NovelToon NovelToon
Suami Rahasia

Suami Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Beda Usia
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: candra pipit

Clarindra Arabella, siswi kelas tiga SMA yang tinggal selangkah lagi menuju kelulusan, tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah dalam satu keputusan sepihak.
Di saat teman-temannya sibuk mempersiapkan ujian akhir dan masa depan, Clarindra justru dipaksa menerima kenyataan pahit—ia harus menikah.
Bukan dengan pria seusianya.
Melainkan dengan seorang pria dewasa… yang bahkan tak pernah ia kenal.
Demi alasan sederhana namun kejam—orang tuanya akan pindah ke luar negeri, dan mereka tak ingin meninggalkan putrinya sendirian.
Di balik keputusan itu, tersembunyi kesepakatan antara dua keluarga besar.
Nama besar keluarga Hardinata menjadi jaminan keamanan Clarindra… sekaligus awal dari keterikatannya.
Zavian Hardinata.
Pria itu bukan sekadar pewaris keluarga kaya raya. Ia adalah sosok bebas, penuh pesona, namun sulit dikendalikan. Seseorang yang lebih terbiasa bermain dengan hidupnya sendiri… daripada terikat dalam satu hubungan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon candra pipit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Satu ranjang

Clarinda membekap wajahnya dengan bantal.

Tubuh gadis itu berguling ke kanan lalu ke kiri di atas ranjang.

“Huaaaaa… Mama… Aku nggak mau di sini… aku mau pulaaaang…!”

Ia menendang selimut sampai jatuh ke lantai.

“Hiks… hiks… dia pegang…”

Tangannya langsung menutupi da da nya sendiri.

“Dia pegang da-da ku… Huaaaaa…!”

Clarinda kembali meraung seperti dunia sudah kiamat. Ini pertama kalinya melon nya dipegang orang lain. Laki-laki pula.

Walaupun itu murni refleks karena Zavian menahannya, tetap saja bagi Clarinda itu adalah bencana besar.

"Bagaimana ini..."

“Bagaimana kalau bengkak…? Nanti besar… terus berat…”

Gadis itu mendadak duduk tegak.

Kedua matanya membulat ngeri. Kata orang jika buah melon wanita di pegang lekai akan membesar.

“Hiiiiii… nanti aku jalan jadi bungkuk… kebesaran..."

Tangannya memegangi bahu sendiri dramatis.

“Aku masih muda… aku belum siap sakit punggung…”

"Aku nggak mau baw abeban sebesar itu, hiks..."

Ia menangis lagi.

“Pak Tua cabuuul…!”

"Kurang ajar!"

Bantal dipukul-pukul brutal.

“Aku benci! Aku benci! Aku benciiiiii!”

“Aaaaaaa!!!”

Teriakannya menggema satu kamar. Rambutnya berantakan. Mata sembab. Hidung merah karena terlalu banyak menangis.

"Aku sudah ternoda... Hiks..."

Matanya melihat ke arah da da sendiri.

“Em…”

Tangannya menyentuh perlahan.

“Kayaknya masih normal deh…”

Ia memicing.

“Eh… tapi kok kayak agak beda…”

Clarinda langsung histeris lagi.

“Huaaaaa!”

"Beneran besar ini???"

"Gimana dong???"

Ia merebahkan tubuhnya terlentang di kasur. Menatap langit-langit kamar nya yang berwarna peach kombinasi.

Tapi yang dilihatnya malah wajah Zavian yang penuh nafsu hingga ilernya meluber dari mulut seperti tokoh dalam kartun anime.

"Huaaaaaahhh... Pak tua mesum!!!"

Calrinda melemparkan bantal tapi malah jatuh ke mukanya sendiri.

Gadis ini sungguh kesal. Ia hentak-hentakkan kaki nya dan memukuli kasur yang empuk itu.

Sementara itu…

Di lantai atas, Zavian memijat pelipisnya berkali-kali mendengar teriakan dan ocehan Clarinda.

Bayangan kejadian di kolam renang terus muncul seperti kutukan.

