Namanya Arumi, seorang gadis yang tinggal di desa Dukuh Asem.
Arumi adalah seorang gadis yang baik hati dan suka membantu orang tuanya.
Namun, ketenangan itu perlahan menghilang, saat bayi-bayi di desanya mulai meninggal satu-persatu dengan darah yang mengering.
Arumi juga mulai sering melihat penampakan aneh, bahkan sampai hampir disakiti oleh sesosok kuntilanak merah.
Kuntilanak itu selalu mengatakan, kalau ibunya Arumi telah membuat hidupnya hancur.
Arumi dan adiknya, yang bernama Bella, mulai merasa curiga dengan kedua orang tuanya.
Apalagi, mereka sering tampak terlihat aneh.
Arumi juga merasakan keanehan dengan dirinya, sebab dirinya sering melihat penampakan aneh.
Sebenarnya, apakah yang terjadi? Dan mampukah Arumi mengungkap semuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Aksara 04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Arumi sedang berada di taman desa siang itu, menikmati angin sepoi-sepoi yang menerpa tubuhnya.
Taman itu berjarak 300 meter dari rumahnya.
Di taman, burung-burung terbang dengan riang.
Mereka berkicau merdu, meski matahari sedang terik-teriknya.
Taman itu sangatlah asri, banyak bunga-bunga yang tumbuh di sana.
Setiap sore, banyak anak-anak yang pergi ke taman ini.
Ada yang bersama dengan ibunya, ada juga yang pergi sendiri.
Suasana taman ini memang adem, matahari tidak terlalu terik menyiram taman ini, sebab di sini memang banyak pepohonan.
Arumi duduk dengan santai, menikmati perutnya yang dari tadi sudah begitu lapar.
Namun, mau bagaimana lagi, karena memang ia harus menjalankan tirakat tersebut.
Sraaak.
Arumi mendengar suara langkah kaki yang menginjak dedaunan.
Gadis itu menoleh ke sekitarnya, mencari siapakah kiranya yang datang ke taman itu selain dirinya.
Saat dilihat, rupanya yang datang itu adalah Bella, adiknya Arumi sendiri.
Gadis itu masih mengenakan seragam sekolah, dan ia tampak kelelahan—terlihat dari pakaiannya yang sedikit berkeringat.
Tas sekolah masih tersampir di bahunya, tas itu tampak berat memang, karena Bella selalu membawa banyak hal..
Dengan langkah terburu-buru, Bella menghampiri kakaknya itu.
"Kakaaak, ternyata kamu teh ada di sini," ucap Bella, saat gadis itu telah sampai di hadapan Arumi.
"Iya, Dek, pengen aja di sini," jawab Arumi.
"Kak, sebenernya ada yang mau aku tanyain sama kamu," ucap Bella, seraya mendudukan dirinya di sebelah Arumi.
"Loh, mau tanya apa kamu, Dek?" tanya Arumi.
Namun, di dalam hati sebenarnya Arumi sudah menduga pertanyaan apa yang akan ditanyakan oleh adiknya ini, pastilah soal mengapa ia berpuasa.
"Kak, menurutku badan kamu ini udah ideal untuk seorang wanita. Terus, kenapa kamu harus berpuasa?" tanya Arumi.
Ketika tadi pagi mereka sarapan, Arumi memang tidak ikut seperti biasanya.
Alasannya sama dengan apa yang ia utarakan pada Bi Surti, yakni sedang ingin diet, jadi berpuasa.
Tapi, agaknya Bella tak mempercayai hal itu.
"Aku akan cerita sama kamu. Tapi, tolong jangan anggap aku aneh, ya, Dek," ucap Arumi.
Sungguh, Arumi begitu takut sang adik akan menganggap dirinya aneh, karena bisa melihat mereka yang seharusnya tak terlihat.
"Ya nggak akan lah, kamu itu ada-ada aja, udah ayo ceritain sama aku, kakak cantik," pinta Bella, karena ia sudah sangat penasaran.
Arumi hanya bisa menghela napas, mau tidak mau memang ia harus menceritakan soal kemampuan barunya.
"Akhir-akhir ini, sebenernya aku sering lihat makhluk halus, Dek. Termasuk yang pas aku muntah kemarin di warung Bu Marni itu, ya karena aku lihat sosok kuyang. Kuyangnya serem banget, organ dalamnya keluar semua, makanya aku nggak sanggup lihatnya. Aku nggak tahu kenapa aku bisa lihat mereka, tapi jujur aku takut," cerita Arumi.
"Hah, jadi kamu itu indigo, Kak?" Bella begitu terkejut mendengar fakta itu.
