Selama 25 tahun, Rashaka Nareswara setia menjaga cintanya. Ia tetap bertahan, dan berharap pada satu nama yang tak pernah berubah di hatinya. Hingga akhirnya, penantian panjang itu berbuah manis.
Ia berhasil mempersunting wanita yang ia cintai sejak dulu, memulai kehidupan rumah tangga yang tampak sempurna.
Namun, kebahagiaan itu tak pernah benar-benar utuh. Di balik senyum sang istri, tersimpan bayang-bayang masa lalu yang belum selesai. Masalah demi masalah yang perlahan meretakkan kehangatan yang mereka bangun.
Akankah cinta yang bertahan selama seperempat abad itu mampu melawan luka yang belum sembuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GAYATRI S2 — BAB 14
Malam itu, suasana hotel tampak ramai. Lampu-lampu kristal menggantung indah di langit-langit lobi, memantulkan cahaya hangat yang membuat tempat itu terasa mewah sekaligus tenang. Orang-orang datang dan pergi, sebagian dengan wajah lelah, sebagian lagi tampak menikmati malam mereka.
Di salah satu sudut lobi, Keenan berdiri bersama seorang wanita. Penampilannya rapi, wajahnya terlihat lebih santai dibandingkan beberapa jam sebelumnya. Ia berbicara ringan, sesekali tersenyum tipis, seolah tidak ada beban yang mengganggu pikirannya.
Wanita di hadapannya itu tampak nyaman berada di dekatnya, bahkan beberapa kali menyentuh lengannya dengan gestur yang akrab.
“Aku tidak menyangka kau akan mengajakku ke tempat seperti ini,” ujar wanita itu dengan nada manja.
Keenan hanya mengangkat bahu santai. “Aku hanya butuh suasana baru.”
Kalimat itu terdengar sederhana, namun sebenarnya menyimpan lebih dari itu. Ia memang ingin menjauh, terutama dari Shakira, dan dari kenyataan yang datang terlalu cepat dalam hidupnya. Malam ini, ia memilih untuk melupakan semuanya, meski hanya sementara.
“Jadi, apa kita akan langsung naik?” tanya wanita itu sambil melirik ke arah lift.
Keenan sempat terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk. “Ya, ayo.”
Namun sebelum mereka sempat melangkah lebih jauh, sebuah suara memanggil namanya.
“Keenan?”
Langkah Keenan langsung terhenti. Tubuhnya menegang, dan perlahan ia menoleh.
Mahira berdiri tidak jauh dari sana, dani sampingnya, suaminya membawa beberapa tas, tampak baru saja tiba. Awalnya, ekspresi Mahira terlihat biasa saja, bahkan sempat tersenyum tipis.
“Sedang apa kau di sini?” tanyanya.
Namun tatapannya kemudian bergeser ke arah wanita yang berdiri di belakang Keenan. Senyum itu perlahan menghilang, digantikan oleh tatapan tajam yang berubah dingin dalam sekejap.
“Shakira mana?” tanyanya tiba-tiba. “Dan siapa dia? Siapa wanita itu, Keenan?”
Keenan tidak langsung menjawab. Ia hanya diam, dan keheningan itu justru menjadi jawaban yang paling jelas.
Mahira kembali menatap wanita itu, lebih lama, lebih tajam, sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya pada Keenan. Kali ini, tidak ada lagi keraguan di wajahnya, hanya kemarahan yang mulai terlihat jelas.
“Keenan, ayo cepat ikut aku. Ada hal yang harus kutanyakan padamu,” ucapnya pelan, namun penuh tekanan.
Tanpa menunggu jawaban, Mahira melangkah mendekat dan menarik lengan Keenan dengan tegas. Keenan sempat mencoba menahan, tetapi Mahira tidak memberi kesempatan. Ia menyeretnya keluar dari lobi, menuju area yang lebih sepi di dekat pintu masuk hotel.
Wanita yang bersama Keenan hanya bisa berdiri diam, tertegun melihat perubahan situasi yang begitu cepat. Sementara itu, suami Mahira tampak bingung, namun memilih untuk tidak ikut campur.
Di luar, udara malam terasa lebih dingin. Mahira baru melepaskan tangan Keenan setelah mereka cukup jauh dari keramaian. Ia berbalik dengan cepat, menatap Keenan dengan sorot mata yang tajam.
“Apa yang kau lakukan?” tanyanya.
Keenan terdiam.
“Jawab aku, Keenan!” desak Mahira, suaranya meninggi.
“Ini bukan hal seperti yang kau pikirkan, Bibi,” jawab Keenan akhirnya, meski terdengar lemah.
Mahira tertawa kecil, namun terdengar sinis. “Oh ya? Lalu seperti apa?”
Keenan mengusap wajahnya kasar, mulai terlihat kesal. “Aku hanya butuh waktu sendiri.”
“Dengan wanita lain?” potong Mahira cepat.
Keenan kembali terdiam, dan itu sudah cukup untuk menegaskan segalanya.
Mahira menggeleng tidak percaya. “Shakira sedang hamil, Keenan. Dan kau? Apa yang kau lakukan itu? Apa kau ingin mengulang kesalahan yang sama seperti ayahmu?”