Tubuh Clarinda terpeleset. Ia hanya reflek menopang agar tuh bocah tidak jatuh lebih dalam ke air

Tapi... Sialnya...

Tangan itu...

Tak direncanakan tentu tak disengaja memegang bagian sensitif yang empuk nan kenyal milik Clarinda.

"Haaiiishh..."

Zavian mengembuskan napas panjang.

Sebenarnya menyentuh tubuh wanita bukan hal tabu bagi Zavian. Wanita-wanita agresif di club malam tempat dia nongkrong bahkan suka rela menyodorkan melon mereka sendiri, nempel kayak tokek yang hanya bisa lepas jika terdengar suara petir.

Tanpa malu.

Tapi ini berbeda.

Sangat berbeda.

Yang ia sentuh adalah Clarinda.

Bocah ingusan kemarin sore yang masih polos meski tingkahnya barbar bikin naik darah.

Zavian kembali memijat kepalanya frustrasi.

“Sial…”

Kenapa ia merasa bersalah?

Padahal kalau dipikir-pikir mereka suami istri.

Sah.

Legal.

Kalau ia mau, ia bisa...

"Ah!"

Zavian buru-buru menghentikan pikirannya sendiri.

“Gila…!" Beneran cabul kau Zav, batin Zavian.

Esoknya...

Clarinda masih mengurung diri di kamar.

Mukanya kusut.

Rambutnya acak-acakan.

Di sampingnya ada banyak bungkus snack, dua cokelat, dan satu botol susu stroberi sisa semalam.

Itu makanan dari Zavian. Bik Imah sebagai perantaranya. Ia tahu Clarinda nggak bakalan keluar kamar entah sampai kapan.

Zavian tidak membelinya tapi stok camilan milik pria itu sangat banyak. Pemberian dari siswa dan guru yang menyatakan fans berat kepala sekolah SMA Cendekia Bangsa. Ia selalu membawanya pulang. Dan sudah bisa ditebak siapa yang menghabiskannya.

Clarinda.

Tok tok tok.

“Non…”

Suara Bik Imah terdengar dari luar.

“Di panggil Tuan. Sarapan bareng.”

“Gak mau!” Teriak Clarinda.

"Aku nggak mau ketemu bapak-bapak cabul mesum itu!"

“Non Clea ndak mau sarapan?"

"Nanti. Biar Pak Tua cabul itu pergi dulu."

Tak jauh dari kamar Calrinda, Zavian duduk manis siap menyantap sarapannya di meja.

“Tuan… Non Clea tak mau..."

Zavian mengangkat tangan pelan menyuruh Bik Imah menjauh dari pintu.

Sudah biarkan saja, kalau lapar pasti keluar.

*

Tok!

Tok!

Tok!

"Non Clea, keluar dulu gih sudah siang."

"Ayo makan, nanti sakit Non."

"Tuan Zavian sudah nggak ada di rumah kok."

Sejak insiden kolam renang kemarin, Clarinda benar-benar mengurung diri di kamar. Gadis itu bahkan tidak keluar sama sekali.

Bik Imah tahu penyebabnya.

Malu.

"Non..."

Tok!

Tok!

Tok!

"Non Clea..."

"Aneh kenapa Non Clea diam saja," gumam Bik Imah khawatir. Sejak kemarin majikan kecilnya itu hanya makan cemilan saja.

Tok!

Tok!

Tok!

Tetap tidak ada sahutan.

"Duh... Gimana dong kalau Non Clea kenapa-napa," Bik Imah mulai panik.

Bik Imah buru-buru mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.

Zavian.

*

Zavian baru saja kembali ke ruangannya. Berbaring di sofa yang biasanya untuk menerima tamu. Beberapa saat lalu ia mengamati proses pendaftaran siswa baru.

Tak dipungkiri magnet Zavian sangat kuat. Tahun ini calon siswa baru membludak. Terlebih tatapan emak-emak genit yang matanya tak lepas dari setiap gerak geriknya. Tentu Zavian bersikap ramah meskipun...

Menyebalkan!

Tak biasanya Bik Imah menelpon saat Zavian tidak sedang di rumah. Apalagi ini jam kerja.