"Iya, tapi ini belum lama sih kemampuan aku terbuka," jawab Arumi.
"Terus, apa hubungannya sama puasa, Kak?" tanya Bella masih tidak mengerti.
Arumi pun menceritakan semuanya.
Dari mulai ia yang didatangi oleh kakek mereka lewat mimpi, lalu soal Nyai Sekar Arum, lalu soal dirinya yang diajak ke istana alam jin dan mendapatkan latihan di sana, semua Arumi ceritakan.
Untungnya saat itu taman sedang sepi, jadi ya aman-aman saja, tak ada yang mendengar pembicaraan kedua gadis itu.
"Ya ampun, Kak, hebat banget kamu ini. Nggak papa, pakai aja kemampuan itu buat nolong orang, pasti bermanfaat," ucap Bella.
Bella kagum dengan kakaknya itu, pasalnya kakaknya itu juga memiliki khodam gmharimau.
"Iya, Dek. Tapi awas ya, kamu jangan kasih tahu Bapak sama Ibu, bahaya soalnya," kata Arumi memperingatkan.
"Iya, Kak, tenang aja, lagian Kakek aja nyuruhnya gitu kok," jawab Bella.
"Iya, makanya itu, aku rasa ada sesuatu sih dengan mereka," jawab Arumi.
"Tapi, Kak, saranku janganlah kamu itu cerita sembarangan tentang kemampuan kamu ini, takutnya ada apa-apa," ucap Bella.
"Iya, aku tahu, sekarang baru kamu aja kok yang tahu," jawab Arumi.
Tentu saja Arumi mengerti, lagipula tidak semua orang akan percaya dengan hal ini.
"Nanti yang sabar ya, kalau kamu lihat aku kayak ketakutan gitu, Dek," ucap Arumi.
"Tenang aja, Kak, aku ngerti kok, pasti nggak gampang buat kamu," jawab Bella.
"Ya udah, pulang yuk, bentar lagi sore," ajak Arumi.
"Ayo, aku juga udah kepengen ganti seragam, gerah banget," jawab Bella.
Arumi beranjak bangkit, diikuti dengan Bella.
Kedua gadis itu berjalan meninggalkan taman itu, karena mereka akan pulang ke rumah.
Di jalan, Arumi melihat kembali sesosok genderwo yang tempatnya selalu di pohon besar.
"Wahahaha," Genderwo itu tertawa keras, sambil menunjukkan giginya yang runcing.
Arumi sedikit bergidik ngeri kala mendengar suara genderwo itu.
Arumi sedikit mempercepat langkahnya, membuat Bella sampai heran dibuatnya.
"Kak, kamu lihat apa?" tanya Bella.
"Udah jangan banyak tanya, ayo cepetan," jawab Arumi.
***Setelah 5 menit berjalan, tibalah keduanya di rumah.
Namun, rumah itu sepertinya sedang ada tamu, terlihat dari adanya 1 motor yang terparkir di halaman.
Arumi dan Bella saling berpandangan, mereka sama sekali tidak mengenali motor itu.
Dengan langkah cepat, Arumi dan Bella masuk ke dalam rumah mereka.
"Assalamualaikum," ucap kedua gadis itu.
"Waalaikumsalam," jawab semua yang ada di dalam rumah.
Benar saja, Pak Broto dan Nyai Sawitri memang sedang kedatangan tamu.
Arumi melihat seorang kakek tua memakai jubah hitam, tetapi wajahnya amat buruk rupa.
Wajah itu tampak dipenuhi dengan luka bakar, dan orang tua itu memakai penutup kepala, dan ia memakai tongkat bantu jalan.
Tak hanya sendiri, orang tua itu datang dengan seorang pemuda.
Pemuda itu tampak memakai baju hitam juga, tapi auranya tampak baik, tidak seperti kakek itu.
Tentu saja Arumi heran, kenapa pemuda yang orang baik ini malah mengikuti kakek yang jelas-jelas jahat itu?
"Maaf, Pak, mereka ini siapa?" tanya Bella.
"Oh, mereka ini teman Bapak, Nak, namanya Ki Rombeng, dan ini cucunya, Rion," jawab Pak Broto memperkenalkan mereka.
"Hahaha, mereka ini cantik-cantik, salam kenal aku temannya Broto," ucap Ki Rombeng.
Suaranya kasar dan besar, tidak ada nada ramah dalam suara itu.
"Iya, Ki, salam kenal," jawab Arumi.
"Pergilah kalian berdua, biar Bapak saja yang bersama temannya!" perintah Nyai Sawitri.