“Aku tahu,” jawabnya singkat. “Tapi, Bibi, tolong jangan samakan aku dengan ayah. Kami berbeda!”
“Kalau kau tahu, kenapa kau ada di sini? Kau tidak ingin disamakan dengan ayahmu, tapi apa yang kau lakukan ini persis sama, Keenan! Kau mencoba membuat istrimu menjadi Gayatri kedua! Ini namanya pengkhianatan, Keenan!” sentaknya dengan suara yang bergetar, kali ini bukan hanya karena marah, tetapi juga kecewa.
Keenan menghela napas panjang. “Aku tidak siap, Bibi. Aku tidak siap menjadi ayah, untuk itulah aku mencari pelampiasan!”
Mahira terdiam sejenak, bukan karena mengerti, melainkan karena sulit mempercayai apa yang baru saja ia dengar.
“Tidak siap?” ulangnya pelan. “Dan itu jadi alasanmu untuk melakukan ini? Apakah ketidaksiapanmu itu menjadi pembenaran atas pengkhianatan yang kau lakukan ini, Keenan?”
Keenan mengalihkan pandangannya, menghindari tatapan Mahira. “Aku hanya butuh ruang untuk menenangkan diri, setelah ini, aku juga pasti akan kembali padanya.”
Mahira mengangguk pelan, meski sorot matanya masih tajam. “Apa katamu? Ruang untuk menenangkan diri?” ulangnya lagi. Ia menunjuk ke arah dalam hotel, ke arah wanita yang masih terlihat dari kejauhan. “Itu bukan ruang, Keenan. Itu pelarian!”
Keenan tidak menjawab. Untuk pertama kalinya, ia kehabisan kata.
Mahira menarik napas dalam, mencoba menahan emosinya. “Kalau Shakira tahu ini,” ucapnya pelan.
Keenan langsung menoleh. “Jangan, Bibi, jangan memberitahunya.”
Mahira menatapnya lama, lalu menggeleng pelan. “Aku tidak tahu harus merasa kasihan pada siapa sekarang,” katanya lirih.
Keheningan kembali menyelimuti mereka, namun kali ini terasa jauh lebih menekan. Karena apa yang baru saja terjadi bukan sekadar kesalahan kecil, melainkan sesuatu yang bisa menghancurkan lebih dari satu hati.
***
Di dalam rumah, suasana dapur dipenuhi aroma masakan yang hangat. Gayatri berdiri di depan kompor sejak beberapa waktu lalu, menyiapkan hidangan dengan penuh perhatian. Gerakannya tenang, namun ada ketulusan yang jelas terlihat dari setiap detail yang ia lakukan.
Tak banyak hidangan yang ia masak malam itu, hanya beberapa menu sederhana, namun semuanya adalah makanan kesukaan Shaka. Sesekali, Gayatri berhenti sejenak, mencicipi masakannya, memastikan rasanya pas. Ada senyum kecil yang sempat terbit di wajahnya, seolah ia menikmati proses itu sendiri.
Sementara di ruang makan, Shaka sudah duduk dengan rapi. Ia sempat memperhatikan dari kejauhan saat Gayatri mondar-mandir di dapur, namun memilih tidak mengganggu.
Hingga akhirnya, Gayatri keluar sambil membawa satu per satu hidangan.
Shaka menatap meja yang kini terisi, lalu kembali menatap Gayatri.
“Kau memasak semua ini?” tanyanya pelan. “Kenapa kau repot-repot.”
Gayatri mengangguk. “Tidak apa-apa, lagipula tidak banyak yang kumasak.”
Shaka tersenyum kecil. “Tapi ini cukup membuatku terkejut. Apa ada perayaan istimewa malam ini?” tanyanya lembut.
Gayatri menarik kursi dan duduk di hadapannya. “Ini hanya bentuk terima kasih.”
Shaka mengernyit tipis. “Untuk apa?”
Gayatri menatapnya sejenak sebelum menjawab. “Untuk hari ini. Untuk apa yang sudah kau lakukan untuk ayah.”
Shaka terdiam. Beberapa detik ia hanya menatap Gayatri, lalu tersenyum lebih lembut.
“Kau tidak perlu melakukan ini,” ujarnya pelan.
Gayatri menggeleng pelan. “Tetapi aku ingin melakukannya.”
Shaka menatapnya lebih lama, seolah mencoba memahami sesuatu yang tidak diucapkan secara langsung.
“Terima kasih,” lanjut Gayatri pelan.
Shaka menarik napas ringan, lalu berkata dengan nada yang sama lembutnya, “Aku akan melakukan apa pun selama itu untukmu dan kebahagiaanmu.”
Gayatri tidak langsung menjawab. Ia hanya menunduk sejenak, menyembunyikan sesuatu yang perlahan menghangat di dalam dirinya.
Kemudian, mereka mulai makan. Suasana di antara mereka terasa berbeda malam itu, lebih tenang, ringan. Tidak ada percakapan berat ataupun ketegangan yang mengganggu. Hanya obrolan sederhana yang mengalir begitu saja.
Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama saat tiba-tiba ponsel Gayatri berdering.