"Ada apa Bik?"

Suara Bik Imah terdengar panik.

["Anu...Tuan... Non Clea dari tadi belum keluar kamar.

Suaranya juga tidak terdengar. Bibik takut Non Clea kenapa-napa di dalam."]

"Masuk saja Bik seperti biasanya Bik," Zavian sepetinya agak terganggu menerima telpon disaat jam kerja.

["Tapi pintunya terkunci dari dalam Tuan."] Bik Imah berusaha agar Zavian bisa memperhatikan istrinya yang lagi ngambek ini.

["Bibik takut... Tuan tahu sendiri Non Clea anaknya nekat."]

Tiga puluh menit kemudian Zavian datang. Bik Imah sudah menunggunya di depan pintu dengan cemas.

"Masih belum dibuka?" Tanya Zavian langsung menuju ke kamar Clarinda.

Zavian mengetuk keras pintu kamar gadis itu.

"Clarinda, buka!" Suara Zavian agak meninggi.

"Clarinda!!!"

Lelaki tampan itu mengedor pintu lebih keras namun tak ada respon dari dalam.

"Kunci cadangannya mana Bik?"

"Lha itu dia Tuan. Maaf... Karena panik saya lupa naruhnya dimana."

"Aduh... Bik!" Zavian kesal.

Akhirnya ia dobrak pintu itu sekuat tenaga.

BRAK!

Pintu kamar Clarinda terbuka paksa.

Bik Imah sampai terlonjak kaget.

Zavian masuk dengan napas berat lalu menegang.

Clarinda tertidur meringkuk di atas kasur.

Wajah gadis itu pucat.

Bibirnya kering.

Selimut berantakan.

Di samping ranjang ada beberapa bungkus camilan yang bahkan tidak disentuh.

Zavian mendekat cepat.

“Clarinda.”

Tidak ada respon.

Saat telapak tangannya menyentuh dahi gadis itu.

Panas.

Sangat panas.

“Panggil dokter sekarang Bik!" Titah Zavian.

“I-iya Tuan," Bik Imah cepat tanggap. Ia sudah lama ikut keluarga Hardinata. Ia segera menghubungi dokter keluarga.

Clarinda melenguh lirih.

“Ng…”

Zavian mengangkat tubuh kecil itu perlahan.

Kelopak mata gadis itu terbuka sedikit.

Namun pandangannya kosong.

“Papah…”

Suara lirih itu membuat Zavian terdiam sepersekian detik.

"What?!"

"Papah???"

Clarinda benar-benar demam tinggi. Ia mengigau. "Aku mau pulang, Pah...," gumamnya lirih.

**

Dokter lelaki berusia lanjut itu baru selesai memeriksa. Dokter Rifki, dokter keluarga Hardinata.

“Demamnya tinggi karena kecapekan dan telat makan. Dan... stres.”

Zavian berdiri di dekat jendela sambil memasukkan tangan ke saku celana.

“Berbahaya?”

“Untuk sekarang tidak Tuan. Tapi jangan dibiarkan telat makan terus. Nanti lambungnya bermasalah."

Dokter Rifki mulai membereskan alat medisnya.

"Nona ini...?" Tanya dokter Rifki.

"Jangan pura-pura tidak tahu," sahur Zavian ketus.

Dokter Rifki terkekeh. "Jangan-jangan dia sakit karena mu.

"Cih!"

"Jaga baik-baik istrimu Tuan. Dia masih sangat kecil."

'Iya, da da nya juga kecil,' batin Zavian tapi langsung menghalau pikiran me sum nya. 'mikir apa kau Zavi... Brengsyek!'

"Anak mudah masih labil, butuh bimbingan. Peran suami sangat dibutuhkan disini."

"Kalau kau sudah selesai sebaiknya pulang!"

Dokter Rifki tak marah meski Zavian ketus. Ia malah terkekeh.

Setelah dokter pergi, Zavian membetulkan selimut Clarinda. Ia menatap sejenak gadis itu. Mata gadis itu masih tertutup. Dahi Clarinda ditempeli cool fever nafasnya tidak teratur.

