepotkanku!" Tama pun berlalu, meninggalkan Liz yang heran akan sikap lelaki itu.
Seiring dengan perginya mobil Faizal, Liz pun masuk ke dalam gedung perkantorannya dengan perasaan aneh di dada.
"Dia itu sebenarnya kenapa, sih ? Kenapa aku merasa, semakin aku mengenalnya, sikapnya malah semakin membingungkan. Tiba-tiba lembut, kadang menyebalkan,"