***

Zavian kembali ke rumah jam satu dini hari. Ia dari club merayakan ulang tahun salah satu temannya, Kevin.

Jika sudah di club ia lupa waktu. Clarinda sendirian di rumah. Bi Imah datang sebelum subuh sesuai tugasnya.

Zavian yang merasa bersalah masuk ke kamar Clarinda. Sejenak ia melihat pintu yang rusak karena ia dobrak tadi siang. Besok setelah gadis itu membaik akan ia panggil tukang untuk memperbaiki.

Zavian mengecek keadaan Clarinda.

Lampu kamar redup.

Clarinda masih tidur.

Namun keningnya berkeringat.

Zavian duduk di sisi ranjang lalu menyentuh dahinya.

Suhunya mulai turun.

“Papah…”

"Aku bukan papah mu, bocah."

Clarinda tidak mendengar Zavian ngomel.

“Jangan tinggalin Clea…”

Clarinda mengigau. Suaranya serak dan penuh rengekan.

Zavian menghela napas panjang.

“Tidur.”

Namun tiba-tiba...

Buk!

Clarinda memeluk pinggangnya erat.

Pria itu membeku.

Wajah Clarinda menempel di perutnya seperti anak kecil.

“Papah… dingin…”

“Hei bocah, lepas!”

“Peluk…”

Sudah dari dulu jika sakit Clarinda pasti manja pada papahnya.

Zavian memijat pelipis.

Ini jelas masalah.

Ia mencoba melepaskan tangan Clarinda pelan-pelan.

Namun gadis itu malah makin kuat memeluk.

"Temenin Pah... Clea takut sendirian...”

Zavian menghembuskan nafasnya. Zavian akhirnya pasrah.

Ia membaringkan kembali Clarinda ke tempat tidur. Lalu ikut berbaring di samping gadis itu.

Tapi...

Clarinda langsung mencari posisi nyaman lalu memeluk tubuh Zavian seperti guling hidup.

Kakinya bahkan ikut menindih paha Zavian.

Pria itu menegang.

"Astaga...Kau..."

Ia menatap wajah Clarinda yang tertidur polos.

Rambut berantakan. Pipi pucat. Napas hangat menyentuh lehernya.

Zavian memejamkan mata sebentar.

“Bocah merepotkan…”

Zavian terlelap, rasa kantuknya sudah tidak bisa ditahan lagi.

Ini kali pertama suami istri itu tidur satu ranjang. Sangat dekat.

1
Nona aan Chayank
Buaahahahhaha....🤣🤣🤣
partini
hemmm dah keliatan kamu kecintaan ma suamimu,aihhh why pihak cewek yg jatuh cinta duluan ga cowoknya ga pernah si saddddddd
Marini Suhendar
Dasar bocah😄
partini
ko cuma sama baby sitter doang apa duda anak satu ,, alamak tensi nanti suamimu cle
Titien Prawiro
Bagaimana jadinya
partini
👍👍👍
Erna Riyanto
ihh..pak tua bisa ae nyari kesempatan,pke pegang" segala🤣🤣
Marini Suhendar
Awas yah..nanti pada bucin kalian ya 😄
Marini Suhendar
Jangan cemburu pak tua😄
partini
ingio ingon wedus kaleee 😂😂
wah ada yg CLBK nih nanti jad jadi jendonggggg ,,
partini
kenapa selalu cewek yg klepek klepek duluan sih jarang bnggt cowoknya
partini
tinggal jaa kek yg lama cucu mu juga rada"suka keluar malam lupa pulang cucu mentu juga sama so 50/50
partini
jirrr Ampe lupa, maklumlah di club siapa sih yg ingat di rumah ga ada
partini
nah Lo habis megang apa gunung kembarnya 😂😂😂
nanti pasti terbayang bayang rasanya kenyal"
partini
😂😂😂😂 lah kaya bola di tendang
partini
hemmm SE anak kalian yg bikin ulah
partini
good story
partini
lanjut Thor Setu ceritanya
candra pipit: siap... lanjut 😍
total 1 replies
partini
lelaki bebas di luar OMG
partini
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!